We, From The First

We, From The First
#54. Pertemuan



Dua Hari Sebelumnya...


Nico duduk di ruang tunggu dengan perasaan gusar, menanti saat-saat pertemuannya dengan Papa Kandungnya setelah selama belasan tahun Nico tidak pernah lagi melihat wajahnya.


Selama hidupnya, Nico selalu membayangkan satu waktu dimana ia akan bertemu kembali dengan Papa Kandungnya. Nico bahkan sudah menyiapkan skenario terburuknya. Hanya saja, tidak pernah terbersit dalam fikirannya bahwa ia akan bertemu kembali dengan Papa Kandungnya sebagai terdakwa atas kasus pembunuhan yang telah melenyapkan nyawa kedua orang tua Aira. Mengingat hal itu lagi, membuat Nico merasakan sesak di dadanya dalam debar-debar yang meremukkan jantungnya.


Suara pintu terbuka, membuat Nico yang sejak tadi diam menunduk langsung mengangkat wajahnya. Dari arah pintu sana, Nico melihat Papanya masuk ke dalam ruangan menggunakan pakaian tahanan, dengan kedua tangan diborgol, serta dijaga dengan satu orang penjaga tahanan. Untuk beberapa detik, Nico lupa bagaimana cara mengambil nafas.


Bimantara Danadyaksa memiliki penampilan yang terlihat jauh lebih tua dari usianya sekarang. Sebagian rambutnya mulai memutih, badannya terlihat kurus, dan ia nampak lemah tak berdaya. Sangat berbeda dengan penampilannya belasan tahun lalu yang begitu tampan, gagah, dan berwibawa.


Saat akhirnya melihat wajah Papa Kandungnya kembali, ingatan Nico mau tidak mau terseret lagi pada momen-momen kebersamaan dengan Sang Papa belasan tahun yang lalu. Memori lama yang manis itu, tak pelak membuat hati Nico semakin ia rasakan hancur.


"Siapa yang paling Al sukai di dunia?"


"PAPA!"


"Kalau besar nanti, Al mau jadi seperti siapa?"


"PAPA!"


Tanpa terasa air mata Nico mengalir di wajahnya. Menyadari hal itu, Nico buru-buru membuang wajahnya lalu menyeka air matanya.


"Alvin?" Lirih Bimantara dengan suara bergetar.


Ia mengamati wajah Nico lebih dalam lagi untuk memastikan bahwa yang ada di hadapannya saat itu benar-benar Alvin, putra yang sangat dirindukannya.


"Kamu sungguh Alvin?" Lirih Bimantara sekali lagi.


Dia pun kini lebih mendekat pada Nico. Namun di saat yang bersamaan, secara refleks Nico justru bangkit dari kursi yang sejak tadi ia duduki dan melangkah mundur. Meski ia sudah tumbuh dewasa menjadi sosok yang kuat sekarang, ingatan tentang kekerasan yang dulu sering dilakukan oleh Papanya masih menjadi momok menakutkan di alam bawah sadarnya.


Perasaan takut itu, masih membekas dalam dan menjadi luka yang tidak terobati di jiwanya.


Bimantara yang menyadari penolakan Nico memutuskan untuk menjauh agar jaraknya tidak terlalu dekat. Bimantara tidak bisa mengelak, dari kedua mata Nico, dia masih bisa melihat dengan sangat jelas bahwa masih ada kesakitan yang tersisa di sana.


"Maafkan Papa, Al. Papa seharusnya bersyukur karena setidaknya kamu masih mau menemui Papamu di sini." Ujar Bimantara seraya menyeka air matanya dengan kedua tangannya yang terborgol.


"Kenapa anda membunuh mereka?" Satu pertanyaan itu langsung meluncur bebas bahkan tanpa Nico rencanakan sebelumnya.


Otaknya hanya secara otomatis mengingat kembali pertanyaan Aira padanya empat tahun yang lalu; "Dari sekian banyak orang, kenapa harus aku, Nic? Dari sekian banyak orang, kenapa harus kedua orang tuaku? Kami salah apa?"


"Alvin, Pa—Papa—" Bimantara mulai gelagapan. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Putranya.


Akan sangat menyakitkan bagi Nico jika dia tahu, bahwa Bimantara sempat berniat ingin membunuhnya bersama Mamanya dan juga Papa Sambungnya. Bimantara sungguh-sungguh tidak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.


"I—itu h—hanya kecelakaan, Al. Pa—Papa..."


"HANYA? Anda bilang HANYA KECELAKAAN?"


"Al..."


Nico mengusap wajahnya frustasi. Ia bahkan sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk sekedar menahan tangisnya di depan orang ini.


"Kenapa mudah sekali mengatakan 'HANYA KECELAKAAN' setelah anda membunuh kedua orang tua dari seorang anak yang tidak berdosa? Kenapa mudah sekali mengatakan 'HANYA KECELAKAAN' saat anda membuat hidup seorang gadis muda hancur dalam semalam?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Nico, Bimantara justru merasa tiba-tiba tenaganya terkuras habis. Ia lantas menjatuhkan tubuhnya di atas kursi seraya menyangga kepalanya yang mulai terasa sakit.


"Alasan saya ada di sini hari ini, berdiri di depan anda, adalah karena gadis itu. Gadis yang sudah anda bunuh kedua orang tuanya, adalah gadis yang membuat saya bertahan sampai hari ini. Kalau saat itu saya tidak bertemu dengan dia, sekarang saya mungkin hanya seorang laki-laki yang tidak punya tujuan yang selama hidupnya terus menyesali diri. Tanpa dia, saya sudah hancur berkeping-keping. Dia juga yang sudah merawat luka-luka saya yang anda sebabkan di masa lalu."


"Al, maafkan Papa. Papa bersalah." Ucap Bimantara penuh sesal.


Untuk pertama kalinya, air matanya terjatuh.


"AKU NICO, BUKAN ALVIN!!" Jerit Nico dengan cukup keras.


Dan untuk pertama kalinya bagi Nico, ia merasa tidak sudi dipanggil dengan nama 'Alvin'. Nama yang sebenarnya sangat dia rindukan selama ini.


"Anda sudah merebut segelanya dari hidup saya, kebahagiaan masa kecil saya, nama saya, dan sekarang... saya juga mungkin akan kehilangan gadis yang saya sayangi karena anda. Tidak hanya itu, anda bahkan membuat saya harus menjalani kehidupan sebagai orang lain dan membuang diri saya yang sebenarnya."


Setelah menumpah-ruahkan segala yang ingin ia tumpahkan, Nico pun menyeka air matanya. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha mendapatkan ketenangannya kembali, sebelum akhirnya ia menatap penuh keberanian pada Bimantara.


Tidak ada lagi kegentaran dari sorot matanya.


"Jangan lagi menyebut saya sebagai anak anda, itu sangat melukai saya. Kalau anda benar-benar merasa bersalah pada saya dan Mama saya, maka setidaknya lakukanlah satu hal itu."


...****...


Begitu Nico keluar dari Rumah Tahanan, langkahnya seketika terhenti saat melihat sosok Mamanya yang sedang berdiri dengan raut penuh kemarahan tidak jauh darinya. Nico yang terkejut tidak bisa melakukan apapun saat Mamanya berjalan mendekat, kemudian mendaratkan satu tamparan yang cukup keras di wajahnya.


"Sejak kapan kamu menjadi anak pembangkang seperti ini? Apa kamu mau memamerkan pada seluruh dunia bahwa kamu adalah anak dari Bimantara Danadyaksa?"


"Ma—"


"Sekarang, kamu ikut Mama... Alvin."


Regina membawa Nico pulang ke Penthouse milik keluarga mereka di Pulau Banu. Begitu tiba di sana, Regina berusaha mengontrol amarahnya agar tidak meledak seperti sebelumnya.


Regina menatap Nico yang duduk di sofa dengan wajah tertunduk dalam. Kedua tangan Nico yang tampak gemetaran juga tidak luput dari perhatian Regina.


"Jadi, apa kamu menemui dia karena Tante Diana yang meminta dan kamu tidak bisa menolak, atau atas inisiatif kamu sendiri? Kalau itu atas inisiatif kamu sendiri, kamu harus jelaskan, kenapa kamu ingin bertemu dengan dia di saat Mama sudah memperingatkan kamu jauh sebelum ini."


"Aku ingin tahu, kenapa dia membunuh Om Aldy dan Tante Shania."


"Lalu apa? Apa dia memberitahukan kamu bahwa dia salah sasaran? Bahwa dia seharusnya membunuh kita dan bukan mereka?"


"Mama, apa yang Mama—" Kali ini Nico benar-benar tersentak mendengar perkataan Mamanya.


Dan Regina yang baru saja menyadari bahwa Nico belum tahu sampai sejauh itu, langsung menyesali apa yang baru saja dikatakannya. Tanpa disadari, Regina membuka sendiri rahasia yang selama ini mati-matian ia sembunyikan dari Nico.


Regina telah mengaku, dan dia tidak bisa lagi menarik pengakuannya.


"Jadi maksud Mama, Nana dan kedua orang tuanya menggantikan posisi kita? Jadi maksud Mama, yang harusnya ada di posisi Nana saat ini adalah Nico?"


Regina buru-buru meraih tangan Nico dan menggenggamnya.


"Nico, dengerin Mama. Kendalikan diri kamu!"


"Ma, apa Nana hidup menderita selama ini karena Nico udah rebut tempat dia?" Nico menangis tersedu seperti seorang anak kecil.


Rasa bersalah yang begitu besar terhadap Aira, sekarang sudah memenuhinya.


Regina lalu menangkup wajah Putranya dengan kedua tangannya. Garis-garis kemarahan yang tadi terlukis di wajahnya kini menghilang tanpa jejak.


"Itu alasan terbesar Mama, kenapa selama ini Mama selalu melarang kamu untuk mencari tahu tentang orang itu. Mama tahu kamu tidak akan bisa menanggung kebenaran seberat ini, Nico. Itu juga alasan, kenapa Mama pernah bilang, bahwa kalau kamu mau bersama Nana, kamu harus menjadi Nico seutuhnya."


...****...


Saat terbangun dari tidurnya pada pagi hari, Aira tahu-tahu merasakan tubuhnya terasa berat. Dan ia terlonjak kaget saat melihat tangan seorang pria yang melingkar di perutnya dengan posisi memeluknya dari belakang.


Aira pun meloncat turun dari kasur sambil dengan sigap menarik gulingnya lalu memukulkannya pada orang di sebelahnya berkali-kali. Ia benar-benar panik sekarang.


"Siapa kamu? Kenapa bisa masuk ke sini?"


"Na! Na! Ini aku Nico. Stop!!" Ucap Nico tidak kalah paniknya saat merasakan seseorang memukulinya secara membabi-buta dengan sebuah guling.


"NICO?!" Pekik Aira setengah percaya, setengah tidak.


Nico kemudian bangkit dari posisinya dan menampakkan wajahnya yang masih mengantuk.


"Iya, ini aku. Hoaaaamh..." Jawab Nico sambil menguap.


Setelah mengkonfirmasi bahwa itu benar-benar Nico, Aira langsung membuang guling di tangannya entah kemana sebelum akhirnya memeluk Nico erat-erat.


"Nic, kamu kemana aja selama empat hari ini? Aku cemas, aku kira terjadi sesuatu sama kamu." Aira kembali memecahkan tangisannya dalam pelukan Nico.


"Maaf, ya? Udah pergi tanpa ngabarin." Ujar Nico dengan lembut seraya membelai rambut Aira.


"Aku kangen sama kamu, Nic. Hiks..."


"Iya, iya, aku juga kangen sama kamu. Sekali lagi aku minta maaf, ya?"


Setelah pertemuan yang cukup dramatis itu, Aira pun segera membuat sarapan pagi untuk mereka berdua. Saat tengah sibuk memanggang roti di alat pemanggang, lagi-lagi Aira merasakan Nico memeluk tubuhnya dari belakang seraya menyandarkan dagunya pada pundak Aira.


"Sekarang udah mau ngomong?" Tawar Aira dengan lembut.


Sejujurnya Aira penasaran kemana perginya Nico selama empat hari ini. Tapi jika pun Nico tidak mau memberitahukannya, Aira tidak akan memaksa. Ia percaya pada Nico sepenuhnya.


Beberapa saat kemudian, Aira merasakan pelukan Nico mulai melonggar kemudian terlepas. Aira lantas berbalik dan memperhatikan wajah Nico dengan seksama. Secara fisik, Nico memang terlihat baik-baik saja. Namun Aira tahu, pasti ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Nico sekarang.


"Aku... habis dari Pulau Banu. Aku—" Nico menghela nafasnya yang terdengar berat, ia kemudian memejamkan kedua matanya, berusaha menahan perih di dadanya, "aku habis ketemu sama orang itu." Jawab Nico dengan jujur dan juga... pasrah.


Awalnya Nico sempat berfikir bahwa Aira akan bertanya lebih banyak lagi padanya. Namun sedetik berikutnya, Aira justru membawa dirinya ke dalam pelukan Nico lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Nico.


Sambil mengusap punggung Nico, dengan penuh ketulusan Aira berkata, "kamu melakukannya dengan baik, Nic. Aku bangga sama kamu."


Yang membuat Nico ingin menangis sekarang adalah, Aira bahkan tidak bertanya apapun padanya seakan paham apa yang Nico rasakan saat itu.


"A—apa kamu nggak mau tahu alasan aku ketemu dia? Apa kamu juga nggak mau bertanya apapun soal dia?"


Aira menggeleng dengan satu senyuman di wajahnya, "aku mau tahu. Tapi kalau seandainya itu bukan hal yang bisa kamu beritahukan ke aku, ya kamu nggak perlu ngomong apapun. At least sampai kamu siep. Aku percaya sama kamu, lebih dari kamu percaya sama diri kamu sendiri, Nic."


Tangis Nico sudah tidak terbendung lagi. Ia pun merengkuh tubuh gadis itu dalam dekapannya seolah tidak ingin melepaskannya.


Ketulusan yang Aira alirkan padanya, justru semakin membuat Nico merasa bersalah. Dia semakin merasa tidak layak menerima limpahan kasih sayang dari Aira, yang secara tidak sengaja, telah ia renggut juga kebahagiaannya.


^^^To Be Continued...^^^