We, From The First

We, From The First
#26. Now, We Are Breaking Up!



"Akan ada titik muak bahkan untuk sebuah perjuangan sekalipun. Penantian itu juga ternyata butuh akhir... MENANG atau KALAH! Selepas ini, semoga tidak ada lagi sesal yang menjadi sebab semua sesak."


...****...


Selama seminggu ini, Nana tidak hentinya berfikir atas keputusan yang akan ia ambil. Setelah melalui pemikiran yang begitu panjang, dan setelah akhirnya ia bisa menimbang, Nana pun membulatkan tekadnya untuk melepaskan Nico. Persis seperti janjinya saat ia menyatakan perasaannya untuk yang terakhir kalinya pada Nico saat itu.


Ini bukan hanya soal Nico yang secara perlahan mulai ia rasakan menjauh darinya, bukan hanya soal ia yang mulai menyadari bahwa hati Nico tidak pernah untuknya. Nana berfikir, jika pun Aira tidak datang kembali dalam hidup Nico, ia akan tetap mengambil keputusan ini.


Karena bagi Nana sekarang, membahagiakan Ibunya, dan dapat keluar dari semua kesulitan hidupnya adalah mimpi yang harus ia penuhi terlebih dahulu. Dan dia ingin fokus di sana.


Lagipula, Nana sangat mengenal bagaimana Nico selama ini. Meskipun Nico tidak pernah benar-benar menyayanginya, namun ia tahu bahwa Nico sangat baik. Ia tidak akan memiliki keberanian untuk melukai seseorang dengan sengaja. Lebih baik Nana yang mengakhiri hubungan mereka terlebih dahulu. Karena hanya dengan cara itu, Nico tidak akan menyimpan penyesalan dalam dirinya.


Nana tidak ingin Nico berfikir, bahwa ia telah melukainya. Nana tidak ingin Nico terus hidup dalam pemikiran itu. Jadi, biarkan saja Nana yang menghentikannya.


Nana lalu menatap punggung Nico yang duduk tepat di depannya. Tidak lama kemudian, ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Nico.


"Nic..." Panggilnya pelan.


Nico yang sedang menyelesaikan catatan Sejarahnya pun langsung melepas earphone-nya dan menatap Nana yang sudah berdiri di sampingnya.


"Kenapa, Na?"


"Aku mau bicara sama kamu. Sekarang."


"Tapi, Na. Aku lagi nyelesein catetan aku sekarang."


"Nic, kalau aku nggak ngomong sekarang juga, aku akan berubah fikiran." Timpal Nana dengan nada serius.


Nico terlihat berfikir. Tidak lama, ia seperti mampu menangkap sinyal yang Nana berikan. Nico lalu melepas bolpoinnya, dan mengikuti Nana yang sudah berjalan terlebih dulu meninggalkan kelas.


Saat ini, mereka sudah berdiri berhadapan di taman sekolah. Tempat dimana dulu Nana menyatakan perasaannya pada Nico. Tempat dimana dulu Nico mengatakan 'iya' padanya, dan mengajaknya berpacaran.


"Mau ngomong apa, Na?" Nico menatap tepat pada kedua mata Nana yang juga sedang menatapnya.


"Nic, aku dapet beasiswa buat lanjutin kuliah di Jerman. Kamu tahu kan, aku sudah bikin ini jadi target aku sejak lama?"


Nico mengangguk pelan sebagai jawaban. Mendadak firasatnya mulai terasa tidak nyaman. Ia lantas berkata, "sepertinya kamu udah punya keputusan..."


"Iya. Aku udah punya keputusan!" Jawab Nana dengan yakin tanpa keraguan sedikitpun.


Sebelum melanjutkan, Nana terlihat menghela nafas panjang. Ia bahkan mengepalkan kedua tangannya.


"Kamu harus tahu ini, Nic. Apapun yang akan aku katakan sekarang, atau apapun yang terjadi sama kita setelah ini, ini bukan salah kamu. Ini juga bukan karena kamu, atau karena siapapun. Ini murni dari keputusan aku, yang ingin fokus dengan tujuanku, dan bisa raih cita-cita aku."


"Na..."


Nana lalu menundukkan kepalanya untuk beberapa saat. Ia mendesah pelan, dan kembali mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap kedua mata Nico dengan tegar.


"Kita putus, ya?"


Kali ini Nico sedikit terpukul mundur. Ia juga menyadari, bahwa sekeras apapun usahanya selama ini untuk bisa menerima Nana sepenuhnya, ia selalu saja gagal. Ia selalu saja kalah melawan hatinya. Tapi meski begitu, Nico sudah terbiasa dengan Nana. Melepaskannya secara tiba-tiba dan mendadak seperti ini, tetap akan menjadi hal yang sulit untuk bisa dia lakukan.


"Aku sangat menghargai usaha kamu selama ini, Nic. Aku tahu semua usaha yang udah kamu lakuin buat aku. Jadi kalaupun sekarang kamu nggak berhasil, itu bukan salah kamu. Hm?"


"Maafin aku, Na." Jawab Nico pelan. Kali ini gilirannya yang menundukkan kepala.


Nana pun meraih salah satu tangan Nico, ia sedikit menunduk agar bisa melihat wajah Nico dengan lebih jelas.


"Makasih, ya, udah mau berusaha? Maaf, karena aku nggak pernah benar-benar bisa menempatkan kamu dalam salah satu daftar prioritas aku."


"Aku ngerti."


Kali ini mereka saling menatap, lalu sama-sama saling terseyum satu sama lain. Mungkin mereka hanya berpura-pura kuat atas keputusan yang Nana pilih. Tetapi semoga setelah ini, tidak ada lagi sesal yang menjadi sebab semua sesak.


...****...


Sepulang dari sekolah, ketika memasuki kamarnya, perhatian Nico tiba-tiba tertuju pada kado pemberian Nana yang terletak di meja belajarnya. Nico kembali mengingat, bahwa dia belum sempat membuka kado itu.


Nico pun melangkah gontai ke arah meja belajarnya. Ia mengambil kado itu, lalu kembali duduk di tempat tidurnya. Dengan perasaan berat, Nico pun membuka kado dari Nana. Ternyata isinya sebuah gantungan kunci bola basket. Kado yang cukup simple, namun penuh pengertian seperti Nana.


Nana yang selalu mengerti dengan hobi bermain basket Nico. Nana yang selalu mengerti apa isi hati dan fikiran Nico. Dan Nana yang selalu mengerti untuk semua hal menyangkut Nico. Namun, ia hanya sebatas mengerti Nico. Ia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara memenangkan hati Nico.


Nico lalu membaca kartu ucapan yang Nana tuliskan untuknya.


Dear, Nico...


Selamat ulang tahun, Nico. Semoga panjang umur. Aku salah satu orang yang selalu berharap kebahagiaan akan senantiasa menyertai kamu di setiap langkah. Aku akan berdoa untuk itu setiap hari.


Maaf, ya, cuma bisa ngasih ini. I love you as always, Nic.


^^^Love, Nana^^^


Setelah membaca kartu ucapan, Nico pun mengambil gantungan kunci itu dari tempatnya, lalu menatapnya dengan sendu. Kedua matanya mendadak terasa panas. Kata-kata yang Nana tuliskan dalam kartu ucapan, juga kado sederhana yang Nana berikan, entah kenapa membuat hati Nico terasa sedih.


Satu hal yang membuat hati Nico terasa begitu terenyuh adalah... perbedaan yang begitu mencolok antara kado yang diberikan oleh Aira dan Nana. Meski serupa, namun mereka memiliki kehidupan yang jauh berbeda.


...****...


Ketika sedang fokus belajar, ponsel Nana tiba-tiba bergetar. Ia baru saja menerima chat dari Nico dengan sebuah lampiran foto. Nana mengalihkan fokusnya sejenak, lalu membuka chat yang dikirimkan Nico.



Nana sudah mengetik beberapa kalimat untuk membalas chat Nico. Tapi setelah ia berfikir lagi, Nana memutuskan untuk menghapusnya dan tidak mengirimkan balasan untuk Nico. Selain itu, Nana juga menghapus tanda hati yang ia sematkan di belakang nama Nico dalam contact list-nya. Nana lantas meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


Beberapa detik setelah itu, air mata Nana tiba-tiba saja terjatuh di atas buku catatannya. Perlahan isakannya terdengar. Kedua pundaknya bergetar.


Dan, Nana menghabiskan sisa malam itu dengan tangisan panjangnya.


^^^To Be Continued...^^^