We, From The First

We, From The First
#53. Nico Menghilang



Pulau Banu, Mei 2011


Bimantara meletakkan tubuh Aira yang berlumuran darah di salah satu hospital bed di ruang IGD sambil dengan panik bertertiak pada semua petugas di sana, "CEPAT SELAMATKAN ANAK INI!"


Sesaat setelah itu, seorang dokter dengan diikuti oleh dua orang perawat berlari dan segera melakukan tindakan pada Aira. Saat itu, Bimantara hanya bisa berharap semoga nyawa anak itu setidaknya bisa terselamatkan.


Bahkan karena terlalu mencemaskan Aira, Bimantara sampai tidak sadar bahwa kepalanya juga terluka dan mengeluarkan darah akibat benturan dalam kecelakaan yang tadi ia sebabkan.


Tidak berselang lama, suara ambulance yang datang terdengar meraung di telinga Bimantara. Beberapa petugas di IGD itu berlarian keluar untuk menjemput pasien mereka. Situasi di IGD saat itu benar-benar mencekam. Dua orang korban yang baru saja tiba ternyata tidak terselamatkan. Mereka meninggal di tempat. Mereka adalah kedua orang tua Aira.


Bimantara yang sedari tadi hanya terdiam meratapi perbuatannya sembari menatap penuh kemarahan pada kedua tangannya, langsung mengangkat wajahnya saat melihat dua orang polisi yang sedang berbicara dengan seorang dokter. Sesuatu dari dalam dirinya tiba-tiba menggerakkan tubuh Bimantara hingga tanpa sadar ia berjalan mendekati dua polisi itu, dan mengakui semua perbuatannya.


"Saya menabrak mobil mereka. Saya yang sudah dengan sengaja membunuh mereka."


...****...


Kedua tangan Rakha gemetar hebat saat ia baru saja selesai menggali informasi mengenai Bimantara Danadyaksa, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Papa kandung dari Nico, seseorang yang juga sudah menyebabkan kecelakaan yang akhirnya menewaskan kedua orang tua Aira sekaligus.


Rakha merasakan seluruh tubuhnya merinding. Tidak terbayangkan beban luka yang mesti Aira tanggung saat nanti akhirnya ia tahu rahasia yang selama ini disembunyikan oleh kedua orang tua Nico darinya dengan sangat rapi. Rakha bahkan tidak begitu yakin, apakah Nico benar-benar tidak terlibat dalam rahasia yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya? Jika Nico terbukti terlibat dan bersikap seolah-olah dia tidak tahu apa-apa selama ini, Rakha bersumpah tidak akan pernah memaafkan Nico.


Rakha menarik nafas dalam-dalam sembari mencengkram kedua tangannya untuk menghentikan getarannya. Setelah dirasa cukup tenang, Rakha mengambil ponselnya, mencari nama Aira pada contact list-nya sebelum akhirnya menelepon Aira. Entahlah, Rakha tiba-tiba merasa ingin mendengar suara Aira.


"Iya, Kha. Ada apa, nih? Tumben nelepon malem-malem." Kata Aira dari seberang sana. Seperti biasa, suaranya selalu terdengar ceria.


"Emmm... nggak apa-apa, Ra. Aku kira kamu sudah tidur."


"Kalau kamu mikirnya begitu, terus kenapa nelepon? Pasti ada sesuatu yang mau kamu omongin, kan, Kha?"


Rakha kali ini terdiam, ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Aira. Rakha lupa, bahwa Aira memang sepeka itu pada orang-orang di sekelilingnya.


"Aku cuma pengen denger suara kamu aja. Aku tutup, ya?"


"Loh? Loh? Rakha tunggu!"


Rakha serta-merta mengurungkan niatnya saat mendengar suara Aira yang begitu serius memintanya untuk tidak menutup telepon dulu.


"Iya, Ra?"


"Kamu... baik-baik aja, kan, Kha?"


Mendengar pertanyaan yang digulirkan oleh Aira, Rakha langsung membuang pandangannya ke arah lain. Satu pertanyaan dari Aira itu, berubah menjadi sebilah pisau yang mengiris-ngiris hatinya tanpa ampun.


Dalam situasi ini, Rakha berusaha keras menahan dirinya untuk tidak menanyakan kondisi Aira saat ini. Tapi Aira justru dengan mudahnya menanyakan kondisi Rakha. Demi apapun, gadis ini sangat polos, membuat Rakha ingin melindunginya dari semua hal yang mungkin akan mengungkit kembali luka lamanya. Rakha ingin melindunginya, agar kesakitan masa silam tidak lagi menghantuinya.


"A—aku baik-baik aja, Ra. Sekarang, kamu tidur, ya? Udah malem. Aku nggak mau diamuk Nico karena teleponan sama pacarnya malem-malem, hehehe..." Rakha terkekeh pelan di akhir kalimatnya, namun itu semua tidak lantas menutup getar pada nada bicaranya.


Secara berangsur, Rakha merasakan kedua matanya mulai memanas kemudian berkabut. Air matanya sudah tertahan sempurna di pelupuk.


Dan tanpa menunggu jawaban dari Aira lebih lama lagi, Rakha langsung memutus sambungan teleponnya. Sesaat setelahnya, Rakha memukul-mukul dadanya yang terasa penuh dan sesak.


...****...


Nico menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Saat tatapannya jatuh pada wajah Mamanya, Nico mendadak memikirkan kembali rencananya untuk bertanya soal Bimantara Danadyaksa kepada mereka. Nico takut, jika ia kembali menyeret nama 'orang itu', luka dan kepahitan yang sudah coba dikubur oleh Mamanya akan kembali menguak ke permukaan.


Nico tentu tidak bisa menutup mata, bagaimana selama ini Mamanya berjuang untuk melupakan semua penderitaan yang pernah dilaluinya. Sekarang, Mamanya sudah hidup dengan nyaman, kebahagiaan selalu menyertai setiap langkahnya, lalu, kenapa Nico harus merusak semua itu?


Jikapun ingin mencari tahu, Nico akan melakukannya sendiri. Dia tidak akan melibatkan kedua orang tuanya, lebih-lebih Mamanya.


"Kalau kamu beneran suka sama Nana, sebaiknya... kamu jangan coba cari tahu apapun soal orang itu. Kubur semua rasa penasaranmu, dan jangan tanyakan tentang apa, kenapa, dan bagaimana."


Satu ucapan Mamanya di masa lalu kembali terbersit di kepala Nico. Dulu mungkin Nico tidak memahaminya, tapi sekarang, Nico sudah paham alasan di balik ucapan Mamanya saat itu. Pemahaman itu pula, yang mengantarkan Nico pada jurang kehancurannya.


Dia adalah anak dari seorang pembunuh yang sudah melenyapkan nyawa kedua orang tua dari gadis yang sangat dicintainya, gadis yang selama ini menenangkan setiap rasa takut dan sakitnya menyangkut 'orang itu'.


"Kalau kamu beneran suka sama Nana, kamu harus benar-benar menghapus semua masa lalu kamu. Kamu cukup menjadi Nico. Paham?"


Sekarang Nico mulai merasakan dadanya sesak. Bahkan untuk menghela nafas, ia harus berusaha cukup keras.


"Karena kamu hanya bisa menyukai Nana jika kamu adalah Nico. Hanya dengan menjadi Nico, kamu bisa bersama dengan Nana."


Ingatan lainnya semakin memperparah keadaan Nico saat itu. Ia lalu memegangi dadanya, berusaha mengambil nafas. Namun, hal yang ia lakukan itu justru membuat dadanya semakin sakit. Setiap nafas yang ia hela tidak pernah terasa semenyakitkan itu bagi Nico.


"Nico, kamu kenapa, Nak? Kamu baik-baik aja, kan?"


Satu pertanyaan dari Mamanya, akhirnya berhasil menarik Nico dari semua kebingungannya. Di saat yang bersamaan juga, Nico berhasil menghela nafas dengan kasar.


"A—aku nggak apa-apa, Ma. Kalau begitu, aku balik ke kamar dulu." Ucap Nico setelah berhasil menemukan ketenangannya.


Regina dan Adryan menatapnya penuh keheranan


"Nico, kamu yakin nggak apa-apa?" Kali ini Papanya yang bertanya saat melihat Nico yang berjalan agak sempoyongan. Pandangan matanya bahkan tampak kosong.


"Nico baik-baik aja. Cuma agak kelelahan aja hari ini." Jawab Nico sambil menatap Papa dan Mamanya, berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan mereka.


Begitu tiba di kamarnya, Nico langsung membuka laptop-nya, dan berusaha mencari tahu tentang Bimantara Danadyaksa sebanyak mungkin. Ia lalu membaca beberapa artikel tentang kecelakaan yang dialami oleh kedua orang tua Aira. Setelah menemukan semua informasi dan menghubungkannya dengan segala hal yang ia lalui selama ini, Nico akhirnya benar-benar terlempar pada jurang kehancurannya.


Kenyataan bahwa ia menjalani kehidupan yang nyaman selama ini, sementara Aira harus hidup dalam penderitaan setelah kematian kedua orang tuanya semakin menyiksa Nico. Keputus asaanya semakin menjadi ketika ia tidak memiliki petunjuk sama sekali, kenapa kedua orang tua Aira harus dibunuh oleh Papa Kandungnya sendiri.


"Jika hari itu mobil yang kami tumpangi tidak ditabrak begitu saja, kedua orang tuaku pasti masih hidup. Bahkan adikku yang masih dalam kandungan, harus merelakan kehidupannya sebelum sempat dilahirkan. Aku salah apa, Nic? Aku harus kehilangan mereka semua dalam semalam. Di sini, Nic. Di sini rasanya sakit sekali."


Nico memukul kepalanya dengan tangannya sendiri. Malam itu, dalam pelukan kegelapan malam, Nico meringkuk di sudut kamarnya. Menangis dan menjerit dalam kebisuan yang menyesakkan.


...****...


Sudah tiga hari ini Nico tidak bisa dihubungi sama sekali. Nico bahkan tidak pernah menampakkan diri di kampus. Saat Aira pulang ke rumah, di sana ia hanya bertemu dengan Ibu Ningsih dan Pak Salim. Sementara kedua orang tua Nico sedang menghadiri sebuah konfrensi di Singapura.


Ibu Ningsih dan Pak Salim mengaku tidak tahu kemana Nico pergi selama tiga hari terakhir ini. Namun yang jelas, Nico menitipkan pesan pada Ibu Ningsih dan Pak Salim, kalau-kalau Aira datang mencarinya, Nico ingin mereka menyampaikan pada Aira bahwa Nico baik-baik saja dan Aira tidak perlu mencemaskannya. Nico juga meminta untuk tidak memberi tahukan soal kepergiannya pada kedua orang tuanya.


Nico berjanji akan pulang sebelum kedua orang tuanya kembali dari Singapura.


Tapi tentu saja Aira tidak bisa menerimanya. Alih-alih merasa baik-baik saja setelah mendapatkan pesan dari Nico, Aira justru semakin mencemaskannya. Selama tiga hari ini juga, Aira tidak bisa makan dan tidur dengan baik.


Selama mengenal Nico, ini pertama kalinya Nico bersikap seperti ini. Nico seperti keluar dari garisnya dengan melakukan satu tindakan yang bukan kebiasaannya.


"Nico masih belum ada kabar, Ra?" Tanya Yumi dengan cemas.


Saat itu, Yumi, Sheryl dan Bia sengaja datang ke apartemen Aira untuk menemaninya. Mereka tahu kegelisahan yang melanda Aira selama tiga hari ini. Jangankan Aira sendiri, Yumi, Sheryl, dan Bia juga merasa janggal dengan tindakan Nico sekarang. Nico seolah menjelma menjadi satu sosok yang tidak pernah mereka kenal selama ini. Rio dan Natta pun sama. Mereka benar-benar tidak memiliki petunjuk apapun tentang keberadaan Nico sekarang.


Dalam tiga hari, Nico tiba-tiba menjadi asing.


"Belum." Jawab Aira singkat. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya dan menangis.


Aira tidak peduli apapun yang Nico lakukan sekarang, Aira hanya ingin melihat wajahnya. Aira hanya ingin mendengar suaranya. Aira sungguh sangat merindukan Nico.


"Untuk sementara, kita cuma bisa ngasih kepercayaan buat Nico. Gue tahu, apa yang gue katakan sekarang ini mungkin nggak akan bisa bikin lo tenang, Ra. Tapi, gue secara pribadi percaya sepenuhnya sama Nico. Gue percaya Nico baik-baik aja dan akan segera kembali." Ujar Sheryl.


Aira sangat ingin memiliki kepercayaan yang sama seperti Sheryl. Tetapi rasa cemasnya terlalu kuat untuk bisa ia kalahkan.


Tidak lama setelah Yumi dan yang lainnya pulang, Aira tiba-tiba dikejutkan saat seseorang memencet bel apartemennya. Aira yang tidak berfikir panjang mengira bahwa itu Nico. Aira lantas berlari, namun begitu ia membuka pintu, ia langsung kecewa.


Yang datang ternyata bukan Nico, tapi Rakha.


"Yumi, Sheryl sama Bia udah pulang?" Tanya Rakha seraya melirik ke dalam.


Tadinya, Yumi bersikeras ingin tetap tinggal untuk menemani Aira. Tapi Aira mengatakan pada Yumi bahwa untuk saat ini ia ingin sendiri dulu. Dengan perasaan agak tidak rela, Yumi akhirnya meninggalkan Aira sendirian.


Alih-alih menjawab pertanyaan Rakha, secara perlahan Aira merasakan tubuhnya merosot ke lantai, ia kembali menangis. Namun kali ini ia menangis keras, menumpahkkan semua kesedihannya selama tiga hari ini yang membuat dadanya seperti terhimpit.


"Aku kangen Nico, aku mau lihat wajah Nico sekali saja.... Hiks hiks hiks..."


Melihat Aira menangis seperti itu, Rakha mendadak buntu. Ia lantas duduk di hadapan Aira lalu menepuk pundaknya beberapa kali untuk menenangkannya.


"Ra, Nico pasti kembali sebentar lagi. Sabar, ya?"


Merasa tidak kuat mendengar tangisan Aira, Rakha pun menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, berharap dengan cara itu, Aira merasa lebih baik.


Apa yang dilakukan oleh Aira dan Rakha itupun tidak luput dari perhatian beberapa orang yang lewat di depan unit yang Aira tinggali. Tapi meski begitu, Rakha memilih untuk tidak peduli. Ia hanya ingin menenangkan Aira.


'Maaf, Ra. Maaf karena aku nggak bisa ngomong apa-apa ke kamu sekarang.' Lirih Rakha dalam hati dengan penuh sesal.


Ingatannya pun mundur ke tiga hari yang lalu, saat Nico tiba-tiba mengiriminya pesan dan meminta untuk bertemu.


...****...


Tiga Hari Yang Lalu...



Itulah sepenggal pesan teks yang diterima oleh Rakha sesaat setelah ia mengakhiri panggilan teleponnya dengan Aira.


Rakha menghela nafas beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dan pergi menemui Nico.


Tidak lebih dari tiga puluh menit, Rakha dan Nico sudah duduk berdampingan di bioskop mini sambil menatap hampa pada layar besar di hadapan mereka yang menayangkan sebuah film.


"Gue sebenernya mau pergi secara diam-diam. Tapi gue fikir, gue harus ngasih tahu ini ke elo—" Nico memberikan jeda beberapa detik sebelum kembali melanjutkan, "gue akan pergi ke Pulau Banu untuk beberapa hari. Titip Aira, ya?"


"Apa lo... akan menemui 'PAPA' lo?" Tanya Rakha tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar besar di hadapannya. Rakha bahkan memberikan penekanan yang sangat kuat pada kata 'Papa', seakan menegaskan sesuatu yang hanya mereka berdua ketahui.


Nico yang terkejut mendengarkan pertanyaan Rakha, tetap berusaha untuk tenang meski seluruh tubuhnya gemetaran.


"Kha?"


"Gue minta maaf, tapi gue sudah tahu kebenarannya. Gue nggak sengaja denger obrolan antara Papa gue dan Mama lo tadi siang."


"Papa gue sama Mama lo?" Kali ini Nico tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Sejak kapan Papa Rakha dan Mamanya saling mengenal?


"Empat tahun yang lalu, gue nemu foto Papa gue sama seseorang. Gue nggak tahu siapa orang itu, tapi entah kenapa wajahnya nggak asing buat gue. Nggak lama kemudian, gue akhirnya sadar kalau kalian punya wajah yang mirip. Tapi hanya sebatas itu. Gue tidak menggali lebih dalam lagi karena gue fikir itu adalah hal biasa. Sampai akhirnya empat tahun kemudian, tepatnya tadi siang, gue menemukan satu fakta yang sangat mengejutkan, soal 'PAPA' lo dan... kematian kedua orang tua Aira. Sama kayak lo, gue juga sempet kaget saat tahu kalau Mama lo dan Papa gue ternyata saling kenal."


"Rakha gue—"


"Gue nggak peduli soal masa lalu lo, Nic, atau apapun menyangkut 'Papa' lo, gue cuma berharap Aira nggak akan terlalu terluka nantinya." Sela Rakha seolah tidak memberikan Nico kesempatan untuk berbicara. "Untuk saat ini, gue akan menempatkan lo sebagai sahabat gue, dan Aira sebagai pacar dari sahabat gue. Jadi tolong, selesaikan semua permasalahan ini tanpa melukai Aira lebih dalam lagi. Temukan satu jalan untuk menyelesaikan masalah ini tanpa harus membunuh kebahagiaan Aira."


Nico terdiam. Namun hati kecilnya tahu bahwa ia tidak bisa memberikan janji apapun terhadap Rakha sekarang.


"Sekali dia terluka karena lo, gue pastiin gue nggak akan pernah ngelepasin dia buat elo. Lo bisa pegang omongan gue ini, Nic."


Rakha baru saja melemparkan ultimatumnya saat Nico sedang dalam keadaan tidak berdaya.


^^^To be Continued...^^^