We, From The First

We, From The First
#11. Pelukan Pertama



Karena urusan pekerjaan, kedua orang tua Nico akan pergi ke Malaysia untuk beberapa pekan, dan terpaksa meninggalkan Nico dan Aira. Nico yang memang sudah terbiasa dengan keadaan ini, sama sekali tidak merasa keberatan. Namun lain halnya dengan Aira. Ia mendadak merasa kasihan dengan Nico. Dulu, dia mungkin sempat membenci Nico karena tidak menepati janjinya untuk menemui Aira di Pulau Banu. Tetapi sekarang, Aira mulai memahami kesepian yang dialami Nico. Belum lagi kenyataan bahwa Nico bukan seorang yang pandai menyampaikan isi hatinya, tentu ia tidak bisa mengeluh selama ini, dan hanya menerima meski itu bertentangan dengan keinginannya.


Sejak pindah ke kota Harsa, kedua orang tua Nico benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya. Sejak saat itu juga, Nico mulai membiasakan diri dengan kesendiriannya dan mencoba berpuas diri hanya dengan ditemani oleh Ibu Ningsih dan Pak Salim yang sudah bekerja pada keluarganya untuk waktu yang cukup lama.


"Setelah sebulan pindah, dulu Mas Nico merengek sama Papa dan Mama nya supaya diajak liburan ke Pulau Banu. Katanya, dia kangen sama Mba Nana. Tapi karena Ibu dan Bapak saat itu baru mulai merintis bisnisnya, mereka sangat sibuk. Jangankan liburan, untuk memenuhi undangan sekolah Mas Nico saja, mereka tidak bisa hadir."


Terang Bu Ningsih suatu hari pada Aira sambil mencuci piring, sedangkan Aira membantu mengelap piring. Ketika masih kecil dulu, Aira juga terbilang dekat dengan Bu Ningsih dan Pak Salim. Saat kedua orang tua mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaannya, Bu Ningsih dan Pak Salim lah yang menjaga Nico dan Aira.


Aira menatap Nico yang berdiri di sampingnya setelah membantu memasukan koper Papa dan Mamanya ke dalam bagasi. Ucapan Bu Ningsih padanya tempo hari, terus berpendar dalam kepalanya. Kini berbalik, Aira yang justru merasa bersalah karena terlalu banyak menyalahkan Nico, dan tidak memahami situasinya selama ini.


"Mama Papa berangkat, ya? Kalian baik-baik, yang akur." Pesan Regina pada Nico dan Aira. Setelah itu, Regina pun memeluk dan mencium Nico dan Aira secara bergantian.


"Kalau ada apa-apa, segera hubungi Papa sama Mama, ya?" Adryan menambahkan.


"Iya Pa, iya Ma... Papa sama Mama hati-hati, ya? Kabarin kalau udah sampai" ucap Nico sebelum kedua orang tuanya akhirnya memasuki mobil dan berangkat.


Begitu mobil yang membawa kedua orang tuanya sudah tidak terlihat lagi, Nico menoleh ke arah Aira yang saat itu tampak nyaman mendekap kucingnya. Seperti semalam, ia tidak bisa mengabaikan Aira kendatipun Nico merasa sedikit kesal karena kedekatan yang terjadi antara Aira dan Rakha kemarin-kemarin. Nico sekarang sudah bisa meredam kekesalannya dan mencoba untuk realistis. Nico sepenuhnya sadar, bahwa dia tidak memiliki hak untuk kesal apalagi marah. Lagipula, ia dan Aira sudah mulai akrab lagi belakangan ini, Nico tidak ingin merusak suasana hanya karena perasaannya yang tidak penting.


"Ra!" Panggil Nico tiba-tiba.


"Hm?" Jawab Aira yang tetap fokus dengan kucingnya.


"Kamu dulu main basket kan di sekolah lama?"


Aira mengangkat wajahnya. Ia tampak berfikir sebelum menjawab.


"Iya. Kenapa?"


"Main, yuk!" Ujar Nico sambil berlalu mendahului Aira. Itu sebagai pertanda, bahwa Nico tidak menerima penolakan. Ia seakan menegaskan, bahwa itu perintah, bukan ajakan.


...****...


Saat ini, Nico dan Aira sudah berhadapan di lapangan komplek untuk memulai pertandingan mereka. Di awal permainan, tampak Nico yang lebih menguasai bola dan membuat Aira sedikit kualahan menghadapinya. Namun pada menit-menit berikutnya, Aira menemukan kekuatannya dan mulai memahami strategi Nico. Dan hal itu, mau tidak mau membuat Nico akhirnya berfikir, bahwa Aira bukanlah lawan yang gampang.


Sore akan beranjak malam saat kedua orang itu menyelesaikan permainanya. Sebelum mengetahui kehebatan Aira, Nico awalnya berfikir akan mengalah di tengah-tengah permainan dan membiarkan gadis di sebelahnya ini menang. Tapi, setelah Aira memperlihatkan kemampuannya yang tidak bisa dianggap bercanda oleh Nico, naluri bersaing Nico timbul dan bertekad mengalahkan Aira.


Namun sayangnya, tekad Nico tidak terpenuhi. Aira unggul satu poin di atasnya. Tipis memang, tapi Nico harus mengakui bahwa Aira memang benar-benar jago.


"Nic..."


Panggilan Aira itu membuat Nico menoleh ke arah Aira yang sedang menatapnya. Melihat pandangan mata Nico yang begitu lembut dan meneduhkan, lidah Aira mendadak kelu, dan ia tiba-tiba merasa beku. Sisa-sisa keringat yang menempel di wajah Nico entah kenapa membuat ketampananya bertambah dua kali lipat. Dan sekarang imbasnya, jantung Aira tiba-tiba berdebar dalam irama yang tidak beraturan tanpa seizin darinya.


"Iya, Aira?" Ujar Nico tak kalah lembutnya dengan tatapan matanya sekarang.


Aira semakin kehilangan akal dibuatnya. Alhasil, ia pun jadi kelimpungan sendiri. Aira menggelengkan kepalanya beberapa kali agar kesadarannya kembali. Setelah agak mampu mengendalikan diri, Aira lalu bangkit dari samping Nico.


"Pulang, yuk! Udah mau malem nih."


Baru saja Aira akan melangkah pergi, ia tiba-tiba saja merasakan Nico menahan pergelangan tangannya seraya berkata, "tunggu..."


Aira berbalik, dan melihat Nico yang masih duduk di posisinya. Nico pun agak mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Aira. Ia lalu mengikat tali sepatu Aira yang terlepas tanpa mengatakan apapun. Setelah selesai, Nico bangkit hingga kini berdiri sejajar dengan Aira. Sementara Aira, ia masih belum bisa mengeluarkan suaranya.


Nico tertawa kecil, lalu dengan gemas mengacak rambut Aira, "kamu ini, ya? Dari dulu nggak pernah berubah. Tetep aja ceroboh. Dasar bodoh!"


Aira tidak paham apa yang ia rasakan sekarang. Ia mendadak ingin menangis tanpa tahu alasannya ataupun sebabnya. Dan posisi wajahnya yang masih menuduk, membuat air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya berdesakan keluar dengan mudahnya. Entah karena suasananya yang mendukung, atau memang dia sangat merindukan Nico, Aira dapat merasakan perlakuan Nico yang begitu manis, dan sentuhan tangan Nico pada rambutnya yang terasa lebih bermakna dari sebelumnya menyentuh sudut hatinya yang terdalam. Ini kali keduanya ia menangis di hadapan Nico.


Sadar bahwa Aira menangis lagi, Nico pun menggunakan salah satu tangannya untuk memegang pundak Aira, sementara tangan yang satunya lagi, ia gunakan untuk mengangkat dagu Aira agar bisa melihat wajahnya.


"Hey, hey, liat aku! Kamu nangis lagi? Kenapa?"


Aira menggelengkan kepalanya. Air matanya kian deras menetes.


"Kamu nangis karena aku katain bodoh?"


Aira menggeleng lagi dan membuat Nico semakin merasa bingung. Kenapa Nico harus menanyakan hal yang Aira sendiri tidak tahu apa jawabannya?


Nico yang kehabisan akal, akhirnya menarik gadis rapuh itu ke dalam pelukannya. Jika semalam Nico bisa menahan diri untuk tidak memeluk Aira, kali ini berbeda. Pertahananya sudah runtuh. Dalam pelukannya, ia mengusap lembut rambut Aira untuk menenangkannya. Namun alih-alih merasa tenang setelah Nico memeluknya, tangis Aira justru semakin pecah.


"Maaf, ya? Aku minta maaf..." Lirih Nico pelan dengan suara setengah berbisik.


Dan Aira pun membalas pelukan Nico, lalu membiarkan segala rasa yang tertahan mengalir. Aira harap begitu saja cukup. Karena sekarang pun ia merasa cukup.


^^^To Be Continued...^^^