We, From The First

We, From The First
#39. Kalah Start



"Karena kamu terlalu istimewa, itulah kenapa aku tidak memiliki keberanian untuk memilikimu bahkan dalam mimpi sekalipun."


...****...


Nico terlihat cukup serius ketika memilih hadiah yang ingin ia berikan untuk Aira sebagai kado ulang tahunnya. Saat itu, Nico sedang berada di sebuah toko perhiasan. Tidak lama setelah memilih, Nico akhirnya menjatuhkan pilihannya pada sebuah kalung dengan bandul daun clover. Nico tersenyum tipis, dalam benaknya berfikir, sepertinya kalung itu cocok untuk Aira.


"Mba, saya mau ini!" Kata Nico pada seorang Pramuniaga yang sedang menunggunya.


"Buat kado? Mau dibungkus?" Tanya Sang Pramuniaga dengan ramah.


"Nggak perlu, Mba."


Tidak lebih dari sepuluh menit, Nico keluar dari toko perhiasan itu. Begitu dia menuruni escalator, tanpa ia sadari ia berpapasan dengan Rakha yang saat itu sedang menaiki escalator di sisi lainnya bersama Ranha.


Mereka hanya saling berpapasan tanpa saling melihat satu sama lain.


...****...


"Selamat ulang tahun, Nana..."


"Selamat ulang tahun, anakku Nana..."


Ucap Regina dan Adryan secara bergantian saat Aira baru saja bergabung di meja makan bersama mereka. Di sana juga ada Nico yang saat itu justru terlihat biasa saja sambil menikmati sarapan paginya. Ia hanya menatap Aira sejenak, lalu tersenyum.


'Kenapa Nico terlihat biasa saja setelah semalam Aira memeluknya dengan sangat emosional?'. Itulah yang ada dalam benak Aira ketika melihat sikap Nico padanya pagi ini. Sebelum turun tadi, Aira bahkan sudah mempersiapkan hati dan mentalnya untuk bisa bertatapan kembali dengan Nico dengan cara biasa setelah kejadian luar biasa semalam. Tapi Nico malah bersikap seakan-akan tidak terjadi apapun di antara mereka.


Tapi memangnya apa yang istimewa dari sikap dingin Nico padanya? Nico bahkan bisa bersikap biasa saja setelah mencuri first kiss nya waktu itu. Lalu memangnya kenapa hanya dengan sebuah pelukan?


Tapi, hey! Aira bahkan sudah mengatakan dengan jujur bahwa ia merindukan Nico. Lalu apa ini? Bisa-bisanya Nico terlihat begitu santai.


"Ini kado dari Tante dan Om, ya? Semoga Nana suka."


Ujar Regina sambil menyerahkan sebuah kotak kado berukuran cukup besar pada Aira. Aira yang sejak tadi tenggelam dengan asumsi-asumsinya mengenai Nico, langsung membuyarkan fikirannya dan melihat ke arah Regina. Ia lalu menerima kado pemberian Regina sambil mengucapkan terima kasih.


Begitu membuka kadonya, Aira sangat tercengang ketika melihat sebuah tas branded limited edition berada di dalam kotak itu. Aira menganga dengan kedua mata terbuka lebar. Setelah itu, ia lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Tante, Om... tas ini bagus sekali. Nana suka." Pekik Aira sambil menatap bergantian pada Regina dan Adryan. Sementara Nico yang diam-diam terus mengikuti gerak-gerik Aira, hanya bisa tersenyum sembari menundukkan wajahnya melihat tingkah menggemaskan gadis itu.


"Om dan Tante turut senang kalau Aira senang. Semoga panjang umur, sehat selalu, ya?" Kata Adryan penuh kesungguhan sambil menyentuh puncak kepala Aira.


Aira hanya balas tersenyum, dengan luapan perasaan yang begitu bahagia.


Setelah selesai dengan sarapan paginya, Nico dan Aira bergegas menuju mobil. Nico yang terlebih dulu memasuki mobil, secara tidak sengaja melihat leher Aira dan mendapati kalung pemberiannya sudah melingkar dengan cantik di sana. Lagi-lagi Nico tersenyum, kali ini ia membuang mukanya agar tidak ketahuan oleh Aira.


Entah karena Aira sedang berulang tahun, atau ada alasan lain dalam diri Nico yang bahkan tidak ia sadari, yang jelas pagi ini, Aira terlihat sangat cantik di matanya. Rambut hitam lebatnya mulai memanjang menutupi hampir setengah punggungnya. Aira membiarkan rambutnya tergerai dengan poni tipis sebatas alis. Penampilan Aira yang selalu sederhana seperti ini, juga aroma parfumnya yang sangat Nico sukai, tidak pernah gagal membuat jantung Nico berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.


'Jantung sialan! Berhenti berdebar sekeras ini!' Rutuk Nico dalam hati sembari memegangi dadanya dan menghembuskan nafasnya perlahan.


...****...


Begitu memasuki kelas, Aira langsung dikejutkan dengan surprise dari Yumi, Bia, Rio, Sheryl, Natta dan Rakha. Keenam orang itu langsung menembakkan confetti saat Aira membuka pintu. Aira yang awalnya terkejut, sekarang tertawa karena tingkah sahabat-sahabatnya. Sementara Nico yang sejak tadi berjalan dengannya, hanya mematung di depan pintu. Dan pandangannya berangsur dingin saat melihat Rakha mendekati Aira seraya membawa sebuah kue ulang tahun berukuran kecil dengan lilin angka 18 di atasnya.


"Happy birthday, ya, Ra." Kata Rakha.


"Makasih semuanya, makasih juga, Kha..." Jawab Aira antusias setelah sebelumnya ia meniup lilin.


"Ra, sore ini bisa keluar sebentar nggak sama aku?"


"Ciye... ada yang mau ditembak, nih." Bia mulai menyulut api. Sedangkan yang lainnya kembali berteriak heboh, kecuali Yumi yang hanya terlihat menyimak, sama seperti Nico yang masih berdiri di luar.


"Please ya kali ini nggak ada penolakan." Pinta Rakha dengan nada memohon sesaat sebelum Aira menjawab pertanyaannya.


Aira yang tadinya memang akan menolak, langsung mengurungkan niatnya. Tapi ia juga tidak langsung menyetujui ajakan Rakha. Aira hanya tersenyum, lalu menoleh ke arah pintu untuk mencari keberadaan Nico. Namun di sana, Nico sudah tidak terlihat lagi.


...****...


Pukul lima sore, Rakha sudah tiba di depan gerbang rumah Nico dan menunggu Aira di sana setelah sebelumnya ia mengirimkan chat, dan mengabarkan pada Aira bahwa ia sudah tiba. Tidak sampai lima menit, Aira sudah keluar dari rumah.


Aira tampil casual dengan cropped cardigan berwarna cokelat terang yang ia padukan dengan sebuah highwaist jeans. Tak lupa juga ia menyampirkan sebuah sling bag berwarna senada dengan bajunya di salah satu bahunya.


"Hai, Rakha!" Sapanya dengan manis sambil melambaikan tangan di hadapan Rakha.


Rakha balas tersenyum, lalu bertanya, "udah bilang Nico?"


"Nico lagi bimbel. Sejak di sekolah aku belum sempet ketemu dia. Tapi aku udah chat dia kok. Eh, kamu sendiri kenapa nggak bimbel?"


"Aku bolos buat hari ini."


Mendengar jawaban Rakha yang terkesan sangat santai, Aira tiba-tiba merasa sedikit kesal lalu menghadiahi Rakha dengan sebuah pukulan yang cukup keras di bahunya. Rakha pun otomatis meringis kesakitan dibuatnya.


"Awww! Sakit Aira! Lagian kamu nggak bisa sembarangan memukul bahu calon atlet masa depan." Protes Rakha dengan memasang wajah pura-pura serius.


"Kamu layak dipukul! Bisa-bisanya bolos bimbel? Kalo Papa kamu tahu gimana?"


"Yaaa... nggak gimana-gimana."


"Rakha!" Bentak Aira cukup keras.


Rakha terkekeh pelan. Dengan pandangan yang cukup dalam, ia menatap tepat pada kedua mata Aira. "Aku janji, ini yang pertama dan terakhir kali aku bolos bimbel."


Aira tidak menjawab dan masih betah menatap Rakha dengan pandangan sebal. Sekarang Aira terlihat seperti seorang Ibu muda yang marah karena anaknnya yang nakal ketahuan bolos bimbel.


"Sekarang kita jalan, yuk! Biar baliknya nggak kemaleman. Nanti aku diamuk Nico kalo sampe kita kemaleman." Ujar Rakha dengan nada yang cukup lembut.


Setelah itu, ia memasangkan helm di kepala Aira. Dan di saat yang bersamaan, secara tidak sengaja perhatian Rakha tertuju pada kalung clover yang melingkar di leher Aira. Kedua tangan Rakha langsung lemas dan terlepas begitu saja dari tali helm yang ia pasangkan pada Aira. Dengan sangat jelas, Rakha dapat mendengar seperti ada sesuatu yang retak di dalam dadanya. Namun Rakha memilih untuk abai.


"Kalung kamu cantik, Ra. Hadiah ulang tahun, ya?" Tanya Rakha kemudian sambil berusaha menahan perih.


"Hmm" Jawab Aira dengan malu-malu. Wajahnya tiba-tiba berseri.


"Dari siapa?" Sekali lagi, Rakha mengajukan sebuah pertanyaan yang ia sendiri sebenarnya sudah tahu apa jawabannya.


"Nico."


Suasana langsung hening. Indera pendengar Rakha bahkan tidak mampu menangkap suara desiran angin dalam beberapa detik. Pertahanannya hampir rubuh, dan dia nyaris runtuh.


Ternyata Nico mendahuluinya. Satu kenyataan yang paling menyesakkannya adalah; ia jatuh cinta terlebih dulu pada kalung itu, tapi justru Nico yang mendapatkannya.


Rakha tersenyum pahit. Sambil dengan payah mengumpulkan serpihan-serpihan harapan yang masih tersisa, ia berkata pada Aira, "ya udah, naik yuk!"


^^^To be Continued...^^^