We, From The First

We, From The First
#10. Partner Pukul Dua Pagi



Pukul dua pagi, Nico keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Di saat yang bersamaan, Aira juga keluar dari kamarnya. Mereka saling menatap bingung untuk beberapa saat.


"Kamu kebangun?" Tanya Nico.


"Iya nih. Aku kebangun, dan sekarang sulit buat tidur lagi."


Nico hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.


Setelah dari lantai bawah dan membuat dua cangkir teh, Nico segera menyusul Aira yang saat itu sedang menunggunya di balkon. Kedua tangan Nico masing-masing memegang satu cangkir teh, sementara ia mengapit sebuah selimut di lengannya. Selimut itu sengaja ia bawakan untuk Aira.


Begitu Nico ada di sampingnya, Aira segera membantu Nico meletakkan cangkir teh itu di meja. Setelah itu, Nico lantas menutupi tubuh bagian atas Aira dengan selimut yang ia bawa sebelum akhirnya duduk di sebelah Aira.


"Kamu sering begini? Sejak kapan?" Tanya Nico membuka obrolan pada dinihari itu.


"Sesekali sejak kecelakaan setahun yang lalu. Aku... kadang masih mimpi buruk." Jawab Aira dengan jujur.


Nico hanya terdengar menghela nafas. Terus terang saja, Nico tidak tahu harus mengatakan apa pada Aira untuk bisa menenangkannya. Rasa bersalah karena ia tidak ada di samping Aira di saat-saat terberat itu, kembali mengusik hati kecilnya.


"Tapi sekarang udah nggak sesering dulu." Suara Aira terdengar lagi.


Setelah itu hening. Yang terdengar hanya suara hembusan angin malam diiringi suara jangkrik samar-samar dari kejauhan sana. Dan di antara keheningan itu, ada ungkapan rindu yang nyaris saja pecah. Tapi untuk kedua kalinya, mereka sama-sama menahan diri untuk tidak melampaui batas yang tanpa sengaja dan tanpa mereka sadari sudah mereka bentangkan sejak awal pertama.


Setelah cukup lama berdebat dengan fikirannya, Nico lalu menatap Aira yang baru saja menyesap teh buatannya. Ia lantas berujar pelan, "Ra, maaf karena aku nggak ada buat kamu di saat-saat terberat kamu. Maaf, karena akan nggak nepatin janji buat ngengokin kamu saat itu. Maaf, karena aku terlalu banyak melewatkan hal tentang kamu selama enam tahun terakhir ini."


Aira terkejut mendengar pernyataan Nico. Dan mendadak, Aira merasa seperti ingin menangis. Bukan karena Nico telah menyakiti perasaannya, tapi ia selalu saja ingin menangis atas perkataan siapapun yang menyeret kembali ingatannya pada masa-masa terberat yang ia lewati sendirian selama setahun lamanya.


Meski masih menyimpan sedikit rasa kecewa untuk Nico, ia dapat merasakan dan menerima setiap jengkal ketulusan yang Nico alirkan melalui perkataannya. Untuk meredam rasa ingin menangisnya, Aira menggenggam erat cangkir yang ada di tangannya.


Benar yang dikatakan orang-orang, bahwa obrolan yang terjadi di antara dua orang pada pukul dua pagi, adalah obrolan yang paling jujur dan tulus. Aira dapat menangkapnya dengan baik. Jika sebelum-sebelumnya, Aira selalu sendirian saat terbangun pada pukul dua pagi, kini mulai berbeda karena Nico ada di sampingnya. Dan diam-diam Aira berharap, bahwa akan seterusnya berjalan seperti itu dengan cara yang semestinya.


Aira sedikit terkesiap ketika merasakan Nico memasang satu sisi earphone di telinganya, sementara sisi lainnya, ia pasang di telinganya sendiri. Tanpa mengatakan apapun, seperti yang biasa ia lakukan, Nico memutar lagu A Shoulder to Cry On miliknya Tommy Page. Dari lagu itu, Nico seakan ingin menyampaikan bahwa Aira tidak akan sendiri lagi, dan Nico akan selalu ada bersamanya, menebus rentetan waktunya yang hilang untuk gadis ini.


Dalam keheningan pukul dua pagi, Aira membiarkan air mata yang selama ini ia tahan berjatuhan. Seiring lagu itu terus mengalun dengan lembut di telinganya, air matanya kian deras menetes.


Dan Nico tidak mengatakan apapun. Ia menghabiskan sisa malam itu dengan menemani Aira menangis tanpa sepatah katapun, dan memang itulah yang paling Aira butuhkan saat ini.


...****...


Rakha baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah Nico yang cukup luas, saat perhatiannya tiba-tiba tertuju pada sosok Aira yang saat itu sedang duduk berjongkok seraya mengangkat sesuatu dari dalam sebuah parit di depan rumah. Merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Aira, Rakha bergegas menghampiri Aira dan berjongkok tepat di belakangnya.


"Ngapain, Ra?" Tanya Rakha.


Di saat yang bersamaan, Aira mengangkat seekor anak kucing yang terjebur di parit. Rupanya, ia masih belum menyadari kehadiran Rakha.


"Hay... Kamu pasti ketakutan, kan? Mama kamu ke mana?" Ucap Aira dengan polos. Aira benar-benar merasa sedih melihat anak kucing yang terlantar itu.


Melihat tingkah Aira yang cukup menggemaskan, Rakha tertawa tanpa suara seraya menutupi matanya dengan tangannya. Dalam hati berfikir, kenapa gadis ini manis sekali? Dan Rakha benar-benar baru tahu bahwa Aira memiliki sisi yang menggemaskan seperti yang sedang ia lihat sekarang.


Aira menggendong kucing itu dalam dekapannya. Begitu ia bangkit dari duduknya, betapa terkejutnya ia melihat Rakha yang masih berjongkok sambil tertawa tepat di belakangnya.


"Astaga, Rakha! Sejak kapan kamu di situ?"


Rakha yang sejak tadi tertawa tanpa suara, kini membiarkan tawanya pecah. Rakha sekarang sudah berdiri tepat di hadapan Aira. Ia berusaha mengontrol diri agar tidak tertawa lagi, tapi gagal.


Melihat Rakha yang terus saja tertawa, Aira merasa malu. Apa ia memang sekonyol itu sekarang? Dan ya, penampilan Aira sangat berantakan pagi ini. Bajunya kotor karena sisa lumpur yang menempel pada anak kucing yang sedang berada dalam dekapannya. Keringat pun masih menempel di tubuhnya karena ia baru saja selesai jogging. Secara refleks, salah satu tangan Aira yang masih kotor terangkat hendak menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. Namun belum sempat tangan Aira mendarat di rambutnya, Rakha buru-buru menahan tangannya.


"Aira, tangan kamu kotor!"


Aira otomatis menarik tangannya dari genggaman Rakha, dan sedikit menjauh seraya berkata, "jangan dekat-dekat. Aku bau keringat sama lumpur."


Rakha yang sudah bisa mengontrol tawanya, segera membuka tasnya dan mengambil handuk kecil yang biasa ia bawa saat bermain basket. Rakha menggunakan handuk itu untuk melapisi anak kucing yang masih berada dalam dekapan Aira. Rakha lalu mengambil alih kucing itu.


"Uuuh... lucu sekali kamu! Nama kamu siapa?" Ucap Rakha pada anak kucing itu sambil dengan sengaja menirukan nada bicara Aira tadi.


Aira yang mulai peka langsung membuang wajahnya seraya mendesah pelan. Ia bahkan merasa seribu kali lebih malu dari sebelumnya.


"Karena dia putih, dan matanya biru, gimana kalau kita kasi nama Snowy aja? Kamu setuju kan, Ra?"


Aira kini mengangkat wajahnya dan memberanikan diri melihat wajah Rakha. Tidak lama Aira mengangguk, pertanda ia setuju dengan ide Rakha barusan.


Rakha hanya tersenyum. Perasaannya menghangat.


^^^To be Continued...^^^