
"Keluarkan buku kalian, dan buka halaman 10!"
Perintah Pak Dharma, Guru Biologi yang sedang mengajar di kelas Aira, dengan nada tegas dan lantang. Pak Dharma adalah salah satu Guru yang terkenal paling 'killer'. Dan Jam Pelajaran Pak Dharma, adalah jam yang paling menakutkan bagi sebagaian siswa-siswi SMA Patuh Karya.
"Dan bagi yang tidak membawa buku, saya persilahkan keluar." Lanjutnya kemudian.
Rakha yang duduk tepat di sebrang Aira, dapat melihat Aira yang tampak kebingungan seraya mencari sesuatu di dalam tasnya. Dari raut wajahnya, Rakha tahu bahwa Aira pasti meninggalkan bukunya.
"Ra, buku lo ketinggalan?" Bisik Yumi pelan, takut ketahuan oleh Pak Dharma.
"Aku rasa begitu..." jawab Aira yang mulai kelimpungan, tapi tetap berusaha terlihat tenang.
Ketika Aira merasa sudah pasrah, ia pun memutuskan untuk keluar dari kelas sebelum Pak Dharma yang galak itu menyeretnya. Tapi tepat saat Aira akan bangkit dari tempat duduknya, Rakha serta-merta menahan pergelangan tangannya. Rakha menghampiri bangku Aira, saat Pak Dharma sedang menulis di papan tulis. Rakha menatap Aira sejenak, dan tanpa berkata apapun, Rakha meletakkan bukunya di meja Aira lalu berjalan keluar kelas.
"Hey! Hey! Rakha!" Panggil Aira setengah berbisik, namun jelas terdengar panik.
Tetapi Rakha, pemuda tampan bermata elang itu sudah menghilang di balik pintu. Aira pun terduduk lemah di kursinya. Sebersit perasaan bersalah timbul, dan menyebakan perasaan tidak enak dalam dirinya.
Sementara Yumi yang duduk di samping Aira, terus melihat ke arah pintu. Yumi sudah berteman dekat dengan Rakha sejak sepuluh tahun yang lalu. Tidak ada yang tidak Yumi ketahui mengenai Rakha. Dan dari perlakuan Rakha barusan terhadap Aira, Yumi tahu, bahwa sahabatnya itu sudah menemukan cinta pertamanya.
Yumi menghela nafas, bersamaan dengan itu ia tersenyum mencibir, lalu bergumam dalam hati, 'Dasar bodoh! Kenapa lo harus membuatnya terlihat sangat jelas?'
...****...
Saat jam istirahat tiba, Aira segera pergi ke lapangan basket untuk mencari sosok Rakha. Sebelumnya ia bertanya pada Yumi dimana ia bisa menemukan Rakha. Dan begitu mendapatkan jawaban dari Yumi, Aira segera bergegas ke lapangan basket setelah sebelumnya mampir ke Kafetaria untuk membeli sebotol air mineral untuk Penyelamatnya itu.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Aira melihat Rakha sedang terduduk di pinggir lapangan. Dan begitu Aira mendekat, Aira mendapati Rakha yang terlihat berkeringat setelah bermain basket sendirian di cuaca yang cukup terik itu. Ia bahkan telah mengganti seragamnya dengan kostum basket SMA Patuh Karya.
Aira menempelkan botol minuman yang masih dingin itu pada wajah Rakha. Rakha yang terkesiap langsung menoleh ke samping. Tentu saja ia sedikit terkejut dan terperangah tidak percaya melihat siapa yang sedang menghampirinya sekarang. Begitu kembali dengan kesadarannya, Rakha langsung tersenyum lebar seperti seorang anak kecil yang kegirangan karena diberi permen.
"Aira?" Pekik Rakha antusias tanpa berusaha menutup-nutupi perasaan hatinya yang memang sedang gembira sekali sekarang. Rakha lalu meraih botol minuman itu dari tangan Aira, dan membiarkan gadis itu duduk di sampingnya.
"Makasih, ya, buat tadi. Dan maaf karena kamu harus keluar kelas karena nolongin aku."
"Nggak apa-apa, Ra. Aku udah sering berhadapan sama Pak Dharma sebelum ini, tapi buat kamu, ini pertama kalinya. Bukan hal yang menyenangkan kalau anak baru dapat masalah."
Aira tersenyum kecil mendengar jawaban Rakha. Ia lalu menyerahkan sebuah buku catatan kepada Rakha.
"Ini! Aku udah catet materi hari ini buat kamu."
Senyum Rakha kian melebar di wajah tampannya. Debaran jantungnya yang sejak tadi masih bisa ia kontrol, kini lepas dari kendalinya. Rakha dapat mendengar dengan jelas suara berisik jantungnya yang bertalu di dalam sana.
"Makasih, Ra..." Ucap Rakha singkat sambil menatap wajah Aira dari samping.
Aira menoleh sejenak untuk memberikan senyuman, lalu kembali menatap ke sebrang lapangan yang mulai tampak ramai oleh sekumpulan siswa-siswi. Ketika Aira sudah mengalihkan pandangannya, Rakha justru tidak bisa berpaling sedikitpun dari wajah cantik Aira.
Binar-binar di kedua mata Rakha ketika menatap Aira sama sekali tidak bisa berbohong. Ia mengagumi gadis di sebelahnya ini. Sangat mengangguminya. Dan untuk hari-hari ke depan, ia akan lebih dan lebih mengaguminya. Rakha pun sudah mengijinkan perasaan suka itu untuk tumbuh di hatinya, dan Rakha berharap bahwa rasa itu akan bertahan, dan mendapat sambutan yang serupa dari Aira.
Rakha sudah benar-benar menemukan cinta pertamanya.
...****...
Sejak hari pertama Aira menjadi siswi baru di SMA Patuh Karya, Yumi sudah memperkenalkanya dengan dua sahabatnya yang lain. Merekalah, Bianca —akrab dipanggil Bia yang agak sedikit blak-blakan namun cerdas, serta Sheryl yang cantik, dan selalu berpembawan anggun.
Namun, kendatipun Yumi sudah mengenalkannya sejak awal, tapi baru satu minggu kemudian Aira bisa mengakrabkan diri dengan ketiga sahabat barunya itu. Dan apa yang menjadi ketakutan Aira pertama kali, kini tidaklah terjadi. Berkat Yumi yang banyak membantunya sejak awal, Aira pun perlahan mampu untuk mulai membuka diri.
Keakraban yang terjalin di antara Aira, Yumi, Bia, dan Sheryl tertangkap oleh Nico saat ia bersama kawan-kawannya yang lain memasuki Kafetaria. Nico menghentikan langkahnya sejenak, sementara perhatiannya tertuju pada Aira yang tampak begitu nyaman bercengkrama dengan teman-teman barunya. Dalam diam, Nico tersenyum. Ia akhirnya bisa lega.
Merasa bahwa ada yang sedang memperhatikan dirinya, Aira pun melemparkan tatapannya ke arah Nico yang serta-merta membalas tatapannya dengan sebuah senyuman. Tanpa perlu mengeluarkan sepatah katapun, Aira dapat membaca kedua mata Nico yang seakan berkata padanya, 'kamu melakukannya dengan baik'. Aira lantas balas tersenyum setelah menerima sinyal dari Nico.
"Ra?" Panggil Rakha yang mulai terdengar akrab, sembari berdiri tepat di hadapan Aira.
"Nih!" Lanjutnya kemudian seraya menyerahkan sebatang coklat pada Aira.
Aira yang tampak kebingungan, melirik sejenak ke arah teman-temannya yang juga sama bingungnya dengan dirinya, kecuali Yumi. Ia lalu kembali menatap Rakha.
"Coklat?" Ujarnya dengan nada bertanya.
"Sebagai ucapan terima kasih untuk buku catatan dan air mineral kemarin." Jawab Rakha dengan mantap.
Aira menganggukan kepalanya, lalu menerima coklat itu. Tanpa sengaja, perhatiannya tertuju pada Nico yang saat itu tengah mengamatinya bersama Rakha dari posisi yang tidak begitu jauh. Ekspresi Nico sama sekali tidak terbaca. Pandangannya begitu datar.
"Oooh? Oke." Balas Aira setengah bergumam dengan tatapan mata yang tidak lepas dari Nico.
"Kha! Aira masih anak baru. Pelan-pelan aja." Celetuk Sheryl yang jahil secara tiba-tiba dan membuat Bia serta Yumi saling memandang sambil tersenyum meledek.
Mereka yang paham reputasi Rakha selama ini, tentu saja merasa geli dengan apa yang Rakha lakukan sekarang. Rakhaditya Arya, yang tidak pernah bersikap serius selain dalam hal pelajaran itu sekarang terlihat sangat manis. Ini sungguh situasi yang langka. Fikir Sheryl.
"Apa sih bocah?!" Sungut Rakha pada Sheryl dengan gelagat seolah-olah ingin memukul wajah Sheryl.
Sheryl dan Bia tertawa melihat tingkah Rakha. Sementara Yumi, gadis manis berpembawaan santai dan swag itu hanya mendengus. Rakha ini, kenapa terang-terangan sekali? Bathin Yumi dalam diamnya.
"Lu jealous, Sher? Ya udah, minta Natta sana ngasih coklat. Apa perlu gue sampein?"
Tantang Rakha tiba-tiba yang kontan saja membuat Sheryl menghentikan tawanya.
Bagaimana tidak? Rakha baru saja menyebutkan nama mantan pacarnya yang putus darinya sejak dua bulan lalu. Sheryl mulai terlihat salah tingkah. Sementara Natta yang dapat mendengar perkataan Rakha barusan, menatap Rakha dengan tatapan seolah siap menerkam Rakha hidup-hidup. Kali ini giliran Rakha yang tersenyum jahil. Poin mereka satu sama.
"Ya udah yuk, Girls! Balik ke kelas, bentar lagi bel nih."
Putus Sheryl sembari menggandeng lengan Aira, dan keluar dari kafetaria disusul oleh Bia, lalu Yumi. Tapi sebelum mengikuti temannya yang lain, Yumi sempat melemparkan pandangan jijik ke arah Rakha.
"Apa lu?" Hardik Rakha. Namun Yumi tidak menggubris. Ia keluar begitu saja dengan kedua tangan terlipat di dada seraya berdecak.
"Nic, lu kenal Aira dari kecil, kan? Spill dong apa aja yang Aira suka dan nggak suka."
Todong Rakha pada Nico begitu ia kembali ke tempatnya. Alih-alih menjawab langsung, Nico masih diam dan melihat Rakha dengan wajahnya yang juga masih tidak terbaca.
"Lu beneran naksir Aira, Kha?" kali ini giliran suara Rio yang terdengar menimpali.
"Hmmm... gimana, ya? Gue masih nggak yakin, tapi untuk saat ini, gue pengen terus deket sama dia."
"Yakin Nico bakalan ngasih izin?" Tanya Natta skeptis.
"Hmmm...." Rakha memutar kepalanya, hingga berhadapan dengan Nico yang masih terdiam, "gimana, Nic? Lo ngasih izin, kan?" lanjutnya kemudian.
"Hah?" Nico terkesiap setelah berhasil menarik dirinya dari keterpanaannya.
"Lo ngasih izin nggak gue sama Aira?"
Nico menghela nafas, dan itu berhasil membuatnya lebih bisa mengendalikan diri dari sebelumnya. Ia lantas menyeruput jus alpukatnya, lalu menjawab dengan singkat dan dingin.
"Ya silahkan aja kalau Airanya mau." Kata Nico tidak rela.
Tepat setelah itu, bel tanda masuk berdering dengan nyaring. Dalam hati, Nico diam-diam merasa lega karena pembicaraan kelompok ini juga berakhir. Nico beranjak dari kursinya dan keluar dari Kafetaria diikuti oleh yang lainnya.
^^^To be Continued...^^^