
"Nana!"
Aira serta-merta menghentikan langkah kakinya ketika mendengarkan suara milik Nico memanggil nama Nana tepat dari belakangnya. Seketika jantung Aira berdebar. Tidak bisa Aira pungkiri, bahwa dia begitu rindu mendengar Nico memanggilnya dengan nama itu lagi. Pernah ia lakukan sekali, memanggil nama Nana kepada Aira karena kelepasan. Dan setelah itu tidak ia lakukan lagi. Itu hal sederhana yang membuat Aira merasa masih berjarak dengan sosok Nico hingga detik ini.
Aira lantas menoleh ke belakang. Namun hanya kesalahpahaman yang akhirnya ia dapatkan. Aira membeku di tempatnya.
Ternyata ia keliru.
Di depan matanya, dari jarak yang tidak begitu jauh, Aira dapat melihat Nico tersenyum begitu lembut pada seorang gadis yang sedang berjalan ke arahnya seraya mengulurkan tangan. Gadis berwajah chubby itu menyambut uluran tangan Nico dan mengenggamnya erat, membiarkan kelima jari mereka saling bertautan.
Mereka lalu berjalan berdampingan dan terlihat begitu sangat serasi satu sama lain. Bahkan siapapun tahu, bahwa gadis yang berjalan di sisi Nico sekarang begitu menyayangi Nico. Sorot matanya mengatakan hal itu dengan tegas dan lugas.
'Pria ini milikku!'
Itulah satu kalimat pasti yang dapat terbaca dari setiap gerak tubuh gadis itu, dan dari bagaimana cara ia menatap pada kedua mata Nico. Tidak ada yang bisa membantah. Tidak satupun.
Dia adalah Nathusya Aruna. Gadis berparas imut itu sudah Nico pacari sejak masih duduk di kelas X. Dan sejak pertama kali gadis itu menyebut namanya sebagai 'Nana' ketika Masa Orientasi Sekolah, Nico sudah menyukainya. Perasaan Nico berbalas, karena ternyata Nanalah yang lebih menyukainya dan secara terang-terangan menunjukan perasaannya pada sosok Nico yang dingin.
Jika lebih diperhatikan lagi, siapapun akan setuju jika Nana memiliki pembawaan yang hampir sama dengan Aira. Penampilan mereka sama-sama sederhana. Tinggi badan dan bentuk tubuh mereka pun sama. Bahkan ketika Sheryl pertama kali berkenalan dengan Aira, dia sudah merasa bahwa Aira dan Nana memiliki banyak kesamaan, dan tanpa ragu memproklamirkan bahwa Aira adalah versi cantik dari Nana, sementara Nana adalah versi imut dari Aira.
Aira merasakan seakan jantungnya baru saja disiram oleh seember air dingin. Ia lalu terpukul mundur tanpa bisa mendefinisikan perasaannya saat ini.
Dasar bodoh! Begitulah Aira merutuki diri sepanjang waktu. Tiga bulan tinggal bersama Nico, bagaimana bisa ia tidak sadar sama sekali bahwa Nico sudah memiliki seseorang di sisinya? Pemikiran naifnya bahwa Nico masih menunggunya, seperti ia menunggu Nico selama ini, membuat Aira semakin merasa sangat menyedihkan.
Penolakan Nico saat pertama kali ia datang, sikap canggung Nico ketika berada di dekatnya, kewaspadaan Nico selama ini pada dirinya, serta alasan kenapa Nico tidak bisa memanggilnya 'Nana' lagi seperti dulu, Aira baru memahami sebabnya sekarang.
Aira mendapatkan keceriaannya dan rasa percaya dirinya lagi sejak bertemu kembali dengan Nico setelah bertahun-tahun. Lalu setelah ini, apa Aira bisa menatap Nico dengan cara yang sama? Apa kecanggungan yang mulai terkikis itu, akan kembali menyeruak di antara mereka seperti awal mereka bertemu kembali?
Saat ini, Aira masih tidak memiliki bayangan apapun prihal itu. Aira hanya berharap, ia bisa setidaknya berpura-pura bersikap normal saat nanti berhadapan dengan Nico.
Aira tidak boleh ketahuan... bahwa ia sedang patah hati.
...****...
Juni, 2010 (Masa Orientasi Siswa Baru SMA Patuh Karya)
"Perkenalkan, nama saya Nathusya Aruna. Kalian dapat memanggil saya Nana."
Gawat! Gadis itu mengingatkannya lagi pada sosok Nana yang dulu menjadi cinta masa kecilnya.
Untuk hari-hari berikutnya, tanpa pernah terlintas dalam benak Nico sekalipun, Nana terus mendekatinya dan berusaha menarik perhatian Nico. Nana bahkan tidak malu untuk menunjukan rasa sukanya pada Nico di depan teman-teman Nico.
"Nic, aku suka kamu! Kita pacaran, ya?"
Itu ungkapan perasaan pertama Nana pada Nico setelah 3 bulan menjadi siswa baru di SMA Patuh Karya. Nico, yang meskipun sejak awal sudah tertarik pada gadis itu, tentu saja tidak serta-merta mengatakan 'iya' atas pernyatan cinta yang mendadak itu. Nico begitu saja mengabaikan Nana. Namun Nana tidak menyerah.
Semester 1 berakhir. Nana sudah menyatakan perasaannya sebanyak tiga kali. Dan pada ungkapan yang ketiga itu, Nico tidak bisa lagi mengelak. Gadis keras kepala itu sudah berhasil meluluhkan hatinya.
"Aku juga suka kamu. Tapi itu karena kamu punya nama dan keperibadian yang hampir sama dengan cinta pertama aku."
Nico mengakui dengan jujur apa yang sebenarnya ia rasakan pada sosok Nana selama enam bulan terakhir ini. Dan Nico melakukan itu, karena ia tidak ingin membohongi Nana sedikitpun. Dan dengan kejujuran yang ia sampaikan itu, Nico berharap Nana akan mundur dan berhenti mengejarnya. Tapi apa yang Nico dapati kemudian, justru menjungkir-balikkan ekspektasinya.
"Nggak masalah. Aku akan bikin kamu suka sama aku sebagai aku, bukan sebagai cinta pertama kamu. Mungkin butuh waktu lama, tapi itu tetap nggak masalah."
Jawaban yang Nana berikan membuat Nico semakin tidak habis fikir dengan Nana sekarang. Tapi sama seperti Nana, Nico tidak ingin menyerah dulu. Nico lantas melanjutkan,
"suatu saat, dia bisa saja datang, dan aku bisa goyah."
Nana tampak berfikir, lalu meringis sebelum akhirnya menjawab, "aku akan mencuri kamu dari dia."
"seandainya aku tetap goyah, dan lebih milih dia?"
Kali ini Nana terdiam cukup lama. Tanpa sadar, Nico justru yang telah berhasil menggoyahkannya sekarang.
Nana menghela nafas panjang. Tatapan matanya pada Nico mulai melemah. Rasa percaya dirinya yang tadinya meningkat sampai angka seribu persen, kini menurun sampai ke angka satu persen. Dengan pelan, namun berusaha untuk tetap terdengar meyakinkan, Nana pun memberikan jawaban terakhirnya, memeluk erat-erat sisa keyakinan satu persen yang masih dimilikinya.
"Kalau sudah begitu apa yang bisa aku lakukan? Pilihannya ya cuma dua, aku bakalan jambak-jambakan sama cewek itu, atau... ngelepasin kamu." Jawab Nana setengah bercanda, yang akhirnya berhasil membuat Nico tertawa kecil.
Nico mengulurkan tangan kananya di hadapan Nana, lantas berkata,
"Ayo... pacaran."
^^^To be Continued...^^^