We, From The First

We, From The First
#13. Batas



Sudah tiga hari ini Nico merasa bahwa Aira sedang menghindarinya. Aira tidak terlihat berolahraga pagi seperti biasanya. Bahkan, Aira tidak lagi berangkat ke sekolah bersama Nico dengan diantarkan oleh Pak Salim. Sebelumnya, Aira memang sudah memberitahukan pada Nico, bahwa untuk seterusnya ia akan berangkat ke sekolah menggunakan bus. Di awal Nico sempat menolak keras ide Aira itu. Tapi ketika Aira menjelaskan, bahwa ia ingin melakukan segala halnya sendiri, tanpa perlu bergantung lagi pada Nico, membuat Nico pada akhirnya tidak bisa mengatakan apapun lagi. Ia harus memendam perasaan cemasnya pada gadis itu diam-diam.


Sementara dari sisi Aira, ia sudah berusaha keras melawan dirinya untuk tidak menghindari Nico, ia berusaha keras untuk bersikap wajar seperti biasa, dan tidak ingin membuat usaha Nico selama ini yang mencoba untuk mengikis kecanggungan di antara mereka menjadi sia-sia, tapi Aira tidak bisa. Setiap kali ia diharuskan berhadapan dengan Nico secara tidak sengaja, Aira selalu merasa nyalinya menciut. Ia merasa sangat kecil.


Ini sudah hari ke tujuh Aira menghindari Nico. Dan seperti hari-hari sebelumnya, hari ini juga ia menaiki bus untuk berangkat ke sekolah. Aira mengambil posisi di samping jendela. Ia lalu memasang earphone di kedua telinganya dan memutar lagu A Shoulder To Cry On. Lagu yang pernah diperdengarkan Nico itu kini menjadi lagu favoritnya yang selalu bisa menangkannya.


Beberapa saat kemudian, Aira merasakan seseorang duduk di sampingnya. Ia serta-merta membuka earphone-nya lalu menoleh. Dan betapa terkejutnya Aira ketika melihat sosok Nico yang sekarang sudah bertengger di sampingnya dengan raut wajahnya yang selalu datar.


"Nico?"


Nico mengabaikan Aira begitu saja. Seminggu bermain kucing-kucingan bersama gadis ini, cukup membuat Nico merasa frustasi. Setiap kali ia mencoba untuk berbicara dengan Aira, dan menanyakan apa masalahnya, Aira selalu saja menghindar dengan berbagai macam alasan. Nico yang sudah benar-benar buntu bahkan dengan naifnya menarik kesimpulan, bahwa alasan Aira terus-terusan menghindarinya selama satu minggu ini, adalah karena Nico sempat mengatainya bodoh saat itu.


"Kamu masih marah?" Tanya Nico pelan, ketika bus yang membawa mereka sudah berjalan.


"Aku nggak marah." Jawab Aira singkat sambil terus menatap pemandangan luar melalui kaca jendela yang terbuka.


Aira kembali memasang earphone yang tadi sempat ia lepaskan. Tapi sebenarnya, fikiran Aira sedang kacau sekarang. Kemunculan Nico yang secara mendadak benar-benar di luar perkiraannya.


"Terus kenapa ngehindarin aku terus?" Tanya Nico lagi. Dapat ia pastikan, bahwa kali ini Aira tidak akan bisa lagi melarikan diri.


Kali ini tidak terdengar jawaban apapun dari Aira. Nico yang merasa kesabarannya habis, langsung saja mencabut earphone yang Aira kenakan, dan menarik lengannya dengan kuat hingga kini wajah mereka saling berhadapan satu sama lain. Kedua mata Aira terbelalak lebar, sementara Nico hanya melemparkan tatapan dinginnya.


"Kalau aku salah, tolong bilang aku salah. Jangan terus ngehindarin aku, dan bikin aku kebingungan sendiri. Kalau ada sikap aku yang bikin kamu kesel, pukul saja aku langsung seperti yang sering kamu lakukan dulu. Lakukan apapun itu, tapi tolong jangan diam saja." Nico menarik nafas sejenak, untuk memberikan kelonggaran pada dadanya yang kini mulai penuh dan membuatnya sesak. Ia lantas melanjutkan ucapannya dengan nada lirih seakan memohon, "please... Nana..."


Mendengar Nico memanggilnya dengan nama itu lagi dengan sengaja dan penuh kesadaran, Aira tiba-tiba saja merasakan aliran darahnya berdesir, dan membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tatapan matanya kini tidak bisa lepas sedetikpun dari kedua manik mata Nico.


Aira lalu menyentuh tangan Nico yang masih menggenggam lengannya dengan kuat. Ia menyentuhnya dengan lembut, dan sengaja menahannya untuk beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan tangan Nico dari lengannya. Aira yang sudah bisa menenangkan diri pun akhirnya menjawab Nico.


"Kamu nggak salah, Nic. Kesalahan sepenuhnya ada di aku. Aku nggak marah sama kamu, aku cuma marah sama diri aku sendiri. Maaf karena bikin kamu bingung."


"Janji kamu nggak akan begini lagi?"


Aira kali ini mengalihkan pandangannya dari kedua mata Nico seraya mendesah pelan. Ia kembali memilih diam.


"Nana liat aku, dan janji kamu nggak akan begini lagi." Nada bicara Nico terdengar menuntut kali ini. Ia mulai jengah, seakan-akan jika sekali ini lagi Aira mengabaikannya, ia akan menarik paksa Aira untuk keluar dari bus, dan membawanya pergi.


"Iya, aku janji."


Ganjil. Itulah yang dapat Nico rasakan dari janji yang baru saja Aira ucapkan. Sebenarnya ada banyak hal yang masih mengganjal dalam fikiran Nico. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Aira. Tentang, kenapa dia marah pada dirinya sendiri? Atau kenapa semua kesalahan ada padanya? Ada banyak hal yang harus ia genapkan. Tetapi tatapan mata Aira yang seakan memintanya untuk tidak bertanya lagi, dan memahami 'batas' yang sudah Aira gariskan sejak awal, membuat Nico tidak bisa melakukan apapun.


Sejak awal, Aira sudah membatasi geraknya.


...****...


Pulau Banu, September 2005...


"Na, kalo aku salah, pukul aja aku. Jangan diem terus kayak gini."


Ucap Nico pada Aira sambil terus mengikuti Aira yang berjalan dengan langkah yang cepat di depan Nico.


Pasalnya, tiga hari yang lalu Nico menghilangkan gelang pemberian Aira. Padahal Aira sudah susah payah membuat gelang itu sendiri sebagai hadiah ulang tahun Nico. Tapi Nico malah menghilangkannya dengan mudahnya. Memangnya Nico tidak tahu apa? Bahwa Aira sampai harus begadang semalaman suntuk untuk menyelesaikan gelang itu?


"Na, jangan cuekin Nico terus." Pinta Nico dengan nada memelasnya yang selalu bisa membuat Aira luluh.


Dan itu berhasil! Aira langsung saja menghentikan langkahnya. Tanpa membuang waktu lagi, Aira berbalik, lalu berjalan menghampiri Nico yang tertinggal di belakangnya. Setelah dekat dengan Nico, Aira pun lantas memukul kepala Nico, seperti permintaan Nico di awal. Pukulan Aira yang ternyata cukup keras itu, kontan saja membuat Nico meringis kesakitan.


"Aw!" Ringis Nico seraya mengusap kepalanya, "kok Nana beneran mukulin Nico, sih? Sakit." Protes Nico kemudian.


Dan untuk seterusnya. Setiap kali Nico melakukan kesalahan dan membuat Aira marah, Aira selalu memukul Nico. Karena ide konyol ini berasal langsung dari Nico, tentu saja ia tidak berhak mengajukan protes.


"Selamat! Mulai hari ini, Nana bakalan ikutin permintaan Nico. Setiap kali Nico bikin Nana kesel, Nana bakalan pukul Nico."


Nana lalu melanjutkan langkahnya. Dan kembali diekori oleh Nico di belakangnya. Raut menyesal mulai tergambar di wajah Nico. Kenapa juga ia harus memberikan ide konyol itu pada Aira yang nekad dan jahat?


"Naa.. tungguin Nico." Ujar Nico sambil berusaha mengejar langkah Aira.


^^^To be Continued...^^^