We, From The First

We, From The First
#42. Satu, Dua, Tiga!



"Ketika aku menemukan separuh diriku dalam binar matamu, aku menyeruak di antara tanya dan kepastian. Inginku jelajahi relung dalam hatimu hingga bagian terdalamnya. Inginku selami selubung misteri dari kedua matamu. Hingga aku bisa menemukan sepenuh diriku di sana. Hingga semua tanya menghilang, dan hanya menyisakan kepastian."


...****...


Aira agak frustasi. Tidak hanya karena ia harus menyaksikan keakraban yang terjadi antara Nico dan Nana pagi tadi, tapi juga karena Rakha yang terus tidak mengacuhkannya sejak pagi. Aira bukannya tidak ingin berusaha untuk menegur Rakha dan bersikap seperti biasa, namun raut wajah Rakha hari ini benar-benar mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin diganggu dulu. Setidaknya untuk beberapa saat.


Saat jam pelajaran Penjaskes selesai, dan setelah Pak Ando membubarkan kelas, Aira segera pergi ke westafel yang terletak di pinggir lapangan bola untuk mencuci wajahnya. Tanpa Aira sadari, ternyata di sana ada Rakha yang juga sedang mencuci wajahnya.


Posisi mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain. Rakha yang pertama kali mengangkat wajah, langsung disambut oleh pemandangan sosok Aira yang sedang mencucui wajahnya. Untuk sejenak Rakha termangu. Bulir-bulir air yang menempel pada wajah Aira membuat gadis itu semakin terlihat cantik.


Kendatipun masih merasa galau atas penolakan Aira kemarin sore, Rakha merasa tidak tahan jika harus berlama-lama mencueki gadis ini.


Rakha yang sekarang telah berhasil menepikan semua rasa sakitnya, tiba-tiba terkekeh pelan saat sebuah ide jahil menghinggapi kepalanya.


Rakha lantas memercikkan wajah Aira dengan air keran. Aira yang sejak tadi sibuk mencuci wajahnya, seketika tersentak saat merasakan percikan air di wajah dan bajunya. Dengan kesal, Aira mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada orang di depannya.


Begitu sadar bahwa Rakha lah yang telah memercikkan air di wajahnya, rasa kesal Aira tiba-tiba terkikis dalam hitungan detik.


"Rakha jahil banget!"


"Itu balas dendam karena kamu udah nolak aku dua kali." Jawab Rakha usil, dan kembali memainkan air keran hingga lagi-lagi terciprat ke wajah Aira.


Aira dengan refleks menangkis dengan lengannya.


Hening untuk beberapa saat. Tidak terdengar suara protes lagi dari Aira. Di saat itu juga, spontan Rakha berfikir bahwa mata Aira kemasukan air dan ia sedang merasakan perih sekarang.


"Ra, kamu kenapa? Kena mata, ya?"


Karena tidak ada jawaban dari Aira, Rakha lekas mematikan keran lalu berjalan menghampiri Aira yang ada di sebrangnya.


"Ra?" Panggil Rakha pelan sambil menyentuh lengan Aira yang menutupi matanya.


Di saat itulah, tanpa Rakha duga, Aira langsung menyingkirkan lengannya dari matanya dan tertawa begitu keras karena berhasil membalas mengerjai Rakha.


"Ketipuuu!" Pekik Aira lalu berlari mengelilingi westafel. Rakha pun mengejarnya.


Untuk berikutnya, mereka terus saling memercikkan air keran sampai akhirnya...


"HEY! STOP!! KALIAN FIKIR ITU AIRNYA NGGAK BAYAR?!" Teriak Natta ―Sang Mantan Ketua Osis yang saat itu tengah berdiri di lantai dua bersama Nico yang terlihat melemparkan tatapan mematikan pada Aira dan Rakha.


...****...


"Nic, ngapain di sini?" Tanya Natta pada Nico yang ketika itu sedang berdiri sambil melihat Rakha dan Aira yang sedang berhadap-hadapan mencuci wajah mereka di bawah sana.


Nico tidak menjawab pertanyaan Natta. Dan di saat itu juga, Natta langsung mengikuti arah tatapan Nico. Berikutnya, Natta manggut-manggut seakan paham dengan seringai di wajahnya.


"Ohhh? Rupanya ada yang mengganggu pandangan lo di bawah sana? Butuh bantuan?"


Nico lagi-lagi tidak menggubris Natta.


Lalu, saat-saat 'genting' itu akhirnya tiba juga ketika Rakha mulai memercikkan air ke wajah Aira. Adegan demi adegan manis lainnya terus berlanjut hingga membuat amarah Nico tersulut. Itu sangat terlihat jelas ketika Natta menyaksikkan kedua tangan Nico mencengkram besi pembatas dengan sangat kuat.


Dan kemudian....


"HEY! STOP!! KALIAN FIKIR ITU AIRNYA NGGAK BAYAR?!" Teriak Natta dengan cukup keras dibumbui nada sok kuasanya. Rakha dan Aira pun menghentikan 'adegan manis' mereka.


Tepat dari sampingnya kini, Natta dapat merasakan hawa sedingin es.


...****...


Ujian akhir semester 1 semakin dekat. Nico dan kawan-kawannya yang lain pun kembali terlihat sibuk. Seperti yang biasa yang mereka lakukan setiap kali ujian, Nico dan yang lainnya selalu berkumpul di Coffee Shop milik Rio untuk belajar kelompok dengan di tutori oleh Rakha.


Melihat Aira yang baru saja datang bersama Yumi, Bia, dan Sheryl, Nico serta-merta menyingkirkan tasnya dari salah satu kursi kosong yang memang sudah ia sediakan untuk Aira di sampingnya. Nico melakukannya dengan sangat natural. Ia bahkan tidak menatap Aira sama sekali ketika melakukannya dan tetap fokus dengan buku catatannya.


Melihat sikap manis Nico, entah kenapa Aira tidak bisa menahan senyum di wajahnya. Takut ketahuan dengan yang lainnya, Aira pun mengulum bibirnya agar bisa menahan senyumnya.


Aira lalu segera duduk di samping Nico sebelum yang lainnya menyadari.


Akan tetapi tanpa Aira sadari, Rakha terus saja memperhatikan setiap pergerakan langkah yang ia ambil.


"Nggak jalan sama Tristan?" Ujar Rio ketus saat Bia duduk tepat di hadapannya.


Jujur saja, Rio masih kesal setelah tahu kalau Bia dan Tristan cukup sering jalan berdua. Apalagi setelah Tristan terang-terangan meminta pendapatnya tentang bagaimana jika ia dan Bia berpacaran.


"Lo kenapa sih, Yo? Perasaan beberapa hari ini ketus terus sama gue."


"Nggak peka juga lo, Bi! Dia nggak suka ngeliat lo deket-deket terus sama Tristan." Timpal Yumi dengan santai.


"Ayolah! Akhiri saja friendzone di antara kalian, dan jadian saja sekarang!" Ujar Sheryl.


"Lagian kalian berdua cocok. Jadian aja!" Tambah Natta sambil menunjuk ke arah Bia dan Rio secara bergantian menggunakan bolpoinnya.


"Jadian! Jadian! Jadian!" Koor Rakha, kemudian diikuti dengan yang lain.


Situasi belajar mereka yang mendadak berubah jadi momen pernyataan cinta, heboh dalam seketika.


Karena sudah kalang kabut duluan dengan kejahilan sahabat-sahabatnya, tanpa berfikir panjang Bia berucap dengan asal, "jangan ngaco kalian! Rio bukan tipe gue."


Mendengar pernyataan asal-asalan dari Bia, Rio serta-merta menghentikan aktifitas mencatatnya. Bolpoin yang sejak tadi ada di tangannya, terlepas begitu saja.


"Upss!" Gumam Rakha pelan seraya menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.


Situasi yang tadinya heboh mendadak hening dan canggung.


"Sudah! Sudah! Berhenti gangguin Bia sama Rio. Sekarang kita lanjut saja belajarnya!" Kali ini, Nico yang memang sengaja ingin mengalihkan suasana terdengar menimpali.


Setelah itu, semuanya pun benar-benar kembali fokus dengan materi mereka hari ini. Tetapi baik Rio maupun Bia sepertinya sama-sama tidak sepenuhnya fokus. Perkataan sahabat-sahabat mereka beberapa saat lalu, sudah berhasil mengacau-balaukan isi kepala mereka.


Anehnya, mereka sudah sangat sering mendapatkan godaan-godaan semacam itu dari yang lainnya. Namun ini kali pertamanya mereka merasakan godaan iseng itu memberikan efek yang mengejutkan di jantung mereka.


...****...


"Papa belum balik dari Pulau Banu?" Tanya Rakha pada Ranha saat ia baru saja memasuki rumah sehabis pulang dari belajar kelompok.


"Belum, Kak. Mungkin ntar malem. Oya, kak?"


"Kenapa, Ran?"


Rakha meletakkan tasnya lalu duduk di sofa.


"Tadi..." Ucap Ranha ragu-ragu.


Karena Ranha tidak kunjung menjawab, Rakha akhirnya mengalihkan perhatiannya dari majalah di tangannya, lalu menatap adiknya dengan serius. Entah kenapa, Rakha merasa ada yang aneh dengan sikap adiknya ini. Jangan bilang...


"Tadi kenapa, Ranha?" Wajah Rakha semakin serius. Firasatnya mulai mengatakan, bahwa Ranha telah bertemu dengan Mamanya.


"Ranha ketemu sama Mama."


"Terus?" Rakha kembali bertanya setelah sebelumnya menghela nafas dan berusaha meredam rasa marahnya.


"Ya begitu... Mama ngajakin Ranha makan. Mama cerita banyak soal kehidupannya selama di New York. Mama juga tanya-tanya gimana keadaan Ranha dan Kak Rakha selama Mama nggak ada. Apa Kak Rakha ngejagain Ranha dengan baik, dan―"


"Cukup, Ran! Kak Rakha nggak mau denger lagi."


Rakha yang merasa benar-benar muak, segera meraih tasnya dan bangkit dari hadapan Ranha. Namun begitu Rakha akan menaiki tangga, ucapan adiknya serta-merta menghentikannya.


"Ranha kangen sama Mama, Kak. Apa nggak bisa kita ikut saja sama Mama?"


Rakha memijat keningnya yang mulai terasa berdenyut. Sebelum Rakha bisa mencerna perkataan Ranha, Ranha kembali mengatakan sesuatu yang semakin membuat fikiran Rakha semakin kacau.


"Kalau kita ikut Mama, Kak Rakha nggak akan lagi merasa tertekan karena Papa. Dan Kak Rakha harus tahu, kalau Ranha nggak bisa terus-terusan ngeliat Kak Rakha tertekan kayak gini."


Rakha sudah akan melanjutkan langkahnya, namun Ranha tiba-tiba melangkah cepat untuk menghalanginya. Ranha memegang salah satu tangan Rakha, dan menatapnya dengan berlinang air mata.


"Kalau Kak Rakha benci sama Mama karena Mama udah ngehianatin Papa dan pergi ninggalin kita, Kak Rakha salah. Mama nggak pernah ngehiantin Papa, Kak. Papa cuma salah paham."


Kilat-kilat marah yang sempat berpendar dari kedua mata Rakha, secara perlahan menghilang. Penuturan Ranha barusan, cukup membuatnya tersentak hebat.


...****...


Setelah berkutat dengan rumus-rumus fisika semalaman suntuk, Nico yang merasa haus keluar dari kamarnya untuk mengambil minuman di dapur. Namun, ketika ia baru saja turun dari tangga, ia seketika menghentikan langkahnya saat melihat Aira yang sedang duduk sendirian di ruang TV sembari mengerjakan tugas kimia.


Nico dengan santai melewatinya, berjalan menuju pantry dan mengambil air. Setelah kembali, ia duduk di sisi Aira sambil berkata, "lagi ngerjain tugas?" Nico lalu menenggak minumannya dengan pandangan mata yang tidak lepas dari sosok di hadapannya.


"Iya nih. Tapi aku agak bingung."


"Soal nomor berapa? Coba lihat!" Nico meletakkan gelas di atas meja, lalu lebih mendekat pada Aira.


Sementara Aira duduk di bawah, Nico tetap memilih duduk di atas sofa.


Aira berbalik, memperlihatkan buku tugasnya pada Nico, dan menunjuk soal nomor lima. Nico membacanya untuk beberapa saat, tidak lama, ia kemudian mengangguk paham. Ia mengambil alih pensil yang ada di tangan Aira dan mulai menerangkan.


"Jadi gini, untuk menentukan titik beku 0,3 ini, kamu bisa menentukannya lewat perbandingan..."


Nico lalu menuliskannya di bagian belakang buku Aira sembari menerangkan dengan pelan agar Aira gampang memahaminya.


Saat Nico sedang sibuk menjelaskan, Aira justru kehilangan fokus saat melihat wajah Nico yang begitu tampan. Aira tertegun. Dan semua yang telah Nico jelaskan seolah menguap di udara. Tidak satupun masuk ke dalam otaknya.


"Sampai sini paham?" Tanya Nico memastikan seraya menoleh ke arah Aira.


Saat itu juga Nico tahu, bahwa ternyata Aira sedang menatapnya sedari tadi. Posisi wajah Aira yang berada tepat di bawah wajahnya, membuat Nico dapat melihat dengan jelas setiap lekuk kecantikan gadis ini.


Aira pun dapat merasakan jantungnya berdebar dalam irama yang tidak beraturan, ketika sepasang mata mereka saling beradu satu sama lain. Aira ingin segera membuang tatapannya. Tetapi kedua mata jernih Nico yang seakan memiliki magnet, membuat Aira tidak berdaya untuk sekedar berpaling.


Satu... dua... tiga... tombol kontrol dalam diri Aira mendadak error. Di luar perintah otaknya, Aira mengangkat wajahnya lalu mendaratkan sebuah kecupan di bibir Nico.


Sesuatu dalam diri Nico seperti menyentaknya tanpa aba-aba. Kedua pundak Nico secara refleks terangkat saat merasakan bibir Aira menyentuh permukaan bibirnya dengan lembut. Sebelum Nico sempat mentralisir segalanya, Aira sudah mendapatkan kesadarannya kembali dan buru-buru menjauhkan wajahnya dari wajah Nico.


"Maaf..." Lirih Aira pelan tanpa berani menatap mata Nico.


Aira yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa malunya, memutuskan untuk pergi dari hadapan Nico. Namun baru saja ia akan bangkit dari duduknya, ia tahu-tahu merasakan Nico menahan tangannya.


"Siapa bilang kamu boleh pergi? Kamu harus selesein tugas kamu dulu."


Sial! Aira menggigit bibir bagian bawahnya dengan wajah mengerut. Bukan jatahnya untuk melarikan diri sekarang.


...****...


(Malam di Hari Ulang Tahun Aira)


Dalam perjalanan pulang setelah kembali dari mini market, tidak terjadi obrolan apa-apa antara Nico dan Aira. Nico pun yang beberapa saat lalu terlihat sangat emosional, kini mulai tampak tenang dan sudah lebih bisa mengendalikan diri dari sebelumnya.


Meski semua yang terjadi di luar rencananya, namun tidak ada satu hal pun yang Nico sesali sekarang.


Aira hanya menatap punggung Nico yang berjalan tidak jauh di depannya. Begitu Nico akan memasuki gerbang rumahnya, tanpa ia duga Aira menarik pergelangan tangannya dan menahannya dengan wajah tertunduk.


Nico menoleh, lalu menatap Aira dengan pandangan bertanya. Tidak lama, Nico kemudian mengalihkan pandangannya pada pergelangan tangannya yang kini digenggam oleh Aira dengan kedua tangannya.


"Pelan-pelan ya, Nic?"


"Maksud kamu?"


"Aku bukan sedang meminta waktu buat berfikir, tapi justru akulah yang ngasih kamu waktu buat berfikir. Aku nggak mau kamu kena masalah lagi karena aku, Nic. Jadi, tolong fikirkan lagi." Kata Aira, masih dengan wajah tertunduk.


Nico yang mulai memahami perasaan bersalah yang sedang melingkupi Aira saat ini, langsung melepaskan genggaman tangan Aira dari pergelangan tangannya. Saat itu, jantung Aira seakan mencelos.


Namun berikutnya yang terjadi adalah, gantian Nico yang menggenggam kedua tangan Aira. Aira tersentak dengan lembut. Ia yang semula menunduk, begitu saja mengangkat kepalanya dan membalas tatapan mata Nico yang begitu dalam menembus relungnya.


"Kamu nggak perlu ngerasa bersalah, Ra. Aku ngerti, dan aku minta maaf atas tindakan gegabah aku tadi. Kamu pasti kaget dan nggak siap. Aku seharusnya mempertimbangkan banyak hal sebelum itu, kan?"


Aira mengangguk pelan, yang dibalas Nico dengan seulas senyuman.


"Mari kita santai dulu. Fokus sama ujian akhir, lalu ayo berpacaran setelah itu. Setuju?"


Sekali lagi Aira mengangguk, namun kali ini dengan kedua mata berkaca nyaris menangis.


"Hey! Jangan nangis lagi. Berhenti cengeng! Kamu sudah 18 tahun hari ini." Kata Nico seraya menunduk agar bisa melihat wajah Aira.


Ketika isakan Aira mulai terdengar, Nico tertawa kecil lalu segera merengkuh gadis cengeng itu , mengurung tubuh mungil Aira dalam dekapannya. Nico kemudian dengan lembut mengusap rambut Aira.


"Aku minta maaf, ya? Aku nggak akan kayak gitu lagi. Janji!"


Aira tetap tidak mengatakan apapun. Hanya isakannya yang semakin kuat terdengar. Lantas dengan pelan, kedua tangannya terangkat dan melingkar di pinggang Nico.


Nico tersenyum saat merasakan Aira membalas pelukannya. Ia pun kemudian menghadiahi kepala Aira dengan sebuah kecupan kecil.


"Stttt! Jangan nangis lagi, ya?"


^^^To Be Continued...^^^