
"Ra... mau ya, jadi pacar aku?" Ujar Rakha penuh kesungguhan sambil tetap memeluk Aira.
Aira yang terkejut, langsung melepaskan diri dari rengkuhan Rakha dan menatap Rakha dengan kedua mata yang terbuka lebar. Meski bisa mendengarnya dengan sangat jelas, namun Aira tetap saja masih belum bisa mencernanya dengan baik. Dan meski pernyataan Rakha itu sudah didukung sepenuhnya oleh ucapan Bia padanya tadi siang, yang mengatakan bahwa Rakha menyukainya, Aira tetap belum sepenuhnya bisa untuk percaya. Tidak! Lebih tepatnya, Aira menolak untuk percaya.
"Ra!" Panggil Rakha seraya melambaikan salah satu tanganya di depan wajah Aira yang masih menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Ralat, menolak percaya.
Rakha tahu ini tidak akan mudah sejak awal. Dan ia pun tahu, bahwa pasti yang ia dapatkan hanya penolakan pada akhirnya. Tetapi Rakha sungguh ingin agar gadis ini tahu bagaimana perasaan Rakha terhadapnya.
Setelah cukup lama terdiam, Aira mulai bisa bersikap tenang. Ia lalu mendekat ke arah Rakha, dan menyentuh kening Rakha yang memang terasa sedikit –hanya sedikit hangat. Aira mengangguk, lantas berkata, "Kha, kayaknya kamu lagi nggak enak badan, deh. Nanti habis ini langsung istirahat, ya?"
"Hahaha, Ra, jangan ngalihin topik. Kamu tahu aku serius."
"Aku juga serius." Balas Aira dengan meyakinkan.
Rakha lalu mendongakan kepalanya seraya mendesah. Sepertinya Aira mulai tahu bagaimana cara membuatnya frustasi. Mereka saling menatap mata masing-masing untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mereka tertawa bersama. Suasana yang tadi sempat canggung, kini mulai mencair. Dan Aira memang sengaja memilih cara ini untuk mengalihkan suasana.
Ia sepenuhnya tahu Rakha bersungguh-sungguh. Tapi ia juga tahu dengan pasti, siapa pemilik hatinya yang sebenarnya.
Dan Rakha tidak bodoh, ia juga tahu itu sebentuk penolakan yang Aira berikan secara halus. Namun Rakha tidak akan menyerah sampai di sini. Bagi Rakha, ini baru awalnya saja. Rakha akan terus berusaha, hingga 'Gadis Bernomor Punggung 88' ini bisa melihatnya dan menerima perasaannya.
"Pulang, yuk! Udah sore nih. Aku anterin." Ucap Rakha yang mulai bisa mengontrol dirinya.
Saat Rakha melangkah dan melewatinya, Aira tiba-tiba berkata, "ini hadiah yang kamu mau?"
"Bukan. Ini hukuman karena kamu udah nolak aku!" jawab Rakha seraya berbalik, lalu berjalan mundur. Ia lantas menyunggingkan seulas senyum maut andalannya di wajah tampannya.
Aira segera turun dari Vespa Rakha setelah tiba di depan rumah. Dan ketika Aira hendak membuka tali helm-nya, ia agak kesulitan. Rakha lalu menarik lengan Aira, dan membantunya membuka tali helm itu. Di saat itulah, dalam jarak yang begitu dekat, lagi-lagi Rakha terpukau melihat betapa cantiknya gadis ini.
"Makasih, Kha." Ucap Aira setelah Rakha membuka helmnya sambil membenahi rambutnya yang agak berantakkan.
Rakha sudah akan mengangkat tangannya untuk menyentuh rambut Aira, saat tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Untuk hari ini, cukup sampai pernyataan perasaan saja. Rakha harus menahan diri untuk bisa membuat Aira tetap nyaman di sampingnya. Lagipula, Rakha sudah tahu, kalau gadis yang sudah ia sukai sejak awal ini, adalah Gadis Bernomor Punggung 88 yang dulu pernah menjadi pelindungnya.
...****...
Malam itu, Rakha sedang memeriksa file foto hasil dokumentasi Last Game siang tadi saat secara tidak sengaja ia menemukan satu foto candid Aira yang tengah berlari ke tengah lapangan sambil mengikat rambutnya. Wajah Aira di foto itu terlihat sangat cantik meski diambil dari samping.
Rakha lalu sedikit menjauhkan diri dari laptop-nya. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dengan kedua tangan terlipat di perut sembari terus menatap foto yang ada di depannya nyaris tak berkedip.
"Apa kamu bahkan inget sama aku, Ra?" Gumam Rakha pelan.
Ia kembali melanjutkan aktifitasnya, dan menemukan satu foto milik Nico yang tengah menatap Aira dengan tatapan mata yang begitu dalam. Rakha sudah bersahabat dekat dengan Nico hampir tiga tahun lamanya. Ia tahu bahwa pandangan mata itu, bukan pandangan mata seorang teman ke temannya, tapi pandangan yang Nico tunjukan adalah pandangan mata seorang pria yang sangat menyukai wanitanya. Rakha lalu terdiam beberapa saat. Ingatannya sekarang tertuju saat Aira dan Nico saling menatap satu sama lain ketika Aira di tengah lapangan tadi.
Rakha lalu mendesah pelan, sembari berusaha menahan perih yang tiba-tiba menelusupi dinding hatinya. Dan foto berikutnya adalah foto dirinya yang sedang berpelukan dengan Nico sambil tertawa begitu lebar. Rakha menatap foto itu dengan dingin, dan kembali bergumam dalam sendirinya...
"Maaf, Nic. Gue nggak akan mengalah."
^^^To be Continued...^^^