We, From The First

We, From The First
#44. Karena Itu Kamu



"Bu Ningsih, Nana udah pulang?"


Tanya Nico pada Bu Ningsih yang saat itu sedang menyiram tanaman begitu ia tiba di rumah. Wajah Nico terlihat sangat cemas. Berkali-kali ia mencoba menelepon Aira, namun tidak ada jawaban. Nico juga mengiriminya pesan teks dan menanyakan keberadaannya, namun Nico tetap tidak mendapatkan balasan.


"Belum. Mba Nana belum pulang." Jawab Bu Ningsih sambil menghentikan aktifitasnya sejenak.


Dengan kegelisahan yang kian membuncah, Nico memasuki kamarnya. Kali ini, ia berusaha mengubungi Yumi, Bia, dan Sheryl, kalau-kalau mereka sedang bersama Aira, atau setidaknya mereka tahu keberadaan Aira. Tapi sama seperti sebelumnya, hasilnya nihil.


Meski begitu, Nico belum ingin menyerah. Sesaat kemudian, ia berusaha menelepon Rakha begitu mengingat bahwa tadi Rakha pamit dengan terburu-buru setelah ia membaca sebuah pesan teks yang ia terima dalam waktu yang hampir berdekatan dengan Nico. Asumsi sementara Nico saat ini; Aira sedang bersama Rakha.


Namun lagi-lagi, Rakha juga tidak bisa dihubungi. Ia terus menolak panggilan dari Nico.


Nico duduk di salah satu sisi kasurnya sembari berfikir. Ia melipat salah satu tangannya di perut, tangan yang satunya lagi, ia gunakan untuk menyangga dagunya. Ketika ia tidak mendapatkan satu pencerahan pun menyangkut Aira, Nico segera meraih jaketnya dan tanpa berfikir panjang keluar dari rumah untuk menemukan Aira.


...****...


"APA?" Pekik Yumi dan Sheryl secara bersamaan setelah mendengar pengumuman dari Rio dan Bia bahwa mereka sudah resmi berpacaran sejak dua minggu yang lalu.


Seperti biasa, saat itu mereka berkumpul di bascamp mereka. Di Coffee Shop milik Rio.


Sementara Yumi dan Sheryl terlihat begitu terkejut, Natta justru terlihat biasa saja.


Yang terjadi selanjutnya adalah, Yumi dan Sheryl terus meminta penjelasan dari Bia sedetail mungkin. Mereka ingin memastikan bahwa Bia tidak akan melewatkan satu hal pun. Mereka butuh cerita lengkapnya sekarang juga.


"Jadi begitu..." Ujar Bia mengakhiri penjelasannya dengan wajah bersemu merah. Pemandangan yang tidak biasa dari seorang Bia itu lah yang semakin membuat mereka semua menggila tidak terkecuali Natta yang sejak tadi terlihat anteng-anteng saja.


"Apapun itu, walaupun kami tahunya sangat telat, selamat!" Ucap Yumi dengan raut wajah yang masih menyimpan sedikit rasa kecewa.


"Makasih, Yumi kuuu..." Jawab Bia seraya memeluk Yumi.


Tidak lama setelah itu, Nico tiba-tiba datang dengan wajah kusut. Ia bahkan masih menggunakan seragam sekolahnya.


"Nico, lo tahu? Rio sama Bia udah jadian." Kata Sheryl antusias saat Nico berjalan menghampiri mereka. Namun Nico justru tidak menggubris Sheryl sama sekali.


"Apa Aira nggak mampir ke sini?" Tanya Nico, entah kepada siapa saja yang mau menjawab.


"Aira masih belum ketemu juga?" Yumi balik bertanya, yang langsung dijawab Nico dengan sebuah gelengan.


"Nomernya juga belum aktif sampai sekarang." Kata Nico tanpa bisa menyembunyikan rasa cemas dan gelisahnya.


Ia lalu mengedarkan pandangannya. Setelah sadar bahwa Rakha juga tidak ada di sana, asumsinya menjadi semakin kuat.


"Kemana Rakha?"


"Entahlah. Dia juga sulit sekali dihubungi sejak tadi." Kali ini Rio yang menjawab.


"Maksud lo Rakha juga nggak ada di sini?" Nada suara Nico mulai meninggi tanpa dia sadari.


Rio menatap Nico dengan heran, lalu mengedikkan kedua bahunya.


"Kenapa? Ada apa lo nyariin gue?"


Ucap Rakha yang tiba-tiba saja muncul tepat dari belakang Nico. Semuanya secara otomatis menatap ke arah Rakha yang saat itu terlihat sangat santai berjalan mendekati mereka. Dengan wajah yang tidak kalah santainya, Rakha berdiri di samping Nico dan menatapnya dengan tenang.


"Apa lo sama Aira tadi?" Tanya Nico.


Rakha mengangguk dengan mantap lalu menjawab singkat, "iya."


"Sekarang Aira kemana?"


Tanpa mengatakan apapun lagi, setelah mendengar jawaban terakhir Rakha, Nico segera berbalik dan berjalan setengah berlari untuk segera menemui Aira di rumah. Rasa khawatirnya sekarang sudah tidak bisa ia kendalikan lagi.


Rakha menatap nanar punggung Nico yang mulai menghilang di balik pintu. Sedetik berikutnya, ia tersenyum getir. Memorinya bergulir kembali pada momen perpisahannya dengan Aira dua jam yang lalu...


...****...


2 jam yang lalu...


Rakha menceritakan soal obrolan yang terjadi antara dirinya dan Mamanya beberapa saat yang lalu pada Aira. Rakha menceritakan segalanya tanpa menahan apapun. Dan hal yang Rakha lakukan itu, secara ajaib membuat hatinya menenang. Meski harus menceritakan lukanya yang paling dalam pada Aira, tidak sedikitpun Rakha merasa memiliki ketakutan. Sebaliknya, ia justru mendapatkan sebuah kekuatan.


"Rasanya lebih menyakitkan lagi, saat hari ini akhirnya aku tahu, kalau alasan Papa dan Mama berpisah, hanya karena Papa salah paham. Dan selama ini, aku hidup dengan membenci Mama tanpa tahu cerita yang sebenarnya."


Aira tidak mengeluarkan sepatah katapun, dan hanya membiarkan Rakha melampiaskan semua emosinya yang tertahan selama bertahun-tahun lamanya.


"Selama Mama pergi, aku hidup di bawah tekanan Papa yang terus menuntut aku buat jadi yang terbaik. Aku menahan semuanya, meski tahu kalau semua ambisi-ambisi Papa adalah pelampiasan dari rasa sakitnya terhadap Mama."


Setelah Rakha mengakhiri ceritanya, Aira lantas mengusap lembut pundak Rakha dengan harapan, Rakha bisa menjadi lebih tenang dan akan merasa lebih baik setelahnya.


"Dan, sebentar lagi Mama bakalan kembali ke New York." Untuk yang satu ini, Rakha tidak bisa lagi menahan laju air matanya.


Ia menatap Aira dengan seulas senyum di wajahnya, namun jauh di dalam sana, Aira tahu bahwa Rakha sangat terluka sekarang. Kenyataan bahwa ia harus berpisah kembali dengan Mamanya setelah ia tahu kebenaran-kebenarannya, tentu saja telah menghidupkan semua lukanya.


"Makasih ya, Ra? Makasih karena udah banyak bantuin aku hari ini. Makasih juga, karena udah mau dengerin cerita-cerita aku."


"Sama-sama, Kha. Aku juga tahu, bahwa pasti ini bukan hal yang mudah buat kamu untuk menceritakan semuanya."


"Karena itu kamu, Ra. Itulah kenapa segala sesuatunya jadi terasa lebih mudah."


Aira hanya membalas dengan sebuah senyuman.


"Ya udah, aku anterin pulang, yuk!"


Aira mundur satu langkah saat mendengar ucapan terakhir Rakha. Ia menundukkan wajahnya, dan dengan perasaan tidak enak berkata pada Rakha, "aku pulang sendiri aja, ya?"


"Tapi, Ra..."


"Please..." Ujar Aira dengan nada memohon. Kali ini ia memberanikan dirinya untuk mengangkat wajah dan menatap langsung pada kedua mata Rakha.


Dan Rakha tahu, bahwa Nico adalah alasan dari semua penolakan Aira padanya. Selama ini, Rakha selalu berpura-pura bodoh dan memilih untuk tidak mau tahu. Untuk seterusnya pun, Rakha bertekad untuk tetap bersikap seperti itu. Namun untuk hari ini, sepertinya Rakha harus mengalah. Aira bahkan sudah memohon padanya. Rakha tidak akan tega menolak permohonannya.


Dengan berat hati, Rakha mengangguk. Tetapi begitu Aira melangkah pergi, Rakha segera mengejarnya dan berdiri tepat di hadapannya.


"Tunggu bentar, Ra..."


"Kenapa?"


Rakha kemudian membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak kado dari dalamnya.


"Ini kado ulang tahun kamu. Dari kemarin aku mau ngasih ini, tapi lupa terus. Maaf."


Tidak! Rakha sama sekali tidak lupa. Mana bisa Rakha melupakan bagian terpenting untuk gadis ini? Hanya saja, Rakha tidak bisa mengatakan bahwa sejak kemarin, keberaniannya tiba-tiba menciut di hadapan Aira setelah Aira menolak perasaannya untuk yang kedua kalinya.


Aira menerima kado pemberian Rakha seraya tersenyum.


"Makasih, Kha." Gumam Aira sembari menunjukan kado itu di hadapan Rakha.


^^^To be Continued...^^^