
Ketika Yumi sedang berkumpul bersama Aira, Sheryl, dan Bia di ruang ekskul basket, Dea –salah satu anggota timnya, tiba-tiba menghampiri Yumi dengan nafas tersengal.
"Yum! Yum! Ada kabar buruk!" ujar Dea panik sambil berusaha mengatur nafasnya yang kacau.
"Kenapa sih, De?" tanya Yumi bingung ketika Dea sudah berdiri di hadapannya. Sahabat-sahabat Yumi yang juga ada di sana, tidak kalah bingungnya dengan Yumi sekarang.
"Riri nggak bisa ikut pertandingan hari ini."
"Kenapa?" Tanya Yumi yang masih tampak santai.
"Riri kecelakaan tadi pas berangkat ke sekolah. Dia jatuh dari motor."
"APA?!" Pekik Yumi kaget. "Terus gimana? Riri nggak apa-apa? Lukanya parah?"
Kali ini Yumi tidak lagi mengkhawatirkan pertandingannya yang sebentar lagi akan dimulai. Bagi Yumi saat ini, yang terpenting adalah kondisi Riri.
"Lukanya nggak terlalu parah. Dia udah dibawa ke Rumah Sakit. Kakinya cuma cedera ringan."
"Syukurlah kalau begitu, selama Riri nggak parah, nggak masalah." Ujar Yumi yang mulai bisa bernafas lega.
"Terus tim kita gimana? Mana ngepas lagi cuma sepuluh orang dari kelas XII" Dea kembali terdengar bersuara.
"Nggak bisa ambil dari adik kelas aja?" Sheryl mencoba memberi solusi.
"Ya bisa-bisa aja, sih. Cuma aja kan ini temanya Last Game. Pertandingan ini diperuntukan untuk kelas XII. Nggak pas aja sama momen." Jawab Yumi. Ia yang sejak tadi tenang, sekarang mau tidak mau jadi bingung juga.
"Kan ini keadaan terdesak juga, Yum. Nggak ada solusi lain." Bia menimpali. Sementara Dea hanya mengangguk-angguk setuju. Dea sendiri merasa benar-benar buntu sekarang.
Aira yang sejak tadi hanya mendengar obrolan itu mulai paham dengan situasi yang sedang terjadi sekarang. Dan tiba-tiba, sebuah ide timbul di kepalanya.
"Aku aja yang gantiin Riri. Aku juga dulu tim basket di sekolah lama."
Semua yang ada dalam ruangan itu serta-merta menatap ke arah Aira yang tampak begitu yakin. Mereka semua sama sekali tidak menduga, bahwa diam-diam Aira juga tergabung di tim basket sekolah lamanya.
Aira tersenyum kaku pada Yumi, Bia, Sheryl, dan Dea yang sedang menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
...****...
Suasana lapangan outdoor SMA Patuh Karya semakin sesak dipenuhi oleh siswa-siswi yang ingin menyaksikan pertandingan terakhir kelas XII ini. Tidak hanya siswa-siswi dari kelas XII saja yang berdatangan, hampir setengahnya dari siswa-siswi kelas X dan XI juga ikut hadir. Cuaca yang cukup terik pada siang hari itu, tidak sedikitpun menyurutkan semangat mereka untuk memberikan dukungan penuh pada kawan mereka yang sedang melakukan pertandingan terakhirnya hari ini.
Dan di antara kerumunan para penonton, tampak Nico, Rakha, Rio, dan Natta yang baru saja menyelesaikan pertandingan mereka, turut andil dalam memberikan semangat untuk Tim Putri. Mereka bahkan masih menggunakan kostum basket mereka. Rakha dan Rio sudah terlihat sangat heboh meneriakkan nama Yumi yang justru tampak tak acuh di tengah lapangan sana.
Tidak lama kemudian, Sheryl yang juga masih menggunakan kostum cheerleaders-nya datang bersama Bia, dan ikut bergabung bersama Rakha CS. Sheryl melirik sejenak ke arah Natta, sebelum akhirnya duduk di sebelahnya. Dan sungguh, mereka tampak sangat cocok dengan kostum yang sekarang mereka kenakan. Natta si anak basket yang cool, dan Sheryl si anak cheerleaders yang populer.
Rakha dan Nico yang sama-sama menyadari ketidakhadiran Aira bersama dua orang itu, secara kompak bertanya, "Aira mana?"
Sheryl dan Bia tersenyum misterius dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Rakha dan Nico. Sebentar lagi kalian akan tahu. Fikir Sheryl dan Bia.
Saat sedang asyik mengobrol dengan Bia di sampingnya, Sheryl tiba-tiba terkesiap saat merasakan Natta menutupi pahanya yang terbuka dengan jaket miliknya. Sheryl menoleh ke arah Natta dan melemparkan wajah bertanya. Tapi Natta tidak mengatakan apapun. Sejak tadi, Natta memang sudah menangkap rasa tidak nyaman Sheryl karena rok yang ia kenakan terlalu pendek. Natta juga merasakan hal yang serupa. Itulah kenapa, ia langsung mengambil inisatif untuk menutupi bagian paha Sheryl yang terbuka dengan jaketnya.
Pertandingan hampir dimulai saat Aira tiba-tiba muncul di tengah lapangan sambil berlari dan mengikat rambutnya. Ia sudah menggunakan kostum basket warna merah kebangaan SMA Patuh Karya. Namun tidak seperti yang lainnya, nama Aira tidak tertera di punggungnya, dan membuat sosoknya menjadi misterius di mata orang-orang yang belum tahu siapa dirinya. Karena Aira masih terbilang anak baru, jadi ada sebagian yang memang belum mengenalinya dan merasa asing dengan dirinya. Mereka bertanya-tanya, "Siapa dia?" "Kenapa bisa menggantikan Riri?"
Jika yang lainnya merasa bingung dengan kehadiran Aira, Nico dan Rakha justru kaget setengah mati melihat Aira yang tiba-tiba saja bergabung dengan Tim Yumi. Dan Aira yang berada di tengah lapangan sana, secara tidak sengaja melihat ke arah Nico yang masih menatapnya dengan raut terkejut. Ia lantas melemparkan senyumannya untuk Nico, dan sama sekali tidak sadar, bahwa Rakha juga sedang menatapnya.
Rakha tidak senaif itu, ia tahu arah pandang Aira tidak tertuju padanya, melainkan pada Nico yang duduk tepat di sampingnya. Rakha tercenung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Rio membuyarkannya, "Kha! Kha! Gebetan lo, tuh."
Rakha membuang jauh-jauh fikirannya mengenai hal yang baru saja terjadi. Ia kembali memasang senyuman lebar di wajahnya lalu memberikan semangat untuk Aira.
"GO AIRA! KAMU PASTI BISA!!" Teriak Rakha penuh semangat, tanpa menghiraukan teman-temannya yang mulai merasa jijik dengan sikap sok romantisnya itu.
Sementara Nico, ia tetap bergeming.
Rakha terperangah melihat permainan Aira yang begitu memukau. Gaya bermain Aira mengingatkannya pada seorang gadis yang bertahun-tahun lalu pernah ia temui secara tidak sengaja di sebuah Tournament Basket antar SMP. Saat itu, Rakha juga sudah terpukau olehnya.
Ya, gadis itu dulu Rakha sebut sebagai "Cewek Bernomor Punggung 88"
...****...
Pertandingan pun berakhir dengan dimenangkan oleh Tim Yumi. Semua bersorak gembira, dan mereka saling berpelukan satu persatu. Ini bukan perihal menang ataupun kalah, ini perihal memori indah yang berhasil mereka bentuk bersama.
Rakha hendak menghampiri Aira di tengah lapangan, saat Yumi tiba-tiba berlari ke arahnya dan memeluknya. Tanpa sadar, tubuh Yumi terangkat ketika memeluk Rakha. Rakha pun segera membalas pelukan Yumi untuk menahannya agar tidak terjatuh.
"You did well, Rakha! Terima kasih..." Ucap Yumi penuh kesungguhan.
Berhasilnya acara hari ini, memang tidak lepas dari usaha keras Rakha selama mengemban posisi sebagai Ketua Klub Basket. Itulah kenapa, Yumi mengucapkan terima kasih padanya dan mengatakan bahwa Rakha sudah melakukannya dengan baik. Itu kalimat ajaib bagi Rakha, yang selalu dapat meluluhkan hatinya dan membuatnya melepaskan topengnya untuk sejenak.
Semua anggota tim lalu meneriakkan nama Rakha. Rakha tersenyum dengan mata berkaca. Kebanggan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari Papanya meskipun dia sudah bekerja keras, akhirnya bisa ia dapatkan dari sahabat-sahabatnya dan anggota timnya yang selama ini sudah bekerja sama dengannya.
Rakha merangkul Yumi di sampingnya dengan perasaan haru yang tidak mampu ia bendung lagi. Dan di saat yang bersamaan, Rakha dapat melihat Nico yang sedang menghampiri Aira lalu mengusap kepalanya. Di saat itu Rakha tersadar, bahwa ada satu hal lagi yang harus ia lakukan.
...****...
Pulau Banu, 2008...
Sambil menunggu gilirannya bertanding, Rakha menonton pertandingan Tim Putri dari sekolahnya melawan Tim Putri dari salah satu sekolah di Pulau Banu. Rakha duduk di deretan paling depan sembari memperhatikan dengan seksama. Lalu tiba-tiba, perhatiannya tertuju pada gadis bernomor punggung 88 dari tim lawan. Dalam situasi genting, gadis itu berhasil mencetak poin. Rakha terperangah melihat kehebatannya.
"Keren!" Gumam Rakha dengan takjub.
Pertandingan dimenangkan oleh tim sekolah lawan. Tapi Rakha tidak peduli. Ia pergi ke ruang tunggu pemain untuk mencari sosok gadis bernomor punggung 88 itu. Namun Rakha tidak menemukannya. Ketika Rakha akan berusaha mencarinya lagi. Rekan se-timnya lebih dulu memberitahukan bahwa mereka harus segera berkumpul di lapangan.
Tim Rakha berhasil meraih kemenangan. Tapi lagi-lagi Rakha tidak peduli. Begitu pertandingan selesai, Rakha kembali mencari gadis bernomor punggung 88 itu. Tapi pencariannya lagi-lagi terhenti saat melihat Papanya menarik Mamanya dengan keras dan kasar menuju tempat yang lebih sepi. Rakha akhirnya mengikuti mereka diam-diam.
Dari balik dinding, Rakha dapat melihat kedua orang tuanya sedang bertengkar hebat.
"Kamu fikir aku tidak akan tahu kalau kamu akan membawa Rakha ke Tournament ini? Kamu fikir apa yang sedang kamu lakukan pada anakku?!"
Evelyn –Mama Rakha hanya terdiam, dan tidak berusaha untuk membalas perkataan Arkha. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Arkha bisa mengikutinya hingga sejauh ini.
Arkha adalah seorang Dokter Bedah, sementara Evelyn adalah mantan atlet basket, yang kini bekerja sebagai pelatih basket yang cukup terkenal. Mereka berdua sudah bercerai sejak Rakha dan adiknya Ranha masih sangat kecil. Perceraian itupun disebabkan karena Arkha menuduh Evelyn berselingkuh dengan seorang atlet basket yang masih terbilang muda. Sejak saat itu, Arkha tidak ingin melihat Rakha bermain basket, mengikuti jejak Mamanya.
Dan entah untuk yang keberapa kalinya, lagi-lagi Rakha yang masih sangat muda, menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar. Rakha ingin pergi dari tempat itu, dan tidak ingin lagi menyaksikan pertengkaran di antara keduanya. Namun kedua kaki Rakha seakan terpaku. Ia pun hanya terdiam sambil berusaha meredam tangisnya.
Dan ketika Papanya hendak mendaratkan sebuah tamparan di wajah Mamanya, seorang gadis tiba-tiba saja datang dan menutup kedua mata Rakha dengan tangannya tepat dari belakang Rakha. Rakha berhenti bernafas untuk sejenak, sebelum akhirnya ia dapat merasakan gadis itu menariknya pergi dari tempat itu.
Rakha yang berjalan di belakangnya, dapat melihat nomor punggung '88' dengan sangat jelas.
...****...
Rakha sedang duduk sendirian di salah bangku penonton sambil memainkan bola di tangannya saat Aira datang untuk memenuhi panggilannya. Melihat kehadiran gadis itu, Rakha langsung saja menghentikan aktifitasnya. Ia berdiri lalu mengapit bola itu di lengannya dan menghampiri Aira dengan perasaan berbunga.
"Sekarang sebut, kamu mau hadiah apa?" ucap Aira dengan pasrah.
Rakha sudah menang. Itu berarti ia harus menepati janjinya untuk memberikan hadiah pada pemuda ini.
Rakha tidak terdengar memberikan jawaban. Ia hanya menatap Aira dengan segala luapan perasaan yang lagi-lagi dengan sialnya tidak mampu ia deskripsikan. Senyum Rakha kian melebar. Ia pun menggigit bibir bagian bawahnya. Gadis bernomor punggung 88 ini... ia akhirnya sudah menemukannya.
Rakha lantas membiarkan bola yang sejak tadi ia apit terjatuh begitu saja. Dengan gerakan cepat, ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Aira yang kaget, sempat memberikan perlawanan dengan berusaha mendorong dada Rakha, tapi Rakha justru semakin erat memeluknya.
Aira kini menyerah. Namun ia tidak sedikitpun berniat untuk membalas pelukan Rakha.
"Ra... mau ya, jadi pacar aku?"
^^^To Be Continued...^^^