We, From The First

We, From The First
#09. Wish You Were Here



"Natta kemana? Nggak dateng lagi?" Tanya Nico saat baru saja tiba di Coffee Shop sambil duduk di hadapan Rio dan Rakha yang memang sudah lebih dulu datang.


Setiap malam minggu, Nico, Rio, Rakha, dan Natta selalu rutin berkumpul di Coffee Shop milik Rio yang sudah mereka jadikan basecamp sejak setahun yang lalu. Tempat itu adalah tempat yang paling nyaman menurut mereka untuk dijadikan tempat belajar bersama, mengerjakan tugas, atau sekedar berkumpul biasa untuk menghabiskan waktu bersama seperti malam ini.


Namun ada yang aneh. Akhir-akhir ini Natta jarang sekali ikut berkumpul bersama sejak tiga bulan yang lalu. Ia bahkan sulit dihubungi dan membuat kawan-kawannya bingung. Pernah beberapa kali salah satu dari mereka bertanya pada Natta, kenapa ia mulai jarang ikut berkumpul, tapi Natta selalu bisa memberikan alasan. Awalnya semuanya baik-baik saja, tapi makin ke sini, Nico dan yang lainnya semakin merasa ada yang aneh dengan sikap Natta.


"Kalian ngerasa nggak sih? Natta mulai aneh sejak putus dari Sheryl." Ujar Rakha seraya menatap serius kepada Nico dan Rio.


"Bahkan Natta tiba-tiba putusin Sheryl pun udah cukup aneh. Semua tahu lah, Natta sayang banget sama Sheryl. Dibandingin sama Sheryl pun, gue yakin kalau perasaan Natta jauh lebih besar. Dan kita semua nggak pernah ada yang tahu kan, kenapa mereka putus." Lanjut Rakha.


"Tapi kita semua juga tahu, kalau Natta bukan tipe orang yang suka diutak-atik urusan pribadinya." Nico menimpali.


"Justru karena itu! Karena nggak mau kita semua tahu, makanya dia mulai bersikap aneh seperti ini. Dan kita nggak bisa diem aja. Gimana kalau emang sebenernya terjadi sesuatu sama Natta? Gue cuma takut Natta kenapa-napa."


Mendengar ucapan Rakha yang memang ada benarnya, Nico dan Rio terlihat berfikir. Dan mau tidak mau, mereka semakin menyimpan khawatir tentang keadaan Natta saat ini. Nico kemudian terdengar menghela nafas sembari menyandarkan tubuhnya di kursi. Kalau benar memang terjadi sesuatu pada Natta, dan mereka tidak tahu, Nico fikir ia akan merasa sangat menyesal.


Yumi, Sheryl, dan Bia tiba-tiba memasuki Coffee Shop, dan membuat fokus tiga pemuda itu buyar. Yumi dan Bia terlihat melambaikan tangan ke arah mereka, sementara Sheryl mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan Natta. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Sheryl masih menyimpan rasa pada Natta, dan belum rela hubungan yang sudah ia jalani selama dua tahun tiba-tiba putus tanpa alasan. Dan meski tidak ingin menunjukannya, mereka semua tetap bisa menangkap dengan jelas apa yang Sheryl rasakan dan fikirkan.


"Natta nggak ada, Sher." Ucap Rio begitu Sheryl, Yumi, dan Bia bergabung bersama mereka. Tidak hanya Rio, tapi mereka semua menyadari, siapa yang sedang Sheryl cari, dan untuk siapa Sheryl datang.


"Siapa juga yang nyariin Natta?" Jawab Sheryl dengan ketus.


Saat mendengar jawaban yang Sheryl lemparkan pada Rio, Yumi dan Bia saling melirik sambil tersenyum meledek.


Bia lalu mengambil posisi tepat di samping Rio lalu menyerahkan Buku Matematika milik Rio yang tadi ia pinjam karena miliknya ketinggalan. "Thanks , ya, Yo?"


Rio tersenyum sangat manis pada gadis itu, "sama-sama, Bii."


Lain hubungan antara Sheryl dan Natta, lain juga hubungan antara Rio dan Bia. Mereka berdua sangat dekat sejak pertama kali masuk ke Patuh Karya, mereka juga saling perhatian satu sama lain, tapi hubungan mereka hanya sebatas teman. Tidak lebih. Dan hal itulah yang membuat satu sekolah merasa greget. Pertanyaan seperti; "kenapa kalian nggak pacaran saja?", adalah pertanyaan paling sering mereka dengar. Tapi seperti yang sudah-sudah, baik Bia maupun Rio selalu mengabaikan pertanyaan itu, dan tetap merasa nyaman dengan hubungan yang mereka jalani.


Rio sangat populer di sekolah. Semua gadis-gadis mengaguminya. Tapi semua juga tahu, bahwa hanya Bianca seorang yang selalu Rio perhatikan.


"Ngomong-ngomong soal buku ketinggalan, inget nggak sih waktu itu? Waktu Rakha dengan sok kerennya ngasih pinjem Aira buku biologinya supaya Aira nggak dikeluarin dari kelas sama Pak Dharma?"


Ucapan Sheryl itu, kontan saja membuat Nico yang sejak tadi sibuk membaca sebuah komik seketika mengangkat wajahnya. Ia baru tahu soal itu, dan Aira tidak pernah menceritakan apapun padanya. Sepercik perasaan aneh yang Nico tidak tahu apa namanya, tiba-tiba saja tersulut di hatinya, dan menimbulkan rasa panas. Dan ini untuk yang kedua kalinya.


"Dan tahu juga nggak sih? Habis itu, ada yang bawain Rakha air mineral ke lapangan basket sebagai ucapan terima kasih." Kali ini giliran Bia yang mengambil jatah meledek Rakha.


Bukannya merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Bia dan Sheryl, Rakha justru terlihat menikmati ledekan itu, dan tertawa. Rakha memang bukan tipe orang yang akan menyembunyikan perasaannya, kecuali untuk satu hal; rasa tertekannya atas perlakuan Papanya.


Rakha lalu lalu menunduk dan tersenyum penuh arti saat melihat jari telunjuknya yang siang tadi dibaluti plester oleh Aira untuk menutupi lukanya. Tanpa mengatakan apapun, Rakha mengelus pelan jari telunjuknya, seraya berfikir seandainya saja Aira ada di sini sekarang bersama mereka... bersamanya.


Dan Nico yang masih menyimak dalam suasana itu, semakin kuat merasakan perasaan yang tidak nyaman dalam hatinya. Tapi tidak seperti Rakha yang terang-terangan, Nico justru pandai menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik.


'Nathusya Calling...'


Itulah satu nama yang tertera pada layar ponsel Nico. Dan Bia yang kebetulan melihat ponsel milik Nico yang tergeletak di atas meja, segera memberitahu Nico.


"Nic, Nana nelfon tuh."


Nico masih tidak sadar, dan menatap kosong pada komik yang sejak tadi ada di tangannya.


"Hey! Calvien Nicolas!" kali ini Bia terdengar sedikit menyentak. Dan sentakan Bia itu, berhasil membuat kesadaran Nico kembali.


"Eh iya, Bi?" Nico terkesiap.


"Cewek lo nelfon," jawab Bia sembari melirik ke arah ponsel Nico.


...****...


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam ketika Natta keluar dari sebuah minimarket, dan mengunci pintunya. Begitu Natta berbalik, ia langsung disambut oleh lambaian tangan Rio yang berdiri manis bersama motor sport kesayangannya. Natta tersenyum kecil, tapi wajahnya terlihat sangat lelah. Natta lalu mendekati Rio, dan menyambut tangan Rio yang terangkat di udara.


"Rakha mulai ngerasa ada yang aneh sama lo. Dan mau nggak mau, Nico juga mulai peka. Tapi gue tetep nggak bisa ngomong apapun ke mereka." Kata Rio pada Natta saat mereka berdua duduk berdampingan di sebuah anak tangga menghadap ke hamparan luas Marvi River, salah satu sungai terbesar dan terkenal di kota Harsa.


Marvi River adalah salah satu tujuan wisata yang paling banyak diminati oleh masyarakat Kota Harsa, maupun para Pelancong yang berasal dari luar daerah, itulah kenapa, hingga waktu sudah menunjukkan tengah malam pun, Marvi River masih ramai oleh pengunjung.


Natta tidak mengatakan apapun. Ia hanya terdengar menghela nafas panjang, lalu menenggak minuman bersoda yang diberikan Rio.


"Dan seperti biasa, Sheryl nyariin lo tadi."


Natta yang sejak tadi tidak menunjukkan reaksi apapun, kini mulai bereaksi begitu mendengar nama Sheryl. Hatinya terasa hancur jika sudah menyangkut gadis itu. Gadis yang diam-diam masih ia sayangi, tapi tidak bisa lagi ia miliki.


"Gue tahu, mungkin berat buat nyampein ini ke Sheryl, tapi seenggaknya, Nico sama Rakha harus tahu, Nat. Lo nggak bisa terus-terusan nyembunyiin masalah lo ini dari mereka, dan gue nggak bisa terus-terusan nyimpen ini sendirian—" jeda sesaat, "Nat..."


Natta kali ini menoleh ke arah Rio, dan Rio melanjutkan kalimatnya, kali ini dengan nada yang lebih lembut, "nggak apa-apa untuk terlihat lemah di depan sahabat-sahabat lo..."


Mendengar kalimat terakhir Rio, Natta sedikit menundukan wajahnya seraya memijat pelan kepalanya yang mulai terasa berat. Untuk saat ini, Natta benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Situasi yang ia hadapi saat ini, adalah situasi yang cukup berat untuk bisa dilewati oleh remaja 18 tahun seperti dirinya.


"Sekarang, perasaan lo ke Sheryl gimana?"


Natta tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia masih dengan posisi menunduk dan mata terpejam. Lalu tidak lama, Natta akhirnya terdengar bersuara,


"Gue masih sayang sama Sheryl. Dari dulu sampai sekarang, perasaan gue nggak pernah berubah. Tapi untuk saat ini, gue nggak bisa jadiin dia prioritas."


^^^To be continued...^^^