We, From The First

We, From The First
#27. Bukan Nico



Pulau Banu, Mei 2011


Pada sore menjelang malam itu, hujan turun begitu deras mengguyur Kota Sina. Aira dan kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran. Aira duduk di jok belakang dalam keadaan setengah sadar sembari mendengarkan musik. Lagu yang mengalun pelan di telinganya semakin membuatnya mengantuk. Ia sesekali menguap, dan membuat Ibunya tertawa kecil.


"Jangan tidur, Na! Kita sebentar lagi sampai." Ujar Shania sambil menoleh ke belakang dan membenahi posisi selimut di tubuh Aira.


"Nana ngantuk sekali, Bu. Kan tadi udah Nana bilang, Nana nggak mau ikut. Hujan-hujan begini enaknya tidur." Keluh Aira panjang lebar.


"Kamu nggak akan protes kalau saja kamu tahu, kita bakalan ketemu siapa." Sahut Geraldy –Ayah Aira, yang rupanya sengaja memancing rasa penasaran anak semata wayangnya itu.


Namun sebentar lagi, tahkta anak semata wayang yang selama 17 tahun Aira sandang ini akan segera berganti menjadi anak sulung. Ibunya sedang hamil 6 bulan sekarang. Dan begitu tahu Ibunya hamil, Aira sangat gembira. Ia sungguh tidak sabar menantikan kelahiran adiknya.


"Tapi Nana benar-benar ngantuk. Nggak akan berpengaruh buat Nana mau siapapun yang akan kita temui sekarang. Mau ketemu sama Zayn Malik sekalipun juga nggak akan ngaruh." Jawab Aira ogah-ogahan. Ia lantas menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh.


"Dan, mobil siapa yang kita gunakan sekarang? Kemana mobil Ayah?" Tanya Aira dari balik selimut begitu ingat bahwa mobil yang sedang mereka gunakan sekarang, bukanlah milik mereka.


"Panjang ceritanya. Nanti kamu akan tahu sendiri." Jawab Geraldy.


Tapi Aira tidak terdengar bersuara lagi. Ia sudah tertidur.


Geraldy tersenyum melihat tingkah Putrinya yang sangat menggemaskan itu. Geraldy kali ini menoleh ke belakang, dan berusaha menarik selimut yang Aira kenakan untuk menjahilinya. Namun tanpa diduga, kelengahan Geraldy itu membuatnya tidak sadar bahwa ada sebuah truk yang sedang melaju begitu cepat di depannya, lalu menabrak mobil yang ia kendarai hingga terpental jauh dan membentur pembatas jalan. Semuanya terjadi begitu cepat. Bagian depan mobil yang dikendarai Geraldy hancur, dan darah segar dari dalam mobil mengalir bersama derasnya hujan.


"T—tolong... se—selamatkan, Putriku."


Lirih Geraldy dengan terbata dan berurai air mata pada seorang pria misterius, yang kini berdiri sambil menatapnya yang terkapar di jalan dengan raut wajah yang tidak begitu jelas dalam pengelihatan Geraldy yang sudah mulai mengabur.


...****...


Saat waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, Aira masih terlihat sibuk mengerjakan tugasnya. Malam itu, hujan turun dengan sangat lebat disertai angin yang cukup kencang. Sesekali, Aira tampak terkejut saat mendengar suara petir yang menyambar.


Aira lalu memasang headphone di telinganya dan memutar musik dengan volume yang cukup keras agar suara berisik hujan di luar sana tidak lagi mengganggunya. Tapi begitu ia ingat, bahwa Nico memiliki ketakutan pada suara hujan di tengah malam, ia langsung membuka headphone-nya dan berjalan keluar menuju kamar Nico untuk melihat kondisinya.


Aira mengetuk pintu kamar Nico beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Di saat itulah, Aira memutusan untuk langsung masuk. Dan ia segera berlari ke arah Nico yang saat itu terlihat sangat tersiksa dalam tidurnya.


"Pergi! Jangan sakiti, Mama! Pergi!" Igau Nico sembari menggerakkan kepalanya. Keringat bercucuran di pelipisnya.


"Nic! Bangun, Nic!" Ucap Aira sambil menepuk pundak Nico agar pemuda itu bisa segera sadar.


"Nic, bangun! Ini Nana."


Nico lalu terbangun dan langsung memeluk Aira yang sudah duduk di pinggir ranjangnya. Aira yang memang memahami kondisi Nico sejak lama, langsung membalas pelukan Nico.


"Na, dia datang lagi, Na! Orang itu datang lagi." Lirih Nico yang sudah meringkuk ketakutan dalam pelukan Aira.


"Udah, ya, Nic! Kamu udah nggak apa-apa sekarang. Di sini ada aku." Ucap Aira seraya membelai rambut Nico untuk menenangkannya.


Lima menit kemudian, Aira sudah duduk di bawah ranjang Nico sambil menggenggam salah satu tangannya. Nico meringkuk dengan kepala yang berhadapan tepat dengan posisi Aira. Aira hanya menatapnya, sambil sesekali mengusap rambutnya, dan menyeka keringat di pelipisnya.


Ketika merasakan Aira mulai bergerak dan hendak keluar dari kamarnya, Nico semakin erat menggenggam tangan Aira. Ia lalu berkata dengan suara serak,


"Aku mau bikinin teh peppermint buat kamu dulu sebentar."


Nico menggeleng dengan kedua mata yang masih terpejam.


Aira lalu mengalah. Ia membenahi posisinya agar lebih nyaman. Lalu ia rebahkan kepalanya di kasur Nico. Posisi wajah mereka kini saling berhadapan. Aira lantas mengangkat tangannya yang lain, lalu menepuk pundak Nico dengan lembut untuk menenangkannya.


Biasanya, Mamanya lah yang melakukan hal itu setiap kali Nico bermimpi buruk. Tapi karena saat ini, Mamanya sedang menemani Papanya pergi ke sebuah pertemuan di luar kota, Aira lah yang mengambil alih tugas itu.


Nico selalu seperti ini sejak kecil. Setiap kali turun hujan lebat di tengah malam, ia akan mengalami mimpi buruk dan merasa sangat ketakutan. Aira pun selalu mengingat akan hal itu.


"Lalu, bagaimana kamu bisa mengatasi situasi ini sendirian saat Mama Papa kamu lagi nggak ada, Nic?" Gumam Aira pelan.


Kenyataan bahwa ia dan Nico sama-sama sering mengalami mimpi buruk karena trauma masa lalu, membuatnya memahami apa yang Nico rasakan sekarang. Awalnya Aira berfikir bahwa Nico sudah sembuh, namun ternyata ia salah. Sampai saat ini, Nico masih tersiksa dengan trauma itu. Sama seperti dirinya. Tapi meski begitu, Nico lah satu-satunya yang bisa menenangkannya saat ia juga mengalami mimpi buruk.


Sambil memandang wajah Nico, ingatan Aira tiba-tiba berputar kembali saat ia pertama kali bertemu dengan Nico sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu, usia mereka masih 8 tahun.


...****...


Pulau Banu, 2002...


"Kenalin, Na! Ini Nico. Mulai sekarang, Nico akan jadi teman Nana." Ucap Shania pada Aira yang saat itu sedang memeluk boneka kelincinya.


Aira mengamati wajah Nico untuk beberapa saat. Ia tampak berfikir sejenak. Dan dengan wajah heran, ia menatap Ibunya.


"Tapi dia bukan Nico, Bu."


Nico yang mendengar itu, langsung menundukan kepalanya dengan wajah sedih. Shania pun segera menghampiri Nico, dan memeluk pundaknya.


"Mulai sekarang dia Nico. Calvien Nicolas. Dia anaknya Tante Regina dan Om Adryan. Panggil dia Nico."


Aira tidak menjawab. Ia masih terlihat berfikir. Namun meski berfikir berapa kalipun, ia tahu bahwa anak kecil yang sekarang ada di hadapannya ini jelas-jelas bukan Nico yang ia tahu sejak masih bayi.


Sampai akhirnya, Aira menghampiri Nico, lalu mengulurkan tangannya.


"Maafin Nana, ya?"


Melihat tangan Aira yang terulur, Nico mengangkat wajahnya. Ia pun langsung disambut oleh senyuman Aira yang begitu lebar. Nico kemudian membalas uluran tangan Aira dan bersalaman.


...****...


Aira menutup ingatannya seraya tersenyum getir. Tangannya yang sejak tadi mengusap rambut Nico, kini turun dan menelusuri wajahnya. Dalam keheningan malam, Aira kembali bergumam pelan.


"Alvin... kamu pasti sangat menderita selama ini, kan?"


^^^To be Continued...^^^