
"Apa kamu bilang? Kamu tidak berkeinginan untuk kuliah kedokteran?" Ucap Arkha dengan cukup keras begitu mendengar pengakuan Rakha yang tidak ingin melanjutkan kuliah kedokteran.
"Maafin Rakha, Pa."
"Kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan? Setelah semua hal yang Papa lakukan untuk mempersiapkan kamu, lalu sekarang kamu bilang kamu tidak mau kuliah kedokteran?"
"Rakha juga punya mimpi, Pa!" Tegas Rakha setelah berhasil menepikan semua rasa takutnya pada sosok Papanya selama bertahun-tahun.
"Sama seperti kamu, Papa juga punya mimpi begitu kamu dilahirkan. Jangan kamu fikir, karena Papa diam saja Papa tidak tahu apa saja yang kamu lakukan di luar sana? Papa tahu kamu masih sering bermain basket bahkan setelah berkali-kali Papa melarang kamu. Tapi Papa tidak mengatakan apapun, karena Papa tahu itu hanya hobi kamu. Tapi hanya sebatas itu, Rakha! Papa sudah persiapkan masa depan yang cerah untuk kamu. Kamu hanya perlu menapaki jalan yang sudah Papa buat."
"Rakha sesak, Pa." Ujar Rakha putus asa sambil memegangi dadanya yang benar-benar terasa sesak sekarang. "Dan Rakha muak dengan semua ini. Hanya karena Mama mengkhianati Papa, bukan berarti Papa harus melampiaskan kemarahan Papa sama Rakha dengan mematahkan sayap Rakha. Papa nggak berha—"
"Sampai di situ, Rakha! Jangan lanjutkan lagi." Sela Arkha sebelum Rakha sempat menyelesaikan kalimatnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Arkha meninggalkan Rakha sendiri di ruang tengah.
Sebenarnya, ucapan Putra sulungnya itu telah berhasil memukul telak jantung Arkha. Selama ini, tidak pernah sekalipun Rakha berani menjawabnya. Dan begitu Rakha menjawabnya untuk yang pertama kalinya, Arkha merasa egonya terluka.
Setelah perdebatan antara dirinya dan Papanya berakhir, Rakha segera keluar rumah untuk menenangkan fikirannya dan meredakan emosinya sejenak. Rakha melangkah gontai, hingga tanpa sadar ia sudah tiba di lapangan komplek.
Rakha yang sedang tidak mampu berfikir jernih, langsung merebahkan tubuh lelahnya di tengah lapangan. Kedua matanya menatap ke atas langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Beberapa saat kemudian, Rakha merasakan kedua matanya memanas. Seperti yang pernah Aira katakan, ia menutupi matanya dengan lengannya dan membiarkan air matanya lolos dalam hening.
Tiba-tiba, ia merasa membutuhkan Aira untuk berada di sampingnya sekarang.
"Selamat malam, Kapten!"
Ujar seseorang yang tahu-tahu sudah duduk dengan manis di samping Rakha. Rakha menyingkirkan lengannya dan menoleh, di saat itulah, ia menemukan sosok Yumi di sisinya.
Yumi tersenyum, lantas tanpa permisi menarik salah satu lengan Rakha dan menempatkannya di lantai lapangan. Yumi pun dengan santainya merebahkan kepalanya di atas lengan Rakha yang terbuka. Rakha yang tidak memiliki tenaga untuk protes, memilih untuk pasrah.
"Makasih buat bantal lengannya, Kapten! Aaah... nyaman sekali." Ucap Yumi seraya memejamkan matanya dan menghela nafas dalam-dalam seakan sangat menikmati pemandangan malam itu.
"Rakha?" Panggil Yumi tanpa menatap Rakha.
"Hm?" Rakha juga menjawab tanpa menatap Yumi.
"Mungkin situasi sekarang ini sangat berat. Tapi gue tahu, lo pasti bisa lalui semua ini dengan keren. Gue percaya itu, karena lo Rakhaditya Arya."
Yumi kini menoleh ke arah Rakha, begitu juga dengan Rakha. Di saat itu, Yumi kembali tersenyum, kali ini setengah tertawa. Rakha akhirnya balas tersenyum dan untuk sejenak melupakan semua masalahnya.
Ya, Yumi, sahabatnya yang swag, selalu seajaib ini. Yumi selalu tahu bagaimana cara menenangkan Rakha. Yumi satu-satunya yang selalu mengatakan bahwa ia percaya pada Rakha dan juga mimpi-mimpinya.
"Yum?"
"Iya, Kapten?"
"Nikah sama gue mau, ya? Gue janji akan bersikap baik sama lo."
Degh! Yumi tahu dengan pasti bahwa Rakha tidak serius dengan ucapannya. Ia bahkan sudah mengatakan hal itu berkali-kali padanya selama sepuluh tahun mereka bersahabat, tapi ini kali pertamanya kalimat itu bereaksi di jantungnya.
Yumi yang salah tingkah, langsung membuang tatapannya dari Rakha, ia lalu bangkit dan berusaha sekuat tenaga menetralisir perasaannya yang mulai tidak karuan. Yumi lalu berdehem cukup keras.
"Apa gue udah nggak waras sampai harus menikah sama lo? Gue nggak seputus asa itu, Rakha!"
Rakha terkekeh geli. Ia juga bangkit, lalu dengan enteng merangkul pundak Yumi.
"Ayolah, nikah sama gue."
"Rakha berhenti, nggak? Gue jijik." Kata Yumi sembari menyingkirkan lengan Rakha dari pundaknya.
Yumi kini berdiri dan melangkah pergi. Rakha yang masih saja ingin menjahilinya mengikuti kemanapun Yumi melangkah sambil terus memintanya untuk menikah.
"Yumi, ayolah! Nikah sama gue. Gue beneran lagi ngelamar lo ini."
...****...
"AIRA!!"
Pekik Nico cukup keras dari dalam kamarnya. Aira yang mendengar Nico memanggil namanya sambil berteriak, langsung berlari ke kamar Nico. Ia fikir sesuatu sedang terjadi pada Nico sekarang.
"Kenapa, Nic? Ada apa?" Tanya Aira dengan panik sambil membuka pintu kamar Nico.
Di saat itu, Nico justru tampak tenang dan tidak seheboh teriakannya tadi. Ia tersenyum jahil pada Aira sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
"Bantuin pasangin dasi dong..." Rajuk Nico seraya memegang salah satu sisi dasinya.
Aira mendesah lega, tapi juga kesal. Di saat-saat seperti ini, bisa-bisanya Nico punya ide untuk mengerjai dirinya.
Meski sangat kesal, Aira tidak mengatakan apapun. Ia berjalan mendekati Nico yang berdiri tepat di samping jendela, lalu membantunya memasang dasi. Seketika, waktu terasa berjalan begitu lambat. Dalam diam, Nico menunduk dan menatap Aira yang hanya setinggi dagunya.
Jika kemarin-kemarin ia masih bingung dengan perasaannya sendiri, sekarang semuanya justru menjadi sangat jelas. Nico sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang pernah diajukan oleh Mamanya dan juga Rakha. Perihal perasaannya pada Aira. Nico sangat yakin, bahwa ia menyukai gadis di depannya ini. Sejak dulu hingga sekarang, tidak setitik pun perasaannya berubah.
Tidak hanya sampai di situ Nico 'mengerjai' Aira. Ia kini membuat Aira membawakan tasnya. Mereka berjalan beriringan di koridor. Dan mata-mata yang sempat memandang mereka dengan pandangan menghakimi kini tidak terlihat lagi. Semuanya kembali berjalan normal. Meski masih ada beberapa orang yang membicarakan mereka, Nico dan Aira memilih untuk tak acuh.
Begitu mereka akan menaiki tangga, Rakha tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah mereka. Ia lalu mengambil alih tas Nico dari Aira dan berjalan santai mendahului mereka. 'Enak aja lo bikin gebetan gue ngebawain tas lo!', fikir Rakha.
Melihat sikap aneh Rakha, Nico dan Aira sama-sama merasa bingung.
...****...
Setelah kembali dari rumah sakit dengan di temani oleh Aira, Nico tiba-tiba saja menerima sebuah chat dari Rio yang memintanya dan yang lainnya untuk segera berkumpul di B-Cafe. Kata Rio, ada hal penting yang harus dia sampaikan.
"Ra, aku pergi bentar, ya? Kamu makan malam aja sendiri. Nggak usah nungguin aku." Pamit Nico sambil berlalu pergi.
"Mau kemana? Gips kamu baru dilepas, lho!" Ucap Aira dengan suara sedikit keras karena jarak Nico mulai menjauh.
"Sebentar aja." Jawab Nico.
"Jangan ngelakuin apapun yang membutuhkan tenaga tangan. Inget kata Dokter!"
"Iya! Iya!"
Nico segera menaiki mobil dan menyetir sendiri untuk menyusul kawan-kawannya. sepuluh menit kemudian, tibalah Nico di tempat tujuannya. Di Rooftop, Rio, Natta, dan Rakha sudah menunggunya. Tanpa membuang waktu lagi, Nico langsung bergabung bersama mereka.
"Ada apa, nih?"
"Lo udah lepas gips?" Tanya balik Natta begitu menyadari bahwa Nico sudah tidak menggunakan gips lagi.
"Iya, Nat."
"Jadi begini, gue udah tahu siapa Pengirim Anonim yang nyebarin info kalau Aira tinggal di rumah lo." Kata Rio.
Nico dan Natta tampak terkejut. Tapi di satu sisi merasa kagum dengan keahlian Rio. Tidak seperti yang lainnya, Rakha justru terlihat marah. Ia benar-benar tidak sabar ingin tahu siapa dalang di balik pesan anonim yang sudah membuat Aira nya kesusahan selama berminggu-minggu.
"Siapa orangnya?" Tanya Rakha dingin.
"Si anak kepala sekolah. Aldo."
Aldo melakukan semua itu dengan alasan masih kesal atas tindakan Rakha yang sudah memukulinya di depan teman-teman sekelas. Dia tahu Rakha menyukai Aira, dan dia berfikir ini kesempatan yang baik untuk membalas dendam. Bonusnya, dia juga bisa mengacaukan image Nico, salah satu sahabat dekat Rakha.
"APA?!" Sentak Rakha.
Tidak hanya Rakha yang merasa sangat marah sekarang, Nico juga merasakan hal yang sama. Namun bedanya, Nico bisa lebih tenang.
Saat Rakha bangkit dari kursinya dan berniat hendak menemui Aldo untuk memberinya pelajaran, Nico serta-merta menahan lengannya untuk menghentikannya.
"Rakha, stop! Jangan lakuin hal yang akan bikin lo kena masalah lagi. Lo nggak inget terakhir kali lo kena masalah gara-gara Aldo juga?"
"Tapi, Nic –"
"Gue punya cara lain."
Setelah mendengar kalimat terakhir Nico, Rakha mulai terlihat melunak dan kembali duduk di tempatnya.
"Nat, lo masih punya file foto Study Tour tahun lalu, kan?"
...****...
Keesokan harinya, foto-foto aib Aldo saat Study Tour tahun lalu tersebar di grup chat. Pelakunya lagi-lagi seorang pengirim anonim yang kali ini didalangi oleh Nico CS. Karena kelewat memalukan, topik kini sepenuhnya berganti. Anak-anak SMA Patuh Karya tidak lagi membicarakan soal Aira dan Nico. Mereka kini beralih membahas foto-foto aib Aldo selama Study Tour. Sebagian dari mereka bahkan mem-forward foto-foto milik Aldo dengan caption: 'AIB SI ANAK KEPALA SEKOLAH'
"SIAPA PELAKUNYA?!" Teriak Aldo frustasi di dalam kelas. Namun alih-alih ada yang menjawabnya, semua orang malah menertawakannya.
Nico, Rakha, Rio, dan Natta yang waktu itu mengawasi Aldo dari luar kelas, langsung tertawa puas dan saling ber-high five satu sama lain. Karena begitu senang atas keberhasilan misi balas dendam mereka, Nico dan Rakha saling merangkul satu sama lain seperti yang dilakukan Rio dengan Natta. Tapi begitu ingat bahwa mereka sedang tidak akur, mereka langsung melepaskan diri dan tiba-tiba merasa sangat canggung.
...****...
Aira melihat Nico yang saat itu sedang tertidur di salah satu meja di perpustakaan sekolah seraya menyangga kepalanya dengan sebuah kamus. Aira mendekat, lalu memperhatikan wajah pemuda itu dengan seksama. Tidak lama kemudian, Nico terlihat agak terganggu ketika sinar matahari yang menembus jendela kaca menerpa wajahnya. Aira lantas dengan sigap berdiri di hadapan Nico yang tertidur untuk menutupinya dari sinar matahari agar tidurnya tetap nyaman.
Lima detik berikutnya, Aira sedikit menunduk dan menyentuh lembut rambut Nico dengan salah satu jari tangannya. Sebuah senyuman merekah di wajah cantiknya. Dalam keheningan yang menenangkan, ia menikmati keindahan yang terpahat sempurna di wajah pemuda ini dalam setiap detik yang berdetak.
Dan tiba-tiba saja, getaran ponselnya membuat Aira tersentak. Sebelum mengganggu tidur Nico, ia buru-buru menjawab panggilan yang ternyata datangnya dari Rakha.
"Hallo, Kha! Ada apa?"
"Kamu dimana" Tanya Rakha dari seberang sana.
"Perpustakaan, nih. Kenapa?"
"Sebelum pulang, jalan bareng aku, yuk!"
"Tapi, Kha..."
"Please..."
Aira terlihat berfikir. Ia sama sekali tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas ajakan mendadak dari Rakha. Ia bahkan belum meminta ijin dari Nico, sementara sekarang, Nico terlihat nyaman dengan tidurnya. Belum lagi semalaman ia tidak tidur karena harus menemani Aira yang terbangun dini hari tadi. Aira tidak tega membangunkannya, tapi juga tidak bisa membiarkannya tertidur sendirian di sini. Bisa-bisa nanti Staf Perpustakaan akan menyeretnya keluar. Masakah ia harus meninggalkan Nico?
Ketika Aira akan menjawab Rakha, secara mengejutkan Nico tahu-tahu terbangun dan merenggut ponsel Aira dari tangannya. Dengan dingin, ia berkata pada Rakha,
"Aira nggak akan kemana-mana hari ini!"
"Nic?" Ujar Aira setengah tidak percaya.
Nico lalu mematikan panggilan Rakha begitu saja, dan menatap kedua mata Aira dengan serius.
"Jangan pergi, Ra! Jangan pergi sama Rakha."
^^^To Be Continued...^^^