We, From The First

We, From The First
#41. Awal Romansa Nana dan Ian



Pulau Banu, 2011 (Hari Kecelakaan)


"Adryan! Regina!"


Panggil Geraldy dari jauh ketika melihat dua sosok sahabatnya yang baru saja keluar dari lift. Geraldy melangkah dengan cepat menghampiri Adryan dan Regina.


Saat itu, Geraldy, Adryan dan Regina sudah berjanji untuk bertemu di Banu's Resort, tempat dimana Adryan dan Regina menginap untuk beberapa hari selama di pulau Banu.


"Hay, Aldy! Apa kabar? Lama tidak bertemu, ya?" Balas Adryan. Ia lalu memeluk sahabat lamanya, yang sudah cukup lama tidak bertemu dengannya karena suatu alasan.


Selepas berpelukan dengan Adryan, Geraldy beralih menatap Regina yang berdiri di samping Adryan. Geraldy kemudian merangkul pundak Regina sambil mengusapnya beberapa kali dengan bersahabat.


"Kamu apa kabar, Gin? Baik?"


"Tentu saja. Oiya, Shania dan Nana kemana?"


"Aku habis balik dari kantor langsung kesini menemui kalian. Tapi aku sudah minta mereka bersiap-siap. Sebentar lagi aku jemput. Lalu Nico?"


"Nico seharusnya hari ini ikut. Tapi jadwal pertemuan kita hari ini bentrok dengan jadwal Study Tour-nya dia." Kali ini Adryan yang terdengar menjawab.


"Yaah, Nana pasti kecewa hahaha." Seloroh Geraldy dengan membubuhkan tawa di akhir kalimatnya.


Geraldy, Adryan, Regina, dan Shania sudah bersahabat dekat sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA. Persahabatan itu terus berlanjut hingga mereka berkuliah di Universitas yang sama.


Begitu mereka lulus, Geraldy dan Shania yang memang sudah berpacaran sejak mereka melakukan program KKN akhirnya menikah. Sementara Adryan dan Regina yang dulunya sempat berpacaran lama, tiba-tiba putus dan menikah dengan pilihan hati mereka masing-masing.


Sejak saat itu, mereka jadi jarang berkontak dengan Regina, dan kelamaan hilang kontak sama sekali.


Barulah ketika Regina dan suaminya bercerai, ia kembali mencari sahabat-sahabatnya dan mau tidak mau akhirnya bertemu lagi dengan Adryan, mantan kekasihnya.


Geraldy dan Shania yang merasa bahwa Adryan dan Regina masih sama-sama saling mencintai, akhirnya menjodohkan mereka hingga berhasil menikah setahun kemudian.


"Sepertinya aku harus naik taksi buat jemput Shania dan Nana." Ucap Geraldy saat Adryan dan Regina mengantarnya ke parkiran.


"Kenapa?" Tanya Adryan.


"Bensin mobil mau habis. Nanti takutnya habis di tengah jalan. Sementara jarak Pom Bensi cukup jauh." Keluh Geraldy.


"Ya sudah, kamu pakai mobil aku saja dulu." Adryan memberi solusi yang langsung disepakati oleh Geraldy begitu saja tanpa firasat apapun.


Geraldy lantas menerima kunci mobil dari Adryan seraya berkata, "terima kasih, Yan."


"Cepat kembali, ya? Kami menunggu."


...****...


Bimantara Danadyaksa keluar dari dalam sel tahanannya dengan dikawal oleh dua orang Penjaga Tahanan. Ia kemudian dibawa memasuki sebuah ruangan. Di sana, seorang sahabatnya sudah menunggunya


Dengan kedua tangan di borgol, Bima duduk di hadapan Pria yang terlihat seusia dengannya itu. Ya, mereka sudah bersahabat sejak lama. Dan Pria itu adalah satu-satunya yang setia membesuk Bima selama setahun ia mendekam dalam penjara.


"Aku membawa sesuatu untuk kamu, Bim!" Ucap pria itu. Tidak lama, ia lalu mengeluarkan selembar foto milik Nico dari dalam tasnya.


Bima menatap foto itu cukup lama. Setelah mengenali bahwa wajah anak lelaki dalam foto itu adalah wajah anaknya, Bima langsung mengambilnya dan menangis setelahnya.


"Alvin..." Lirih Bima sambil terisak. Kedua tangannya yang memegang foto itu tampak bergetar.


"Kamu pasti sangat merindukan anakmu, bukan?"


"Setahun lalu, aku pernah hampir membunuhnya, bagimana bisa aku tetap memiliki hak untuk memanggilnya sebagai anakku? Tidak hanya itu, setelah gagal membunuhnya, aku justru menjadikannya anak dari seorang pembunuh." Ucap Bima tenang, namun penuh penyesalan dalam setiap kalimatnya.


"Bagaimana bisa kamu mendapatkan foto Alvin?"


"Belakangan aku tahu kalau ternyata dia satu sekolah dengan anakku. Dan mereka bersahabat cukup dekat."


"Anak kita juga bersahabat?"


"Iya, takdir memang aneh bukan? Tidak hanya kita yang bersahabat, tetapi anak-anak kita juga bersahabat―" pria itu memotong perkataannya sejenak, "―Alvin dan Rakha bersahabat dekat sejak mereka menjadi murid di sekolah yang sama." Lanjutnya kemudian.


Dialah Dr. Arkha, yang sudah bersahabat untuk waktu yang lama dengan Bimantara Danadyaksa.


...****...


Nana terperanjat ketika melihat sebuah mobil sport berwarna kuning terparkir tepat di depan rumahnya. Begitu Nana melangkah, secara perlahan kaca mobil itu turun, dan menyembullah kepala Ian dari dalam mobil.


"Selamat pagi, Adik kelas! Butuh tebengan?"


"Kak Ian? Kok bisa?" Ucap Nana yang masih tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya ini.


"Buruan naik! Nanti kamu telat!" Titah Ian.


Nana mengangguk, lalu membuka pintu mobil dan duduk di samping Ian. Nana masih dalam keadaan melongo.


"Kok nggak bilang mau jemput?"


"Karena aku nggak merencanakan ini sebelumnya." Jawab Ian santai sambil tetap fokus menyetir.


"Iya, Kak Ian?"


"Nanti malam aku akan kembali ke Jerman. 'Urusan' aku di sini sudah selesai."


Di satu sisi, ada perasaan lega yang Nana rasakan setelah tahu bahwa 'urusan' Ian sudah selesai. Namun di sisi lainnya, ada sedikit perasaan kecewa karena tahu Ian akan kembali ke Jerman malam ini juga.


Selama hampir sebulan di Kota Harsa, Ian merasa semakin dekat dengan Nana. Kedekatan itu akhirnya membuat mereka saling mengenal lebih dalam satu sama lain, dan sama-sama merasa nyaman.


Ian pulang dalam keadaan kalut setelah mengetahui masalah yang sedang menimpa keluarganya. Namun meski begitu, sebagai anak sulung dalam keluarga, Ian mengharuskan dirinya untuk tetap bersikap bijaksana dan menjadi penenang untuk keluarganya. Ada banyak hal yang tertahan dalam diri Ian. Bahkan setelah Mamanya setuju untuk kembali lagi dengan Papanya dan melupakan semua masalah yang sudah berlalu, Ian tetap belum bisa merasa tenang atas sikap Natta yang tiba-tiba berubah dingin pada kedua orang tuanya, lebih-lebih pada Papanya.


Ian mengerti kenapa Natta sampai harus bersikap seperti itu. Ian juga tidak ingin terlalu memaksakan Natta untuk serta-merta menerima kondisi ini. Namun justru, hal itulah yang membuat Ian semakin merasa berat.


Dengan mengharapkan keadaan keluarganya bisa kembali normal setelah semua yang terjadi, Ian tahu betul bahwa itu adalah hal paling egois yang pernah ia inginkan. Sedangkan di sisi lainnya, Ian tidak bisa mengabaikan perasaan terluka adiknya.


Di tengah semua kekalutan itu, seperti sebuah takdir yang menghangatkan hati, Nana tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya, dan menjadi pelipur atas semua rasa kalut Ian.


Di balik alasan pahit atas kepulangannya, Ian merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan Nana sekali lagi.


"Jadi ini... sebentuk salam perpisahan?" Tanya Nana pelan.


"Hmm... bisa dibilang seperti itu."


Ian menoleh ke arah Nana, dan tersenyum padanya.


"Kamu belajar yang rajin, ya? Sampai ketemu di Jerman tahun depan." Lanjutnya kemudian.


Nana hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Lima belas menit kemudian, tibalah mereka di SMA Patuh Karya. Sebelum turun dari mobil Ian, Nana sempat mengatakan sesuatu.


"Kak Ian, selamat ya karena 'urusan' Kak Ian sudah selesai. Semoga setelah ini, semuanya kembali baik-baik saja. Dan, selamat jalan."


"Terima kasih. Senang bertemu kamu."


Ian mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Nana pun langsung membalas uluran tangan Ian.


Saat Nana akan melepaskan tangannya, Ian justru semakin erat menggenggamnya. Ia menatap kedua mata Nana dalam-dalam. Lalu dengan lembut dan penuh keyakinan berujar,


"aku akan nungguin kamu, Na..."


...****...


Saat akan memasuki koridor, secara tidak sengaja Nana bertemu dengan Nico yang saat itu juga akan memasuki koridor. Mereka saling tersenyum satu sama lain sebelum akhirnya Nana melambaikan tangannya dengan wajah berseri.


"Pagi, Nico!"


Dengan wajah heran, Nico semakin mendekati Nana dan berdiri di hadapannya.


"Ada apa nih? Kenapa kamu keliatan happy banget pagi ini?" Tanya Nico setelah menangkap sebuah euforia yang begitu kentara di wajah mantan pacarnya ini.


Alih-alih menjawab pertanyaan Nico, Nana justru hanya tersenyum dengan wajah yang semakin berseri. Ia kemudian berjalan mendahului Nico. Langkahnya terlihat begitu ringan.


Nico mendesis, kemudian berlari kecil mengejar Nana.


"Apa karena Bang Ian?"


Pertanyaan itu berhasil membuat langkah Nana terhenti. Kini giliran Nana yang menatap Nico dengan pandangan heran.


"Kok tahu?"


"Ternyata benar karena Bang Ian." Putus Nico.


Nico tersenyum simpul dan melanjutkan langkahnya tanpa rasa bersalah karena baru saja membongkar rahasia Nana dengan mudahnya.


"Nico, aku tanya kamu tahu dari mana?"


"Ada deeeh..." Jawab Nico.


"Nico kasi tahu nggak?" Nana masih belum menyerah. Kali ini ia menarik tas Nico.


"Apa sih? Nggak usah maksa!" Sungut Nico sembari mengusap wajah Nana.


Apa yang Nico lakukan itu semakin memicu kekesalan Nana, hingga membuatnya berniat menoyor kepala Nico. Namun sebelum tangan Nana mendarat di kepalanya yang berharga, Nico buru-buru berjinjit agar Nana tidak bisa meraihnya.


Nico terus meledek Nana lalu berlari. Nana yang tidak ingin kalah pun berusaha mengejar Nico. Tanpa mereka sadari, sejak beberapa saat lalu, ternyata Aira berjalan tidak jauh di belakang mereka.


Meski tidak menyaksikannya dari awal. keakraban dua orang itu, entah kenapa menimbulkan rasa cemburu di hati Aira. Meski Nico dan Nana sudah putus, sulit bagi hatinya untuk mentorelir apa yang sedang ia saksikan sekarang.


'Kamu sendiri yang bilang, kamu nggak suka liat aku ketawa sama Rakha. Sekarang coba lihat! Siapa yang sedang ketawa begitu bahagia sama mantan pacarnya?'


Gumam Aira dalam hati dengan perasaan kesal yang sudah tidak tertahankan lagi.


^^^To be Continued...^^^