We, From The First

We, From The First
#58. Tiga Permintaan



"Apa, Ra? Jadi lo putus sama Nico? Sejak kapan?" Tanya Sheryl pada Aira tidak lama setelah Aira menuntaskan ceritanya soal hubungannya dengan Nico.


Reaksi Sheryl terlihat tidak percaya, begitu juga dengan Yumi dan Bia yang saat itu sedang berkumpul bersama mereka di bioskop mini B-Cafe.


"Sejak dua minggu yang lalu." Jawab Aira dengan wajah lesu.


"Tapi kenapa, Ra?" Kali ini Yumi yang terdengar melemparkan pertanyaan.


Aira tampak berfikir setelahnya. Perlahan-lahan ia mulai menyadari sesuatu. Sejak bertemu kembali dengan Papanya, sikap Nico mulai berubah pada Aira. Dan tidak berselang lama, tepatnya setelah Aira menyelesaikan ujian skripsinya, Nico langsung memutuskan hubungan mereka. Ini seperti Nico memang telah menunggu waktu yang tepat untuk memutuskan hubungannya dengan Aira.


Alih-alih mendapatkan pencerahan setelah menemukan satu titik terang, Aira justru merasa bahwa semuanya semakin buntu. Aira juga tentu tidak bisa menyampaikan apa yang mengganjal dalam fikirannya sekarang menyangkut kecurigaannya mengenai alasan Nico memutuskannya. Masalah ini telah menyeret kecurigaan Aira pada pertemuan Nico dan Papa kandungnya, bagaimana bisa Aira menyampaikan hal itu pada sahabat-sahabatnya?


Maka Aira pun menelan segala kepahitannya sendirian.


"Aku juga nggak tahu apa alasan pastinya. Tapi mungkin... Nico mau fokus selesein skripsinya."


"Nyelesein skripsi gimana? Sudah lebih dari sebulan pengerjaan skripsinya Nico mangkrak. Sudah beberapa kali juga dia kena omel sama Dosen Pembimbingnya." Jawab Yumi sedikit berapi.


Yumi yang memang satu jurusan dengan Nico, tentu tahu apa yang terjadi. Yumi juga merasa tidak terima melihat Aira diperlakukan dengan cara seperti ini oleh Nico, mengingat bagaimana Rakha sangat menyayangi Aira dan rela melakukan apapun demi Aira.


Yumi hanya merasa, bahwa apa yang terjadi sekarang sama sekali tidak adil untuk Rakha. Rakha-nya.


"Apa?" Kaget Aira yang benar-benar tidak memiliki clue apapun perihal apa yang baru saja Yumi laporkan padanya.


"Menurut gue, Ra, ada sesuatu yang lagi Nico sembunyiin dari lo. Dia juga sempat menghilang, kan, sebelum mutusin lo? Lo nggak bisa diem aja kayak gini, lo harus cari tahu."


Yumi menyadarinya. Yang itu berarti tidak menutup kemungkinan bahwa yang lainnya bisa saja tahu tentang apa yang Nico sembunyikan sekarang.


Dan sepulangnya dari kampus setelah menyelesaikan semua keperluan Yudisiumnya minggu depan, Aira langsung pulang ke rumah Nico untuk mencari keberadaannya. Namun setibanya di sana, Aira tidak menemukan Nico. Bu Ningsih berkata bahwa Nico pergi lagi. Nico sudah pergi sejak dua hari yang lalu tanpa sepengetahuan Mama dan Papanya.


"Bu Ningsih, Nana cemas sama Nico. Nana pengen tahu Nico kenapa, tapi Nico nggak pernah mau cerita apapun ke Nana." Ujar Aira dengan sedih sesaat setelah ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi di meja makan.


Bu Ningsih yang tahu cerita sebenarnya langsung melepaskan pekerjaannya dan mendekati Aira. Bu Ningsih tiba-tiba saja memeluk Aira, lalu berkata, "Mba Nana, kadang ada hal-hal yang nggak perlu kita tahu agar kita tidak terluka. Untuk sekarang, tolong pahami dan percayai Mas Nico, ya?"


Dengan perlahan-lahan, tangis Aira mulai terdengar dalam dekapan Bu Ningsih.


...****...


Nico mengalami kecelakaan di tengah malam berhujan itu.


Dengan tangisan yang begitu kuat dan dengan seluruh tubuhnya yang ia rasakan bergemetar hebat, Aira mendekati tubuh Nico. Darah mengalir dari kepalanya, dan Nico tidak juga mau membuka matanya bahkan saat Aira berkali-kali meneriakkan namanya dengan histeris, memohon agar Nico segera sadar.


"NICO BANGUN!! JANGAN TINGGALIN AKU! KAMU SATU-SATUNYA YANG AKU PUNYA. KALAU KAMU PERGI, AKU NGGAK AKAN BISA HIDUP, NICO!!"


Saat Aira sedang meratapi tubuh kaku Nico, seorang pria misterius dengan pakaian serba hitam tiba-tiba saja datang.


"Om, tolong selamatkan Nico!" Pinta Aira. Suaranya terdengar memohon.


Namun pria misterius itu tidak mengatakan apapun, ia bahkan tidak sedikitpun melihat wajah Aira yang begitu panik dan ketakutan.


Dan saat pria misterius itu berbalik setelah mengangkat tubuh Nico, barulah Aira dapat melihat bahwa pria itu adalah pria yang sama dengan pria misterius yang beberapa tahun lalu telah menghabisi nyawa kedua orang tuanya.


Aira mengingatnya dengan sangat jelas, karena pada malam kecelakaan itu, pria misterius itulah yang melarikannya ke rumah sakit.


"JANGAN BAWA NICO PERGI!!" Teriak Aira sekencang-kencangnya.


Ia pun berlari, mengikuti pria misterius itu. Tapi yang terjadi kemudian, pria misterius itu hilang ditelan kegelapan malam bersama Nico.


"NICOOOOOOO!!" Teriak Aira sekeras mungkin setelah berhasil terbangun dari mimpi buruknya.


Di saat itu juga, Nico yang sejak tadi duduk di pinggir ranjang langsung memeluk tubuh Aira.


Malam itu, Aira ketiduran di kamar milik Nico. Ia memutuskan untuk tidak kembali ke apartemennya karena ingin menunggu Nico. Nico pun sudah duduk di sisi Aira sejak sejam yang lalu, berusaha menghalau rasa takutnya mendengar suara hujan sembari terus menatapi wajah Aira tanpa henti.


"Na, aku di sini. Kamu jangan takut, ya?" Lirih Nico dengan suara bergetar.


"Nic, orang itu datang. Dia ngebawa kamu pergi dari aku, Nico."


"Ssstt... Udah, ya? Aku nggak kemana-mana. Aku masih di sini, dan akan selalu di sini sama kamu. Hm?"


"Aku lihat matanya, Nic. Aku sangat ketakutan. Hiks hiks hiks..." Kata Aira sambil terisak.


Suaranya benar-benar terdengar menyayat, dan menumbuhkan kembali rasa bersalah Nico pada gadis tidak berdosa yang secara tidak sengaja telah menggantikannya menanggung derita yang tidak terelakkan rasa sakitnya.


'Maafin aku, Na. Maaf karena sudah membuat kamu menanggung derita yang tidak dimaksudkan untuk kamu sejak awal.'


...****...


Aira keluar dari kamarnya saat waktu hampir menunjukkan pukul setengah lima sore. Sejak pagi tadi ─tepatnya sejak semalam setelah Nico menenangkan Aira, pemuda itu lagi-lagi tidak menampakkan dirinya. Padahal semalam jelas-jelas Aira mendengar Nico berkata padanya, bahwa dia tidak akan kemana-mana dan akan selalu bersama Aira, tapi buktinya sekarang apa yang terjadi? Nico menghilang lagi seperti hantu.


Muak dengan hal itu, Aira sepertinya harus menyusun strategi agar Nico benar-benar tidak bisa menghilang atau menghindarinya lagi.


"Bu, semalem Nico pulang jam berapa sih?" Tanya Aira pada Bu Ningsih yang saat itu kebetulan lewat di hadapannya.


"Emmm... Sekitar jam setengah duabelas, Mba."


Aira hanya mengangguk, sebelum akhirnya ia mendengar ponselnya bergetar. Aira pun segera membuka ponselnya, dan membaca pesan yang ternyata dikirimkan oleh Rakha.



Aira sebenarnya sudah akan menolak. Tapi saat ia fikir lagi, ia merasa tidak tega jika harus menolak permintaan Rakha. Lagi pula, Rakha jarang-jarang meminta sesuatu padanya, jadi apa salahnya jika untuk sekali ini saja Aira memenuhi permintaan Rakha?


Di lain sisi, Aira juga merasa jenuh menunggu Nico di rumah seharian yang bahkan enggan untuk sekedar memperlihatkan wajahnya pada Aira.


Aira pun segera membalas pesan Rakha dengan satu senyuman yang tanpa ia sadari merekah di wajah cantiknya.


...****...


Awalnya Aira berfikir bahwa Rakha akan mengajaknya pergi ke sebuah mall untuk berjalan-jalan. Namun ternyata Aira salah. Ternyata Rakha membawanya pergi ke sebuah Festival Lampion yang di laksanakan di HR Tower. Aira tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Rakha akan mengajaknya pergi ke tempat seindah ini. Selama beberapa bulan terakhir ini, Aira terlalu fokus dengan skripsinya hingga tidak tahu informasi bahwa ada acara tahunan semegah ini.


Mereka tiba di HR Tower saat waktu hampir beranjak malam. Penerbangan lampion akan dilaksanakan tepat pada pukul delapan nanti. Beberapa orang pun terlihat sedang sibuk mempersiapkan lampion mereka.


Setelah mencicipi beberapa jajanan rakyat yang cukup lama tidak pernah Aira jumpai, Rakha tiba-tiba menarik tangannya dan membawa Aira ke tempat penjual lampion. Mereka terlalu asyik mencicipi jajanan sana-sini hingga lupa bahwa mereka belum membeli lampion.


"Lampionnya cuma tinggal satu. Tapi kalian pasangan, kan? Jadi, kenapa nggak menerbangkan satu lampion berdua aja kayak pasangan lain?"


"Ka─ kami... Bu─bukan pasa─"


"Kami cuma butuh satu lampion." Sergah Rakha sebelum Aira menyelesaikan penjelasannya.


Aira pun melemparkan tatapan protes pada Rakha yang saat itu terlihat sedang menghela nafas penuh kelegaan.


"Konon katanya, kalau kalian menerbangkan lampion bersama, cinta kalian akan terwujud. Selamat berjuang!" Tutup Sang Pedagang dengan penuh keyakinan.


Rakha dan Aira hanya sama-sama terkekeh canggung mendengar perkataan pedagang itu.


Aira menggunakan punggung Rakha sebagai alas untuk menulis.


Sementara Aira terlihat bersungguh-sungguh menuliskan keinginanya, Rakha justru belum menuliskan apa-apa.


"Kha, kamu belum nulis?" Tanya Aira sembari mengintip ke arah kertas Rakha.


"Bingung mau nulis harapan apa." Jawab Rakha apa adanya.


"Kalau kamu manusia, kamu pasti punya satu harapan yang sungguh-sungguh ingin kamu wujudkan."


Rakha tidak terdengar bersuara. Entah kenapa ucapan Aira berhasil menyentuh relungnya yang terdalam. Wajah Rakha yang sejak tadi tampak ceria, sekarang berubah serius, dengan pelan Rakha lantas berujar, "aku boleh minta apapun, kan?"


"Tentu."


"Aku benar-benar akan menuliskannya, dan memintanya dengan penuh kesungguhan." Ucap Rakha lagi yang masih memunggungi Aira.


"Silahkan, Top Star Rakhaditya kebanggaan satu negara!"


Rakha kemudian berbalik, dan secara mengejutkan memutar tubuh mungil Aira hingga membelakanginya. Sekarang, giliran Rakha yang menjadikan punggung Aira sebagai alas untuk menulis.


Tiba waktunya bagi mereka untuk menerbangkan lampion. Rakha dan Aira pun memegang lampion merah mereka berdua sambil menunggu instruksi, tanpa tahu harapan masing-masing.


Dan setelah mendapatkan instruksi, semua orang pun melepaskan lampion mereka secara bersamaan. Saat lampion itu terbang dan sedikit memutar, Rakha dapat melihat satu harapan sederhana yang Aira tuliskan; "SEMOGA RAKHA MENANG, DAN MEMBELI 8 KOTAK PIZZA UNTUK KAMI SEMUA."


Rakha terkekeh geli membaca harapan Aira sebelum kemudian ia mengusap dahi Aira dengan gemas. Lampion itu berputar lagi dan kini memperlihatkan harapan yang Rakha tuliskan; "AKU INGIN AIRA MENYUKAIKU."


Tawa Aira kini membeku. Ia lalu mengangkat wajahnya dan melihat Rakha yang saat itu sedang menatapnya dengan satu senyuman yang begitu tulus.


"Tadi kamu bilang aku boleh minta apapun, kan?"


...****...


Dari balik jendela di lantai dua rumahnya, Nico dapat melihat Aira yang saat itu keluar dari dalam mobil bersama Rakha. Nico tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun secara jelas Nico melihat Aira yang saat itu sedang menundukkan wajahnya. Rakha kemudian mengusap bahu Aira, lalu menarik lembut lengan gadis itu, dan membiarkannya menyandarkan keningnya di dada Rakha.


Rakha tampak memejamkan kedua matanya seraya menepuk pelan bahu Aira seperti sedang menenangkannya.


Melihat semua pemandangan itu, tanpa sadar Nico mencengkram ponsel milik Aira di tangannya. Sebelum keluar bersama Rakha tadi, rupanya Aira lupa membawa ponselnya dan meninggalkannya begitu saja di atas meja makan.


Aira bahkan belum sempat membaca pesan yang Nico kirimkan padanya sore tadi. Pesan itu berisi:



Nico sekali lagi menatap pesan yang ia kirimkan pada Aira. Berikutnya, Nico menghapus pesan itu dari ponsel Aira agar Aira tidak pernah tahu bahwa Nico sempat mengajaknya pergi bersama ke festival lampion.


Di festival lampion tadi, Nico menunggu kedatangan Aira hampir sejam lamanya. Nico tidak bisa menjemput Aira karena kebetulan tadi ia sedang berada di wilayah Marvi, tempat dimana HR Tower berada. Nico ada disana karena harus menemui ketua kelasnya. Sementara jika ia menjemput Aira, ia akan menempuh perjalanan lumayan lama untuk bisa sampai ke rumah. Jadi, Nico memutuskan untuk menunggu Aira disana.


Nico juga beberapa kali mencoba menelepon Aira tadi, namun tidak ada jawaban. Mengetahui bahwa pesanya belum dibaca oleh Aira, mau tidak mau Nico pun akhirnya merasa cemas pada Aira dan memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum Nico mengayunkan langkah kakinya, ia seketika terpukul mundur saat melihat Aira yang tiba-tiba saja muncul di festival lampion dengan wajah gembiranya. Nico sudah akan menghampiri Aira karena berfikir Aira sedang menyusulnya, tapi sosok Rakha yang tidak lama muncul di sampingnya membuat Nico mengurungkan niatnya untuk menghampiri Aira.


Untuk seterusnya, Nico tetap mengikuti kemana pun mereka melangkah. Dan Nico menyaksikan semuanya. Mulai dari mereka yang tampak asyik mencicipi setiap jajanan rakyat, lalu ketika mereka membeli lampion, menuliskan harapan mereka pada kertas, hingga saat mereka menerbangkan lampion bersama. Nico menyaksikan kesemuanya itu tanpa terkecuali. Bagaimana Aira terlihat begitu bahagia saat bersama Rakha, sementara belakangan ini Nico selalu melukainya tanpa henti. Nico bahkan membaca harapan kedua orang itu, dan semakin membuatnya merasa begitu kerdil, semakin merasa membuatnya tidak memiliki daya.


Meski berat, malam itu Nico benar-benar memutuskan untuk melepaskan Aira sepenuhnya.


...****...


Nico pergi ke lapangan komplek rumahnya setelah ia menerima pesan singkat dari Aira.



Itulah isi pesan yang diterima oleh Nico. Meski sedikit bingung dengan pesan itu, tapi toh akhirnya Nico melangkahkan kakinya juga.


Setelah cukup lama berfikir, Aira akhirnya menemukan strategi untuk bisa menahan Nico tetap bersamanya. Dan Aira sudah memastikan, bahwa untuk kali ini Nico tidak akan bisa menghindarinya lagi.


Setelah festival lampion seminggu yang lalu, Nico menghilang lagi. Yumi bahkan berkata bahwa Nico tidak pernah menampakkan diri di kampus selama satu minggu. Pengerjaan skripsinya benar-benar berantakkan. Dan saat Aira melaksanakan Yudisium, Nico juga tidak menampakkan dirinya barang sehelai rambutpun. Tiga hari yang lalu, Aira kembali ke apartemennya. Hal itu Aira lakukan untuk memancing agar Nico pulang.


Dan strategi pertama ternyata berhasil. Nico benar-benar pulang ke rumah.


Nico tiba di lapangan memenuhi panggilan Aira saat waktu sudah beranjak senja. Begitu sampai di sana, Nico langsung disambut dengan lagu ‘We Don’t Talk Anymore’ yang sengaja diputar oleh Aira melalui ponselnya. Dan di sana, tepat di bawah ring, Nico dapat melihat Aira sedang berusaha memasukan bola ke dalam ring.


Lagu itu terus berputar seakan menggambarkan bagaimana perasaan Aira saat ini terhadap Nico. Dan begitu lagu itu usai, Aira berhasil memasukan bola ke dalam ring. Dengan sigap ia menangkap bola yang tadi ia lempar lalu menoleh ke belakang seakan dipanggil oleh Nico.


Aira tersenyum perih, ia mengapit bola itu di lengannya lalu berjalan mendekati Nico dengan pandangan hampa tanpa cahaya. “Brengsek! Aku kangen sama kamu.”


Itu pertama kalinya Nico mendengarkan kata kasar terlontar dari Aira.


Namun meski terkejut, Nico tidak menjawab. Ia hanya menatap dalam pada kedua mata jernih gadis itu dengan pandangan penuh luka yang coba ia tutupi sebisa mungkin. Nico berani bertaruh, rasa rindu Aira terhadapnya tidak lebih besar dari rasa rindu yang selama ini menyiksanya. Nico sangat merindukannya lebih dari apapun. Dan kenyataan bahwa gadis ini ada dalam jarak pandangnya, namun ia bahkan tidak mampu untuk memeluknya justru membuatnya hampir gila.


Aira mem-passing bola yang sejak tadi ada dalam genggamannya ke arah Nico. Nico pun menangkap bola itu dengan sigap dan melemparkan pandangan bertanya pada Aira. “Ayo kita tanding one on one. Kalo aku menang, kamu harus kabulin tiga permintaan aku tanpa protes apa lagi penolakan. Tapi kalo aku kalah, aku nggak akan gangguin kamu lagi. Bahkan kalo kamu minta aku menjauh, aku akan menjauh.”


Lagi-lagi Nico tidak berbicara, ia memainkan bola yang ada ditangannya lalu berlari kecil ke tengah lapangan. Ia menerima tantangan itu.


Pertarungan dimulai. Aira mengerahkan segala kemampuan yang ia miliki demi mengalahkan Nico. Dalam hati Aira bahkan sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa hari ini ia harus mengalahkan Nico.


Pada menit-menit awal, Nico memang menguasai permainan dan membuat Aira kelakaban. Namun saat waktu terus berjalan dan tiba di tengah permainan, Aira kembali menemukan kekuatannya yang hilang. Permainan mereka pun mulai imbang. Dan semakin ke sini, Nico mulai mengakui kemampuan gadis ini.


Awalnya Nico tidak ingin mengalah, tapi melihat tekad Aira yang begitu kuat justru membuatnya lemah. Selain karena alasan itu, Nico juga ingin memenuhi permintaan Aira yang selama ini tidak pernah bisa ia penuhi.


Jadi biarkanlah untuk sekali ini saja ia melupakan segalanya dan hanya memikirkan gadis ini.


Setengah jam kemudian, Aira unggul dua poin di atas Nico. Nico sendiri sengaja menyamarkan kekalahannya dengan membiarkan Aira menang tipis agar tidak membuatnya curiga.


Nico terduduk lesu di tengah lapangan dengan keringat yang bercucuran di dahi. Ia pun berusaha mengatur nafasnya yang naik turun. Nico hanya melihat ke bawah sampai akhirnya ia dapat melihat sepasang kaki milik Aira berdiri dengan tegak di depannya.


“Sepertinya permintaanku akan segera terpenuhi.” Kata Aira seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Nico berdiri.


Namun alih-alih menyambut uluran tangan Aira, Nico justru berjongkok dan mengikat tali sepatu Aira yang terlepas. Untuk beberapa saat Aira membeku di tempatnya. Ia tidak menyangka Nico akan melakukan hal semanis ini padanya. Dan hal itu, mau tidak mau menyeret kembali memorinya ke masa lalu, saat pertama kali ia bermain basket bersama Nico ketika ia baru pindah.


Saat itu, Nico juga melakukan hal yang sama padanya, mengikat tali sepatunya.


Setelah selesai mengikat tali sepatu Aira, Nico lalu berdiri sendiri. Ia menatap gadis di depannya dengan pandangannya yang selalu terlihat dingin, seperti yang sering dilakukannya belakangan ini.


“Sekarang sebutkan tiga permintaan yang kamu maksud.”


Aira tertarik kembali dari lamunan panjangnya begitu nada suara dingin milik Nico tertangkap oleh telinganya. Aira terkesiap lalu menatap Nico sambil memikirkan permintaan pertama yang akan ia ajukan.


“Permintaan pertama aku adalah—“


Aira membiarkan perkataannya menggantung. Pada detik berikutnya, Aira memeluk leher Nico. Ia memejamkan kedua matanya lalu berjinjit agar ia bisa menjangkau tinggi badan Nico. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Aira mendaratkan sebuah kecupan lembut pada bibir Nico dan sengaja menahannya sedikit lebih lama. Nico yang awalnya blank perlahan mulai menyadari apa yang terjadi.


Setelah berfikir cukup lama dan berdebat dengan bathinnya, Nico memejamkan kedua matanya lalu memiringkan posisi wajahnya. Bersamaan dengan itu, ia pun meraih pinggang ramping gadis itu dan memeluknya agar jarak di antara mereka benar-benar terhapuskan, mencium seluruh permukaan bibir Aira tanpa terkecuali, seolah melepaskan segala yang tertahan.


^^^To be Continued...^^^