We, From The First

We, From The First
#22. Tapi Aku Serius



Nico dan Rio terlihat sedang menemani Natta yang saat itu tampak gusar. Banyak hal yang mengusik fikiran Natta sekarang. Bukan hanya soal skandal Papanya yang telah terungkap hari ini, tapi soal Rakha yang telah melibatkan diri dan sedang terlibat masalah karena membela dirinya. Ia harusnya bisa menghentikan Rakha tadi. Belum lagi sekarang, Pihak Sekolah memanggil Papa Rakha. Natta tahu bagaimana hubungan antara Rakha dengan Papanya selama ini, dan bagaimana Rakha merasa tertekan karena Papanya. Hal itulah yang membuatnya semakin merasa bersalah. Dan masalahnya dengan Sheryl, juga menambah rentetan kegelisahannya.


"Hay, teman-teman!" Sapa Rakha yang tiba-tiba saja muncul di Kafetaria, dan langsung bergabung dengan kawan-kawannya.


Tidak seperti tadi, kali ini Rakha sudah kembali ke mode ceria. Wajahnya sudah tidak semuram tadi meski dalam keadaan babak belur.


Ia sudah kembali memasang topengnya.


"Kha, lo nggak apa-apa? Lo baik-baik aja, kan?" Cecar Natta saat Rakha baru saja menjatuhkan tubuhnya di kursi.


"Slow, Bro! Gua nggak apa-apa, kok. Maaf sudah menimbulkan kegaduhan." Ucap Rakha dengan santainya, seakan tidak sedang terlibat dalam masalah apapun.


"Tolong lain kali, jangan lakukan hal semacam itu lagi. Gue udah berusaha nahan diri sekuat tenaga, malah elo yang meledak." Omel Natta panjang lebar, yang kontan saja membuat Rakha mengusap-usap telinganya dengan mimik terganggu.


"Nat! Udah jangan ngomel lagi. Lo kayak baru kenal Rakha aja. Lagian Rakha lagi babak belur itu, jangan tambah lo omelin." Ujar Rio.


Mendengar Rio membelanya, Rakha langsung berdecak sambil mengedipkan sebelah matanya untuk Rio. Dengan sembarang, ia lalu mengambil jus alpukat favorit Nico dan menenggaknya tanpa rasa berdosa.


Sementara Nico, ia sama sekali tidak berniat untuk melayangkan protes. Adegan berpelukan antara Rakha dan Aira yang ia saksikan secara langsung beberapa saat lalu, masih mengusik ketenangan hatinya, hingga berimbas membuat mood-nya rusak.


"Eh iya, Sheryl gimana? Udah lo jelasin?" Tanya Rakha tiba-tiba.


Pertanyaan yang baru saja Rakha lemparkan itu, berhasil membuat perhatian Nico dan Rio kini tertuju pada Natta. Mereka juga penasaran, bagaimana kelanjutan antara Natta dan Sheryl.


Sebelum memberikan jawaban, Natta terdengar menghela nafas.


"Tentu saja dia marah. Dia bilang, dia nggak mau diganggu dulu. Dan gue bakal kasi dia waktu. Selama lima bulan ini, dia sudah cukup kesulitan karena gue."


Tidak lama kemudian, Yumi datang bersama Aira dan Bia. Yumi melangkah dengan tergesa dan langsung menghampiri Rakha. Sejak tadi, ia memang mengkhawatirkan Rakha.


"Kha! Lo nggak apa-apa, kan? Coba liat sini wajah lo. Mana yang sakit?" Ucap Yumi yang sorot matanya sudah dilingkupi oleh rasa cemas, sembari memegang wajah Rakha dengan kedua tangannya.


"Yum! Yum! Gue nggak apa-apa." Jawab Rakha seraya memukul pelan tangan Yumi yang memegang wajahnya, meminta untuk dilepaskan.


Yumi lalu melepaskan Rakha, dan segera mengambil tempat duduk tepat di hadapan Rakha. Sementara Aira dan Bia tetap berdiri.


"Yumi khawatir banget sama lo, Kha. Untung pas insiden baku hantam tadi, Yumi lagi nggak di kelas. Coba kalau lagi di kelas, Si Aldo bisa habis kena hajar Yumi." Ujar Bia tanpa rasa berdosa. Hal itu, langsung menimbulkan seringai tajam Yumi.


'Apa?' ucap Bia tanpa volume begitu melihat tatapan tajam Yumi yang seakan siap menerkamnya.


"Yumi, ngaku deh! Elo... suka sama Rakha, kan?"


Pertanyaan Rio yang mendadak itu, langsung membuat Yumi dan Rakha sama-sama mati kutu. Tapi baik Rakha maupun Yumi, masih sama-sama bisa mengontrol diri. Sementara teman-teman yang lainnya, langsung menatap ke arah Rakha dan Yumi secara bersamaan. Di saat semuanya tampak penasaran termasuk Nico, Aira justru terlihat santai-santai saja.


"Ya nggak mungkinlah. Gila lo, Yo! Kami cuma temenan." Bantah Rakha. Tapi sebelumnya, ia sempat melirik ke arah Aira. Ia seperti takut, Aira akan salah paham menyangkut hubungannya dengan Yumi.


Dan Yumi menyaksikannya. Bagaimana tidak? Yumi adalah orang pertama yang menyadari kalau Rakha menyukai Aira sejak awal.


"Ya itu kan dari sisi lo! Nggak tahu dari sisi Yumi kayak apa. Lagian, cowok sama cewek itu nggak bisa pure temenan. Salah satunya pasti emmph—"


Ucapan Rio terpotong begitu saja saat Yumi tiba-tiba menjejalkan sosis bakar berukuran jumbo ke mulut Rio. "Banyak omong lo! Kayak lo sama Bia nggak saling suka aja. Sok-sokan bilang temenan, padahal dalam hati sama-sama saling ngarepin."


Mereka semua lalu tertawa bersama. Termasuk Natta. Setidaknya untuk sejenak, Natta dapat melupakan masalah yang sedang ia hadapi sekarang. Dan itu karena teman-temannya yang selalu dapat menghiburnya dengan cara yang konyol. Tapi, begitu ia menyadari ketidakhadiran Sheryl di antara mereka, membuat Natta menghentikan tawanya.


Selama ini, Sheryl selalu ada dimanapun Natta berada. Sheryl selalu mengikutinya kemanapun dengan berpura-pura itu adalah sebuah kebetulan. Itulah kenapa sekarang, melihat ketidakhadiran Sheryl, membuat Natta merasa ada lubang yang begitu besar dalam dirinya. Ia merasa tidak lengkap.


...****...


Semalam, Aira dan Nico mendapatkan kabar, kalau sore nanti kedua orang tua Nico akan pulang. Setelah mendengar kabar itu, Aira langsung mengajak Nico untuk pergi berbelanja dan membeli bahan-bahan makanan. Aira sudah berencana akan memasak untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Nico nanti.


Saat ini, Nico dan Aira sudah tiba di Swalayan. Mereka terlihat sedang berkeliling di bagian sayur-mayur sambil mendorong sebuah trolley. Aira tampak fokus mencari beberapa sayuran sambil membaca catatan yang diberikan oleh Bu Ningsih tadi. Sementara Nico, ia hanya mengikuti kemanapun Aira melangkah seraya melihat-lihat.


Setelah ke bagian sayur-mayur, mereka beralih menuju tempat untuk daging dan ikan segar. Baru kemudian, mereka menuju ke tempat bumbu-bumbu.


Dan saat Nico tengah diam-diam menikmati momen kebersamaannya dengan Aira, ia tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Ia memeriksa ponselnya, dan ternyata ia sedang mendapatkan panggilan masuk dari Nana. Untuk beberapa saat, Nico tampak berfikir melihat ponselnya. Ketika Aira tiba-tiba memanggilnya, Nico begitu saja melirik ke arah Aira lalu melambaikan tangannya. Saat itulah, ia mengambil pilihan untuk me-reject panggilan Nana.


Nico memasukan ponselnya ke dalam saku celana setelah mengubahnya ke silent mode, lalu menghampiri Aira yang saat itu sedang menunggunya.


"Kamu sendiri mau makan apa hari ini?" Tanya Aira pada Nico.


"Apa saja." Jawab Nico singkat.


Saat sedang dalam perjalanan pulang, Nico sesekali melirik ke arah Aira yang ketika itu sedang sibuk dengan ponselnya. Sadar dengan gerak-gerik Nico, Aira segera memasukan ponselnya ke dalam tas, dan kini ia melihat Nico.


"Kenapa, Nic? Ada yang mau kamu omongin?"


"Aku boleh nanya sesuatu sama kamu?" Tanya Nico sambil tetap fokus menyetir.


"Apa?"


Berhari-hari Nico berfikir, apakah perlu menanyakan hal ini pada Aira? Apakah Aira tidak akan merasa terganggu jika Nico menanyakannya? Dan masih banyak lagi yang mengganggu fikiran Nico, hingga membuatnya maju-mundur dengan keinginannya. Nico tiba-tiba menggelengkan kepalanya.


"Nggak jadi."


"Tanya aja, Nic." Aira mulai tampak serius.


Setelah menimbang kembali beberapa saat, Nico akhirnya bertanya, "Ra, apa kamu... suka sama Rakha?"


Aira langsung terdiam. Dari berbagai macam tebakan di dalam kepalanya, ia tidak menyangka sama sekali, bahwa Nico akan menanyakan hal itu padanya. Selama ini, Nico terlihat cuek-cuek saja dengen kedekatan antara Aira dan Rakha, itulah yang menyebabkan Aira mengira bahwa Nico sama sekali tidak terganggu dengan itu. Tapi Aira tidak bisa berbohong pada dirinya, ada sebersit rasa senang yang timbul di hati kecilnya ketika Nico menanyakan tentang perasaannya pada Rakha.


"Ra?" Panggil Nico pelan, setelah tidak mendengar jawaban apapun dari Aira.


"Eh iya, Nic?"


"Jangan dijawab kalau emang nggak mau." Ujar Nico pasrah.


"Aku suka Rakha. Dia teman yang baik, tetapi hanya sebatas itu."


Mendengar jawaban yang Aira berikan, entah kenapa Nico bingung bagaimana harus menanggapinya. Tapi sama seperti Aira, ia tidak bisa membohongi diri sendiri, bahwa ada sebersit perasaan senang dan lega setelah mendapatkan jawaban dari Aira.


"Ra?"


"Hmm?"


"Setelah kelulusan nanti, apa kamu mau liburan ke Pulau Banu sama aku? Berdua?"


Aira tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya saat mendengar pertanyaan terakhir Nico. Tanpa bisa ia kontrol, jantungnya lagi-lagi berdebar dalam irama yang tidak beraturan gara-gara pria ini. Aira dapat merasakan wajahnya memanas. Dan ia sudah tahu, bahwa pasti kedua pipinya sudah semerah tomat sekarang.


"Kenapa wajah kamu memerah? Apa yang sedang kamu fikirkan sekarang?" Goda Nico sambil berusaha menahan tawanya.


Aira yang mulai menyadari apa yang sedang terjadi, langsung menghela nafas. Ternyata, Nico hanya menggodanya saja.


"Hei, Calvien Nicolas! Kamu fikir apa tanggapan Nana kalau sampai tahu kamu ngajak cewek lain liburan berdua?"


"Loh, kamu cemburu?"


"Jangan konyol! Kamu yang tadi jelas-jelas cemburu sama Rakha." Balas Aira yang tidak mau kalah.


"Ya! Aku cemburu."


Untuk kedua kalinya, Aira lagi-lagi dibuatnya terkejut. Tapi kali ini wajah Nico terlihat cukup serius. Aira pun hanya menatapnya tanpa suara, sampai tiba-tiba...


"Apa kamu mengharapkan jawaban itu dari aku?"


Nico sialan! Entah untuk yang keberapa kalinya, dia selalu berhasil mengalahkan Aira. Aira yang merasa sudah kepalang malu bercampur kesal, langsung saja mendaratkan pukulan bertubi-tubi di bahu Nico yang saat itu sedang tertawa puas. Sejak kecil, Nico memang selalu pandai membuatnya kesal.


"Ra! Ra! Maaf!" Pinta Nico sambil meringis kesakitan.


Tapi Aira tidak peduli. Ia tetap memukul bahu Nico. Ia benar-benar marah sekarang, dan tentu saja ia harus memukul Nico, seperti permintaan Nico.


"Ra, aku lagi nyetir ini. Nanti nabrak!"


Saat itulah, Aira langsung berhenti memukuli Nico. Ia lalu kembali mengambil ponsel dan earphone-nya di dalam tas. Ia menyalakan musik dengan volume full, menyandarkan punggungnya di sandaran jok, membuang wajah, lalu memejamkan mata.


Nico lantas menghentikan tawanya. Sebelum Aira benar-benar marah padanya, ia harus berhenti menjahilinya. Ia pun mengusap puncak kepala Aira dengan sayang, lalu kembali fokus menyetir.


Saat situasinya sudah benar-benar hening, Nico tiba-tiba bergumam pelan, 'tapi aku serius, Na'


^^^To be Continued...^^^