We, From The First

We, From The First
#35. Cemburu



"Jarak yang paling menyakitkan, bukan ketika dua raga saling berjauhan satu sama lain. Namun ketika dua raga masih bisa saling memandang, masih dalam satu ruang dan waktu yang sama, tetapi salah satunya menolak untuk merasakan kehadiran yang lainnya."


...****...


Aira sedang berjalan di koridor seraya membaca sebuah buku biologi ketika Rakha tiba-tiba datang dari belakangnya dan mengambil alih tas di punggungnya. Aira yang terkejut langsung menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Ia lalu mendesah saat melihat Rakha berjalan tak jauh di depannya sambil menenteng tas miliknya dengan santai. Aira pun berlari kecil menghampiri Rakha.


"Kha, ngapain sih?" Tanya Aira begitu langkahnya sudah sejajar dengan Rakha.


"Sedang berbuat baik." Jawab Rakha singkat. Ia kini menyampirkan tas Aira di salah satu pundaknya.


"Sini aku bawa sendiri! Tas aku berat."


Rakha berdecak, lalu menahan kening Aira dengan kedua jarinya.


"Ck, don't touch me, Aira!"


Aira mendesis dengan seulas senyuman kecil di wajah cantiknya. Sekarang ia hanya pasrah dan menerima 'perbuatan baik' yang Rakha maksudkan dengan senang hati. Toh bebannya bisa sedikit terkurangi bukan?


Dan pemandangan yang cukup manis itu, secara tidak sengaja tertangkap oleh kedua mata Nico ketika ia sedang berdiri di lantai dua. Untuk kesekian kalinya, Nico merasa seperti ada sesuatu yang terbakar jauh di dalam dirinya. Belum lagi ketika ia mengingat obrolan yang terjadi antara Aira dan Nana tempo hari. Hal itu semakin membuat hatinya terasa perih.


Saat Aira dan Rakha sudah menaiki lantai dua sambil tertawa bersama, mereka otomatis menghentikan langkah mereka begitu melihat sosok Nico yang berdiri tepat di hadapan mereka. Tawa Aira mendadak membeku di wajahnya. Begitu juga dengan Rakha. Sementara Nico, ia hanya menunjukan wajah dinginnya dan berlalu dari hadapan kedua orang itu tanpa sepatah katapun.


Selama beberapa hari ini, Aira kembali membentang garis antara dirinya dengan Nico. Mereka tidak lagi melakukan aktifitas-aktifitas yang biasa mereka lakukan berdua. Jika dulu Nico berusaha untuk bisa dekat lagi dengan Aira, kali ini berbeda. Secara natural, Nico juga menjauh. Di awal, Nico menjauh dan mengikuti cara main Aira karena ia sedang mencoba memahami Aira dan memberikannya waktu untuk sendiri. Tapi begitu ia mendengar pengakuan Aira pada Nana, Nico tiba-tiba memutuskan untuk sepenuhnya menjaga jarak.


Nico sudah benar-benar patah.


Dan segala usaha yang ia lakukan untuk menjauhi Aira, hanyalah usaha untuk menyakiti dirinya sendiri.


...****...


Setelah jam pulang sekolah, Rakha datang menemui Nico yang memintanya untuk pergi ke lapangan basket. Saat itu, di tengah lapangan sana, Rakha dapat melihat Nico yang sedang memainkan bola basket sendirian. Ia bahkan sudah mengenakan kostum basketnya yang sudah lama tidak ia kenakan lagi sejak Last Game.


Sadar dengan kedatangan Rakha, Nico langsung menghentikan permainannya dan melemparkan bola yang dengan sigap langsung ditangkap oleh Rakha. Rakha lalu menatap Nico dengan pandangan bertanya.


"One on one!" Tantang Nico kemudian dengan cukup berapi-api.


Nafasnya terdengar naik turun, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya.


Rakha pun memenuhi tantangan Nico. Ia melepas tasnya di salah satu bangku di pinggir lapangan, lalu memulai permainanya.


sepuluh menit berlalu, untuk sementara poin Rakha lebih unggul dari Nico.


Dan Nico yang tahu bahwa poinnya cukup tertinggal dari Rakha, langsung menambah intensitas permainanya meski ia sudah sangat kelelahan.


Menyadari Nico yang kelelahan, Rakha tiba-tiba berhenti dan membiarkan Nico memasukkan bola secara terus-menerus hingga poin mereka seri.


"Nico, stop!" Titah Rakha dengan nafas tersengal.


Mendengar itu, Nico langsung menghentikan permainannya dan berdiri berhadapan dengan Rakha.


"Gue masih belum selesai." Jawab Nico dingin.


"Lo tahu, ini bukan elo Nico! Nico yang gue kenal nggak pernah lost control seperti ini."


Nico terdiam.


"Apa sekarang lo udah sadar kalau lo suka sama Aira?"


"Apapun perasaan gue ke Aira, itu bukan urusan lo."


"Terus apa masalahnya?" Gertak Rakha dengan cukup keras. Ia memberikan penekanan pada nada bicaranya.


Lagi-lagi Nico memilih untuk tidak menjawab.


"Kalau ini menyangkut Aira, jangan berfikir gue akan menyerah. Dan apapun yang lo lakukan sekarang bakalan sia-sia." Lanjut Rakha yang semakin membuat emosi Nico tersulut.


Merasa bahwa pembicaraan ini tidak perlu dilanjutkan lagi, Rakha memutuskan untuk pergi meninggalkan Nico. Namun, baru saja ia meraih tasnya di atas bangku, Rakha langsung berbalik begitu mendengar suara Nico yang berteriak kesakitan. Saat itulah Rakha tahu, bahwa Nico sudah terkapar di tengah lapangan sambil memegangi lengan kirinya.


Rakha melepaskan tasnya begitu saja, lalu segera berlari menghampiri Nico yang baru saja terjatuh hingga menyebabkan lengannya cedera.


Rakha terlihat sangat panik dan khawatir.


"NICO!!"


^^^To be Continued...^^^