We, From The First

We, From The First
#05. Menjadi Incaran Rakha



Hari pertama semester baru di kelas XII dimulai. Dan pada hari pertamanya masuk di sekolah baru sebagai siswi baru juga, Aira tidak bisa mendiskripsikan bagaimana perasaannya sekarang. Aira bukan tipe orang yang gampang membaur sejak kematian kedua orang tuanya setahun lalu. Kejadian mendadak yang mengubah hidupnya dalam sehari itu, membuat segala yang ada dalam dirinya juga berubah. Aira yang dulunya memiliki keperibadian cerah, sekarang lebih banyak muram. Kedua orang tua Nico pun sudah menjelaskan semuanya pada Nico, dan meminta Nico untuk lebih perhatian pada Aira.


Situasi itu tergambar jelas dari wajah Aira pagi ini. Hari ini, ia dan Nico berangkat ke sekolah bersama dengan diantar oleh Pak Salim. Dan Nico yang saat itu memilih duduk di samping Aira di jok belakang, dapat menangkap dengan baik kegugupan Aira. Tapi Nico tidak mengatakan apapun. Nico hanya mengalihkan sejenak titik fokusnya dari buku yang sejak tadi ia baca, dan menatap Aira dari samping.


Tidak bisa Nico pungkiri, Aira terlihat sangat manis dengan seragam barunya. Rambut sebahunya diikat ekor kuda, dan Aira hanya memoleskan bedak tipis di wajahnya serta mengaplikasikan lipgloss pink di bibir tipisnya yang sebenarnya sudah merah alami. Nico kali ini tertegun. Entah kenapa dia merasa, Aira terlihat semakin cantik dari sejak terakhir ia melihat Aira ketika masih kecil dulu.


Aira memiliki tinggi badan sekitar 162 cm dengan tubuhnya yang ramping. Ia berkulit putih dan memiliki wajah kecil yang bulat. Rambut sebahunya hitam dan tebal. Dan di pipi kirinya terdapat tahi lalat yang membuatnya terlihat semakin manis. Wajahnya tidak berubah sejak kecil, hanya saja ia terlihat semakin cantik. Aira terlihat begitu mungil di samping Nico yang memiliki bahu yang cukup lebar.


Aira yang mulai merasa bahwa Nico tengah menatapnya, serta-merta memalingkan wajahnya ke arah Nico yang kontan saja membuat Nico sedikit terkejut dan buru-buru berdehem, lalu mengalihkan wajahnya.


"Kenapa, Nic?" Tanya Aira heran.


"Nggak. Aku Cuma ngeliatin kamu terus diam dari tadi. Kamu gugup?" Nico akhirnya bertanya juga pada Aira.


"Sedikit." Jawab Aira singkat.


"Hmm... nanti kamu bakalan satu kelas sama Rakha dan Natta. Mereka itu temen aku. Aku kasi info pentingnya sekarang, mereka agak jahil, tapi sebenarnya baik."


"Jadi, kamu nggak sekelas sama mereka?"


"Dari kelas X sampai XI kami satu kelas. Tapi waktu kenaikan kelas kemarin, kelas kami di rolling."


Aira hanya mengangguk mendengar jawaban Nico, dan kembali menghadap ke jendela, menikmati pemandangan jalanan kota Harsa yang tampak ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Nico masih belum mengalihkan tatapannya dari wajah Aira. Sekarang Nico berfikir, bahkan dari samping pun, Aira masih terlihat sangat cantik.


"Ra..." Nico terdengar memanggil Aira lagi.


"Hmm?" Jawab Aira tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca mobil.


"Semoga hari ini menyenangkan, ya?" Ucap Nico, lalu kemudian mengusap kepala Aira seperti sebelumnya. Aira sedikit tersentak. Dan hal yang baru saja Nico lakukan akhirnya menimbulkan deguban yang cukup kencang di jantungnya. Sepertinya, Nico akan mulai menjadikan hal itu sebagai kebiasaannya. Dan Aira sama sekali tidak keberatan.


Dan getar ponsel Nico yang cukup keras, tiba-tiba membuat keterpanaan Aira pada sosok indah di sampingnya ini buyar dalam hitungan detik. Nico memeriksa ponselnya, lalu menyunggingkan senyuman kecil ketika membaca pesan teks yang ia terima.


Melihat senyuman Nico yang agak berbeda dari sebelumnya, membuat rasa penasaran Aira sedikit terusik. Tetapi Aira sadar, bahwa bukan kapasitasnya menanyakan hal yang bersifat pribadi pada Nico sekarang. Aira harus menelan rasa penasarannya diam-diam.


...****...


Saat ini Aira sudah berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri. Pandangan matanya menyapu seluruh penjuru kelas, dan mengabsen wajah teman sekelasnya satu persatu. Dan Aira dapat melihat, bahwa wajah-wajah itu menyambutnya dengan baik. Aira menarik nafas, lalu memulai perkenalannya.


"Hay, semuanya! Saya Naira Bintang Kelana. Kalian bisa memanggil saya Aira. Semoga kita semua bisa berteman. Mohon bantuannya."


"Hallo Aira!" Sapa seluruh isi kelas dengan antusias, dan semakin membuat perasaan Aira begitu nyaman dan juga senang.


Aira lalu dipersilahkan duduk di sebelah seorang siswi bernama Yumi. Yumi ternyata begitu ramah, dan mengajak Aira berkenalan terlebih dulu.


Tanpa Aira sadari, sepasang mata elang terus saja mengamatinya sejak ia pertama kali masuk ke kelas. Bahkan ketika Aira sudah duduk di samping Yumi pun, tatapan mata itu terus mengikutinya.


Rakha, si pemilik mata elang itu tersenyum kecil begitu melihat Aira tersenyum pada Yumi. Posisi tempat duduknya yang tepat berada di seberang Aira membuatnya bisa melihat gadis itu dengan sangat jelas. Dan sekarang, Rakha merasakan seperti ada sekelompok kupu-kupu menari dalam perutnya.


'Aira... ternyata kamu lebih cantik saat dilihat dalam jarak yang begitu dekat.' Gumam Rakha dalam hati.


Saat tengah fokus memandangi wajah Aira, Rakha tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Ia buru-buru membuka chat yang ternyata datangnya dari Nico.



Rakha kembali mengalihkan fokusnya ke arah Aira dengan tatapan seakan mengatakan, 'ternyata dia orangnya', dengan senyuman manis yang masih terpatri di wajah tampannya. Aira yang mulai merasa bahwa ada yang sedang memperhatikannya, pun lantas menatap ke arah Rakha dengan pandangan bertanya. Senyum di wajah Rakha kian melebar. Rakha kali ini mengalihkan pandangannya dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Takut jika Rakha terus-terusan menatap gadis itu, Aira akan berfikir dia aneh.


^^^To Be Continued...^^^