
"Rakha, ikut Papa!" Ucap Arkha dengan nada dingin pada Rakha yang saat itu masih berada di ruang BK bersama Aldo.
Satu jam yang lalu, pihak sekolah langsung menghubungi Arkha. Itu mereka lakukan, karena Rakha terus diam dan enggan memberikan alasan kenapa ia tiba-tiba memukul Aldo terlebih dulu. Ia sempat meminta maaf pada Aldo karena terpaksa, tapi meski begitu, ia tetap tidak memberikan alasan apapun demi menjaga rahasia Natta tetap aman.
Arkha membawa Rakha ke basement. Dan begitu tiba di sana, Arkha langsung saja mendaratkan sebuah tamparan yang cukup keras di wajah Rakha.
"Nilai kamu menurun drastis, dan bahkan saat ujian tengah semester kemarin kamu tidak melakukannya dengan baik. Sekarang apa lagi yang kamu lakukan? Memukul anak Kepala Sekolah? Jika kamu punya tenaga untuk memukul anak Kepala Sekolah, gunakan saja itu untuk belajar. Sudah Papa bilang, jangan buang energi mu untuk sesuatu yang tidak penting!"
Rakha hanya terdiam sembari menunduk.
"Kenapa kamu memukulnya? Kamu masih nggak mau buka mulut? Hah?"
Ketika sekali lagi Arkha akan menampar Rakha, Aira tiba-tiba saja muncul dan memanggil Rakha dengan suara yang cukup keras.
"RAKHA!"
Arkha langsung mengurungkan niatnya untuk menampar Rakha dan berusaha bersikap wajar, seakan tidak terjadi apapun. Mereka sama-sama menoleh ke arah Aira.
"Kamu dipanggil Pak Anton. Kamu diminta kembali ke ruang BK sekarang."
Setelah itu, Aira langsung berbalik dan melangkah pergi. Begitu jaraknya sudah cukup jauh dari Rakha dan Papanya, Aira langsung bersembunyi di balik sebuah pilar. Ia akhirnya bisa kembali menghela nafas lega.
Ya, Aira memang sengaja melakukan hal itu untuk menyelamatkan Rakha. Tadi, ia diam-diam mengikuti Rakha dan Papanya karena sudah memiliki perasaan yang tidak enak.
Dan bagi Aira, ini pertama kalinya ia melihat sisi lain dari Rakha. Jika selama ini ia mengenal Rakha sebagai sosok yang ceria, maka hari ini ia mendapati hal yang sangat jauh berbeda dalam diri Rakha selama ini.
Di balik pembawaannya yang selalu ceria, ada kerapuhan yang ia sembunyikan dengan sangat rapi.
Saat Rakha melewatinya, Aira langsung mencekal pergelangan tangannya dan membuat langkah Rakha terhenti seketika. Rakha menoleh pada Aira, lalu menatapnya dengan dingin.
Tidak ada lagi tatapan lembutnya. Tidak ada lagi senyumannya yang selalu lebar setiap kali berhadapan dengan Aira. Tidak ada lagi sisi jenaka dan konyol dalam diri Rakha sekarang. Semua itu tiba-tiba menghilang, dan seolah tidak memiliki jejak lagi di wajah Rakha.
Rakha baru saja merasa tertangkap basah oleh Aira. Sungguh, bukan rencananya untuk menunjukan sisi ini di hadapan Aira. Ini di luar kendalinya.
Tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Rakha bersyukur karena Aira telah melihat sisi tergelapnya. Dan ini kali kedua Aira menyelamatkannya dari situasi yang hampir sama seperti yang terjadi 4 tahun lalu.
Rakha menarik tangannya dari genggaman Aira. Baru saja ia akan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, Aira kembali melakukan hal yang tidak terduga. Aira berdiri di hadapan Rakha, ia mengangkat tangan kananya, lalu menutup kedua mata Rakha.
Beberapa saat kemudian, air mata Rakha menetes pelan di wajahnya. Tentu saja ia percaya dengan apa yang Aira katakan barusan. Ia telah membuktikannya 4 tahun yang lalu. Dan melihat Aira melakukan hal ini lagi padanya, dengan rasa yang sama, Rakha merasa cukup meskipun mungkin, mustahil bagi Aira untuk mengingatnya.
Rakha tidak mengatakan apapun. Ketika 10 detik berlalu, Rakha menurunkan tangan Aira dari kedua matanya. Ia menatap gadis di depannya ini dengan sendu. Kali ini, ia tidak ingin lagi bersembunyi di balik topengnya di hadapan Aira. Biarkan saja gadis ini tahu semua kerapuhannya. Rakha sudah mengizinkannya.
...****...
Aira lalu membawa Rakha ke Ruang Kesehatan. Setelah mendapatkan peralatan P3K, Aira segera menghampiri Rakha yang saat itu sedang duduk menunggunya di salah satu Hospital Bed. Aira duduk di samping Rakha, lalu dengan telaten membersihkan luka-luka kecil dan lebam di wajah Rakha.
Setelah selesai merawat luka Rakha, Aira segera membereskan peralatan yang baru saja ia gunakan. Dan begitu Aira akan mengembalikan peralatan itu ke tempatnya semula, Rakha tiba-tiba saja menahannya.
"Ra... boleh aku minta hadiah aku sekarang?" Lirih Rakha dengan suara bergetar.
Aira hanya mengangguk. Namun Rakha dapat menangkap ketulusan dari sinar matanya.
"Peluk aku."
Jawaban yang Rakha lontarkan itu begitu singkat, namun menyayat. Aira tidak tahu apa saja yang telah Rakha lalui, atau bagaimana dia menjalani hidup selama ini. Tapi melihat Rakha yang begitu terluka saat ini, membuatnya ingin membalut luka itu, dan menenangkannya.
Tanpa mengatakan apapun, Aira meletakkan kotak P3K itu di atas nakas di samping Hospital Bed yang Rakha tempati. Ia kembali mengambil posisi duduk di samping Rakha, lalu memeluk pundak Rakha yang entah kenapa dia rasakan sangat rapuh. Aira pun menepuk lembut pundak yang rapuh itu beberapa kali untuk menenangkannya.
Tidak lama kemudian, Rakha membalas pelukan Aira, dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Perlahan ia merasa nyaman dan tenang. Sampai akhirnya Rakha terdengar berujar dengan lirih...
"Ra, tolong... sukai aku. Aku mohon..."
Tidak terdengar jawaban apapun dari Aira. Namun dalam hatinya, ia terus merapalkan kata maaf berkali-kali. Aira tahu, bahwa satu tempat kosong di hatinya selalu menjadi milik seseorang, dan itu bukan Rakha.
Dan di saat yang bersamaan, Nico yang ketika itu hendak memasuki Ruang Kesehatan untuk melihat kondisi Rakha, langsung berhenti di ambang pintu tatkala melihat Aira memeluk Rakha. Nico membeku untuk beberapa saat. Setelahnya, ia mundur perlahan, lalu menutup pintu dengan pelan.
"Nic, kenapa nggak masuk?" Ucap Rio yang baru saja tiba dari belakang Nico.
"Di dalem kosong. Nggak ada orang." Jawab Nico berbohong agar Rio tidak masuk ke dalam.
Nico segera mengajak Rio untuk pergi dari tempat itu dengan suasana hati yang kacau. Apa yang baru saja ia lihat di dalam sana, benar-benar memporak-porandakan isi kepalanya.
^^^To be Continued...^^^