
Aira keluar dari apartemennya sesaat setelah ia menerima telepon dari Rakha yang mengabarkan bahwa dia sudah menunggu di bawah. Aira pun berjalan dengan langkah dan perasaan yang begitu ringan, segera keluar untuk menyusul Rakha.
"Kamu on time sekali, Kha?" Goda Aira sambil mendekat pada Rakha yang saat itu sudah bertengger manis dengan vespa biru kesayangannya.
Khusus untuk hari ini, Rakha rela mengeluarkan vespa birunya setelah cukup lama tidak menggunakannya sejak lulus SMA. Aira pun menatap heran ke arah Rakha dan vespa birunya secara bergantian dengan pandangan seolah berkata, "yakin kita pake motor?"
Rakha tertawa geli melihat ekspresi Aira yang benar-benar menggemaskan.
"Kenapa? Kamu nggak mau pake motor? Mau ganti mobil aja?" Tanya Rakha dengan nada bercanda.
"Bukan begitu, Rakhaaa! Kamu pahamlah maksud aku apa." Aira melipat kedua tangannya di depan dada sambil memasang wajah sebal yang justru membuatnya terlihat semakin menggemaskan. "Apa nggak masalah kalo orang-orang ngenalin kamu?" Lanjut Aira kemudian. Ia benar-benar tidak ingin melihat Rakha terlibat masalah karena dirinya.
"Aira sayaaang... Jangan khawatir. Kan aku pake topi sama masker. Nggak akan ada yang ngenalin aku." Ucap Rakha sambil menepuk lembut kepala Aira. Rakha memang sengaja memanggil "sayang" hanya untuk menggoda Aira.
Dalam hati Rakha tertawa puas melihat bagaimana Aira mulai salah tingkah.
"Dih! Nggak usah panggil sayang!!" Kilah Aira kemudian.
Apa-apaan Rakha? Kenapa bisa dengan santainya memanggil sayang sementara Nico saja tidak pernah melakukannya untuk Aira?
Lagi-lagi Rakha menyemburkan tawanya. Ia kemudian menarik lembut salah satu tangan Aira kemudian memasangkan helm di kepala gadis itu. "Jalan sekarang, yuk!"
Aira mengangguk, lalu menerima saja saat Rakha menuntunnya untuk naik ke atas motor.
Sementara itu, baik Rakha maupun Aira sendiri, sama sekali tidak menyadari bahwa saat itu tidak sekalipun Aira menolak sentuhan Rakha.
...****...
"Al, Papa kamu... Papa kamu sudah pergi, Al..." Lirih Tante Diana dalam sebuah tangisan panjang begitu Nico tiba di rumah sakit tempat dimana Papanya dirawat.
Beberapa jam yang lalu, Nico mendapatkan telepon dari Dr.Arkha yang menyampaikan bahwa Papanya mungkin tidak akan bisa bertahan sampai besok pagi. Nico yang menerima kabar itu langsung berangkat ke Pulau Banu bahkan sebelum meminta persetujuan dari Mamanya.
Namun Nico terlambat. Karena begitu ia tiba, Papanya sudah lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya.
Nico merasakan dadanya seperti terhimpit saat melihat tubuh papanya yang sudah terbujur kaku di hadapannya. Tidak setetes pun air matanya yang keluar, tetapi Nico dapat merasakan dengan jelas bahwa sesuatu seperti sedang dihancur-leburkan jauh di dalam dirinya.
Nico mendekat dengan pandangan dingin namun kosong. Ingatan kebersamaannya bersama Sang Papa tiba-tiba saja berpendar satu per satu di kepalanya hingga membuat jantungnya terasa seperti diremas.
"Anda bahkan belum meminta maaf pada Nana, tapi anda justru melarikan diri seperti ini." Lirih Nico dengan suara bergetar. Kedua matanya pun tampak memerah menahan tangisan, amarah, dan juga kesedihannya yang tidak terkata.
...****...
Aira mengaku bahwa sudah sejak lama ia ingin bermain layangan. Dan Aira sama sekali tidak menyangka bahwa Rakha akan mewujudkan keinginannya bahkan tanpa mengatakan apapun.
Patut Aira akui, bahwa Rakha ini memang ajaib.
Setelah puas bermain layangan, Rakha pun mengajak Aira makan di sebuah kedai steak sederhana yang masih terdapat di kawasan Marvi River. Aira sedang memotong steak di piringnya saat Rakha terus saja berkicau tentang betapa serunya kebersamaan mereka hari ini. Ketika Aira sudah selesai memotong steak-nya, ia pun menyentuh lembut tangan kanan Rakha sambil menyunggingkan satu senyuman manis di wajahnya.
Rakha otomatis menghentikan kicauannya. Sentuhan lembut Aira di tangannya sudah cukup mampu membuat aliran darahnya berdesir dalam debar-debar yang menyenangkan.
"Sekarang kamu makan dulu, ya? Ceritanya bisa lanjut nanti." Kata Aira dengan nada bicara yang tidak kalah lembutnya dengan sentuhannya.
Dengan penuh perhatian, Aira pun meletakkan piring steak-nya di hadapan Rakha lalu menukarnya dengan milik Rakha. Ternyata Aira memang sengaja memotongkan steak untuk Rakha.
Perhatian kecil namun penuh makna yang ditunjukan oleh Aira padanya, membuat perasaan hati Rakha menjadi begitu bahagia. Saking bahagianya sampai-sampai dia kesulitan menahan senyumannya.
"Kenapa, Kha?" Tanya Aira begitu menyadari bahwa Rakha sedang berusaha menahan senyumnya.
"Ra, aku tahu kamu mungkin nggak nyaman, atau bahkan nggak suka sama apa yang ingin aku sampaikan sekarang, but... you know how much I love you, right? Dan terima kasih untuk hari ini, juga... steak-nya."
Aira yang tidak tahu harus mengatakan apa untuk membalas perkataan Rakha hanya bisa tersenyum tipis. Aira sendiri bahkan tidak mengerti, kenapa hari ini ia merasa sangat nyaman bisa menghabiskan waktu bersama Rakha. Segala sesuatunya entah dengan cara apa terasa begitu benar, terasa begitu pas dalam setiap takarannya.
Suasana kikuk di antara mereka tiba-tiba terberai saat Rakha merasakan ponselnya bergetar. Rakha meraih ponselnya di atas meja dan segera membuka pesan yang dikirimkan oleh Papanya.
Tangan Rakha yang memegang ponsel langsung terjatuh begitu saja di atas meja sesaat setelah ia membaca pesan teks yang dikirimkan oleh Papanya. Kabar yang diterimanya itu benar-benar berhasil mengejutkannya.
Rakha kemudian mengangkat wajahnya, lalu menatap Aira yang saat itu sedang menatapnya dengan pandangan bertanya
Rakha menghela nafas dalam, menghembuskannya perlahan, lalu berkata...
"Papa Nico di Pulau Banu... meninggal dunia tadi siang."
^^^To be Continued....^^^