
"Kau adalah bekas luka yang paling kucintai tanpa tetapi. Kau momentum yang tertuliskan untuk lepas dari garis takdirku. Satu yang kuyakini dan takkan kulerai, kita memilih mengakhiri cerita kita bukan karena kita saling membenci, atau sudah tidak lagi saling mencintai. Namun... tidak ada jalan lain yang terbaik untuk kau dan aku selain... perpisahan. Timing kita bertabrakan tanpa peringatan. Lalu kita terberai, sebelum akhirnya menjelma menjadi bekas luka yang tak terurai, di hati masing-masing."
...****...
Satu minggu berlalu sejak kepergian Bimantara Danadyaksa, dan selama satu minggu itu juga, Aira seolah menghilang dari kehidupan Nico. Nico pun tidak berusaha untuk menemui atau mendekati Aira. Ini jalan yang sudah Nico pilih untuk mereka berdua. Nico tidak akan goyah, meskipun sebagai gantinya ia harus melukai dirinya sendiri dengan teramat kejam.
Jika biasanya Nicolah yang melarikan diri dari Aira, maka kini yang terjadi justru sebaliknya. Dan Nico tidak bisa berbohong, dia merasa kehilangan. Seperti ada satu lubang besar di dalam hatinya yang membuat setiap langkah yang ia ambil terasa tidak lengkap.
"Kamu yakin akan pergi ke Amerika, Nic?" Tanya Regina untuk yang terakhir kalinya pada Nico.
Beberapa hari yang lalu, Nico memantapkan keputusanya yang ingin melanjutkan pendidikan S2-nya di Amerika dan menetap di sana dalam batas waktu yang tidak ia tentukan.
"Iya, Ma." Jawab Nico dengan pelan.
Tidak seperti tekadnya yang begitu kuat ingin segera pergi, hatinya dan sorot matanya yang belakangan ini penuh kekosongan justru meneriakkan sebaliknya.
"Lalu Nana? Dia hanya punya kita, kalau kamu pergi tanpa memperbaiki situasi, bagaimana Nana akan hidup setelah ini?"
"Nico justru memilih pergi agar Nana bisa hidup. Selama Nico terus muncul dalam pandangan Nana, maka selama itu juga, Nana akan terus mengingat kematian Om dan Tante yang sangat menyakitinya. Dan setiap kali Nana melihat ke mata Nico, selamanya juga Nana akan terus mengingat orang itu. Nana masih bisa memahami alasan Mama yang berusaha menyembunyikan kebenaran tentang kematian Om dan Tante, tapi Nico... sekalipun Nana bisa memahami Nico, ingatan itu akan tetap menyiksa Nana dan membuat Nana menderita, karena Nico adalah anak dari pembunuh kedua orang tuanya, Nico anak dari seorang pembunuh, Mama..."
Untuk pertama kalinya, tangis Nico akhirnya pecah di hadapan Mamanya. Merasa tidak kuasa melihat Nico, Regina pun langsung memeluk putranya itu.
"Maafkan, Mama. Maaf karena Mama sudah membuat kamu lahir sebagai anak dari Bimantara Danadyaksa."
"Nico sayang Nana, Ma. Nico nggak bisa tanpa Nana. Tapi kalau Nico nggak pergi, Nana akan terus menderita."
...****...
Nico tidak langsung keluar dari mobilnya begitu ia tiba di B-Cafe. Sore tadi, Aira sempat meneleponnya dan meminta untuk bertemu di B-Cafe. Aira mengatakan bahwa ada hal yang ingin ia sampaikan pada Nico. Nico yang sebelumnya tidak pernah menduga bahwa Aira akan menghubunginya terlebih dulu pun, berusaha mengumpulkan keberaniannya sebelum akhirnya keluar dari dalam mobilnya, dan melangkah dengan tidak yakin ke dalam cafe.
Dan di sana, di bioskop mini yang selalu menjadi markas mereka, Aira sudah menunggu kedatangan Nico. Begitu Nico memasuki ruangan, pandangan kosong Aira dengan kedua mata sembabnya langsung menyambut kedatangan Nico.
Melihat keadaan Aira saat itu, tentu saja Nico merasa khawatir. Tetapi Nico sadar, bahwa ia tidak akan bisa melakukan apa-apa dengan perasaan cemasnya itu. Dia bahkan tidak akan bisa menanyakan apa Aira baik-baik saja.
Nico pun segera mengambil posisi di hadapan Aira, menatap ke dalam matanya tanpa mengatakan apapun.
"Gimana keadaan kamu, Nic?" Tanya Aira. Nada bicaranya terdengar penuh luka.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Nico singkat.
Aira mengangguk pelan, "apa kamu nggak akan tanya kabar aku?"
Nico menduduk, dan memilih untuk tidak menjawab.
"Apa kamu nggak penasaran sama keadaan aku?" Aira bertanya sekali lagi. Namun lagi-lagi Nico tidak menjawab.
Aira mendesah pelan, kedua matanya mulai terasa panas dan berkabut. Kediaman Nico sekarang benar-benar membunuhnya.
Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Aira sebenarnya sedang memberikan waktu untuk Nico supaya mau membuka suara dan memberikan penjelasan apapun yang mungkin bisa sedikit menenangkan perasaan Aira. Namun, saat Aira mendapati bahwa Nico tidak juga mengatakan apapun padanya, Aira pun menghela nafas dengan kasar.
"Nic, apa kita nggak bisa kembali seperti dulu?" Suara Aira kali ini bergetar hebat. Seperti sedang menahan hujaman rasa sakit.
Nico yang terkejut mendengarkan perkataan Aira serta-merta mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk, dan menatap tajam pada kedua mata gadis itu, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Aku tahu situasi di antara kita sedang sulit sekarang, ini bahkan terlalu rumit untuk dijelaskan, tapi aku nggak mau pisah sama kamu, Nic. Aku mau terus sama-sama kamu."
"Kalau kamu sudah situasinya sekarang, terus kenapa kamu─"
"Aku nggak peduli! Yang membunuh Mama dan Papa aku itu Papa kamu, bukan kamu, lalu kenapa kamu yang harus menanggung semuanya?" Sela Aira, seolah tidak membiarkan Nico untuk melanjutkan perkataannya.
"Dia Papa kandung aku, Nana! Setiap kali kamu melihat aku, kamu juga akan terus melihat dia. Bagaimana bisa aku mengabaikan itu? Aku nggak mau melukai kamu lebih jauh lagi. Kamu juga harus sadar, Naira, bahwa tempat yang sekarang kamu tempati harusnya menjadi milik aku, bahwa semua penderitaan kamu sekarang, harusnya menjadi tanggunganku."
"Aku nggak masalah dengan itu, Nico!"
"Tapi akulah masalahnya. Aku nggak mau setiap kali kita bersama, aku akan terus mengingat bahwa aku adalah anak dari seorang pembunuh. Aku akan terkesan tidak tahu malu kalau tetap bertahan di sisi kamu."
Selesai sudah. Nico menolak untuk bertahan dengannya, dan benar-benar memilih jalan perpisahan untuk mereka. Aira sudah merasa tidak memiliki kekuatan lagi untuk mempertahankan seseorang yang bahkan tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk dipertahankan.
Dia mencoba, dan akhirnya gagal.
Aira lantas mengusap air mata di wajahnya, berusaha menegarkan diri meski rasanya hampir mati.
"Baiklah, kalau begitu─" Aira mengambil jeda untuk menarik nafas, berusaha menenangkan sesak di dadanya. "Aku akan menggunakan permintaan ketiga aku sekarang." Lanjut Aira dengan suara yang masih bergetar. Siapapun tahu, ia sedang menahan tangisannya agar tidak pecah detik itu juga.
Sementara Nico yang duduk di hadapannya seraya menundukan kepalanya dalam-dalam setelah memuntahkan isi hatinya, menanti dengan penuh antisipasi. Ia tahu hari ini akan tiba. Dan ia sudah mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari untuk hari ini. Tapi saat hari ini tiba, tetap saja hatinya terasa sakit. Ia terlalu ngeri membayangkan bagaimana hidupnya tanpa gadis ini. Gadis yang ia cintai dan ia jaga dengan sepenuh hati selama bertahun-tahun.
Saat hari ini berakhir, ia tidak akan lagi menemukan seseorang seperti ini. Dulu, sekarang, dan bahkan hingga nanti, sampai batas waktu yang tidak ia ketahui, gadis ini akan selalu menjadi satu-satunya. Sampai hari ini berakhir, ia bukan lagi orang yang sama.
"Aku... nggak mau ketemu sama kamu lagi, Calvien Nicolas." Putus Aira dengan perasaan hancur. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
Final! Hari ini dan hari-hari kemarin yang penuh kenangan manis dan luka sudah berakhir. Sungguh-sungguh berakhir.
Nico terdengar menghela nafas untuk meminimalisir perih di dadanya sekarang. Semua kenangan yang ia lewati bersama Aira, terbersit lagi di kepalanya seperti sebuah film yang diputar ulang. Kenangan yang terlampau indah itu, justru membuatnya sejuta kali lebih sakit sekarang.
Tapi Nico tidak bisa mengatakan apapun. Kendatipun Aira sangat ingin mendengar suaranya lagi, kendatipun jauh di dasar hatinya yang terdalam Aira masih berharap bahwa pria ini akan menahannya.
Satu detik, dua detik, dan... Aira menganggukan kepalanya beberapa kali dan membiarkan sebulir air matanya lagi-lagi lolos jatuh di pipinya. Sudah berakhir. Sekarang sudah benar-benar berakhir. Inilah akhirnya.
"Dan terakhir... happy birthday, Nico."
Itulah ucapan terakhir Aira sebelum benar-benar pergi, dan menyisakan Nico hanya seorang diri di tempat itu. Waktu sudah menunjukan tepat pukul duabelas malam. Tanda hari itu sudah berakhir. Dan di hari yang sama juga, Nico genap berusia 23 tahun. Ini hadiah ulang tahun paling menyakitkan yang pernah ia dapatkan, namun layak ia terima.
"Maaf, Aira."
Ujarnya pelan di tengah keheningan malam. Bahkan ketika ia sangat ingin mengejar gadis itu, ia sudah tidak memiliki daya lagi. Melepaskan dan dilepaskan, adalah jalan terbaik satu-satunya yang bisa mereka tempuh sekarang.
Sampai hari ini berakhir, Nico bukanlah Nico yang sama lagi.
Dan setelah pertemuannya dengan Aira, Nico menghabiskan sisa malam itu dengan menangis sejadi-jadinya.
Biarkanlah untuk malam ini saja, Nico menumpah-ruahkan segala air matanya. Sebab mulai esok hari, ia harus memasang 'topeng' di hadapan Aira, berpura-pura bahwa ia tidak apa-apa dengan perpisahan mereka, lalu menghilang seperti sebuah mimpi.
^^^To be Continued...^^^