We, From The First

We, From The First
#55. Rencana Pernikahan



"Cepat atau lambat, Nico pasti akan tahu juga kebenarannya. Jadi, tolong berhenti menyalahkan diri sendiri, Ma. Ini memang sudah waktunya." Ucap Adryan.


Selama satu minggu terakhir ini, Adryan terus menangkap keresahan istrinya semenjak Nico mengetahui satu rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Sejak hari itu, tidak seharipun Regina hidup dalam ketenangan seperti yang sudah di jalaninya selama enam belas tahun terakhir ini.


"Nico sangat menyayangi Nana, Pa. Walaupun Nico tidak mengatakannya, tapi Mama tahu bahwa kehilangan Nana sudah menjadi ketakutan terbesar Nico sekarang."


"Lalu, apa Mama berfikir kalau Nana akan meninggalkan Nico begitu tahu yang sebenarnya?"


"Nana mungkin tidak akan meninggalkan Nico, tapi selamanya Nana akan terus hidup bersama rasa kecewanya. Dan mungkin, setiap kali dia melihat wajah Nico, dia akan selalu teringat pada pembunuh yang sudah menghabisi nyawa kedua orang tuanya. Satu-satunya cara yang tersisa adalah, dengan tetap menyimpan rahasia ini dari Nana. Dia tahu siapa pembunuh kedua orang tuanya, tapi dia tidak boleh tahu bahwa pembunuh itu adalah Papa Kandungnya Nico, Nana juga tidak boleh tahu, bahwa sebenarnya Bimantara salah sasaran malam itu. Tapi masalah terbesarnya adalah, Nico tidak akan pernah mau hidup bahagia dengan tetap menyembunyikan kebenaran itu dari Nana. "


"Kalau begitu —" Adryan menggantungkan kalimatnya.


Hatinya terasa berat harus menyampaikan pemikirannya sekarang, tetapi untuk saat ini, mereka benar-benar tidak memiliki jalan tengah dari permasalahan yang saat ini membelit mereka.


Hanya satu cara ini yang dapat terfikirkan oleh Adryan.


"Mari kita nikahkan saja Nico dengan Nana saat nanti mereka lulus kuliah. Setelah itu, kita kirim mereka ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah. Mereka juga akan menjalani kehidupan mereka di sana, jauh dari segala hal yang mungkin bisa jadi penyebab Nana mengetahui kebenarannya. Jika mereka hidup hanya berdua saja di tengah-tengah orang-orang yang tidak tahu siapa mereka, Nico akan cepat merelakan kebenaran ini. "


"Pa... "


"Papa ingin melakukan ini bukan semata-mata karana ingin menyembunyikan kebenaran dari Nana. Tapi Papa ingin melindungi kebahagiaan Nana. Itu saja. Dan Papa yakin, Aldy dan Shania akan setuju dengan cara ini. Karena yang pasti, Aldy dan Shania ingin melihat Nana hidup bahagia tanpa mengungkit kembali kesakitannya."


Nico yang beberapa saat lalu berdiri di depan kamar kedua orang tuanya, mendengar semua isi pembicaraan itu tanpa terkecuali.


Dan Nico nyaris goyah ketika Papanya membahas soal rencana pernikahan.


Sebelum ini pun, Nico sudah memiliki keinginan untuk membawa Aira pergi jauh, dan menjalani kehidupan hanya berdua saja dengan Aira. Tetapi pada akhirnya, Nico memiliki banyak pertimbangan yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.


Jika Nico mengikuti rencana Papanya, itu tentu tidak akan adil bagi Aira. Dan selamanya Aira hanya akan hidup dalam kebohongan bersama Nico— Nico yang selama hidupnya selalu ia percayai.


Nico lalu menghela nafas dalam-dalam, berusaha mengisi rongga dadanya yang terasa kosong.


Pada akhirnya, Nico sudah memiliki keputusannya sendiri.


...****...


Aira keluar dari ruang sidang skripsi sambil bersorak kegirangan. Dan di sana sudah ada Yumi, Sheryl, dan Bia yang sedang menunggunya sambil membawa bunga dan boneka.


Melihat Aira yang tampak begitu gembira setelah keluar dari ruang sidang, tentu saja sahabat-sahabatnya langsung tahu apa hasilnya. Lalu tanpa membuang-buang waktu lagi, Yumi, Sheryl, dan Bia serta-merta menyerbu Aira dengan pelukan.


Tidak berselang lama, Natta datang bersama Rio dan turut memberikan selamat pada Aira karena sudah berhasil melalui sidang skripsi dengan hasil yang memuaskan. Mereka juga memberikan selamat, karena Aira menjadi orang pertama yang berhasil menyelesaikan skripsinya di antara mereka semua.


Rakha yang sedang berada di asrama bahkan melakukan video call dengan Aira demi memberi ucapan selamat.


Namun di antara sahabat-sahabatnya, tidak tampak kehadiran Nico, seseorang yang paling Aira harapkan kedatangannya.


Selama sebulan terakhir, Nico nyaris tidak memiliki waktu untuk Aira. Aira sebenarnya tahu, bahwa Nico sedang disibukkan dengan pengerjaan skripsinya, tapi meski begitu, Aira sudah merasakan perubahan dalam diri Nico sejak hari dimana ia bertemu dengan Papanya di Pulau Banu.


Bahkan hingga hari ini pun, Nico masih belum menceritakan soal pertemuannya dengan Papanya beberapa waktu lalu.


Selama kurun waktu ini, Aira terus berusaha menahan diri, menunggu sampai Nico mau membuka diri dan bercerita padanya.


Aira menanamkan pada dirinya sendiri, bahwa Nico sedang berada di masa tersulitnya sekarang, dan dia tidak ingin menambah beban fikiran Nico dengan merengek.


"Halo, Nic? Lagi ngapain?" Tanya Aira pada Nico melalui sambungan telepon.


Setelah dari kampus, Aira langsung pulang ke apartemennya. Ia menolak ajakan sahabat-sahabatnya untuk merayakan kelulusannya di B-Cafe. Bagi Aira, tanpa kehadiran Nico, perayaan itu sama sekali tidak penting.


"Aku baru balik dari perpustakaan, nih. Gimana tadi sidangnya? Lancar?"


"Hm..." Jawab Aira dengan sebuah gumaman sambil menundukkan kepalanya, berusaha menahan rasa perih di matanya.


Aira tidak langsung menjawab hingga memicu keheningan dalam beberapa detik.


"Na, kamu baik-baik aja, kan?" Suara Nico kembali terdengar.


"Nico?"


"Iya, Nana?"


"Aku mau ketemu." Jawab Aira dengan lirih. Suaranya serak.


Jawaban itu, lebih terdengar seperti sebuah permohonan.


...****...


Aira berlari saat melihat sosok Nico yang dia rindukan sedang berdiri menunggunya di depan gedung apartemennya. Air matanya sudah tidak terbendung lagi. Dan begitu dia sudah tiba di hadapan Nico, Nico langsung merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Membiarkan Aira menumpahkan segala luapan perasaan yang selama satu bulan ini menyiksanya secara perlahan.


"Maaf, ya." Bisik Nico seraya mengusap lembut rambut panjang milik Aira, lalu mendaratkan satu kecupan ringan di puncak kepalanya.


Belakangan ini, Nico sering sekali meminta maaf pada Aira karena tidak pernah benar-benar bisa ada di sampingnya seperti yang sudah dilakukannya selama empat tahun terakhir ini. Nico dengan sadar menghindari Aira karena tidak sanggup melihat wajahnya. Pengerjaan skripsi hanyalah alasan yang Nico gunakan di hadapan Aira. Beberapa waktu lalu, Nico bahkan sengaja menghentikan pengerjaan skripsinya untuk menghindari ujian.


Segalanya menjadi semakin berat bagi Nico, ketika ketulusan yang Aira hujani padanya justru membuat rasa bersalahnya serta rasa tidak layaknya semakin menguasai dirinya. Setiap kali Aira tersenyum padanya, Nico merasakan jantungnya seperti tercabik.


"Berhenti minta maaf, dan tolong jangan jauh-jauh dari aku, Nic. Kamu bisa sibuk ngerjain skripsi seharian, dan aku akan nunggu di samping kamu selama seharian juga tanpa komplain. Dan kalau kamu emang nggak mau cerita soal Papa kamu, aku juga nggak akan masalah. Tapi tolong, jangan jauh dari aku. Biarin aku selalu di deket kamu."


Nico tidak mengatakan apapun. Tetapi Aira dapat merasakan pelukan Nico yang semakin erat di tubuhnya.


Tanpa sepengetahuan Aira, Nico setengah mati berusaha menahan tangisannya agar tidak pecah lagi di hadapan Aira.


...****...


"Selamat, ya, Na, sudah berhasil lulus." Ucap Regina pada Aira saat Aira baru saja tiba di rumah bersama Nico.


Ternyata, Regina sudah menyiapkan penyambutan untuk Aira yang hari ini berhasil lulus ujian skripsi. Regina bahkan memasak semua makanan sendiri setelah secara khusus meluangkan waktu untuk Aira.


"Terima kasih, Tante." Jawab Aira.


Tidak lama setelah itu, Adryan turun dari lantai dua dan ikut memberikan ucapan selamat pada Aira. Selepas itu, mereka pun menikmati makan malam yang sudah cukup lama tidak mereka lakukan bersama karena kesibukan masing-masing.


Selama makan malam berlangsung, perhatian Regina sama sekali tidak bisa lepas dari Nico yang saat itu menjadi satu-satunya yang tidak terlihat menikmati kebersamaan mereka malam itu. Regina menyadari, bahwa fikiran Nico tidak sedang menyatu dengan tubuhnya saat itu. Namun Regina memakluminya.


Regina tahu, bahwa posisi Nico lah yang paling berat sekarang.


Regina kemudian menatap Adryan di sampingnya, seolah memberikan tanda bahwa inilah saatnya untuk menyampaikan rencana mereka pada Nico dan Aira. Sesaat kemudian, Adryan menggangguk begitu memahami tanda yang dilemparkan istrinya.


"Nico, Nana..." Panggil Adryan dengan hati-hati


Secara bersamaan, Nico dan Aira yang saat itu duduk bersebelahan langsung menatap pada Adryan. Dari reaksi Papanya sekarang, Nico sudah bisa menebak apa yang akan disampaikanya.


"Selama empat tahun ini, kami perhatikan kalian sudah cukup dekat. Kalian pun terlihat saling bergantung satu sama lain. Untuk itu, setelah kalian wisuda nanti, Papa dan Mama sudah sepakat untuk... menikahkan kalian." Adryan memberikan jeda sebentar untuk melihat reaksi Nico dan Aira. Ketika Aira yang awalnya terlihat terkejut lalu kemudian tersipu, Nico justru terlihat datar-datar saja. "Jadi, gimana menurut kalian?"


Aira menatap Nico di sampingnya dengan raut bahagia yang terpancar jelas di wajahnya. Meski tidak mengatakan apapun, Nico yakin seratus persen bahwa Aira pasti menyetujui rencana itu. Nico kemudian terkesiap saat Aira menyentuh tangannya. Nico melihat Aira sejenak, sebelum akhirnya melihat kedua orang tuanya secara bergantian.


Sepasang mata Nico tampak berkaca, deru nafasnya terdengar berat, sebelum akhirnya dengan yakin menjawab...


"Maafkan Nico, tapi Nico belum siap untuk menikah."


^^^To be Continued....^^^