
Sudah sepuluh menit berlalu sejak Rakha dan Mamanya tiba di sebuah Restaurant dan duduk saling berhadapan satu sama lain. Namun meski begitu, Rakha tidak mengatakan apapun dan hanya menunduk saja, menyembunyikan rasa marahnya pada sosok di depannya ini.
Rakha memainkan kedua ibu jarinya, dengan menggarukkan salah satunya ke ibu jari yang lainnya. Hal itu terus Rakha lakukan selama sepuluh menit hingga membuat kulitnya mengelupas dan memerah.
Setiap kali merasa cemas dan berada di situasi yang tidak bisa ia hadapi, Rakha memang selalu melakukan hal itu.
"Rakha, masih nggak mau natap mata Mama, Nak?" Ucap Evelyn lembut. Namun Rakha bergeming.
"Maafin Mama, ya? Maaf karena Mama ninggalin Rakha terlalu lama."
Perasaan Rakha kian berkecamuk mendengar rangkaian kalimat terakhir yang meluncur bebas dari Mamanya. Lalu, tanpa ia komando, segala rasa itu membuncah seakan-akan memberikan dorongan baginya untuk membuka mulut.
"Karena terlalu lama, Mama harusnya nggak kembali."
Rakha berucap dengan sangat lembut, namun sarat akan emosi yang begitu kuat di baliknya. Ia bahkan belum mau menatap Mamanya.
"Mama tahu sudah sangat terlambat sekarang, tapi... Mama sangat merindukan Rakha dan Ranha." Evelyn mulai goyah. Tanpa bisa ia halau, sebutir kristal bening luruh dari mata cantiknya kemudian jatuh di atas punggung tangannya.
Dadanya benar-benar terasa penuh, saat Putra yang sangat ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya kini bahkan tidak bersedia menatap matanya.
Kembali, tanpa menatap sosok di depannya, Rakha terdengar bersuara dengan volume yang masih sama, "jangan katakan satu kalimat lagi soal rindu yang Mama pendam untuk aku dan Ranha. Kami melewati empat tahun ini dengan sangat baik tanpa Mama. Kami sudah terbiasa, untuk itu, Mama nggak harus kembali. Karena baik aku ataupun Ranha, sudah nggak mengharapkan Mama untuk kembali lagi di hidup kami."
"Waaah, Rakhaditya Arya. Kamu pasti sudah benar-benar tumbuh dewasa sampai bisa mengatakan hal semenyakitkan itu." Kata Evelyn yang sudah tidak bisa lagi menahan laju air matanya.
"Untuk itu, mari jangan saling menyakiti lagi." Kali ini, Rakha melemparkan kalimat itu sambil menatap tepat pada kedua mata Mamanya. ia mengucapkannya dengan berani. Tidak ada ketakutan atau keraguan sedikitpun dari nada bicaranya.
Setelah menyampaikan apa yang selama ini mengganjal di hatinya, Rakha bangkit dari kursinya lalu pergi meninggalkan Mamanya sendirian di tempat itu. Dan Evelyn sama sekali tidak berniat untuk menghentikan Rakha. Evelyn paham bahwa Rakha butuh waktu untuk bisa menerima kehadirannya, itulah kenapa, Evelyn tidak ingin terlalu memaksakan Rakha. Ia sadar, bahwa ia juga sudah terlalu lama meninggalkan kedua anaknya. Jadi wajar jika sekarang Rakha —yang mengambil peran sebagai anak sulung merasa sangat kecewa dengan dirinya. Terlepas dari apapun alasan Evelyn meninggalkan anaknya saat itu, ia tetap bersalah.
Dan sudah sepatutnya ia menerima bagaimanapun cara Rakha menanggapi kehadirannya kembali. Itu adalah ganjaran yang harus ia terima untuk kealpaannya.
Begitu Rakha keluar dari restaurant, ia serta-merta berhenti melangkah saat melihat Aira yang kini berdiri tidak jauh dari posisinya sekarang. Rakha pun kembali menggerakkan langkah kakinya dengan tatapannya yang hampa tak bernyawa. Bagi Aira, ini kali kedua ia melihat Rakha bersikap seperti ini, setelah sebelumnya Rakha membuat kekacauan, hingga menyebabkan Papanya harus dipanggil oleh pihak sekolah.
"Kha? Kamu... baik-baik aja, kan?"
Tanya Aira begitu Rakha sudah tiba di hadapannya.
Sebisa mungkin, Rakha berusaha menyunggingkan seulas senyum di wajahnya meski kedua matanya tampak kosong.
"Iya, Ra." Jawabnya singkat.
"Dan ya, aku udah minta tolong Rio buat bawa pulang motor kamu."
"Makasih, ya?"
Setelah itu, Rakha melewati Aira. Ia berjalan di terotoar tanpa tahu kemana harus melangkah. Dan Aira yang memang mencemaskannya, diam-diam mengikuti Rakha dari belakang.
Sepanjang jalan, Aira terus menatap bahu Rakha. Bahu yang biasanya kokoh itu, kini terlihat begitu rapuh. Karena begitu rapuh, seakan-akan satu sentuhan lembut saja akan membuatnya runtuh dalam sekejab mata.
Dan tiba-tiba, sebuah ingatan timbul di kepala Aira setelah menyadari bahwa Rakha adalah Putra dari Evelyn Lim. Tiba-tiba juga ia merasa, bahwa wajah Rakha tidak begitu asing dalam memori lamanya.
...****...
Pulau Banu, 2008
Aira baru saja keluar dari toilet saat tiba-tiba perhatiannya tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang menyaksikan pertengkaran dua orang di depan matanya. Posisi Aira yang saat itu tepat berada di belakang Rakha dengan jarak yang cukup dekat, membuatnya dapat melihat apa yang sedang Rakha lihat. Dan saat itulah ia tahu, bahwa Evelym Lim lah yang ternyata sedang bertengkar dengan seseorang.
"Kamu fikir aku tidak akan tahu kalau kamu akan membawa Rakha ke Tournament ini? Kamu fikir apa yang sedang kamu lakukan pada anakku?!"
Itulah yang dapat Aira dengar. Dan ketika mendengar Arkha menyebut nama Rakha, perhatiannya secara otomatis tertuju pada kostum basket yang Rakha kenakan. Di bagian punggungnya tertulis "RAKHA". Saat itu juga Aira tahu, bahwa yang jadi topik pertengkaran kedua orang dewasa itu adalah, anak laki-laki yang kini ada di hadapannya, yang di saat yang bersamaan juga Aira ketahui sebagai anak mereka.
Menyadari bahwa Arkha akan melayangkan sebuah tamparan di wajah Evelyn, Aira dengan sigap berlari mendekati Rakha dan menutup kedua matanya agar tidak melihat kejadian itu. Setelah merasa situasi agak terkendali, Aira menarik pergelangan tangan Rakha dan membawanya pergi dari tempat itu.
...****...
Dan tanpa Aira sadari, ternyata Evelyn mengikuti mereka dengan mobil dari belakang. Evelyn melihat semuanya, dan dapat menarik kesimpulan bahwa gadis cantik yang sedang mengikuti Rakha sekarang, pasti salah satu orang yang berarti bagi Putranya.
...****...
"Kak Nico nggak mau nunggu di dalam aja?" Ucap Ranha pada Nico yang sedang menunggu kedatangan Aira dan Rakha di beranda rumah Rakha.
Sudah hampir satu jam Nico menunggu, tapi ia tidak juga menyerah dan tetap bertekad untuk menunggu kedua orang itu sampai datang.
"Di sini aja, Ran." Jawab Nico seadanya.
Saat Aira menelepon Rio tadi dan meminta tolong untuk membawa pulang motor Rakha, Nico langsung mengajukan diri pada Rio agar dia saja yang membawa motor Rakha.
Lima belas menit kemudian, saat waktu sudah beranjak sore, Nico akhirnya dapat melihat kedatangan kedua orang itu.
Dan dari posisinya sekarang, ia melihat Aira yang tampak mempercepat langkahnya dan berdiri tepat di hadapan Rakha agar Rakha menghentikan langkahnya.
"Kha... aku sudah ingat sama kamu sekarang." Kata Aira sambil menatap mata Rakha dengan yakin.
"Ha?"
"Iya, aku sudah ingat kamu. Saat itu, di Pulau Banu tahun 2008, kita... pernah ketemu, kan?"
Rakha terdiam cukup lama. Ia benar-benar terkejut, tidak menyangka Aira akan mengingatnya hari itu juga. Rakha kemudian menghela nafas pelan. Setelah gemuruh di dadanya sudah tenang, ia dengan sangat hati-hati menjatuhkan keningnya di salah satu pundak Aira. Rakha lalu memejamkan kedua matanya saat rasa nyaman mendera tubuh rapuhnya.
Sekarang Rakha terdengar mendesah, "hhh... butuh waktu lama juga buat kamu nginget aku, ya?" Ujar Rakha pelan dengan nada setengah berbisik. Tanpa Aira ketahui, Rakha menyematkan sebuah senyuman di wajahnya.
"Jadi, selama ini kamu inget aku?" Kali ini giliran Aira yang bertanya.
"Tentu saja. Kamu cewek bernomor punggung 88 yang sudah aku sukai dari awal. Waktu itu kamu sangat keren saat melakuakn shooting, gimana bisa aku nggak inget kamu?" Jawab Rakha yang masih tampak nyaman menyandarkan keningnya di pundak Aira.
Aira kali ini tidak mengatakan apapun, dan membiarkan Rakha meminjam pundaknya tanpa komplain.
Saat Rakha membuka kedua matanya, pandangannya langsung tertuju pada sosok Nico yang saat itu berdiri di halaman rumahnya. Ia pun mengangkat kepalanya dari pundak Aira tanpa melepaskan tatapannya dari Nico.
Aira yang merasa suasananya tiba-tiba berubah pun menoleh ke belakang dan mengikuti arah pandangan Rakha. Begitu melihat Nico, ia lebih terkejut lagi dari sebelumnya.
Nico, dengan wajahnya yang selalu datar dan sulit dibaca, melangkah keluar dari halaman rumah Rakha dan menghampiri kedua orang itu.
"Gimana keadaan lo sekarang?" Tanya Nico pada Rakha.
"Gue udah ngerasa lebih baik."
Menanggapi jawaban Rakha, Nico mengangguk paham. Tatapan matanya sudah tidak sedingin tadi. Untuk sekarang, ia harus mengerti posisi Rakha. Sebagai salah satu sahabat kental Rakha, tentu saja Nico tidak boleh menutup mata atas permasalahan hidup Rakha.
"Gue lega." Kata Nico singkat.
Nico lantas mengalihkan perhatiannya pada Aira, "Ra? Mau pulang sekarang? Mama Papa udah di rumah."
"Om dan Tante pulang? Kok nggak ngabarin?"
"Iya. Mereka juga nggak tahu akan pulang hari ini."
Sekali lagi Nico menatap ke arah Rakha, "oya, Kha. Kunci motor lo udah gue kasiin ke Ranha."
"Thanks, Nic! Maaf jadi ngerepotin."
"Nggak masalah. That's what friends are for, Kha."
^^^To be Continued...^^^