
September, 2013
Dari depan pintu, Nico memperhatikan Aira yang sedang sibuk mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya satu per satu ke dalam sebuah koper. Seperti yang Aira katakan sejak awal datang ke rumah Nico, setelah kelulusan ia akan pindah dan tinggal sendiri di sebuah apartemen kecil. Tentu saja keinginanya itu tidak serta-merta mendapatkan persetujuan, namun setelah ia berusaha meyakinkan kedua orang tua Nico, dan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, Aira akhirnya mendapatkan izin untuk pindah dengan beberapa syarat; pertama, ia harus pindah ke sebuah apartemen yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Kedua, Aira harus selalu mengabari apapun keadaannya, dan ketiga, setiap akhir pekan, Aira harus pulang dan menginap di rumah.
Dan Aira tidak sedikit pun merasa keberatan dengan tiga syarat itu. Ia berjanji akan memenuhinya dan tidak akan membuat Adryan dan Regina mengkhawatirkannya.
"Daripada kamu diem di situ dan cemberut, apa nggak sebaiknya kamu bantuin aku biar semua ini cepet beres?" Tegur Aira pada Nico yang masih berdiri di depan pintu seraya melipat kedua tangannya di perut.
"Ra, apa kamu harus pindah? Kita baru jalan empat bulan, lho. Dan selama empat bulan ini juga, kita nyaris nggak ada waktu bersama karena sibuk sama ujian masuk dan Ospek." Keluh Nico pada Akhirnya.
Ia lalu berjalan masuk ke dalam kamar Aira, dan berdiri tepat di samping jendela. Sejak pagi, wajahnya sudah terlihat masam. Nico benar-benar belum merasa siap atas kepindahan Aira ini. Ia masih ingin bersama Aira untuk waktu yang lama.
Mendengar keluhan Nico yang telah resmi menjadi pacarnya sejak empat bulan yang lalu, Aira tersenyum kecil. Ia bangkit dan menghampiri Nico yang bahkan belum mau menatap wajahnya. Begitu sudah berdiri tepat di belakang Nico, Aira pun melingkarkan tangannya di perut Nico lalu menyandarkan wajahnya di punggung pemuda itu.
Nico terkesiap ketika merasakan Aira memeluknya dari belakang. Kemarahan yang sejak tadi melingkupi dirinya hingga membuat mood nya rusak, mendadak sirna.
"Nic, aku cuma pindah rumah, bukan pindah ke Pulau Banu. Lagian, kita bisa ketemu setiap hari di kampus, kan?"
"Kalau insomnia kamu kambuh gimana?"
"Aku bakalan telepon kamu, dan minta kamu dateng saat itu juga, nggak peduli itu tengah malam apa nggak."
Nico melepaskan kedua tangan Aira dari perutnya, ia lalu berbalik, dan kini beralih memeluk pinggang Aira. Wajahnya sudah tidak sesendu tadi.
"Janji?" Gumam Nico pelan.
"Hm, janji!" Jawab Aira seraya mengangguk dengan yakin.
Nico tersenyum lega, lalu membawa gadis itu ke dalam dekapannya dan memeluknya erat-erat seakan tidak ingin melepaskan.
...****...
"Iya, nih. Telepon sama chat gue belum direspon dari sore." Jawab Natta yang tidak kalah bingungnya dengan Rio sekarang.
Mendengar percakapan yang terjadi antara Rio dan Natta, Nico langsung melengos tanpa mengatakan apapun. Ia sepertinya tahu apa yang sedang terjadi. Sebulan yang lalu, ia dan Aira sepakat untuk memberitahukan pada sahabat-sahabatnya bahwa mereka telah resmi berpacaran, dan sejak hari itu juga, Rakha mulai berubah. Ia seperti sengaja menjauh, dan selalu berusaha menghindari setiap pertemuan yang melibatkan Nico dan Aira, juga dirinya. Mungkin tidak ada yang memahami tindakan Rakha tersebut, namun itu adalah satu-satunya hal yang dapat Rakha lakukan untuk bisa melindungi hatinya dari kehancuran.
Dan sebelum acara usai, Nico tiba-tiba meninggalkan acara dan pergi menemui Rakha di rumahnya. Nico tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi untuk sekarang, ia hanya ingin bertemu dengan Rakha dan meluruskan segalanya. Selama ini Nico selalu diam, dan seakan membiarkan kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Rakha terus berlarut tanpa kejelasan. Ini saatnya bagi Nico untuk mengakhiri segalanya dan berbicara pada Rakha. Empat mata. Dari hati ke hati.
"Emmm... Kak Rakha lagi di dalem kamarnya." Jawab Ranha dengan ragu-ragu saat Nico datang dan langsung menanyakan keberadaan Rakha.
Setelah mendengar jawaban Ranha, Nico begitu saja masuk ke dalam rumah Rakha, ia menaiki anak tangga dengan langkah cepat, dan begitu tiba di depan kamar Rakha, Nico langsung membuka pintunya tanpa permisi. Kedatangan Nico yang secara mendadak itu, kontan saja membuat Rakha yang saat itu sedang sibuk dengan laptopnya langsung berbalik dan melihat sosok Nico yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Nic? Kok lo di sini?" Tanya Rakha dengan nada sedikit panik. Salah satu tangannya bergerak hendak menutup laptopnya. Namun rupanya, gerak mata Nico sedikit lebih cepat. Nico sudah terlanjur melihat ada foto candid milik Aira di layar laptop Rakha. Itulah yang Rakha lihat sejak tadi.
"Gue yang seharusnya bertanya, kenapa lo masih di sini? Semua orang nungguin lo, termasuk Aira." Ujar Nico dingin.
"Gue tadi mendadak nggak bisa, gue—"
"Kalau nggak bisa, kenapa nggak ngabarin? Apa sesulit itu? Lagian, ini bukan pertama kalinya lo mangkir dari pertemuan kita."
Rakha menunduk, lalu menghela nafas dengan frustasi. Raut wajahnya seakan menunjukan bahwa ia sudah muak. Benar-benar muak. Dan memang itulah yang Nico harapkan dari Rakha. Ia ingin, untuk sekali saja Rakha bisa jujur padanya. Ia ingin Rakha marah padanya, atau bilaperlu menghajarnya hingga semua emosi yang Rakha tahan selama ini bisa tersalurkan.
"Terus lo maunya gue harus gimana? Lo tahu, kan, perasaan gue sama Aira selama ini? Oke, gue terima kekalahan gue, karena sejak awal pun gue juga tahu, kalau cuma elo satu-satunya yang Aira lihat. Gue nggak bisa mengelak dari semua itu, sekalipun gue berusaha keras buat nutup mata dan telinga gue, bersikap seolah-olah gue nggak tahu apa-apa. Gue cuma butuh waktu—"
"Udah sebulan, Kha. Udah sebulan lo kayak gini." Sela Nico sebelum Rakha menyelesaikan perkataannya.
"Nico, please. Gue nggak minta supaya lo ngertiin posisi gue sekarang, tapi seenggaknya, tolong jangan ganggu gue dulu. Lagipula, untuk saat ini, gue nggak bisa bersikap biasa seakan-akan nggak terjadi apapun di antara kita. Gue akan kembali, tapi bukan sekarang."
Setelah 'serangan terakhir' yang Rakha berikan itu, lidah Nico mendadak kelu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Namun, hati kecilnya memahami betul, kenapa Rakha harus bertindak sampai sejauh itu.
^^^To be Continued...^^^