
Nico mengantar Rakha kembali ke asramanya setelah Rakha menemani Aira selama dua jam lamanya menggantikan posisi Nico. Saat itu, mobil yang Nico kendarai berhenti tepat di depan gedung asrama Rakha. Sempat terjadi obrolan di antara mereka sebelum Rakha keluar dari mobil Nico.
"Aira menangis sepanjang malam, dan gue bahkan nggak bisa nenangin dia. Apa lo tahu, segimana gue ngerasa useless buat Aira sekarang?"
Rakha mengeluarkan uneg-unegnya di hadapan Nico dengan terus terang. Bukan, bukan karena Rakha merasa terganggu melihat Aira menangis sebanyak itu gara-gara Nico, hanya saja Rakha merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa menenangkan Aira. Rakha juga tidak bisa leluasa memeluk gadis itu seperti dulu karena sadar bahwa sudah ada batas di antara mereka yang tidak bisa Rakha lampaui hanya karena dia ingin.
Rakha tidak bisa terlalu dekat dengan Aira, namun juga tidak bisa terlalu jauh. Setiap kali mereka bersama, Rakha harus mengatur jaraknya dengan Aira demi tetap bisa menjaga persahabatannya dengan Nico, juga menghargai keputusan yang sudah Aira putuskan sendiri.
Dan Rakha, tidak pernah merasa seputus asa itu sebelumnya.
Saat tadi Aira mengajak Rakha untuk makan, Aira bahkan tidak bisa menyentuh makananya barang sesendok pun. Ia terus saja menangis dan membuat mereka harus menjadi perhatian orang-orang yang ada di kedai itu. Beruntungnya, tidak ada yang menyadari keberadaan Rakha karena Rakha menggunakan sebuah topi yang nyaris menutupi seluruh bagian wajahnya.
"Maafin gue, Kha, gue─"
"Banyak kemungkinan yang terfikirkan di kepala gue, tapi mutusin Aira tanpa alasan kayak gini nggak pernah terbersit dalam fikiran gue sekalipun. Gue nggak nyangka, kalau elo, Calvien Nicolas Abhimana yang gue kenal selama ini, tega melakukan hal itu sama cewek yang sangat menyayangi lo lebih dari apapun."
"Gue buntu, Rakha! Papa dan Mama gue tiba-tiba aja bahas soal pernikahan. Dan gue nggak tega sama Aira. Mana mungkin gue bisa menikahi Aira sementara gue harus tetap menyembunyikan satu kebenaran dari Aira? Secara tidak sengaja, kedua orang tua gue meminta gue untuk melarikan Aira dari kebenaran menyangkut kematian orang tuanya. Dan gue nggak bisa lakuin itu, Kha."
Nico menatap sendu ke dalam mata Rakha, seolah ingin menyampaikan bahwa tidak ada jalan untuknya dan Aira selain berpisah.
"Terus, lo bakalan gimana selanjutnya? Apa lo sanggup ngasih tahu kebenarannya sama Aira?"
"Gue lebih baik mati dari pada harus melihat Aira hancur."
"Tapi Aira sudah lo bikin hancur sekarang." Jawab Rakha tak mau kalah.
"Kalau begitu hanya ada satu cara." Pandangan Nico pada Rakha terlihat lebih serius dari sebelumnya.
Rakha pun demikian, melemparkan pandangan yang sama seriusnya dengan Nico. Suasana di dalam mobil Nico tiba-tiba hening, sampai akhirnya Nico kembali buka suara, "Aira boleh buat elo, Kha. Lo bisa memiliki dia."
Secara perlahan, tangan kanan Rakha mencengkram kuat. Wajahnya penuh dengan kemarahan yang siap dimuntahkan.
...****...
Rakha berjalan di lorong lantai tiga asramanya dengan mengendap-endap, takut akan ketahuan oleh penjaga asrama, lalu kemudian dilaporkan pada Kepala Asrama yang killer-nya minta ampun itu. Ini pertama kalinya bagi Rakha kabur dari asrama setelah jam malam, akan sangat konyol jika akhirnya ia ketahuan dan tertangkap begitu saja.
Dan saat Rakha sudah tiba di depan kamarnya, hendak menyentuh kenop pintu, lampu di lorong yang tadinya mati, sekarang hidup. Dan di ujung lorong sana, secara mengejutkan Rakha melihat penampakan Bapak Kepala Asrama dengan ditemani oleh dua orang penjaga asrama tepat di belakangnya, yang tengah menatap dirinya dengan pandangan yang seolah siap menerkam Rakha hidup-hidup.
Rakha tersenyum kikuk seraya menggaruk belakang tengkuknya.
"Rakhaditya Arya! Ikut saya!!" Ucap Kepala Asrama dengan tegas tanpa melepaskan tatapan matanya dari sosok Rakha yang mulai terlihat pasrah di tempatnya.
Dan di sinilah Rakha sekarang, berada di tengah-tengah lapangan asrama sambil melakukan push-up mengikuti instruksi dari Sang Kepala Asrama. Rakha sudah melakukannya sebanyak limapuluh kali, keringat pun mulai membasahi seluruh tubuhnya. Tapi tidak sedikitpun Rakha merasa keberatan, atau merasa menyesal dengan tindakan yang sudah ia lakukan, ia justru senang karena bisa bertemu dengan Aira dan menemaninya hampir selama dua jam. Jika ini ganjaran yang harus ia terima akibat pertemuannya dengan Aira, Rakha rela menanggungnya.
Setelah selesai melaksanakan hukumannya, Rakha kembali ke kamarnya dengan sekujur tubuhnya yang terasa sakit.
"Maafin gue, Kha. Tadi gue udah usaha buat ngelindungi lo dari Pak Agung. Tapi Pak Agung ngancem bakalan ngehukum gue kalo gue nggak jujur." Ucap Dikha, teman sekamar Rakha yang tiba-tiba saja menyembulkan kepalanya dari balik selimut dengam wajah penuh penyesalan.
Rakha tersenyum maklum, "nggak apa-apa, Dik. Gue paham. Thanks, ya, buat bantuan lo?"
Sesaat kemudian Rakha terdiam. Bukan ini permasalahan yang sedang mengusik fikiran Rakha sekarang, namun perkataan Nico di mobil tadi saat mengantarnya kembali ke asrama, benar-benar membuat Rakha marah.
Kenapa gampang sekali untuk Nico menyerahkan Aira padanya, di saat Rakha berusaha mati-matian untuk memenangkan hati Aira selama empat tahun lamanya? Hal-hal yang sulit dilakukan oleh Rakha, kenapa begitu mudah dilakukan oleh Nico?
...****...
Aira langsung meletakkan ponselnya di atas nakas setelah mendapatkan pesan balasan dari Rakha. Sesaat setelah membaca pesan yang dikirimkan Rakha, Aira langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menutupi dirinya dengan selimut, lalu melanjutkan tangisnya.
Belum apa-apa, tapi sekarang rasanya Aira sudah sangat merindukan Nico.
Aira sekali lagi melirik ponselnya yang tergeletak malang di atas nakas setelah sebelumnya ia menurunkan selimutnya dari wajahnya. Mati-matian Aira berupaya untuk tidak menghubungi Nico terlebih dulu. Tetapi akhirnya Aira kalah juga.
Ia bangkit dari posisinya kemudian meraih ponselnya dan segera menelepon Nico, namun sayang... pria itu tidak mengangkat panggilan darinya bahkan setelah Aira mencoba berkali-kali.
Tanpa bisa Aira tahan, tangisnya kembali pecah dengan sesak yang kian menyiksa dadanya.
...****...
Waktu menunjukan pukul setengah delapan pagi ketika Nico turun dari lantai dua rumahnya. Nico yang belum sepenuhnya sadar dengan keadaan sekitarnya melangkah ke arah kulkas untuk mengambil minuman setelah sebelumnya menyapa Mamanya yang saat itu sedang duduk sendiri di meja makan sembari menikmati roti gandum panggangnya.
Setelah selesai mengenggak hampir setengah botol besar air mineral, Nico serta-merta terkejut saat menyadari bahwa yang duduk di meja makan sana bukan hanya Mamanya, tapi juga Aira. Beberapa detik kemudian, Nico berhasil mengontrol keterkejutannya. Ia lantas melangkah ke arah meja makan, lalu duduk tepat di hadapan Aira.
"Pagi, Nico." Sapa Aira berusaha terdengar sewajar dan sesantai mungkin.
Dua minggu setelah mereka putus, Nico benar-benar menghilang dari pandangan Aira. Saat Aira mencoba untuk menghubunginya, Nico selalu saja menolak panggilannya. Hal itulah yang membuat Aira memberanikan diri untuk datang menemui Nico di rumah pagi ini. Dan strategi Aira ternyata berhasil, karena Nico tidak lagi memiliki celah sedikitpun untuk menghindarinya.
"Hay, Ra." Balas Nico dengan canggung.
Melihat Nico dan Aira dilingkupi kecanggungan satu sama lain, Regina praktis merasa bahwa hal itu disebabkan karena rencana pernikahan yang sempat disampaikannya bersama suaminya, namun ditolak begitu saja oleh Nico. Merasa perlu memperbaiki situasi di antara kedua orang itu, Regina segera berkata, "maafkan Mama dan Papa kalau rencana pernikahan yang sempat kami sampaikan membuat kalian canggung. Itu hanyalah keinginan kami sebagai orang tua, kalaupun kalian belum siap untuk menikah, atau bahkan tidak setuju, kami tidak akan memaksa. Jadi, kalian tidak perlu bersikap canggung seperti ini."
"Bukan Nana yang nggak setuju, Tan. Tapi Nico." Jawab Aira tiba-tiba.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Aira menampakkan sikap kekanak-kanakannya. Dan itu karena Nico yang selalu tidak mengacuhkannya, bahkan memutuskan hubungan mereka sesaat setelah rencana pernikahan disampaikan.
"Jadi, kamu mau nikah sama Nico, Na?" Tanya Regina dengan wajah sumringah.
Di saat yang bersamaan, Nico langsung mengangkat wajahnya, seperti ingin menyanggah.
"Nana bahkan siap menikah dengan Nico hari ini juga." Ucap Aira dengan penuh keyakinan.
"NANA!" Sergah Nico dengan keras.
Suasana yang tadinya sempat cair, kini membeku kembali. Aira dan Regina pun menatap Nico dengan wajah yang sama-sama terkejut.
"Jangan ada yang bahas soal pernikahan lagi! Kepala aku sudah cukup mau meledak karena urusan skripsi. Kalau kalian terus begini, aku nggak akan pernah lagi pulang ke rumah." Ancam Nico dengan serius.
Nico kemudian bangkit dari tempat duduknya, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya dengan penuh kemarahan.
Ini pertama kalinya juga Nico meledakkan emosinya di hadapan dua wanita yang sangat dicintainya.
^^^To be Continued...^^^