We, From The First

We, From The First
#36. Maaf



Di toko buku langganannya, Nana terlihat sedang memilih-milih buku untuk panduan kuliah sambil bekerja di Jerman. Nana tampak fokus melihat-lihat beberapa buku saat seseorang tiba-tiba menghampirinya dan dengan ragu memanggil namanya.


"Nana? Nathusya Aruna?"


Mendengar namanya disebut, Nana langsung berbalik dan mendapati seorang pria yang tidak asing dalam ingatan dan pengelihatannya. Pria ini dulu adalah Kakak Kelasnya, dan terkenal jenius satu angkatan. Dia pernah memenangkan Olimpiade Sains Nasional. Dia juga sempat menjabat sebagai Ketua OSIS SMA Patuh Karya. Selain itu, dulu ia cukup banyak membantu Nana dalam pelajarannya.


Dia adalah Arian Nayaka Pratama, atau Ian. Kakak kandung dari Natta.


Kedua mata Nana membelalak maksimal saat mendapati Ian ada di depannya sekarang. Setelah hampir dua tahun, ini pertama kalinya ia bertemu kembali dengan Kakak Kelas yang dulu pernah menjadi panutannya itu.


"Kak Ian?" Pekik Nana antusias.


"Hai, Nana. Apa kabar?"


"Baik, Kak. Kabar aku baik. Kak Ian sendiri gimana? Tumben pulang kampung?"


"Aku juga baik." Jawab Ian, "dan, aku pulang kampung karena emang lagi ada urusan mendesak aja." Lanjutnya kemudian sambil memasang seraut wajah tidak nyaman.


Nana yang baru ingat apa yang sedang terjadi, seketika merasa tidak enak.


Karena pernah berpacaran dengan Nico, Nana juga salah satu orang yang tahu permasalahan yang terjadi dalam keluarga Natta. Dan Nana ingin mengucapkan sesuatu untuk menenangkan Ian, tapi kemudian ia tidak melakukannya karena menyadari posisinya.


Nana lalu memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan mencoba menanyakan rekomendasi buku yang tepat baginya pada Ian. Karena sebentar lagi, ia akan berkuliah di Jerman, sama seperti Ian.


Ian lalu dengan senang hati memberikan beberapa rekomendasi buku, dan beberapa penjelasan penting. Tidak disangka, obrolan itu terus berlanjut hingga sekarang mereka berdua sudah duduk di sebuah café. Obrolan yang terjadi di antara mereka cukup panjang. Mulai dari beasiswa, pelajaran di sekolah, buku, hingga rencana masa depan.


"Terus... kamu sama Nico gimana?" Tanya Ian kemudian.


Nana terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan jujur.


"Ternyata tidak berjalan dengan baik, Kak." Nana lalu menyunggingkan seulas senyuman getir di wajah imutnya. Ian lalu mengangguk maklum.


Di akhir obrolan, ketika mereka memutuskan untuk menyudahi pertemuan hari ini, tepat saat mereka akan berpisah, Ian berkata pada Nana...


"oya, Na?"


"Iya, Kak?"


"Masih pakai nomer yang lama, kan?"


Lagi-lagi Nana tidak langsung menjawab. Ia tampak berfikir, sementara Ian menunggu dengan penuh antisipasi. Tidak lama kemudian, Nana mengangguk pelan, "masih, Kak."


Saat itu juga, Ian langsung tersenyum begitu lebar. Ia seperti baru saja meneteskan madu dari kedua mata jernihnya.


...****...


Aira syok bukan main saat mendapati Nico pulang dengan tangan di gips dan di tuntun oleh Rakha. Aira yang kaget, langsung menghampiri mereka dan secara natural mengapit lengan Nico yang lainnya.


"Tadi jatuh pas main basket. Ini cuma cedera ringan. tiga minggu lagi udah pulih kok."


Aira yang merasa tidak percaya dengan penjelasan Nico, langsung melemparkan tatapannya ke arah Rakha, seakan menuntut konfirmasi atas jawaban Nico. Rakha mengangguk pelan, mengisyaratkan bahwa Nico jujur.


Kali ini giliran Aira yang menuntun Nico menaiki tangga. Ia bahkan tidak begitu menghiraukan keberadaan Rakha karena terlalu mencemaskan keadaan Nico.


"Aku telepon Om dan Tante, ya?"


"Jangan! Nanti mereka khawatir."


Itulah obrolan yang dapat Rakha tangkap dari kejauhan. Meski ada sedikit perasaan cemburu melihat sikap Aira yang begitu perhatian pada Nico, toh akhirnya dia tersenyum juga dan menyusul kedua orang itu kemudian.


...****...


Setelah selesai memasak sup ikan salmon untuk Nico dan menyajikannya, Aira segera pergi ke kamar Nico untuk mengantarkan makan malamnya. Begitu Aira membuka pintu, ia segera menghampiri Nico yang saat itu sedang berusaha mengeringkan rambtnya. Aira lalu meletakkan nampan di atas meja dan segera mengambil inisatif untuk membantu Nico mengeringkan rambutnya.


"Kenapa dianterin, sih? Aku masih bisa ke bawah ambil makanan sendiri."


Aira tidak menggubris perkataan Nico. Ia mengambil handuk kecil dari tangan Nico lalu mengeringkan rambut Nico dengan itu.


"Kamu selalu bilang aku yang ceroboh, padahal kamu lebih ceroboh." Omel Aira sambil tetap fokus mengeringkan rambut Nico.


"Tadi kepeleset, Ra."


"Lain kali jangan kayak gini lagi. Aku khawatir sama kamu." Nada Bicara Aira mulai bergetar. Saat itulah Nico tahu, bahwa perasaan Aira sedang tidak baik-baik saja.


"Hey!"


Nico merengkuh wajah Aira yang kecil dengan tangan kanannya lalu menatap tepat pada kedua matanya yang tampak sendu. Saat Aira balas menatapnya, Nico justru menundukkan kepalanya dan menghela nafas. Dia fikir, mungkin ini saatnya untuk meminta maaf setelah pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu.


Namun baru saja Nico akan membuka mulut mengucapkan maaf, Aira tiba-tiba mendahuluinya.


"Nico aku minta maaf. Maaf karena udah banyak menyusahkan kamu dan bikin kamu dalam masalah. Maafin Nana, ya, Nic?"


Nico lalu menurunkan tangannya yang sejak tadi bertengger di wajah Aira lalu beralih menggenggam tangan Aira dengan satu tangannya yang terbebas.


"Nico juga minta maaf, ya? Maaf udah marah-marah sama Nana, dan bikin situasi semakin kacau. Tolong... jangan jauhi Nico lagi."


Aira mengangguk mantap. Dan pancaran sendu di matanya perlahan menghilang. Mereka lalu saling melempar senyum satu sama lain.


Seperti yang biasa ia lakukan, Nico mengusap kepala Aira dengan sayang.


Bagi Nico sekarang, tidak apa-apa jika Aira tidak menyukainya. Asal dia bisa terus bersama Aira, dan Aira merasa nyaman di sampingnya, itu sudah cukup bagi Nico. Ia tidak akan lagi merasa penasaran tentang bagaimana perasaan gadis ini padanya. Ia juga tidak akan lagi menyimpan kecewa, saat tahu bahwa Aira memang tidak menyimpan perasaan yang mendalam untuk dirinya. Asal mereka bisa terus bersama, Nico akan menahan apapun untuk Aira.


^^^To be Continued...^^^