
Aira menghadapi beberapa kesulitan saat menjawab soal matematika untuk ujian tengah semester tadi. Merasa perlu koreksi, Aira pun meminta bantuan Rakha untuk mengajarinya. Rakha dengan senang hati, tentu saja bersedia membantu untuk menyelesaikan permasalahan Aira.
Saat ini, mereka berdua sudah duduk berdampingan di salah satu bangku di perpustakaan dengan posisi menghadap ke jendela besar yang langsung menghubungkan dengan taman sekolah. Aira dengan fokus mendengarkan penjelasan Rakha, dan memperhatikan sebaik mungkin setiap kali Rakha memberikan contoh cara menyelesaikan soal.
Dan ketika Rakha memberikan soal setelah mengajari Aira beberapa rumus, Aira ternyata berhasil menyelsaikannya dengan baik. Aira pun mengangkat tangan kananya untuk mengajak Rakha ber- high five. Dengan sigap, Rakha menepuk tangan Aira. Mereka lalu tertawa bersama.
Pemandangan yang begitu manis dan akrab itu, ternyata tertangkap oleh Nico yang saat itu tengah duduk di salah satu bangku yang terdapat di taman sekolah bersama Nana. Nico tidak bisa lagi mendengarkan celotehan Nana yang asyik bercerita tentang betapa konyolnya teman-teman sekelas mereka saat ujian tadi.
Menyadari bahwa fokus Nico kini mulai terberai, Nana menghentikan tawanya lalu mengikuti arah pandangan Nico yang sedang menatap dua orang yang tengah bercengkrama di perpustakaan. Dari cara Nico menatap gadis itu, Nana bisa membacanya dengan sangat jelas.
Nana tersenyum seraya mendesah. Ia lalu berkata, "dia orangnya?"
Nico terkesiap. Ia otomatis menoleh ke arah Nana, "hah?"
"Dia Aira, kan? Cewek yang sering kamu ceritain?" Kali ini, Nana terdengar bertanya dengan nada yang cukup santai.
Nico hanya mengangguk. Nana pun tertawa kecil dengan maklum. Ketika Aira pindah ke rumahnya tiga bulan yang lalu, Nico memang sudah menceritakan segalanya pada Nana. Tidak ada satu hal pun yang ia sembunyikan dari Nana selama hampir dua setengah tahun mereka berpacaran. Nico selalu terbuka, dan tidak sekalipun ia berusaha untuk membohongi gadis ini untuk alasan apapun, dan untuk siapapun.
Setiap kali Nico bercerita soal Aira, Nana tidak sekalipun menunjukan gelagat terganggu, ia justru tidak pernah bosan mendengarkan apapun yang Nico ceritakan padanya. Ia selalu sabar dalam menghadapi Nico, dan hingga kini masih setia menunggu Nico untuk memberikannya sepenuh hatinya. Meskipun sejak kehadiran Aira di antara mereka, Nana mulai tidak bisa lagi melihat harapan untuk dirinya. Namun Nana menyadari, bahwa ini semua adalah harga yang harus ia bayar untuk bisa bersama Nico, yang sejak awal memang tidak pernah menjadi miliknya seutuhnya.
...****...
Nana menghentikan langkahnya saat melihat sosok seorang gadis yang ia kenal tengah berbicara dengan seorang pramuniaga di toko buku itu.
"Mba, Me Before You udah sold out, ya?"
Itulah satu pertanyaan yang dapat Nana dengar. Gadis yang belakangan ia tahu adalah Aira itu, tampak kecewa. Dan dari raut wajahnya saja, Nana dapat membaca bahwa Aira sangat menginginkan novel itu. Ia lalu melirik ***** '** Before You' yang kini ada dalam dekapannya. Setelah cukup lama berdebat dengan isi kepalanya sendiri, Nana lalu mendekat setelah Sang Pramuniaga itu meninggalkan Aira sendiri.
"Buat kamu aja, nih." Ujar Nana dengan sebuah senyuman yang tampak tulus di wajahnya.
Mendengar satu suara dari sampingnya, Aira langsung menoleh. Ia menatap Nana untuk beberapa saat, dan mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat gadis ini sebelumnya. Begitu ia ingat, Aira otomatis terkejut. Ini Nana. Pacar Nico.
"Aku sangat gampang berubah fikiran. Jadi sebelum aku berubah fikiran, kamu harus ambil novel ini."
Aira terkesiap. Ia berusaha menteralkan fikirannya. Setelah menggelengkan kepalanya, Aira buru-buru berkata, "nggak perlu. Aku bisa nunggu lagi."
Nana tersenyum hangat. Ia lantas meraih salah satu tangan Aira lalu menyerahkan novel itu setengah paksa pada Aira.
"Buat kamu aja, Aira."
"Kamu juga pasti tahu nama aku, kan?"
Aira terdiam. Dan Nana terkekeh pelan.
"Kalau begitu, kita kenalan aja. Kenalin aku Nana." Ucap Nana dengan bersahabat seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Ragu-ragu Aira menerima uluran tangan Nana, "aku Aira."
"Jangan khawatir, Ra. Nico udah cerita soal kamu." Ucap Nana seakan mampu membaca isi kepala Aira.
Aira kini lebih heran lagi. Nana tahu soal dirinya, namun tetap bersikap baik padanya. Jika gadis lain yang ada di posisi Nana saat ini, pasti akan terjadi 'bencana'. Bagaimana tidak? Ada gadis lain yang tidak memiliki hubungan darah atau keluarga tinggal di rumah pacarmu, kau fikir apa yang kau harapkan terjadi jika kau bertemu langsung dengan gadis itu?
Tetapi Nana berbeda. Dan Aira tidak bisa memungkiri, bahwa ia dapat merasakan bahwa gadis ini memiliki hati yang tulus. Sekarang Aira sedikit mengerti, kenapa Nico jatuh cinta pada Nana.
Saat ini, Aira dan Nana sudah duduk berhadapan di sebuah café, dengan masing-masing segelas Banana Smoothie di hadapan mereka. Ada kejadian yang sedikit menggelitik ketika tadi mereka sama-sama memesan Banana Smoothie di meja counter. Salah satu staff mengira mereka saudari kembar. Nana tertawa, namun berbeda dengan Aira yang hanya terdiam. Segalanya masih sangat membingungkan bagi Aira sekarang.
"Kamu nggak marah setelah tahu aku tinggal di rumah Nico?" Tanya Aira yang berinisiatif untuk membuka obrolan terlebih dulu. Lagipula, ia sangat penasaran bagaimana tanggapan Nana tentang dirinya.
"Kalau aku harus jawab jujur, aku nggak marah, tapi aku cemburu." Jawab Nana dengan terus terang. "Tapi aku ngerti, bahwa hubungan orang tua kalian yang paling utama di sini. Setelah apa yang menimpa kamu, aku fikir wajar untuk Om dan Tante mengambil tanggung jawab itu. Yang nggak wajar adalah, kalau aku nggak terima. Memangnya aku siapa bagi Om dan Tante?" Lanjut Nana kemudian.
"Aku minta maaf." Ujar Aira dengan penuh kesungguhan. Ia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menatap mata Nana yang penuh dengan kejujuran itu.
"Ra, apapun yang terjadi sama kamu, itu bukan salah kamu. Justru aku yang harusnya minta maaf, karena mengetahui hal-hal yang tidak seharusnya aku ketahui."
"Nggak masalah. Nico hanya bersikap jujur sama kamu. Dan itu tindakan yang tepat untuk menghindari kesalah pahaman."
Nana hanya tersenyum. Tapi sepertinya hatinya tidak demikian. Sejak bertemu dan mengobrol secara langsung dengan Aira, entah kenapa hati kecilnya terus membisikkan, bahwa ia tidak akan pernah bisa mengalahkan masa lalu Nico yang kini ada di hadapannya.
'Tapi... kenapa kita berdua sangat pengertian?' Ujar Nana dalam hati, lalu menundukkan wajahnya.
Hatinya sudah goyah. Pertahanannya sebentar lagi akan runtuh. Nana menyadari, bahwa ada satu hal yang tidak akan pernah bisa ia kalahkan meski sekeras apapun ia mencoba. Nana tahu dengan betul apa yang tidak bisa ia kalahkan itu, tapi hatinya bahkan takut untuk menyebutkan apa namanya.
Ia belum kalah. Tapi akan segera kalah.
^^^To be Continued...^^^