We, From The First

We, From The First
#51. Truth or Dare



Juni, 2017...


Aira sedang melakukan pengeditan final pada skripsinya di perpustakaan kampus saat tiba-tiba ketika ia mengangkat wajah, tatapan matanya tertuju pada sosok Nico yang sedang berdiri di depan jendela dan memintanya untuk segera keluar.


Aira tersenyum. Secara ajaib, semua rasa lelahnya sirna begitu melihat Nico. Aira lalu dengan gerak cepat membereskan buku beserta laptopnya dan langsung berjalan keluar menyusul Nico.


"Ya ampun, Na. Ini pasti berat sekali." Kata Nico cemas sambil mengambil alih tas Aira yang tersampir di pundaknya. Dan benar saja, begitu Nico memegang tas Aira, rasanya memang berat. Sekarang Nico jadi berfikir, bagaimana bisa tubuh sekurus itu bisa menahan beban seberat ini?


Aira langsung tepar di kasurnya begitu mereka tiba di apartemen milik Aira. Saat Aira sedang mengistirahatkan tubuh lelahnya karena sejak pagi berkutat dengan revisi, Nico dengan telaten membantu membersihkan apartemen Aira dan menyempatkan diri memasak untuk Aira.


Setelah pekerjaan rumah selesai, Nico pergi ke kamar Aira dan dapat melihat Aira yang sedang tertidur dengan nyamannya. Nico mendekat lalu duduk di sisi ranjang, tepat di samping Aira.


"Na, ayo makan dulu. Aku barusan masak sup buat kamu." Gumam Nico pelan.


"Enghh... sepuluh menit lagi, ya, Nic?" Aira melenguh pelan dengan suara serak. Ia pun kembali melanjutkan tidurnya. Entah kenapa, hari ini ia merasa lebih lelah dari biasanya.


Nico tersenyum maklum seraya menggeleng pelan. Tanpa berniat mengganggu istirahat Aira lagi, dengan gerakan pelan Nico merebahkan tubuhnya di samping Aira. Ia menjulurkan salah satu lengannya lalu menarik kepala Aira dengan lembut ke dalamnya. Sekarang kepala Aira sudah bersandar di dadanya. Setelahnya, Nico menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua. Nico lalu mengusap bahu Aira untuk membuatnya merasa lebih nyaman lagi.


"Aku suka begini. Rasanya nyaman." Gumam Aira, masih dengan suara seraknya.


Terkadang, ada beberapa momen dimana Aira merasa bahwa kebersamaannya dengan Nico terasa begitu tidak nyata. Ia merasa seperti berada dalam sebuah mimpi indah, dan sewaktu-waktu kenyataan dapat membangungkannya. Dan begitu ia terjaga, Nico tidak ada di sampingnya lagi. Membayangkan hal itu, cukup membuat Aira merasa sangat ketakutan.


Aira pun kemudian semakin mempererat pelukannya. Sementara Nico, ia serta-merta mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi gadis itu. Aira tersenyum dalam tidurnya, bersamaan dengan itu, secara perlahan Nico memejamkan kedua matanya.


Bagi Aira, berada dalam pelukan pemuda ini adalah hal terbaik.


...****...


Sejak resmi bergabung dengan Timnas setahun yang lalu, Rakha benar-benar sibuk. Tidak hanya disibukkan dengan urusan perkuliahan, tapi ia juga sibuk karena harus wara-wiri ke satu negara ke nagara lainnya untuk melakukan pertandingan. Intensitas pertemuannya dengan sahabat-sahabatnya menjadi sangat berkurang.


Namun hal itu pulalah, yang membawa Rakha menjadi seorang Top Star di kancah olahraga basket. Ia memiliki basis penggemar yang sangat besar, dan satu Negara mengeluh-eluhkannya. Tetapi, kesuksesan yang ia raih tidak serta-merta membuatnya berubah menjadi sosok yang berbeda. Ia masih Rakha yang dulu bagi sahabat-sahabatnya, juga bagi Papanya yang kini mulai berbalik mendukungnya. Bahkan sekalipun Rakha lebih banyak menghabiskan waktu bersama Mamanya, Arkha sudah tidak keberatan lagi.


Nico sendiri fokus dengan kuliahnya. Ia bersama Rio, Yumi, dan Natta mengambil Kuliah Tekhnik Informatika. Sedangkan Aira, ia memilih Kuliah Sastra. Sementara Bia mengambil kuliah Bisnis, dan Sheryl mengambil kuliah Fashion Design.


Semakin dewasa, mereka semakin menemukan jalan mereka masing-masing, dan berjuang dengan cara mereka sendiri-sendiri dengan tetap saling mendukung satu sama lain.


Seperti biasa, jika sedang senggang, Nico, Aira, Yumi, Rio, Natta, Bia, dan Sheryl akan berkumpul di rooftop B-Café. Mereka membahas banyak hal, termasuk kenangan masa SMA mereka yang tidak pernah bosan untuk mereka ceritakan ulang. Tetapi pada pertemuan malam ini, mereka tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Rakha yang benar-benar di luar perkiraan mereka.


"Karena kita full member malam ini, gimana kalo kita main Truth or Dare?" Tantang Rio yang langsung membuat semua mata mengarah padanya. Di antara tatapan-tatapan itu, satu tatapan tidak setuju dari Nico tampak menyeriangi ke arahnya. Namun Rio tidak peduli.


"OKE! Ayo main!" Imbuh Rakha penuh semangat.


Ia lalu berinisiatif untuk meletakkan botol kaca di tengah-tengah meja.


"Siapa yang mulai duluan, nih?" Tanyanya sambil memutar-mutar botol.


"Karena elo yang pegang, ya udah lo aja yang mulai." Natta memberikan gagasan.


Rakha mengangguk dengan mantap dan kembali memutar botol itu begitu permainan dimulai. Dan sial! Aira menjadi orang pertama yang mendapatkan pertanyaan. Salah satu alis Rakha terangkat saat mengetahui ia tepat sasaran.


"Naira Kelana.... Kenapa lebih milih Nico dari gue?"


Rakha menyampaikan pertanyaan yang agak canggung itu dengan cukup tenang. Ia seolah tidak memiliki beban apapun di hatinya. Namun, lain halnya bagi yang lainnya yang otomatis merasa tidak nyaman selepas mendengarkan pertanyaan Rakha.


Tetapi sekali lagi, ini hanya permainan. Tentu saja mereka tidak harus menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Berangkat dari hal itulah, Aira yang tadinya canggung mulai terlihat bisa mengontrol diri dan menjawab pertanyaan Rakha.


"Karena kamu bukan Nico." Jawab Aira singkat. Sesaat setelahnya, ia melemparkan senyuman pada Rakha juga pada yang lainnya.


Aira melirik pada Nico, kemudian meraih tangan kanan Nico lalu mengangkatnya di hadapan mereka semua. Hal yang Aira lakukan itu, tentu saja memicu keributan di kelompoknya karena yang lainnya merasa geli melihat apa yang Aira lakukan. Rakha pun demikian, ia terlihat bergidik. Ia seakan-akan menyesal karena telah menyimpan ekspektasi yang kelewat tinggi pada sosok Aira yang selama ini terlihat keren di matanya. Sementara Rio, ia secara terang-terangan berpura-pura seolah ia ingin muntah di hadapan kedua sejoli itu.


Permainan terus berlanjut, hingga tiba giliran Sheryl yang memutar botol. Botol yang Sheryl putar, langsung mengarah pada Yumi yang secara otomatis membuat Yumi terperanjat kaget.


"Yumi... selama bersahabat sama Rakha, apa pernah lo jatuh cinta sama Top Star kita ini?" Tanya Sheryl pada Yumi seraya merangkul bahu Rakha dengan entengnya.


Kedua mata Yumi seketika membelalak maksimal mendengarkan pertanyaan yang baru saja dilemparkan oleh Sheryl. Hingga akhirnya Yumi menjawab dengan pasrah, "gue pilih dare aja lah!"


Seakan dikomando, mereka semua tampak terkejut mendengarkan jawaban Yumi, tidak terkecuali Rakha. Tentu saja, jika Yumi tidak pernah jatuh cinta pada Rakha, ia bisa saja mengatakan yang sebenarnya pada sahabat-sahabatnya tanpa pertimbangan. Tapi jawaban Yumi barusan seakan menegaskan bahwa memang benar ia jatuh cinta pada Rakha, atau minimal pernah menyukai Rakha.


"Tatap-tatapan sama Rakha selama satu menit!"


Kali ini giliran yang Rio yang terdengar memberikan 'dare' untuk Yumi. Lagi-lagi Yumi terkejut. Lalu ditatapnya Rakha yang saat itu duduk dengan manis tepat di hadapannya. Rakha menatap Yumi dengan pandangan mata yang cukup misterius.


"Ayo lakukan sekarang!" Titah Rio.


Yumi yang tidak ingin merasa terpojokkan lagi akibat ulah teman-temannya, segera memperbaiki posisinya dan bersiap untuk melanjutkan 'dare' yang diberikan oleh Rio. Lalu dalam hitungan ketiga, Yumi dan Rakha saling menatap ke dalam mata masing-masing diiringi hitungan mundur dari Rio dan Sheryl.


Rakha bukan seseorang yang tidak peka pada sahabat yang sudah ia kenal selama setengah hidupnya ini. Pandangan mata Yumi padanya telah mengatakan segalanya dengan sangat jelas dan lugas. Namun, Rakha tidak tahu bagaimana harus bersikap setelah ini pada Yumi.


Tepat satu menit berlalu, Yumi menjadi orang pertama yang mengalihkan tatapannya. Di saat yang bersamaan pula, Rakha mendesah pelan. Rakha seperti baru saja menyingkirkan sebongkah batu yang menghimpit dadanya.


Yumi kemudian memutar botol mengikuti gilirannya. Dan seperti dugaan, ujung botol itu mengarah pada Rakha. Rakha tidak menunjukkan reaksi apapun. Wajahnya terlihat begitu datar.


"Truth or Dare?" Tanya Yumi dengan yakin tak yakin.


...****...


Rakha dan Yumi berjalan berdampingan tanpa sepatah katapun. Setelah dari B-Café, mereka langsung pulang bersama karena memang rumah mereka satu arah. Sejak permainan Truth or Dare yang mereka lakukan tadi, atmosfer di antara mereka langsung berubah canggung. Yumi pun menyadari, bahwa ia telah menyatakan perasaannya pada Rakha secara tidak langsung tadi. Dan Yumi tidak ingin mengelak. Sudah saatnya bagi Rakha untuk tahu soal hatinya.


Saat Yumi akan memasuki gerbang rumahnya, Rakha tiba-tiba menahan pergelangan tangannya hingga membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk membuka gerbang. Ia membeku sesaat seraya menatap tangannya yang sudah berada dalam genggaman Rakha.


"Yum?"


"Iya?"


Rakha tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk dan terlihat berfikir.


"Elo... tetep sahabat gue, kan?" Rakha akhirnya mendengar dirinya bersuara.


Pertanyaan yang baru saja Rakha lontarkan tiba-tiba berubah menjadi ribuan jarum yang menusuk di jantung Yumi secara bersamaan. Tentu saja ia paham maksud dari pertanyaan itu. Sudah jelas, bukan? Perasaan Yumi bertepuk sebelah tangan.


Dan Yumi berusaha menerima penolakan itu dengan lapang dada dan tanpa drama.


Sekuat tenaga Yumi berusaha menyunggingkan seulas senyum di wajahnya. Ia lalu secara perlahan melepaskan genggaman Rakha dari tangannya.


"Jelas. Nggak akan ada yang bisa mengubah itu. Kita tetep sahabat."


Tanpa terfikirkan oleh Yumi sedikitpun, secara mengejutkan, Rakha meraih tubuhnya lalu mendekapnya dengan cukup erat. Satu-satunya yang Rakha takutkan sekarang adalah, hubungannya dengan Yumi akan berubah setelah ini. Sementara di satu sisi, ia tidak pernah ingin kehilangan Yumi sebagai sahabatnya dengan alasan apapun.


"Maaf." Lirih Rakha pelan.


"Hey, jangan minta maaf. Lo bikin gue ngerasa jadi sangat menyedihkan sekarang."


"Maaf. Maaf."


Yumi yang sudah berbesar hati sejak awal mengangkat kedua tangannya lalu menepuk punggung Rakha layaknya sahabat.


"Nggak apa-apa, Kha..." Ujarnya.


^^^To be Continued...^^^


...Bonus Pict:...



Rakha memeluk Yumi💑