
Setelah mengakhiri makan malam bersama dengan suasana tidak terduga yang disebabkan Nico, Nico pun segera mengantar Aira kembali ke apartemennya. Selama dalam perjalanan, mereka tidak saling bicara satu sama lain. Nico sibuk memfokuskan pandangannya pada jalanan di depannya, sementara Aira, ia terus menatap Nico dari samping dengan sejuta tanda tanya yang bersarang dalam benaknya.
Selama satu bulan ini, sikap Nico sudah cukup aneh baginya. Nico yang selalu perhatian padanya, yang selalu meluangkan waktu untuknya tidak peduli sesibuk apapun dirinya, atau Nico yang bahkan rela meninggalkan hal-hal penting demi Aira, sekarang seolah menjaga jarak darinya. Aira ingin menanyakan lebih banyak lagi pada Nico, tetapi Nico entah dengan cara apa, telah memberikan kesan seakan-akan Aira tidak perlu bertanya perihal apapun padanya.
Lima belas menit kemudian, tibalah mereka di apartemen Aira. Tidak seperti biasanya, kali ini Nico hanya mengantar Aira sampai depan gedung apartemennya. Nico bahkan terlihat tidak memiliki keinginan untuk masuk bersamanya.
"Kamu masuk, ya? Maaf nggak bisa mampir. Aku harus selesein revisi aku malem ini."
Alasan yang sama lagi!
"Nico, aku mau ngomong." Putus Aira pada akhirnya. Sekarang Aira sudah tidak peduli lagi pada apapun. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nico selama satu bulan belakangan ini.
"Na, ngomongnya besok aja, ya. Seka—"
"Harus sekarang!"
Dan Aira tidak pernah mendapati dirinya seberani dan setegas itu terhadap Nico selama hampir lima tahun mereka bersama.
"Na...."
"Soal rencana pernikahan yang Om dan Tante sampaikan tadi, aku ngerti kenapa kamu menolak dengan alasan belum siap, dan aku nggak apa-apa dengan itu. Tapi, sikap kamu selama satu bulan terakhir ini sama aku bener-bener aneh, Nic. Dan hal itu mau nggak mau membuat aku berfikir, bahwa ada sesuatu yang membuat kamu menolak untuk menikah sama aku."
Nico tidak mengatakan apapun. Ia hanya menundukkan pandangannya, seperti takut bahwa Aira akan bisa membaca ke dalam matanya.
"Apa kamu nggak bisa jujur sama aku? Katakan apa yang terjadi sama kamu selama satu bulan terakhir ini, sampai-sampai kamu selalu ngejahuhin aku. Kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya, kan, Nic?"
Dalam hati Nico berteriak frustasi. Bagaimana bisa dia berkata jujur pada Aira di saat situasinya tidak sesederhana itu? Bagaimana bisa Aira akan menerima kejujurannya dengan lapang dada, di saat Nico yang ia cintai dan ia percayai melebihi apapun adalah anak dari seorang pembunuh yang telah melenyapkan nyawa kedua orang tuanya, yang telah menimbulkan trauma dan kebencian dalam dirinya selama bertahun-tahun lamanya? Bagaimana bisa?
Nico menghela nafas pelan, berusaha menenangkan dirinya dalam diam, sebelum akhirnya ia menoleh dan menatap Aira di sampingnya.
"Na?"
Melihat dari cara Nico menatapnya sekarang, entah kenapa membuat Aira merasa agak ketakutan. Seperti semua hal buruk akan segera melingkupi mereka.
"Sekarang aku akan menyampaikan sesuatu. Tapi, ada syarat yang harus kamu penuhi."
"A—apa?"
Nico lagi-lagi menghela nafas sebelum akhirnya menjawab. "Jangan berkata, atau bertanya apapun. Setuju?"
Nico sudah tiba pada satu keputusan. Sebenarnya, ia tidak akan mengambil keputusan ini untuk malam ini. Ia sudah berencana akan melakukannya di lain hari. Tapi situasinya saat ini benar-benar sedang terjepit. Ia tidak menyangka bahwa tindakannya selama satu bulan terakhir ini sudah kelewat jauh sehingga membuat Aira jengah.
Sementara Aira, meski ragu ia tetap mengangguk, dan meletakkan kepercayaannya di tangan Nico seperti yang sudah dilakukannya selama ini.
Nico kemudian meraih salah satu tangan Aira, dan menggenggamnya, seakan itu adalah kekuatan terakhir yang dimilikinya. Nico kemudian meletakkan tangan Aira yang ia genggam di depan keningnya, Nico lalu menunduk seraya memejamkan kedua matanya.
"Untuk ke depannya, kita berdua... sepertinya akan menghadapi masalah yang cukup berat. Dan nggak gampang buat kita untuk keluar dari masalah itu. Tapi, seberat apapun masalahnya, dan sebesar apapun kesalahan yang aku lakukan sekarang, tolong untuk tetap percaya sama aku."
Nico kemudian mengangkat wajahnya, lalu menatap tepat pada kedua mata Aira. Tatapannya terlihat sendu, namun penuh pertimbangan.
Perih itu semakin mengoyak bathin Nico tanpa ampun saat ia akhirnya tiba pada satu keputusan yang nantinya akan membunuhnya secara perlahan. Nico tidak ingin berfikir lebih lama lagi, dan sengaja mengulur waktu. Karena semakin lama ia menunda, ia akan semakin tidak rela dengan keputusannya sendiri... untuk melepaskan gadis tidak berdosa ini.
Jalannya kini semakin gelap dan buntu. Nico benar-benar merasa sendirian, tersesat di antara keragu-raguan juga ketakutan.
"Na... kita berhenti saja sampai di sini."
Hening. Dunia seakan berhenti berputar, detak waktu terasa membeku.
"N—Nico?"
"Kita selesai, Nana..."
...****...
Setelah perpisahannya dengan Nico tadi, Aira menangis sejadi-jadinya. Yang membuatnya begitu putus asa sekarang adalah, kenyataan bahwa ia tidak bisa menanyakan apapun pada Nico. Ia tidak tahu apa yang terjadi, atau kesulitan seperti apa yang sedang Nico alami sekarang, tetapi Nico bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk bertanya, atau menenangkan semua kesakitan yang mungkin sekarang sedang menderanya.
Setelah berjalan selama duapuluh menit, Aira akhirnya berhenti di sebuah halte dan duduk di sana dengan pandangan kosong. Tangisannya sudah reda, tapi tidak dengan kesakitannya.
Semua ini, masih terasa tidak nyata bagi Aira.
Dan tanpa Aira sadari, Nico yang sejak tadi mengikutinya, diam-diam memperhatikannya dari seberang jalan. Setelah cukup lama berfikir, Nico akhirnya membuka ponselnya dan mencari nama seseorang pada contact list-nya. Setelah menemukan nomor yang ia cari, Nico segera menghubunginya.
"Hallo, Kha? Lo di mana sekarang?"
...****...
Aira terkesiap saat tiba-tiba merasakan seseorang menyampirkan jaket di kedua bahunya. Aira yang awalnya berfikir bahwa orang itu adalah Nico, segera mendongak dengan satu senyuman di wajahnya. Namun, apa yang ia dapati kemudian, membuat senyumnnya berangsur memudar.
Orang itu adalah Rakha, bukan Nico.
"Kha, kok kamu bisa di sini?"
"Tadi aku lagi dalam perjalanan pulang dari asrama, terus aku lihat kamu duduk sendirian di sini. Awalnya aku kira hantu, tapi ternyata..."
Jawab Rakha setengah bercanda seraya duduk di samping Aira.
Menanggapi candaan yang Rakha gulirkan, Aira hanya tersenyum tipis. Dan setelah itu, tidak lagi terjadi obrolan di antara mereka. Rakha dengan setia duduk di samping Aira, menemaninya dalam kesunyian tanpa bertanya apapun, hanya menemaninya saja.
"Kha?" Panggil Aira setelah cukup lama membiarkan Rakha di sampingnya.
"Hm?" Rakha menoleh.
"Aku lapar. Tolong belikan makanan."
Tawa Rakha akhirnya pecah. Begitu juga dengan Aira yang akhirnya tersenyum setelah cukup lama berkubang dalam rasa sakitnya.
^^^To be Continued...^^^