
Pulau Banu, Mei 2011
"T—tolong... se—selamatkan, Putriku."
Lirih Geraldy dengan terbata dan berurai air mata pada seorang pria misterius, yang kini berdiri sambil menatapnya yang terkapar di jalan dengan raut wajah yang tidak begitu jelas dalam pengelihatan Geraldy yang sudah mulai kabur.
Sementara pria misterius itu, tampak begitu terkejut saat mengetahui bahwa ia telah salah sasaran. Seluruh tubuhnya mendadak gemetar melihat Geraldy yang sekarat. Ia lalu duduk di samping Geraldy untuk memastikan apakah dia masih hidup atau tidak. Dan di saat itulah, dengan sisa-sisa kekuatannya, Geraldy meraih tangan pria misterius itu dan menatapnya sembari berusaha mengenalinya. Begitu mengenalinya, Geraldy bergumam di sisa nafas terakhirnya...
"Bi—Bimantara Dd—danadyaksa?"
Bima yang tadinya merasa panik saat tahu bahwa ia telah salah sasaran, kini semakin merasa panik saat Geraldy mengenali dirinya. Kedua matanya bergetar, sementara urat-urat di wajahnya tampak menegang. Begitu ia akan pergi dari tempat itu, satu suara lirih milik Aira tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Tolong! Tolong kami!"
Bima menoleh, lalu melihat sosok Aira yang ternyata masih hidup dalam kondisi yang cukup parah. Darah mengalir perlahan dari kepalanya. Matanya setengah tertutup dan gadis remaja itu nyaris kehilangan kesadarannya.
Beberapa detik berikutnya, dalam pengelihatan Bima, wajah Aira tiba-tiba berubah menjadi wajah Alvin –Putranya. Saat itulah, rasa sakit bercampur sesak langsung menyergap dada Bima tanpa ampun.
Bima yang sudah tidak bisa mengontrol diri lagi, dengan fikirannya yang mendadak buntu, langsung melangkah ke arah mobil. Ia membuka pintunya, lalu mengeluarkan Aira –yang masih ia lihat sebagai sosok Alvin di matanya. Dengan fikiran yang masih terberai, ia menggendong tubuh Aira dan segera melarikannya ke Rumah Sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Bimantara benar-benar berharap, bahwa ia tidak akan terlambat.
...****...
1 jam sebelum kecelakaan...
Begitu melihat mobil Adryan keluar dari Banu's Resort, Bima yang memang sejak tadi menunggunya langsung mengikutinya dari belakang menggunakan sebuah truk. Sehari sebelumnya, ia memang sudah tahu bahwa Adryan, Regina, dan Alvin akan kembali ke Pulau Banu untuk berlibur. Bima yang memang sudah sejak lama menyimpan dendam pada Regina dan Adryan, langsung mengambil kesempatan itu untuk membalaskan dendamnya dengan menghabisi nyawa mereka semua sekaligus, termasuk Alvin, anak kandungnya sendiri.
Melihat mereka yang mampu hidup bahagia, ketika ia sedang menderita, membuat Bimantara Danadyaksa dibutakan oleh sakit hatinya yang sudah tidak terbendung.
Bima terus mengikuti mobil itu, hingga akhirnya mobil itu masuk ke dalam sebuah rumah. Bima tidak tahu apa yang terjadi berikutnya, karena sang penjuga rumah itu, langsung menutup gerbangnya yang cukup tinggi hingga menghalangi pandangan Bima.
Bima kembali menunggu dengan sabar. Sebenarnya, ia bisa saja melakukan eksekusinya saat perjalanan tadi, tapi ketika melihat jalanan yang begitu ramai dengan kendaraan-kendaraan lain, membuat Bima harus menahan diri sejenak untuk kemudian bisa menemukan waktu yang lebih tepat.
Empat puluh lima menit kemudian, mobil Adryan terlihat keluar dari dalam rumah itu. Bima pun mengikutinya lagi. Di saat yang tidak terduga, ketika waktu menjelang malam, hujan tiba-tiba saja turun dengan derasnya, dan situasi ini bisa semakin memuluskan niat jahat Bima untuk menghabisi Adryan, Regina, dan Alvin dengan mudah.
Bima lalu menancap gasnya dan mendahului mobil Adryan. Begitu jarak mereka cukup jauh, Bima tiba-tiba memutar balik truk yang ia kendarai, dan dalam seketika langsung menghantam mobil Adryan tanpa belas kasih.
...****...
"Pa, aku akan kuliah kedokteran seperti yang Papa mau. Tapi, aku punya satu permintaan." Ucap Rakha pada Papanya yang saat itu tengah duduk di hadapannya dan mencoba mendengarkannya dengan baik.
Sepulang sekolah tadi, Rakha memang langsung pergi menemui Papanya di Rumah Sakit. Ia ingin menyampaikan sesuatu. Saat itu, Rakha menemui Papanya di ruangannya tepat saat jam makan siang. Rakha sengaja memilih waktu itu agar tidak mengganggu pekerjaan Papanya.
"Apa sekarang kamu sedang mencoba bernegosiasi sama Papa?" Tanya Arkha dengan nada yang cukup tenang.
"Ini bukan negosiasi. Ini permintaan pertama aku sebagai anak Papa."
Jawaban yang Rakha lontarkan, entah kenapa membuat hati Arkha yang selama ini membatu kini mulai melunak. Wajah Arkha sekarang sudah tidak lagi menegang. Air mukanya perlahan melembut.
"Apa permintaan kamu?"
"Tolong, izinkan Ranha buat ikut Mama. Rakha di sini akan melakukan semua yang Papa mau, Rakha—"
"Apa wanita itu sudah kembali dan menemui kalian tanpa sepengetahuan Papa?" Sela Arkha sebelum Rakha sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia menggunakan kata ganti 'wanita itu' untuk menyebut mantan istrerinya.
"Pa, aku sama Ranha sangat merindukan Mama selama ini. Tapi kami memendam semua itu untuk menjaga perasaan Papa. Dan Papa harus tahu... Mama nggak pernah mengkhianati Papa."
Arkha terkejut setelah mendengarkan penuturan Rakha. Sebenarnya, apa saja yang sudah disampaikan Evelyn Lim pada anak-anaknya? Kenapa Rakha bisa dengan berani mengatakan hal itu padanya? Namun, meski Rakha sudah menyampaikan kebenarannya, Arkha menolak keras untuk percaya.
"Apa wanita itu menyuruh kamu mengatakan ini pada Papa?"
Rakha menggeleng. Wajahnya mulai terlihat lelah.
"Papa tahu sendiri, kan? Selama ini aku hidup dengan membenci Mama. Dan meski Papa selalu bersikap kasar sama aku, dan selalu memaksakan setiap kehendak Papa, aku nggak pernah protes. Papa tahu karena apa? Karena aku mikir, Papa sudah cukup sakit atas pengkhianatan Mama. Tapi Mama tidak melakukan kesalahan apapun, Pa."
Arkha yang mampu melihat kejujuran di mata Rakha, perlahan mulai percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Putranya. Lagipula selama ini, ia juga tidak begitu yakin atas tuduhannya pada mantan isterinya. Di masa lalu, ia terlalu mencintai Evelyn Lim. Perasaan cinta yang begitu mendalam itulah yang akhirnya memicu rasa cemburu butanya ketika melihat Evelyn selalu lebih banyak menghabiskan waktu dengan rekan sesama atlitnya.
Rakha kali ini mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan sebuah akun instagram milik Dimas Aristo –atlit basket yang dulu Arkha sangka sebagai selingkuhan Evelyn. Arkha segera menerima ponsel Rakha, lalu melihat salah satu foto sang atlit yang tampak bahagia bersama istri dan seorang anaknya. Arkha mengenal siapa istrinya. Dia adalah junior kesayangan Evelyn semasa kuliah dulu.
Dari sana, Arkha mulai bisa membaca apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
"Alasan kenapa Mama begitu dekat dengan Om Dimas dulu, karena Mama memang berniat ingin menjodohkan Om Dimas dengan Tante Vanya. Tapi Papa nggak pernah ngasih kesempatan Mama buat ngejelasin. Papa lebih percaya pada asumsi-asumsi Papa yang tidak berdasar itu. Yang lebih parah lagi, Papa membuat aku begitu membenci Mama karena termakan juga sama asumsi Papa."
Melihat Papanya yang tampak begitu terkejut, Rakha memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan pembicaraan ini. Ia ingin memberikan kesempatan pada Papanya untuk berfikir dan menenangkan diri. Semua ini, tentu terlalu mengejutkan bagi Arkha yang selama ini terlalu diperbudak oleh egonya.
Rakha pun bangkit dari hadapan Papanya. Ia melangkah ke arah pintu. Dan begitu tangannya akan menyentuh kenop pintu, dengan nada yang terkesan mengalah, Papanya berkata, "Ranha boleh ikut Mamamu. Dan kamu... boleh melanjutkan kuliah di HNSU, seperti impian kamu."
Rakha membeku di tempatnya untuk beberapa saat. Sulit ia percaya apa yang baru saja dikatakan oleh Papanya. Dan dari mana Papanya tahu bahwa Rakha sangat ingin melanjutkan kuliahnya di HNSU? Rakha bahkan tidak pernah mengatakan apa-apa pada Papanya selama ini menyangkut impiannya itu.
Harsa National Sport University, atau yang lebih popular disebut dengan HNSU, adalah universitas olahraga terbaik. Universitas itu sendiri telah banyak melahirkan pemimpin olahraga terkemuka dan deretan atlit elit, serta pelatih berkaliber kelas dunia. Dan Evelyn Lim yang melegenda itu adalah salah satu alumni dari HNSU.
Rakha berbalik, lalu menatap Papanya yang terlihat telah mengakui semua kekalahannya.
...****...
Keesokan harinya, pada minggu sore, Rakha mengumpulkan semua sahabat-sahabatnya di lapangan sekolah untuk menyampaikan kabar, bahwa ia sudah mendapatkan persetujuan dari Papanya untuk bisa melanjutkan kuliah di Harsa National Sport University.
Rakha menyampaikan kabar baik itu setelah mereka selesai bermain basket. Dan begitu Nico, Rio, dan Natta tahu, mereka langsung membanjiri Rakha dengan ucapan selamat. Mereka turut bahagia, karena akhirnya Rakha bisa melanjutkan kuliahnya di kampus yang sudah menjadi impiannya sejak lama.
Ketika mereka sedang melakukan selebrasi kecil-kecilan untuk kebahagiaan Rakha, Yumi tiba-tiba saja datang bersama Aira, Sheryl dan Bia. Begitu bergabung dengan para pria itu, Bia dan Sheryl langsung saja mengambil posisi di samping pasangan mereka masing-masing. Hal yang dilakukan oleh Bia dan Sheryl itu secara spontan mendapatkan senyum cibiran dari Aira dan Yumi.
"Selamat, Kha!" Ujar Aira memberikan selamat seraya menyerahkan sebotol air mineral untuk Rakha. Dan tindakan yang Aira tunjukan padanya barusan, mendadak membuat Rakha merasa seperti Déjà vu. Memori Rakha tiba-tiba berputar kembali, saat dulu Aira menghampirinya di lapangan lalu memberikan sebotol air mineral setelah Rakha rela menggantikannya keluar dari kelas.
Rakha tersenyum, lalu menerima air minum pemberian Aira dengan senang hati.
"Thanks, Ra."
Aira balas tersenyum. Setelah itu, ia pun duduk di samping Yumi yang saat itu mengambil posisi yang agak jauh dari posisi Rakha CS.
"Kok nggak ngasih ucapan selamat ke Rakha?" Tanya Aira dengan nada setengah berbisik pada Yumi. Belakangan ini, Aira mulai sedikit curiga karena Yumi terus saja menghindari Rakha sejak mereka kembali dari liburan tahun baru beberapa waktu lalu.
"Ck... Gampang! Bisa nanti-nanti." Jawab Yumi dengan enggan.
"Apa ada sesuatu yang aku nggak tahu?" Kali ini, Aira berusaha memancing Yumi.
Mendengar pertanyaan Aira, kedua mata Yumi seketika melotot. Ia merasa seperti tertangkap basah dan mendadak gelagapan.
"APAAN?" Pekik Yumi dengan nada yang cukup keras. Pekikan Yumi itu langsung menarik perhatian yang lainnya. Memangnya apa itu 'sesuatu' yang tidak diketahui Aira? Kenapa juga Yumi harus menyembunyikan sesuatu dari Aira? Fikir Yumi.
"Kok panik sih? Kan aku cuma nanya." Terang Aira sembari membubuhkan kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Kepanikan Yumi itu, mau tidak mau akhirnya membuat Aira semakin curiga.
"Kenapa kalian berdua terlihat serius? Apa kalian sedang membicarakan salah satu di antara kami?" Cecar Rio dengan pandangan menyipit pada kedua gadis itu.
"Jangan ikut campur!" Timpal Yumi yang masih tampak salah tingkah.
Tatapan mata Yumi lalu tertuju ke arah Rakha yang saat itu tengah menatapnya sembari menenggak minuman pemberian Aira. Kontan saja, Yumi semakin merasa salah tingkah dengan ulah Rakha itu.
Yumi merasa seperti telah melakukan kesalahan besar. Tapi tunggu dulu, bukankah Yumi memang sudah melakukan 'sebuah kesalahan'? Ia telah mencium Rakha tanpa sepengetahuan Rakha malam itu. Wajar saja jika sekarang akhirnya dia selalu merasa seperti hendak tertangkap basah setiap waktu.
Saat hari mulai beranjak gelap, mereka semua segera membubarkan diri sebelum dibubarkan oleh Satpam Sekolah. Aira berjalan beriringan dengan Nico, sementara Rakha hanya mengikuti mereka di belakang tanpa membuat satu suarapun.
"Eh, Nic! Nunduk dikit deh." Pinta Aira saat tanpa sengaja melihat kerah jaket Nico yang tidak terlipat dengan baik.
"Kenapa?" Tanya Nico sembari menundukkan bahunya, mengikuti perintah Aira.
Aira lalu mengulurkan kedua tangannya, ia sedikit berjinjit agar bisa mencapai tinggi badan Nico. Sesaat kemudian, ia memperbaiki kerah jaket Nico yang agak berantakkan.
"Aku nggak nyaman liat sesuatu yang berantakkan kayak gini." Jawab Aira dengan nada setengah mengomel sambil tetap sibuk merapikan kerah jaket Nico.
Menanggapi itu, Nico serta-merta tersenyum sambil mendesis. Sedetik berikutnya, kedua matanya terpancang tepat pada kedua mata Aira, sambil diam-diam mengagumi sosok gadis itu di dalam hatinya.
Lalu, ketika Aira menjauhkan diri dari Nico setelah menyelesaikan 'tugas mendadaknya', Nico tiba-tiba merasa sedikit kecewa. Dan kekecewaan itu, jelas tergambar di wajahnya meski Aira tidak menyadarinya.
"Terima kasih, adik kecilku..." Ujar Nico setelah berhasil menepis kecewanya sambil mengusap bagian belakang kepala Aira
Menyaksikan adegan romantis yang ditunjukan oleh Aira dan Nico, Rakha merasa seolah-olah ia telah menjelma menjadi seorang Second Male yang menyedihkan dalam sebuah drama series.
Rakha kemudian tersenyum mencibir. Mencibir dirinya sendiri yang begitu bodoh dan mengenaskan.
^^^To be Continued...^^^