
Pada malam harinya, setelah semua orang tertidur, Nico keluar dari dalam kamarnya sambil menggunakan pakaian olahraga lengkap. Sepanjang hari Nico sebenarnya tidak melakukan apapun, ia hanya mendekam di kamarnya seharian tetapi tubuhnya terasa sangat lelah.
Setelah mengetahui bahwa Aira dan Rakha terlibat skandal kencan, entah kenapa Nico merasa energinya seperti terkuras habis. Semuanya semakin membuat dadanya sesak ketika menyadari ia tidak bisa berbuat apapun, kecuali hanya menerima dengan perasaan berat.
Begitu keluar dari kamarnya, perhatiannya langsung tertuju ke arah balkon. Di sana, ada banyak kenangan yang telah ia lalui bersama Aira. Nico bahkan mencuri ciuman pertama Aira di tempat itu. Nico menghela nafas, kemudian melanjutkan langkahnya, berusaha sekeras mungkin menepikan segala keresahan hatinya.
Tetapi kemudian, Nico gagal!
Karena saat ia melewati playground yang dulu cukup sering ia datangi bersama Aira, perasaan sesak itu kembali menyiksanya. Di sana ia seakan-akan melihat sosok dirinya bersama Aira yang sedang duduk di ayunan sambil tertawa bersama.
Kali ini Nico mengizinkan air matanya terjatuh.
...****...
"Ra, skandal kencan lo sama Rakha beneran?" Tanya Sheryl dalam sebuah panggilan telepon. Nada bicaranya terdengar panik.
"Skandal kencan gimana maksud kamu, Sher?" Aira masih tidak mengerti.
Sejak memutuskan untuk benar-benar melepaskan Nico, Aira memang tidak pernah membuka internet ataupun menonton TV, itulah alasan kenapa Aira sama sekali tidak tahu-menahu soal skandal kencannya dengan Rakha.
"Jadi, elo belum tahu? Belum liat berita dari tadi?"
Setelah menyelesaikan obrolannya dengan Sheryl, Aira langsung membuka internet, dan menemukan skandal kencannya bersama Rakha memenuhi hampir semua portal berita. Namun meski sedang berada dalam situasi seperti itu, satu-satunya yang Aira fikirkan adalah bagaimana keadaan Rakha saa itu. Aira sangat takut kalau-kalau skandal itu akan menyusahkan Rakha hingga berimbas pada kelangsungan karirnya sebagai atlit basket.
Aira pun buru-buru menelepon Rakha, dan langsung minta untuk bertemu saat itu juga demi memastikan keadaan Rakha. Namun siapa sangka, Rakha justru mengajaknya pergi ke sebuah rumah yang letaknya cukup jauh dari kota Harsa. Mereka bahkan menempuh perjalanan selama dua jam lamanya hingga tiba di sebuah rumah yang terlihat cukup asri dengan sebuah pepohonan yang cukup rindang di halamannya.
"Kha, aku mau ngobrol sama kamu, kenapa malah bawa aku kesini? Kalau kita diikuti wartawan gimana? Kamu tuh─"
Rakha langsung meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Aira hingga membuat Aira langsung terdiam dengan satu deguban aneh di dadanya.
"Udah, ya? Urusan wartawan biar aku yang urus, kamu nggak perlu cemas soal itu. Oke?"
"Tapi, Khaaa─"
"Percaya sama aku, ya? Hmm?"
Rumah yang mereka sambangi saat itu adalah rumah milik Evelyn Lim. Rakha sengaja membawa Aira ke rumah Mamanya agar Aira bisa menenangkan fikirannya setelah semua hal menyakitkan yang ia lalui selama ini. Rakha tahu pasti, bahwa untuk saat ini Aira sedang tidak memiliki siapa-siapa di sisinya setelah ia mengambil keputusan untuk menepi dari keluarga Nico. Itulah kenapa, membawa Aira ke rumah Mamanya adalah hal terbaik untuk Aira yang bisa difikirkan oleh Rakha. Dengan cara itu juga, Rakha bisa menghindarkan Aira dari beberapa media yang berusaha mencari informasi tentang dirinya.
Dengan cara itulah Rakha ingin melindungi Aira, gadis yang paling berharga dalam hidupnya.
"Ini rumah Mama aku. Untuk sementara kamu bisa tinggal di sini sama Mama aku. Untuk saat-saat sekarang, ini tempat teraman buat kamu, Ra."
"Aku cemas sama kamu, Kha. Aku takut sesuatu mungkin terjadi sama kamu gara-gara skandal itu."
"Aku baik-baik aja, Naira. Aku malah senang karena terlibat skandal sama kamu, bukan sama orang lain."
"Kalau begitu, kenapa kita nggak jadian beneran aja biar kamu nggak perlu ngerasa nggak enak sama aku?"
"RAKHA!!" Pekik Aira dengan keras yang langsung menimbulkan gelak tawa Rakha.
...****...
Nico sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper saat Adryan tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di tepi ranjangnya, dan memperhatikan setiap gerak-gerik yang Nico lakukan. Tiga hari lagi, Nico akan berangkat ke Amerika. Mamanya yang masih belum bisa menerima keputusan Nico, lebih memilih untuk menjauh dari Nico. Regina tidak ingin merasa semakin berat melepaskan Nico apabila dia terus melihat wajah Nico sebelum hari keberangkatannya.
"Sudah pamit sama Nana, Nic?" Tanya Adryan pelan setelah cukup lama menimbang.
Nico menghentikan aktifitasnya sejenak. Tidak lama kemudian, Nico menggeleng pelan dan berkata, "Nana udah nggak mau lihat Nico lagi, Pa."
"Nico?"
"Dan Nico juga udah nggak mau lagi usik kehidupan Nana. Sudah cukup Nana menanggung penderitaan yang seharusnya menjadi tanggungan Nico selama ini,
Nico nggak mau lebih memperparah keadaannya."
Setelah Nico menutup kopernya, ia berbalik lalu duduk di samping Papanya. Kali ini pandangannya terlihat lebih serius.
"Pa, Nico punya satu permintaan. Apa boleh Nico minta itu ke Papa?"
"Apa itu?"
Sebelum memberikan jawabannya, Nico terlihat menghela nafas. Berhari-hari ia terus berfikir soal ini, dan bukan hal yang mudah bagi Nico hingga akhirnya ia bisa sampai pada keputusannya sendiri.
Meski hatinya terasa berat, meski ia merasa tidak tega melihat wajah Adryan yang selama ini sudah tulus menyayanginya, namun Nico sudah mempunyai pilihan untuk hidupnya sendiri. Nico sangat ingin melepaskan beban berat yang selama ini ia pikul dan mulai belajar menjalani hidupnya sendiri sebagai dirinya yang sebenarnya. Nico tidak ingin jika selamanya ia harus bersembunyi di belakang kedua orang tuanya dan hidup dengan nyaman menggunakan nama dan identitas orang lain.
"Aku ingin kembali memakai nama Alvin Dafandra, bukan─" Nico mengambil jeda sesaat, "aku ingin kembali menjadi Alvin Dafandra."
"Nico, kamu..."
"Aku mungkin adalah anak yang paling nggak bersyukur, tapi aku nggak bisa terus-terusan hidup menjadi orang lain. Aku ingin kembali menjadi diri aku yang sebenarnya. Tolong dukung aku, Pa..." Pinta Nico dengan sepenuh hati.
Adryan mengangguk pelan. Tidak lama ia mendekat lalu memeluk Nico.
"Papa izinkan. Tapi kamu harus inget ini, Nic! Entah kamu itu Calvien Nicolas, atau Alvin Dafandra, tidak peduli siapapun kamu, selamanya kamu akan selalu jadi anak Papa. Dan apapun langkah yang ingin kamu tempuh, Papa akan selalu ada di samping kamu untuk mendukung dan melindungi kamu... Alvin."
Ada sebuah kehangatan yang menjalari hati Nico, yang akhir-akhir ini dipeluk oleh kedinginan saat untuk pertama kalinya ia mendengar Papanya memanggilnya dengan nama; Alvin.
Kini dia bukan lagi Calvien Nicolas. Anak laki-laki itu sudah kembali pada dirinya sendiri. Sekarang dia adalah Alvin.
^^^To be Continued...^^^