
Desember 2000...
Malam itu, hujan turun begitu lebat mengguyur seluruh kota. Suara kilatan petir bercampur angin, semakin menambah suasana kelam malam itu. Dan di depan salah satu rumah sederhana di pemukiman itu, terlihat seorang anak kecil meringkuk di depan pintu yang terkunci. Ia menggigil kedinginan dan ketakutan.
Sementara dari dalam rumah, terdengar suara rintihan dan jeritan Mamanya yang kesakitan, serta suara Papanya yang terus berteriak dan mengutuk. Alvin, bocah kecil berusia 6 tahun itu, menutup kedua telinganya sembari menahan tangisnya dan rasa dingin yang terus mendera tubuh mungilnya.
Papanya memang sering melakukan tindakan kekerasan pada Alvin dan Mamanya. Itu dimulai ketika bisnis yang ia bangun selama bertahun-tahun tiba-tiba bangkrut. Hidup mereka sekeluarga berubah total sejak saat itu. Bima –Papa Alvin seringkali pulang dalam kondisi mabuk. Ia lalu akan menggila, dan membanting apapun yang ada di hadapannya. Bahkan tak jarang, Alvin yang masih sangat kecil harus berkali-kali mendengar Papanya menyebut Mamanya sebagai wanita pembawa sial. Dan itu meninggalkan bekas luka di hatinya.
Setiap kali Bima akan melakukan kekerasan, Regina akan segera mengunci Alvin di dalam kamar, atau bahkan di luar rumah, hanya semata-mata supaya Alvin tidak melihat kejadian mengerikan itu. Namun meski begitu, Alvin yang saat itu masih berusia 6 tahun, sudah mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa kali juga, Alvin menyaksikan Mamanya dipukul oleh Papanya secara tidak sengaja.
Tahun berikutnya, di awal tahun 2001, Regina memutuskan untuk menggugat cerai Bimantara Danadyaksa, dan membawa Alvin keluar dari 'neraka' yang selama ini membelenggu mereka. Lalu, pada tahun berikutnya lagi, di 2002, Regina menikah kembali dengan mantan kekasihnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Adryan Abhimana, yang kini menjadi Ayah sambung bagi Alvin, namun tetap memperlakukannya seperti anak sendiri.
Adryan sendiri sebelumnya pernah menikah dan memiliki seorang putra yang seusia dengan Alvin. Namun na'as, Adryan harus menerima kenyataan bahwa istri dan anaknya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Sebelum Regina hadir kembali dalam hidupnya, Adryan sempat menjalani hidup yang sama kelamnya dengan Regina.
Dan untuk membuang jauh-jauh sosok Bimantara Danadyaksa yang sudah terlalu banyak memberikan penderitaan dalam hidupnya dan juga Alvin, Regina dan Adryan sepakat untuk mengganti nama Alvin dengan nama mendiang putra Adryan, Calvien Nicolas Abhimana.
Bukan tanpa alasan Regina ingin mengganti nama putranya. Nama Alvin Dafandra Danadyaksa dulunya diberikan oleh Bimantara sendiri. Ia memberikan nama itu dengan penuh kebanggaan dan harapan. Itulah alasan kenapa Regina benar-benar ingin menghilangkan jejak Bimantara dari kehidupannya dan juga Alvin. Ia tidak boleh membiarkan sedikitpun jejaknya tertinggal.
"Nico. Mulai sekarang nama kamu Nico, ya?" Ucap Adryan dengan penuh ketulusan pada Alvin kecil yang saat itu masih terlihat ketakutan. Ia bahkan bersembunyi di belakang Mamanya karena takut Adryan akan melukainya.
6 bulan berlalu, setelah Nico berteman dengan Aira, ia mulai bisa membuka diri, dan tidak lagi takut pada Adryan juga orang-orang di sekitarnya. Adryan juga membawa Nico pergi ke seorang Psikolog untuk memulihkan mentalnya. Perlahan namun pasti, Nico mendapatkan kembali keceriaannya berkat Aira yang selalu bersamanya. Meski sesekali, trauma itu selalu datang menghantuinya dalam sebentuk mimpi buruk di tengah malam yang berhujan.
Dan Nico, yang diam-diam masih mencintai nama Alvin, secara perlahan juga mulai merelakan nama lahirnya itu agar Mamanya tidak lagi terluka, atau mengingat-ingat lagi hari-hari kelam yang pernah mereka lalui.
Itu adalah satu-satunya rahasia yang tidak pernah Nico bagi dengan siapapun kecuali Aira. Hanya Aira yang tahu. Hanya Aira yang membersamainya memeluk rahasia-rahasia kelam itu.
...****...
"Ma... dia apa kabar?" Tanya Nico pada Mamanya suatu hari. Saat itu Adryan sedang pergi ke luar kota. Dan Nico merasa, bahwa inilah saat yang tepat baginya untuk bertanya pada Mamanya.
Dia yang Nico maksud adalah Papanya. Papanya yang sekalipun tidak pernah lagi ia lihat wajahnya selama sepuluh tahun terakhir ini. Meski pernah begitu terluka dan sangat ketakutan karena sebab Papanya, tetap saja Nico ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang.
Regina yang saat itu tengah menikmati sarapan paginya, langsung saja melepaskan pisau serta garpu di atas piringnya hingga menimbulkan suara dentingan yang cukup keras. Sedikitpun Regina tidak menyangka, bahwa Nico akan menanyakan tentang orang itu.
Aira yang saat itu akan pergi ke ruang makan, langsung mengurungkan niatnya begitu mendengar pembicaraan yang terjadi antara Ibu dan anak itu.
"Nico hanya ingin tahu." Jawab Nico dengan jujur. Namun ia juga tidak bisa mengelak dari rasa bersalahnya karena telah bertanya soal 'Orang Itu' pada Mamanya.
"Benar! Itu nama kamu. Kamu adalah Calvien Nicolas Abhimana. Kamu putra dari Adryan Abhimana. Dan Mama harap kamu terus mengingat itu sampai mati. Jangan lagi menyeret dia untuk hal apapun, dan jangan merasa penasaran tentang bagaimanapun keadaannya sekarang, hidup atau matinya. Paham?"
"Ma..."
"Cukup, Nic! Selera makan Mama sudah hilang." Ujar Regina dingin. Ia lalu bangkit dari kursinya dan meninggalkan Nico seorang diri di sana.
Beberapa saat setelah Mamanya pergi, Nico langsung menyesali apa yang telah ia lakukan. Bahkan meski ia sangat penasaran, ia tidak seharusnya bertanya pada Mamanya yang selama ini sudah mati-matian berjuang melupakan penderitaan masa lalunya. Nico tiba-tiba merasa sangat marah pada dirinya sendiri.
Nico mendesah pelan, ia lantas mengusap wajahnya dengan kedua tangannya seraya menundukkan wajah. Tidak lama setelah itu, Nico dapat merasakan seseorang sudah berdiri di hadapannya sekarang. Nico mengangkat wajahnya. Saat itulah, ia langsung mendapati Aira yang sedang menatapnya dengan sendu.
"Ra? Kamu mau sarapan?" Tegur Nico. Sebisa mungkin ia berusaha agar nada suaranya terdengar baik-baik saja, meski jauh di sana, hatinya tengah disergap sembilu.
Aira menggeleng sebagai jawaban. Tatapannya tidak lepas dari kedua mata Nico. Dari sorot mata itu, Aira seakan bisa mengintip ke dalam hati Nico. Dan ia melihat, Nico sedang dilanda badai.
Kali ini, tanpa mengatakan apapun, Aira langsung memeluk Nico yang saat itu masih dalam posisi duduk. Nico terpaku untuk beberapa lama. Lalu perlahan, air matanya tiba-tiba turun.
Ada perasaan rindu tapi benci yang selalu ia pendam untuk 'Orang Itu'. Dan Aira dapat membacanya dengan jelas.
Nico pun merengkuh pinggang Aira. Ketika ia sudah tidak mampu lagi membendung segala perasaannya, Nico akhirnya menumpah-ruahkan tangisannya dalam dekapan Aira.
Saat itulah Nico menyadari, bahwa ia sangat membutuhkan Aira dalam hidupnya. Ia butuh Aira untuk bisa menenangkan badai dalam dirinya. Ia butuh Aira sebagai kekuatannya. Dan ia butuh Aira sebagai penopang sosok dirinya yang rapuh.
"Aku udah melukai Mama, Ra. Tapi aku nggak bisa bohong, aku mau tahu keadaan orang itu." Lirih Nico. Ia pun semakin membenamkan dirinya dalam dekapan Aira.
Aira tidak mengatakan apapun dan hanya mendengarkan saja. Ia pun menyandarkan dagunya tepat di atas puncak kepala Nico sambil terus mengusap lembut pundaknya untuk menguatkannya. Dan tanpa Aira sadari, air matanya lolos begitu saja.
Mereka menangis bersama tanpa suara.
^^^To be Continued...^^^