
Saat tengah menikmati sarapannya bersama Adryan dan Nico, Regina tiba-tiba saja menerima sebuah panggilan dari nomer tidak di kenal. Kedua alisnya terangkat sesaat sebelum ia mengangkat teleponnya.
"Halo?" Sapanya pada orang di sebrang sana.
Hanya dalam hitungan detik, mimik wajah Regina langsung berubah sepenuhnya. Otot-otot di wajahnya tampak menegang, dan kedua matanya mulai bergetar. Rupanya, ia baru saja menerima sebuah panggilan telepon dari seseorang yang tidak pernah ia duga.
"Dari siapa, Ma?"
Pertanyaan Nico itu kontan membuat Regina terkesiap dan buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Regina berusaha untuk tetap terlihat tenang. Namun Adryan mulai memahami apa yang sedang terjadi sekarang.
"Bukan dari siapa-siapa, Nic."
"Yakin?" Tanya Nico sangsi.
"Iya, Sayaaang..." Jawab Regina sambil menjawil pipi puteranya dengan gemas.
"Oya, Nic. Malam minggu nanti Nana nginep, kan? Ayo, makan malam di luar." Kata Regina lagi setelah berhasil mengendalikan situasi di hadapan Nico.
"Nanti Nico tanyain dulu ke Nana, ya? Nana lagi sibuk revisi skripsi."
Nico yang memang tidak menyimpan kecurigaan apapun melanjutkan aktifitas makannya. Begitu juga dengan Adryan.
"Padahal baru kemarin Nana pertama kali dateng, terus Nico marah-marah. Eeeh, sekarang udah skripsian aja." Ucap Adryan yang langsung disambut oleh senyuman salah tingkah dari Nico.
Mendengar ucapan Papanya, mau tidak mau akhirnya memori Nico terseret kembali ke masa lalu. Dulu, ia dan Aira begitu canggung satu sama lain. Ia bahkan menyesal setiap kali ingat bahwa ia pernah sempat melupakan Aira dan menolak kehadirannya tanpa melihat wajahnya.
Nico meringis. Mendadak ia ingin sekali memeluk Aira sekarang. Detik ini juga.
...****...
"Arkha, apa kamu yang membawa wanita itu ke sini?"
Itulah satu pertanyaan yang Regina utarakan begitu ia memasuki ruangan Dr.Arkha –Ayah Rakha. Selama bertahun-tahun Regina hidup dengan berpura-pura tidak mengenal Arkha, begitu juga dengan Arkha. Namun untuk hal yang satu ini, Regina merasa perlu berbicara dengan Arkha secara langsung.
"Akhiranya, kamu bersikap juga seperti seorang kenalan." Jawab Arkha santai.
Ia lalu bangkit dari kursinya dan melangkah mendekati Regina, "silahkan duduk." Lanjut Arkha sembari menunjuk ke arah sofa. Ia kemudian duduk terlebih dulu tanpa menunggu jawaban Regina.
"Apa kamu fikir aku punya waktu untuk duduk sekarang? Jawab saja pertanyaanku! Kenapa kamu membawa wanita itu datang kemari?" Suara Regina mulai terdengar keras dan tajam.
"Aku tahu kamu sangat membenci Bima, Gin. Tapi ingat, Bima masih tetap Ayah kandung Alvin. Kamu tidak bisa terus memisahkan mereka."
"NICO!!" Ralat Regina. Kini ia sedikit berteriak dan membuat Arkha tersentak. "Nama anakku adalah Nico. Camkan itu!" Kali ini suara Regina terdengar agak melunak tapi juga lelah.
Dia sudah berupaya seumur hidup untuk hidup bebas tanpa bayangan Bimantara, tapi Arkha justru mengacaukan upayanya dengan begitu mudah.
"Kamu jangan berpura-pura tidak tahu Arkha, bahwa sahabat kamu itu sudah mencoba membunuh anaknya sendiri enam tahun yang lalu. Dia ingin membunuh Nico. Sampai kapan kamu akan bersikap apatis seperti ini? Apa ini sikap seorang sahabat?"
"Bima sudah membayarnya!"
"Dan sebagai gantinya dia membunuh kedua sahabatku, dan nyaris membunuh anaknya. Apa kamu tahu bahwa anak itu sedang berusaha untuk hidup sekarang? Setidaknya demi anak itu, kamu tidak harus melakukan hal ini." Air mata Regina perlahan turun. Hatinya begitu sakit setiap kali mengingat bagaimana Geraldy dan Shania harus meregang nyawa menggantikan dirinya dan Adryan.
"Aku tahu kamu orang baik, Arkha. Itulah kenapa aku diam saja selama ini. Aku bahkan tidak masalah ketika tahu Nico dan Rakha bersahabat dekat. Aku tidak takut hal itu akan membuka luka lama kami karena aku percaya sama kamu. Aku percaya kamu tidak akan pernah mengusik ketenangan Nico. Tapi hari ini, kamu sudah membuktikan sendiri bahwa aku telah salah menaruh kepercayaan terhadap kamu."
Arkha terdiam. Seketika ia menyesali apa yang sudah dilakukannya. Selama ini, ia hanya mempedulikan Bimantara tanpa tahu bagaimana usaha Regina untuk tetap hidup tenang dan bahagia tanpa dihantui kesakitan masa lalunya.
Dan Rakha yang sejak tadi diam-diam mengintip ke dalam ruangan melalui celah pintu yang terbuka, mendengarkan semua obrolan yang terjadi antara Papanya dan Mama Nico.
Rakha dapat memahami dengan baik pembicaraan kedua orang itu. Dan pemahaman itu jugalah yang membuatnya merasa seakan-akan seseorang baru saja menyiramkan seember air dingin tepat di wajahnya.
Dengan tubuh gemetar, Rakha meninggalkan ruangan Papanya. Ia berjalan gontai sambil mengingat selembar foto yang ia temui di ruang kerja Papanya empat tahun yang lalu. Terang saja ia merasa bahwa sahabat Papanya dalam foto itu begitu mirip dengan Nico. Ternyata, sahabat Papanya itu adalah Ayah kandung Nico. Sahabat kentalnya yang juga adalah rivalnya.
...****...
"Iya, Na. Ini aku masih di toko buku. tiga puluh menit lagi aku sampe, ya?" Ucap Nico pada Aira melalui sambungan telepon.
Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Aira, Nico segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan segera membayar buku yang ia ambil di kasir. Begitu selesai, ia langsung keluar dari toko buku, dan berniat untuk membeli beberapa makanan ringan dan bahan masakan di sebuah supermarket yang masih berada dalam swalayan itu.
"A—Alvin?" Ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja menepuk pundak Nico. Suaranya terdengar bergetar. Ada nada keraguan di dalamnya.
Dalam sekejab, Nico langsung menjatuhkan beberapa camilan yang telah ia pilih tepat ke dalam trolley. Ia sangat terkejut setelah mengenali wanita itu. Meski sudah lima belas tahun berlalu, namun Nico masih mengenalinya dengan baik.
Wanita paruh baya itu adalah Diana Danadyaksa. Kakak dari Papa kandungnya. Bimantara Danadyaksa.
Setelah mengenali wanita itu, Nico merasa jantungnya seakan mencelos. Apa ia tidak salah lihat? Apa ia tidak salah dengar? Bagaimana bisa Tante Diana ada di Kota Harsa? Dan sejak kapan? Itulah beberapa pertanyaan yang menggerayangi kepala Nico sekarang.
"T—tante Diana?"
Air mata wanita itu perlahan turun bersama senyuman getirnya.
...****...
"Kenapa lama sekali?" Protes Aira dengan kesal saat ia membukakan pintu apartemennya untuk Nico.
Alih-alih menjawab protes yang Aira ajukan, Nico malah berjalan masuk melewati Aira begitu saja. Satu suara dalam ingatannya muncul.
"Papa kamu masuk penjara sejak enam tahun yang lalu. Dia adalah terdakwa dari kasus kecelakaan maut yang menewaskan sepasang suami-isteri enam tahun yang lalu."
Kaki Nico terasa lemas. Ia lalu terjatuh di atas sofa dengan fikiran yang kacau. Dadanya bergemuruh. Satu kemungkinan yang sangat mengerikan kini menaungi Nico sepenuhnya. Bagaimana jika... sepasang suami-isteri yang tewas dalam kecelakaan yang disebabkan oleh Papanya adalah... kedua orang tua Aira?
Mendadak Nico merasakan seluruh tubuhnya bergidik. Ia takut membayangkan bahwa perkiraannya bisa saja benar. Lalu jika iya, bagaimana Nico harus menghadapi Aira setelah ini?
"Tante sudah berusaha menghubungi Mama kamu, tapi nggak ada jawaban. Tante cuma ingin ketemu sama kamu, dan ngejelasin keadaan Papa kamu sekarang. Itu saja, Al."
Rentetan perkataan Tante Diana terus berputar di kepala Nico dan membuatnya susah untuk sekedar menarik nafas.
Menemui Mamanya, dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya adalah satu-satunya hal yang dapat Nico lakukan untuk membuktikan perkiraannya.
Aira yang belum menyadari gelagat Nico, berjalan ke arah pantry lalu membuka kantong belanjaan Nico. Sambil terus mengomel, ia memasukkan satu per satu barang belanjaan Nico ke dalam kulkas. Namun, Nico yang menjadi target kekesalannya justru tidak dapat mendengarkan omelan Aira sama sekali. Fikiran Nico masih melayang jauh pada pertemuan tidak terduganya dengan Tante Diana sejam yang lalu. Pertemuan yang akhirnya menyeret satu rahasia penuh misteri di hadapan Nico.
"Kamu mungkin masih membenci Papamu, Al. Tapi tolong, temui dia sekali saja. Dia sangat merindukan kamu. Dia sudah menyesali semua perbuatannya di masa lalu, dan dia sedang membayarnya sekarang."
Tapi, bagaimana bisa Nico menemui Papanya begitu saja?
Nico mendesah pelan, ia kemudian mengusap wajahnya dan menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah pada sandaran sofa. Beberapa saat setelah itu, Nico mengalihkan perhatiannya pada punggung Aira yang terlihat masih sibuk memisahkan belanjaan di kitchen set. Sebisa mungkin, Nico berusaha menjernihkan fikirannya. Ia berusaha menepikan segala hal yang mengganggunya, sebelum akhirnya ia berjalan ke arah Aira lalu mendekap tubuh mungil gadis itu dari belakang.
Saat ini, ia benar-benar butuh pelukan Aira untuk menenangkannya.
Aira yang terperanjat langsung menoleh dan melihat wajah Nico yang sudah bersandar dengan nyaman di pundaknya. Saat itu, Aira langsung menyadari bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan pemudanya ini.
"Nic, kamu kenapa?" Tanya Aira pelan seraya menyentuh wajah Nico dengan tangannya.
Nico menggeleng sambil tetap memejamkan kedua matanya. Ia pun kemudian membalik tubuh Aira dan kembali memeluknya. Pelukannya begitu erat, dan terasa berbeda dari biasanya.
Kenyataan bahwa dia adalah anak dari seorang pembunuh yang bisa saja membunuh kedua orang tua Aira, memenuhi hati dan fikiran Nico.
Aira yang masih tidak tahu apa-apa, hanya membalas pelukan Nico tanpa berniat untuk bertanya lagi. Empat tahun berpacaran dengan Nico, membuatnya sangat memahami semua sikap dan sifat Nico. Dan ketika Nico sedang dalam masalah, ia membutuhkan sedikit waktu sebelum akhirnya bisa bercerita.
Untuk saat-saat seperti ini, yang Nico butuhkan hanya pelukan hangat yang menenangkannya.
Nico lalu mengurai pelukannya dengan kedua tangan yang masih melingkar di pinggang Aira. Mata mereka bertemu satu sama lain. Dengan gerakan pelan, Nico menyampirkan rambut Aira ke belakang telinga.
"Na, aku pulang, ya? Aku baru inget kalau ada tugas yang harus aku selesein. Besok deadline-nya."
"Kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Aira. Wajahnya benar-benar terlihat cemas. Ia takut sesuatu yang buruk mungkin sedang terjadi pada Nico sekarang.
Nico yang bisa membaca fikiran Aira melalui matanya, secara perlahan menganggukkan kepalanya seraya mengulas satu senyuman di wajahnya.
"Aku baik-baik aja. Kamu nggak usah khawatir, ya?" Kata Nico sambil mengusap pelan wajah Aira dengan tangan kanannya.
^^^To Be Continued...^^^