
Aira tiba di depan gedung apartemennya sambil menangis terisak. Selama dalam perjalanan tadi, selepas ia menemui Nico dan memutuskan hubungan mereka, Aira merasa seluruh dunianya hancur. Tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya.
Bagaimana bisa Nico tidak menahannya sedikitpun? Bagaimana bisa Nico yang dulunya penuh cinta sekarang menjadi begitu dingin? Nico bahkan tidak bisa lagi disebut sebagai manusia. Ia telah menjelma menjadi bongkahan es yang mengerikan dan sangat menyakitkan.
Aira merasa terbuang, meski pada kenyataannya, Aira sendirilah yang mencampakkan Nico dan memilih untuk melepaskan tangannya terlebih dulu.
"Aira?" Panggil seseorang dengan lembut yang saat itu sudah berdiri tidak jauh dari posisi Aira sekarang.
Aira yang sejak tadi hanya menunduk sambil terisak, langsung mengangkat wajahnya yang bersimbah air mata begitu mendengar satu suara yang tidak asing menyebut namanya.
Saat melihat wajah pemuda itu, tangis Aira kian pecah.
Di depannya kini, sosok tinggi itu berdiri dengan kokoh. Meski wajahnya sedikit tersembunyi di balik topi, Aira tahu dia adalah Rakha. Seseorang yang selalu menjadi teman baiknya dalam situasi dan kondisi apapun.
"Aira, kamu kenapa?" Tanya Rakha saat menyadari bahwa ada yang aneh dari gelagat Aira.
Rakha berjalan mendekati Aira. Dan semakin hancurlah hati Rakha saat tahu bahwa Aira sedang menangis tersedu.
"Ra?" Panggil Rakha sekali lagi.
Namun hanya isakan yang terdengar.
Hati Rakha yang sudah hancur, sekarang seakan teriris mendengar suara isakan Aira yang menyayat. Namun meski Aira tidak mengatakan apa penyebabnya, Rakha tahu, hanya ada satu orang yang mampu membuat Aira menangis sampai seperti ini. Orang itu tentu saja adalah Calvien Nicolas.
Tanpa sepatah kata lagi, Rakha menarik pelan kepala gadis itu dan membiarkan wajahnya bersembunyi di dadanya yang bidang. Dalam dekapan Rakha, tangis dan isakan Aira semakin kuat dan kian menyayat.
'Ra, kamu inget kan perkataan aku lima tahun yang lalu? Kapanpun dia bikin kamu patah hati, aku akan jadi orang pertama yang datang ke kamu. Sekarang aku sudah datang, Ra.' Lirih Rakha dalam hati.
Rakha lalu semakin mempererat pelukannya meski Aira tidak membalas, seakan tidak ingin melepaskan Aira lagi.
"Jangan harap aku akan melepaskan kamu lagi buat dia."
...****...
Pagi-pagi sekali, manager Rakha tiba-tiba saja datang ke apartemennya lalu memaksa Rakha yang saat itu masih tertidur untuk segera bangun. Sang Manager menarik keras lengan Rakha hingga membuat pria bertubuh jangkung itu akhirnya bangkit dari posisi tidurnya.
"Mas Dave ada apa, siiih? Pagi-pagi udah bikin keributan?" Gerutu Rakha dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Bukan gue yang bikin keributan, Rakha! Tapi elo yang baru saja menggemparkan satu negeri dengan skandal kencan lo dengan seorang gadis."
"Skandal kencan gimana? Mas Dave jangan ngawur, deh. Gue masih ngantuk ini."
Saat itu Rakha benar-benar kelelahan. Setelah mengurus kelulusannya, dia masih harus menghadapi beberapa pertandingan. Dan semalam, ia baru bisa pulang ke apartemennya saat waktu hampir menunjukkan pukul satu pagi setelah ia menemani Aira. Dia hanya ingin istirahat sebentar saja, tapi managernya yang tidak pengertian ini justru mengganggu waktu istirahatnya.
"Rakha, gue bilang bangun!" Sekali lagi Mas Dave menarik tangan Rakha, "lo lihat, nih! Rumor kencan lo sudah memenuhi semua portal berita." Lanjut Pak Dave seraya menyerahkan sebuah i-Pad untuk Rakha.
Dan mata Rakha yang tadinya mengantuk, langsung terbuka lebar saat melihat fotonya dengan Aira yang semalam sedang berpelukan terpampamg di halaman utama dengan headline: "KEKASIH TOP STAR RAKHADITYA ARYA"
Rakha pun membaca artikel itu dan kembali menemukan beberapa fotonya bersama Aira. Ada foto ketika mereka bermain layangan dan memakan steak di Marvi River beberapa waktu yang lalu, dan ada juga foto saat dirinya dan Aira pergi ke festival lampion bersama. Yang melegakan bagi Rakha adalah, wajah Aira tidak diperlihatkan dalam foto-foto tersebut karena memang angle-nya sengaja diambil dari belakang. Tapi yang lebih mencengangkan bagi Rakha adalah, ternyata rumor kencannya mendapatkan banyak respon positif dari para penggemarnya.
"Padahal yang keliatan cuma punggungnya, tapi cantiknya nggak ketutupan."
"Nggak perlu liat wajahnya, nggak perlu tahu identitasnya, tapi yang pasti mereka pasangan serasi. Auranya luar biasa."
"Rakha ~ terima kasih sudah berjuang keras selama ini untuk mengharumkan nama negara. Sekarang nikmatilah masa mudamu dengan gadis itu. Kamu layak bahagia. Aku akan selalu mendukung setiap langkah Top Star Rakhaditya Arya."
Rakha tersenyum tanpa peringatan setelah membaca beberapa komentar dukungan untuk dirinya dan Aira. Melihat itu, tentu saja Mas Dave merasa heran.
"Rakha, kamu sedang terlibat skandal, kenapa malah senyum-senyum sendiri?"
Kali ini Rakha menyerahkan kembali i-Pad tadi pada Mas Dave sebelum akhirnya kembali tidur sambil menaikkan selimutnya.
"Bukan masalah besar, Mas Dave. Toh juga, mukanya nggak keliatan. Privasinya dijaga oleh reporter karena dia cuma orang biasa dan bukan dari kalangan selebriti atau sesama atlit."
"Jadi, dia benar-benar pacar lo?" Tanya Mas Dave untuk mengkonfirmasi.
"Belum, Mas Dave. Tapi dia akan segera jadi pacar gue." Jawab Rakha dengan yakin.
"Terus, gue mesti bilang apa ke media?"
"Bilang aja kalau kalian tidak bisa menjawab karena itu urusan pribadi gue. Dan satu lagi...."
"Apa?"
"Kalau ada yang berusaha membocorkan identitas cewek gue, segera ajukan tuntutan hukum!"
...****...
"Tante dan Om minta maaf, ya, Na. Maaf karena selama ini Tante dan Om nggak punya keberanian buat ngasih tahu kamu yang sebenarnya. Kami benar-benar tidak memiliki maksud jahat di balik semua ini, dan kami tulus sayang sama Nana." Ucap Regina dengan penuh rasa sesal di hadapan Aira.
Saat itu, Regina datang ke apartemen Aira untuk memastikan bahwa gadis itu dalam keadaan baik-baik saja setelah semua hal yang terjadi akhir-akhir ini.
"Nana paham, Nana mengerti dengan alasan Om dan Tante, tapi Nana butuh waktu untuk memulihkan rasa sakit dan luka di hati Nana sekarang. Kebenaran yang baru Nana tahu itu, benar-benar membuat Nana sangat terpuruk." Lirih Aira dengan suara bergetar tanpa menatap lawan bicaranya.
Hati Aira benar-benar tidak sanggup untuk menatap wajah Regina secara langsung. Aira mempercayai apapun yang Regina katakan. Aira percaya bahwa apapun yang mereka lakukan itu semua untuk kebaikannya. Namun tetap saja, bukan berarti Aira bisa menghindar dari perasaan kecewanya.
"Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan, Na. Kami semua akan selalu menunggu untuk Nana. Kami semua juga sadar, bahwa kami tidak memiliki hak untuk memaksakan kamu memaafkan kesalahan kami. Tapi, kalau boleh Tante minta tolong, jangan terlalu benci sama Nico, ya? Jangan juga tinggalkan Nico. Saat ini, baik kamu ataupun Nico sedang sama-sama tidak memiliki pegangan, akan lebih baik─"
"Bagaimana bisa Tante mengatakan bahwa Nico tidak memiliki pegangan di saat dia masih memiliki kedua orang tua lengkap?" Sela Aira. Tanpa bisa ia tutupi, perkataan Regina barusan benar-benar menusuk di jantungnya.
"Na..."
"Saat ada seseorang di depan mata Tante yang seluruh kehidupannya dihancur-leburkan, yang kedua orang tuanya dibunuh secara tidak adil, bagaimana bisa Tante membandingkannya dengan seseorang yang masih memiliki orang tua lengkap? Itu adalah tindakan yang paling egois. Nana tahu, bahwa di masa lalu Tante dan Nico pernah mengalami masa-masa yang sulit karena orang itu, tapi hanya karena kalian pernah terluka, bukan berarti Tante bisa mengatakan hal itu di hadapan Nana sekarang." Aira mengambil jeda untuk beberapa saat lalu melanjutkan, "dan masalah Nico... Nana sudah memohon sama Nico supaya kami bisa tetap bersama. Tapi Nico menolak, Nico melepaskan Nana begitu saja di saat Nana bahkan mengatakan bahwa Nana tidak peduli dengan Papa Kandungnya. Sekarang coba katakan, bagaimana bisa Nana mempertahankan seseorang yang tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk dipertahankan?"
"Nana, Tante nggak bermaksud buat─"
Aira menyeka air matanya lalu bangkit dari hadapan Regina. "Untuk sekarang Nana masih mau sendiri. Kalau nggak keberatan, Tante bisa pulang sekarang." Ucap Aira dengan dingin.
Tanpa Aira sadari, secara perlahan namun pasti ia mulai menutup jalan untuk bisa kembali bersama Nico. Jarak itu kembali terentang, menyisakan sakit tak terperi, dan bekas luka yang tak terobati.
^^^To be Continued...^^^