
"Aira, ayo keluar. Makan malam sudah siap." Ucap Evelyn yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar tamu yang ditempati oleh Aira.
Aira yang sejak tadi sibuk berkutat dengan ponsel di tangannya, langsung melihat ke arah pintu begitu tahu bahwa Mama Rakha datang memanggilnya.
"Baik, Tante." Jawab Aira dengan sopan, kemudian melepaskan ponselnya dan segera berjalan keluar dari kamar. Saat Aira sudah di pintu, Mama Rakha langsung merangkul pungggungnya lalu berjalan beriringan menuju lantai dasar untuk makan malam bersama.
Tadi sore, selepas Rakha menitipkan Aira pada Mamanya, pemuda itu langsung pergi begitu saja karena harus melakukan latihan untuk persiapan pertandingan. Berkali-kali setelah Rakha meninggalkannya, Aira terus mengirimkan pesan untuk Rakha. Rakha yang menyadari bahwa Aira sedang merasa canggung di rumah Mamanya langsung menelepon Aira, dan mengatakan bahwa ia akan segera kembali. Bahwa Aira tidak perlu mencemaskan apapun karena semuanya akan baik-baik saja.
"Kamu pasti canggung, ya, sama Tante?" Ucap Mama Rakha saat ia dan Aira sedang makan malam berdua.
"Hehehe... sedikit," jawab Aira dengan singkat dan jujur yang langsung disambut oleh senyuman hangat dari Mama Rakha.
"Kamu tahu kenapa Rakha bawa kamu ke sini?"
Aira yang sesaat lalu sibuk mengaduk makanan di depannya pun segera mengangkat wajahnya dan menatap lawan bicara di depannya.
"Karena Rakha nggak mau lihat Aira diganggu sama wartawan?" Jawab Aira ragu-ragu.
Kali ini Mama Rakha menggelengkan kepalanya, lalu menjelaskan, "kalau seorang atlit atau selebriti terkena skandal kencan dengan orang biasa, maka para wartawan akan menjaga privasi orang tersebut. Jadi, bukan itu alasannya."
"La─lalu?"
"Itu hanya alasan Rakha supaya kamu bisa bertemu dengan Tante."
Aira mendadak salah tingkah tanpa ia sadari. Ia pun kemudian menggaruk kepalanya pelan dengan satu senyuman tertahan di wajahnya.
"Anak Tante bener-bener jatuh cinta sama kamu, Naira. Dia bahkan meminta pada orang-orang di agensinya untuk menuntut wartawan atau penggemar yang berusaha mencari dan mengungkapkan identitas kamu."
"Rakha... dia, memang selalu menjadi teman terbaik untuk Aira selama ini."
"Jadi, Rakha akan tetap menjadi teman buat kamu?"
Aira kali ini bingung bagaimana harus menjawab. Dia tentu tidak bisa menceritakan secara gamblang bahwa ia baru saja putus dengan pacarnya, yang juga adalah sahabat terdekat Rakha, karena satu permasalahan yang begitu berat. Aira tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan hal-hal semacam itu pada seseorang yang tidak begitu dekat dengannya.
"Saat nanti hati kamu sudah siap, tolong pertimbangkan perasaan Rakha, ya? Tante sudah cukup lama meninggalkan Rakha dan membiarkan dia tinggal bersama Papanya yang memiliki sikap dingin dan keras dalam mendidik. Tante sempat khawatir kalau-kalau nantinya dia bingung bagaimana cara mencintai seseorang, tapi kekhawatiran Tante itu akhirnya terpatahkan saat tahu bahwa Rakha jatuh cinta sama kamu, Ra. Kamu banyak memberikan tawa dan kebahagiaan untuk Rakha di saat dia hidup di bawah tekanan Papanya. Itulah kenapa Tante sangat bersyukur setelah tahu bahwa orang yang Rakha sayangi adalah kamu."
Aira terdiam cukup lama, sebelum akhirnya kembali menatap Mama Rakha, dan berkata, "untuk sekarang, Aira tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi Aira akan berusaha untuk membalas perasaan tulus Rakha sama Aira selama ini. Selama ini Rakha sudah melakukan banyak hal untuk Aira. Tanpa Rakha, Aira nggak mungkin sekuat sekarang."
...****...
Aira sedang duduk di beranda depan bersama Mama Rakha saat sebuah mobil berwarna hitam tiba-tiba saja memasuki gerbang dan berhenti di pekarangan. Melihat mobil tersebut, Mama Rakha tersenyum lalu berujar, "teman-teman kamu sudah datang. Rakha yang bawa mereka kemari."
Aira serta-merta bangkit dari kursinya saat melihat Bia, Sheryl, dan Yumi yang keluar dari dalam mobil satu per satu. Aira lantas menghampiri mereka, lalu memeluk mereka bertiga sekaligus. Sejak mereka kembali dari Pulau Banu, ini pertama kalinya mereka bertemu lagi secara langsung. Terus terang saja, Aira sangat merindukan sahabat-sahabatnya.
"Elo sepertinya udah baikan, Ra." Simpul Bia saat melihat wajah Aira yang sudah tidak sesendu sebelumnya.
Aira tersenyum, meski tidak demikian tetapi dia berharap supaya bisa kembali baik-baik saja seperti semula. Aira tahu pasti, bahwa kedua orang tuanya juga pasti mengharapkan yang sama dengannya.
Setelah menyapa Mama Rakha, mereka semua pun dipersilahkan untuk berkumpul di halaman belakang sambil menikmati sebuah sajian yang memang sudah dipersipkan khusus untuk mereka.
"Kalian semua santai saja, ya? Anggap ini rumah kalian sendiri." Ucap Mama Rakha dengan ramah.
"Terima kasih, Tanteeee!" Jawab Bia, Sheryl dan Yumi secara bersamaan.
Setelah Mama Rakha pergi dari hadapan mereka, Sheryl langsung berdecak kagum melihat betapa cantiknya Evelyn Lim jika dilihat dalam jarak sedekat ini.
"Fix, mulai sekarang gue mau jaga badan. Biar nanti pas gue udah masuk usia 40-an gue bisa tetep secantik Tante Eve."
Dan selama mereka berkumpul, tidak satupun dari Bia, Sheryl, dan Yumi yang mengungkit soal kejadian di Pulau Banu beberapa waktu lalu. Kehadiran mereka saat itu benar-benar hanya untuk menghibur Aira semata.
"Eh, ponsel gue lowbat, nih. Ra, gue numpang nge-charge, ya?" Kata Yumi.
"Oh, ya udah. Kamu naik aja ke lantai dua. Kamar aku tepat di samping jendela. Atau perlu aku anterin?" Tawar Aira.
"Nggak perlu, Ra. Lo diem aja di sini. Gue bisa sendiri."
"Oke."
Beberapa saat setelah Yumi beringsut dari kursinya, ia pun serta-merta menghentikan langkahnya saat mendengar Bia menggoda Aira.
"Ciyee, Airaaa! Lo udah keliatan kayak menantu di rumah ini, tahu nggak?"
"Ck, apaan sih, Bi? Nggak usah lebay." Sahut Aira yang jelas-jelas terdengar salah tingkah dalam pendengaran Yumi.
Beberapa saat kemudian, Yumi langung menarik nafas perlahan dan kembali melanjutkan langkahnya yang baru saja terhenti.
"Eh, iya! Dari tadi, Yumi nggak ada bahas soal skandal kencan gue sama Rakha?" Tanya Aira yang sejak tadi memang paling mengkhawatirkan hal itu.
"Nggak. Yumi nggak bilang apa-apa. Gue sama Bia juga nggak berani gegabah buat ngebahas hal itu di hadapan Yumi. Kita semua tahu gimana Yumi lah, soal isi hatinya dia benar-benar tertutup. Dan itu sudah masuk ke dalam ranah yang nggak bisa kita sentuh seenaknya sekalipun Yumi sahabat dekat kita." Jawab Sheryl.
"Lagian kita semua juga langsung tahu kalau berita itu bohong. Kita tahulah, kalau cuma Nico yang lo sayang." Bia menambahi.
Aira memilih untuk tidak menanggapi perkataan terakhir Bia. Namun entah kenapa, hati kecilnya seolah menolak gagasan Bia soal perasaannya terhadap Nico.
...****...
"Yum, kok diem di sini?"
Suara milik Aira langsung menarik Yumi dari lamunan panjangnya. Yumi segera menoleh dan melihat ke arah Aira yang saat itu sudah duduk di sebelahnya dengan satu senyuman yang dipaksakan.
"Ini, gue baru selese nelepon Mama gue, Ra." Alibi Yumi yang sebenarnya dari tadi hanya berusaha untuk tidak terlibat dalam obrolan ketiga sahabatnya.
Sebisa mungkin Yumi ingin menghindar dari hal-hal yang hanya akan membuatnya sakit hati. Setidaknya, ini satu-satunya cara yang bisa Yumi lakukan untuk menyelamatkan hatinya.
"Oh, ya... Soal skandal itu─"
"Tenang aja, Ra. Gue tahu kalo berita itu nggak bener. Elo sendiri gimana setelah terlibat skandal sama Rakha?" Yumi menahan senyumnya setelah menyelesaikan perkataannya. Ia seperti sengaja ingin menggoda Aira, persis seperti yang Bia lakukan tadi.
"Yumiiii!!" Aira berpura-pura geram yang kontan saja membuat Yumi akhirnya memecahkan tawanya.
"Hahaha, kan udah gue bilang sama elo, lo nggak perlu ngerasa bersalah sama gue. Memangnya kenapa kalo gue suka sama Rakha, tapi Rakha sukanya sama lo? Ra─" Yumi memberikan jeda. Ia lantas meraih kedua tangan Aira dan melanjutkan, "mulai sekarang lo nggak perlu mencemaskan perasaan gue. Urusan hati gue, biar gue yang menanganinya sendiri. Lo nggak perlu mengambil tanggung jawab apapun untuk sesuatu yang bukan kesalahan lo. Setelah semua yang terjadi, gue cuma mau lihat lo bahagia. Dan gue tulus dengan itu."
Aira hanya menunduk sambil mendengarkan. Tidak terasa air matanya menetes perlahan di wajahnya. Sekarang, dia sungguh merasa sangat bersyukur karena mempunyai sahabat seperti Bia, Sheryl, dan utamanya Yumi.
Yumi pun menyentuh kedua bahu Aira hingga membuat Aira menatap padanya dengan linangan air mata yang tidak terbendung. Yumi lantas mengusap air mata sahabatnya dengan lembut, sambil berkata, "gue tahu, kalau skandal kencan lo sama Rakha itu nggak bener. Tapi gue juga percaya, kalau hati lo sekarang sudah mulai lo serahkan sama Rakha. Oke, mungkin lo masih bingung antara Rakha dan Nico, tapi nanti secara perlahan hati lo akan menunjukkan kebenarannya. Dan apapun kebenaran yang ada di hati lo, gue akan selalu ngedukung elo, Ra."
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Aira langsung menghempaskan tubuhnya ke dalam dekapan Yumi, dan menangis sejadi-jadinya di sana.
"Gue nggak apa-apa, Ra. Selama elo dan Rakha bisa bahagia, gue juga bahagia." Lirih Yumi dengan hati penuh kelapangan sambil dengan lembut mengusap rambut sebahu milik Aira.
^^^To be Continued...^^^