
"I will never, ever regret the things I've done. Because most days, all you have are places in your memory that you can go to."
^^^-Jojo Moyes, Me Before You^^^
...****...
Rakha, Aira, Rio, Yumi, Natta, dan Bia terlihat sedang berkumpul bersama di satu meja yang sama di Coffee Shop milik Rio, sambil membahas kisi-kisi ujian Bahasa Inggris yang menjadi mata pelajaran terakhir yang diujikan pada ujian tengah semester besok pagi. Semuanya tampak serius. Sesekali mereka terlihat berdiskusi, dan sama-sama memecahkan permasalahan yang tidak mereka pahami. Dan Rakha di sana, membantu kawan-kawannya.
Saat mereka tengah asyik berkutat dengan kesibukan mereka, Nico, Nana, dan Sheryl datang secara bersamaan dan menghampiri mereka. Sheryl terkejut begitu melihat Natta ada di tengah-tengah mereka. Belakangan ini, Natta memang jarang bergabung setiap ada belajar kelompok, itulah kenapa tadinya Sheryl berfikir bahwa Natta tidak datang.
Menyadari bahwa Sheryl hendak pergi, Natta buru-buru menahan pergelangan tangan Sheryl sambil tetap fokus mencatat sesuatu di buku catatannya. Apa yang Natta lakukan itu, tentu saja membuat kawan-kawannya yang ada di sana merasa sedikit heran. Natta lantas menggeser posisi duduknya seraya berkata, "duduk aja. Jangan pergi."
Sheryl sudah akan mengelak saat tiba-tiba Yumi bangkit dari kursinya dan membuat Sheryl duduk di samping Natta dengan paksa. Di saat-saat seperti ini, jiwa preman Yumi memang sangat bermanfaat.
"Udah lo diem aja. Jangan buat keributan. Kita semua lagi sibuk ini." Ujar Yumi sebelum akhirnya kembali ke tempat semula.
Nico lalu secara natural mengambil posisi di samping Aira, sedangkan Nana yang sudah mulai peka sengaja mengalah lalu duduk di samping Bia, dan berhadapan langsung dengan Nico. Nana seakan menjadi penonton, sementara Nico dan Aira yang duduk berdampingan tepat di hadapannya menjadi sang tokoh utama hari ini.
Aira terlihat berusaha tersenyum ramah pada Nana, yang langsung disambut juga dengan senyuman dan lambaian tangan dari Nana.
Tak hanya sampai di situ, ketika Nana mengangkat wajahnya dari buku cetak yang ia baca, secara tidak sengaja, pandangannya tertuju pada gesture lembut Nico yang mendorong pelan piring camilan ke hadapan Aira. Aira menoleh ke arah Nico, Nico pun melakukan hal yang sama sambil berucap tanpa volume pada Aira; 'makan dulu' .
Aira pun menyantap salah satu cup cake yang ada di piring itu, lalu kembali mendorong pelan piring itu ke hadapan Nico dengan isyarat supaya Nico mengambil camilan juga.
Nana tersenyum perih menyaksikan pemandangan yang cukup manis itu. Baik Nico ataupun Aira, mereka sama-sama terlihat natural saat melakukan segala halnya. Dari cara mereka saling memperhatikan satu sama lain, siapapun tahu bahwa mereka sudah sangat dekat sejak lama.
"Sher, kalau Natta nggak mau balikan sama lo, lo jadian sama gue aja." Ucap Rio tiba-tiba yang sengaja ingin memanasi Natta. Namun Natta yang berusaha ia panasi, justru terlihat tidak peduli dan tetap fokus dengan catatannya.
Saat yang lainnya tertawa mendengar guyonan Rio, Sheryl serta-merta melemparkan puplennya ke arah Rio dengan tatapan ingin membunuh. Namun Rio dengan sigap berhasil menangkap puplen itu. Rio lalu menjulurkan lidahnya dan berkata, "nggak kena."
"Udah, Yo! Mundur aja. Saingan lo masa lalunya. Berat." Celetuk Rakha yang kembali membuat semua yang ada di sana tertawa, kecuali Sheryl dan Natta tentu saja. Kali ini Sheryl melempar kunci motor milik Rio ke arah Rakha, dan lagi-lagi gagal karena berhasil ditangkap oleh Rakha.
Selain Sheryl dan Natta, ada juga Nana yang sama sekali tidak tertawa mendengar celetukan Rakha barusan. Alih-alih tertawa, Nana justru merasakan bahwa celetukan Rakha yang asal-asalan itu telah memukul telak dadanya tanpa ampun. Nana merasa tersentil tanpa alasan.
"Mundur aja. Saingan lo masa lalunya. Berat."
Perkataan itu terus berpendar dalam fikiran Nana tanpa henti. Namun meski begitu, Nana tetap berusaha terlihat tenang dan kembali fokus dengan materi yang sedang ia pelajari saat ini.
Nana menghela nafas panjang agar dadanya bisa sedikit lega. Ia pun kembali menyunggingkan senyum di wajahnya, dan ikut tertawa begitu yang lainnya kembali tertawa meledek Sheryl dan Natta.
...****...
Setelah hubungan antara Nico dan Aira membaik lagi, mereka mulai menjalani hari-hari seperti sebelumnya. Mereka bercanda, makan bersama, mengobrol lagi pada pukul dua pagi ketika Aira tidak bisa tidur, dan berolahraga pagi berdua lagi seperti sebelum-sebelumnya. Aira berusaha memahami posisi Nico, begitu juga Nico yang berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan apapun pada Aira.
"Masuk!" Sahut Nico sembari tetap asyik memainkan sebuah game di ponselnya ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Sesaat kemudian, pintu terbuka dan menyembullah Aira dari balik pintu, "Nic, boleh pinjem flashdisk, nggak? Aku mau pindahin file buat tugas presentasi besok. Flashdisk punya aku nggak tahu di mana, padahal udah aku cariin." Ujar Aira sembari membawa laptopnya yang masih dalam keadaan terbuka.
"Itu di meja belajar. Ambil aja sendiri." Jawab Nico sambil tetap fokus dengan game-nya.
Aira mendekat ke arah meja belajar Nico. Setelah menemukan apa yang ia cari, ia lalu duduk di sebuah sofa yang posisinya membelakangi tempat tidur Nico. Aira menyambungkan flashdisk itu pada laptopnya. Dan saat ia tengah meng-copy file, perhatiannya tiba-tiba tertuju pada file yang Nico beri nama '2009'.
Karena tidak bisa menahan rasa penasarannya, Aira diam-diam membuka file itu. Dan tawanya seketika pecah saat melihat foto-foto masa SMP Nico dengan gaya alay-nya.
"Hahahaha, pernah alay juga, Nic?"
Tawa Aira itu langsung saja mengagetkan Nico. Ketika sadar apa yang sedang Aira lihat, Nico terperanjat, dan buru-buru meloncat dari tempat tidurnya untuk menghentikan Aira, sebelum ia melihat lebih jauh lagi.
Menyadari bahwa Nico akan menghampirinya, Aira buru-buru mencabut flashdisk itu dari laptop-nya. Dan tepat ketika Aira akan melarikan diri, Nico lebih dulu berhasil menghentikannya.
"Aira, balikin nggak?" Ucap Nico sambil berusaha merebut flashdisk itu dari tangan Aira.
Aira mengangkat lengannya lalu sedikit menjauhkannya agar Nico tidak bisa meraihnya. Aira ingin kabur, tapi posisinya sekarang telah ditahan Nico dan membuatnya susah mencari celah.
Secara tidak sadar, Nico menambah kekuatannya hingga membuat Aira terpojok di sudut sofa dengan tubuh yang sudah menempel dengan tubuh Nico. Wajah mereka pun hanya berjarak beberapa senti saja. Saat itu, Aira langsung menghentikan tawanya dengan lengan yang masih terangkat. Begitu juga Nico yang otomatis menghentikan gerakannya.
Mereka sama-sama membeku. Tawa Aira dan suara Nico sudah tidak terdengar lagi. Dan mendadak, tatapan Nico berubah lembut.
Degh!
Di waktu yang bersamaan, jantung Aira langsung bereaksi.
Nico dapat merasakan getaran itu. Suara deguban jantung mereka kini saling beradu. Waktu seolah berhenti pada detik itu, ketika mereka sama-sama bisa merasakan nafas mereka yang hangat menyapu wajah masing-masing.
Lalu saat Aira lengah, Nico langsung menemukan celah. Dengan gerakannya yang tak kalah lembut dengan tatapannya sekarang, tangannya secara perlahan mendaki lengan Aira yang terangkat. Ia pun berhasil mengambil alih flashdisk itu. Tangannya secara natural menurunkan lengan Aira yang terangkat. Saat tangan mereka bersatu, dan jatuh dengan pelan di sofa, Aira dapat merasakan wajah Nico semakin dekat dengan wajahnya.
Satu...
Tanpa sadar Aira semakin erat mengenggam tangan Nico.
Dua...
Matanya terpejam perlahan, menanti dengan berdebar apa yang akan terjadi berikutnya.
Dan, tiga...
Ia tiba-tiba merasakan Nico menoyor kepalanya sambil berkata, "makanya jangan suka iseng! Lagian ngapain pake tutup mata segala?"
Aira membuka matanya. Ia mendengus kesal melihat Nico yang tampak santai-santai saja dengan senyuman jahatnya itu. Apa Nico tahu apa yang baru saja ia lakukan pada Aira? Jantung Aira nyaris meledak dibuatnya.
"Kita satu sama, Naira Kelana!" Ledek Nico sambil mengusap-usap rambut Aira. Ia melakukan itu seolah ia sedang mengusap Snowy –kucing kesayangan Aira.
Aira yang sudah merasa sangat kesal, bercampur malu, langsung menepis tangan Nico dengan kasar dari kepalanya. Ia lantas bangkit, dan menginjak kaki Nico sekuat tenaga, hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
Aira melangkah keluar dari kamar Nico sambil membanting pintu, diiringi oleh gelak tawa Nico.
Dan begitu Aira sudah menghilang dari pandangannya, Nico tiba-tiba menghentikan tawanya sambil menatap hampa ke arah pintu. Ia lalu menghela nafas pelan. Berusaha mengontrol detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
...****...
Malam itu Nana memasuki kamar Ibunya sambil membawa bantalnya. Ia lalu tidur di samping Ibunya, dan memeluk Ibunya dengan erat. Ibunya yang baru saja akan terlelap, tiba-tiba terkesiap, dan berbalik ke arah Putri semata wayangnya itu.
"Nana ngagetin Ibu aja, ih!" Ucap Ibunya sembari mendaratkan pukulan pelan di lengan Nana yang memeluk perutnya.
"Nana mau tidur sama Ibu aja malam ini." Nana semakin mengeratkan pelukannya. Ia lalu menenggelamkan wajahnya di dada sang Ibu. Ibunya hanya tertawa kecil, lalu balas memeluk Nana.
"Kenapa? Masih galau nentuin pilihan mau kuliah di sini sama Nico, atau mau lanjutin beasiswa ke Jerman?"
"Nana sepertinya udah punya keputusan." Jawab Nana pelan dengan wajah yang masih bersandar nyaman di dada Ibunya yang hangat.
Sejak kecil, Nana hanya tinggal berdua dengan Ibunya. Ayahnya meninggal saat Nana masih berusia enam tahun. Dan sejak saat itu juga, Nana harus bisa membiasakan diri dengan keadaan keluarganya yang serba kekurangan. Kebutuhan hidup mereka, ditanggung oleh dana pensiun mendiang Ayah Nana yang masih rutin mereka terima setiap bulan. Di samping itu, Ibunya bekerja sebagai Penjahit untuk bisa membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.
Kehidupan Nana tidak seperti gadis remaja lainnya. Ia dapat bersekolah di SMA Patuh Karya juga karena mendapatkan beasiswa. Selama ia hidup, ia hanya mengandalkan otaknya. Tidak seharipun ia lewati tanpa belajar mati-matian. Namun meski begitu, Nana tumbuh menjadi gadis remaja yang memiliki keperibadian yang baik. Ia memiliki teman-teman yang bisa menerimanya tanpa memperdulikan latar belakangnya. Dan juga, tentu saja ia memiliki pacar yang manis seperti Nico. Sampai di sini, Nana merasa cukup, dan selalu bersyukur. Tidak sekalipun ia pernah menyesali kehidupan yang ia jalani sekarang.
"Bu, Nana janji sama Ibu. Suatu saat Nana bakalan jadi orang kaya, dan bisa penuhi semua keinginan Ibu. Tunggu Nana jadi orang sukses, ya, Bu?"
Ibunya tertawa lagi. Ia lalu mengecup kening Nana, dan mulai memejamkan matanya untuk tidur. Sementara Nana, tanpa sepengetahuan Ibunya, ia meneteskan air mata dalam dekapan Ibunya.
Nana sudah mengambil keputusan soal pendidikanya. Tidak peduli meski ia sangat menyukai Nico, ia memiliki Ibu yang harus ia bahagiakan, dan harus ia penuhi mimpi-mimpinya. Dan Nana tidak akan pernah menyesali pilihan apapun yang ia ambil di masa lalu, ataupun di masa sekarang. Nico pernah menjadi bagian dari setiap momennya. Dan meskipun Nico mungkin tidak akan ada lagi pada momen-momennya di masa depan, Nana bahagia dengan hanya mengingat setiap momen yang pernah ia lalui bersama Nico di masa lalu.
Lagipula sejak awal, hati Nico tidak pernah ada bersamanya, bukan?
^^^To Be Continued...^^^