We, From The First

We, From The First
#30. Kecurigaan Bianca



Sheryl berdiri di depan sebuah minimarket dan memperhatikan Natta yang saat itu tengah fokus melayani pelanggan dari belakang meja kasir. Ketika pelanggan yang tadi Natta layani keluar dari minimarket, perhatian Natta langsung tertuju pada Sheryl. Mereka saling memandang dari kejauhan.


Beberapa saat kemudian, Sheryl sudah duduk di salah satu meja yang terdapat di depan Mini Market. Natta lalu keluar membawakan sebotol yoghurt leci favorit Sheryl dan duduk di hadapannya.


"Minum dulu, nih." Ujar Natta sambil menyerahkan yoghurt itu setelah sebelumnya ia membukakan tutup botolnya untuk Sheryl.


"Makasih, Nat." Jawab Sheryl seadanya. Ia lalu menerima yoghurt pemberian Natta dan meminumnya.


"Ada apa?" Tanya Natta to the point.


"Nat?"


"Hm?" Jawab Natta dengan pandangan yang tidak lepas dari Sheryl.


"A—aku minta maaf, ya? Maaf karena udah ngejauhin kamu selama ini, padahal situasi kamu sekarang lagi nggak enak. Aku egois. Aku salah."


Tiba-tiba Natta merasa lega setelah Sheryl meminta maaf padanya, yang itu berarti menandakan bahwa masalah di antara mereka sudah terselesaikan.


Natta tersenyum. Ia meraih kedua tangan Sheryl lalu menggenggamnya, "kamu nggak usah minta maaf. Aku yang salah karena nggak pernah mau berbagi sama kamu. Aku yang egois. Dan.. terima kasih karena kamu udah mau nemuin aku di sini."


"Iel?"


Dan Natta merasa jauh lebih lega lagi ketika Sheryl kembali memanggilnya dengan panggilan 'Iel'. Bagi Natta sekarang, tidak ada yang lebih membahagiakan dari hal itu.


"Hm?"


"Aku kangen sama kamu. Maafin aku." Lirih Sheryl sambil tetap menunduk.


Natta kemudian mengangkat tangan Sheryl yang berada dalam genggamannya, lalu mengecupnya sekilas.


"Aku juga kangen sama kamu. Maafin aku juga, ya?"


"Janji, ya? Mulai sekarang kamu harus terbuka sama aku. Apapun masalahnya, jangan melarikan diri. Kita selesein bareng-bareng."


Natta menganggukan kepalanya lalu berkata, "iya. Aku janji sama kamu, Sher. Aku nggak akan kayak gitu lagi."


...****...


Keesokan paginya, Natta dan Sheryl datang secara bersamaan ke sekolah dan sukses membuat sahabat-sahabat mereka terheran-heran. Barulah ketika mereka mengumumkan bahwa mereka sudah kembali berpacaran lagi, semuanya semakin heboh tak terkendali. Saat itu, mereka semua sedang berkumpul di kelas Natta. Bahkan Rakha, Rio, dan Bia secara terang-terangan meminta 'Pajak Balikan', yang tentu saja hal itu langsung mendapatkan penolakan keras dari Sheryl. Sementara Natta, ia sama sekali tidak tertarik untuk meladeni kegilaan sahabat-sahabatnya.


Di tengah kegaduhan sahabat-sahabatnya, Natta tiba-tiba saja menerima pesan singkat dari Papanya. Pesan singkat itu berisi;



Senyum yang sejak tadi tergambar di wajah manis Natta tiba-tiba memudar. Setelah semua yang terjadi, ia tidak berharap Papanya akan memintanya untuk menemuinya lagi. Itulah kenapa sekarang, Natta merasa mood-nya agak sedikit terganggu.


"Jangan mentang-mentang udah balikan, terus kalian malah keasyikan pacaran. Kita sudah kelas XII sekarang." Ucap Nico dengan menyebalkannya yang tiba-tiba saja memasuki kelas bersama Aira.


Perhatian mereka semua kini beralih pada sosok Nico dan Aira, tidak terkecuali Rakha. Rakha terdiam untuk sejenak, sebelum akhirnya ia memberi kode agar Aira mendekat padanya. Aira yang memang tidak banyak berfikir mengenai tingkah Rakha, langsung saja mengikuti kode Rakha dan mendekat. Kali ini, giliran Nico yang tampak terdiam. Ia mendadak merasa sesuatu telah dicuri darinya.


"Tunggu dulu! Gue baru engeh sekarang, deh." Kata Bia. Sesuatu mengenai Nico dan Aira tiba-tiba muncul di kepalanya.


Bia, Yumi, dan Sheryl memang belum tahu bahwa Aira tinggal di rumah Nico. Itulah kenapa, setelah dari sebelum-sebelumnya mengingat bahwa Aira cukup sering datang ke sekolah bersama Nico, Bia mulai merasa ada yang janggal. Belum lagi setiap kali Bia dan yang lainnya ingin ke rumah Aira, Aira selalu saja menolak dan memberikan banyak alasan.


"Kenapa kalian berdua sering dateng barengan? Kalian tinggal bareng, ya?"


Bia seperti baru saja melepaskan sebuah granat. Situasi pun berubah tegang untuk beberapa saat. Yumi, Sheryl, dan Bia tentu saja menatap Aira dengan pandangan bertanya. Sementara Rakha, Rio, dan Natta yang sudah mengetahui apa yang sebenarnya langsung memasang wajah was-was. Jika Bia sudah curiga, maka segalanya sedang tidak baik-baik saja.


"Hahahahaha!"


Benar saja, tawa Rio itu berhasil mengalihkan perhatian mereka.


"Bisa aja lo, Bii! Ya kali mereka tinggal bareng. HAHAHAHAHA..."


Tawa Rio semakin terdengar agak memaksa. Tidak ingin Rio berjuang sendiri menutupi rahasia Nico dan Aira, Rakha dan Natta pun ikut tertawa bersama Rio meski agak canggung.


Yumi dan Sheryl yang tadinya mulai curiga, sekarang kembali biasa saja dan malah ikut tertawa bersama Rio CS. Mereka bahkan berfikir bahwa Bia terlalu mengada-ada. Namun tidak demikian dengan Bia. Ia tetap merasa ada yang aneh sekarang.


Begitu bel tanda masuk berdering, mereka langsung membubarkan diri dan segera kembali ke kelas masing-masing. Dan di saat itu juga, Rakha buru-buru menyusul Nico. Ia merasa bahwa ia perlu berbicara dengan Nico sekarang juga. Ini menyangkut Aira, dan ia tidak bisa menundanya lagi.


"Nic!"


Mendengar Rakha memanggilnya, Nico langsung berhenti lalu berbalik menatap Rakha.


"Ada yang mau gue omongin."


"Sekarang?" Tanya Nico agak sangsi.


Rakha yang tidak ingin membuang-buang waktu karena sadar ini sudah saatnya masuk kelas langsung berkata pada Nico, "ini soal Aira."


"Iya. Terus?"


"Bia sudah mulai curiga. Dan kita semua tahu, kan, gimana Bianca? Kalau anak itu sudah curiga, dia pasti akan menggali terus. Untuk itu, gue mau mulai besok, Aira berangkat ke sekolah sama gue untuk sementara waktu."


Nico terdiam cukup lama sembari memikirkan kata demi kata yang baru saja Rakha lontarkan padanya. Air mukanya mendadak keruh, dan otot-otot di wajahnya sedikit menegang. Entah kenapa, ucapan Rakha barusan membuatnya marah.


"Gue nggak mau!" Lirih Nico dengan dingin dan tegas.


Dan sungguh, setelah 3 tahun bersahabat dekat dengan Nico, ini kali pertamanya Rakha melihat 'sisi antagonis' seorang Nico.


"Nic?"


"Gue akan mengurus semuanya. Lo nggak usah khawatir. Lagian apa masalahnya kalo Bianca, Yumi, dan Sheryl tahu? Toh, mereka bersahabat, kan? Sudah saatnya mereka tahu."


"Gimana kalau semua orang tahu, dan mulai bergosip soal Aira? Gimana kalo mereka semua menyangkutkan hal ini dengan putusnya lo sama Nana?"


"Gue bilang gue akan mengurus semuanya, Rakha!" Bantah Nico dengan tegas dan lugas.


Otaknya mengerti tentang kekhawatiran Rakha sekarang, namun entah kenapa hatinya seperti menolak keras.


Rakha terdiam. Dan tepat ketika Nico berbalik pergi hendak kembali ke kelasnya, lagi-lagi Rakha menghentikannya dengan ucapannya, "apa lo suka sama Aira, Nic?"


Kali ini tidak terdengar jawaban apapun dari Nico. Ia pun melanjutkan langkahnya tanpa memberikan jawaban pada Rakha.


Secara perlahan, Rakha mengepalkan salah satu tangannya. Sepertinya, ia sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang tidak Nico jawab itu.


Kedua mata Nico sudah mengatakannya dengan sangat jujur.


"Jadi, Naira adalah kelemahan lo?" Ujar seseorang yang sejak tadi diam-diam memperhatikan dan mendengar pembicaraan antara Rakha dan Nico.


Ucapan itu ia arahkan pada Rakha.


^^^To be Continued...^^^