We, From The First

We, From The First
#62. Terjaga Dari Mimpi



Malam sebelumnya...


Ketika Nico dan Aira sedang menikmati kebersamaan mereka di taman tadi, hujan tiba-tiba saja turun dan mengguyur mereka. Jarak antara taman dan parkiran yang cukup jauh membuat pakaian mereka sama-sama basah kuyup. Dan entah diskusi apa yang telah terjadi di antara mereka sebelum akhirnya sepakat untuk kembali ke apartemen Aira yang jaraknya memang lebih dekat dari rumah Nico.


Setibanya di sana, Nico langsung mengganti pakaiannya. Untungnya, beberapa pakaian Nico masih Aira simpan dengan rapi, jadi Nico masih bisa mengganti pakaiannya. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Nico pun duduk di ruang tv sambil menonton sebuah tayangan variety show.


Beberapa saat kemudian Aira keluar dari kamarnya dengan menggunakan hotpans dan kaos longgar yang menutupi sebagian pahanya. Rambutnya yang masih dalam keadaan basah sengaja tidak ia keringkan karena malas. Dan Nico yang melihat penampilan Aira malam itu entah kenapa merasakan aliran darahnya berdesir.


Ini bukan kali pertamanya bagi Nico melihat Aira berpenampilan seperti itu semenjak mereka tinggal bersama, namun ada yang aneh dengan dirinya malam itu. Dan Nico merasa benar-benar tidak nyaman.


Nico berdehem pelan, berusaha menetralisir perasaan-perasaan aneh yang mulai menggerayangi dadanya tanpa peringatan. Ketika ia tidak lagi menemukan cara untuk menghalau gejolak dalam dirinya, Nico memilih bangkit dari samping Aira dan berjalan ke arah dapur.


“Aku lapar.” Ujarnya kemudian sambil membuka kulkas dua pintu di hadapannya.


“Nggak ada bahan apapun di kulkas. Apa perlu kita belanja dulu?” Tawar Aira.


Namun Nico yang sudah terlanjur membuka kulkas hanya termangu mendapati bahwa yang tersisa di kulkas saat itu hanya beberapa butir telur. Nico berfikir cepat kemudian membuka lemari pada kitchen set. Kali ini dia menemukan mie instan di sana.


“Kita delivery order aja, ya? Kamu mau makan apa?” Aira memberi solusi, ia pun sudah mengeluarkan ponselnya untuk bersiap-siap memesan makanan.


“Kita makan yang ada aja.” Jawab Nico dengan datar.


Tanpa banyak bicara Nico mengeluarkan dua buah mie instan dan dua butir telur dari kulkas. Tidak kurang dari 10 menit, mereka sudah duduk berhadapan di meja makan dengan satu panci mie berukuran sedang yang tersedia di depan mereka.


“Nggak pake mangkok?” Tanya Aira hati-hati sambil melihat mangkok yang sudah Nico siapkan hanya untuknya saja.


“Aku lebih suka makan mie langsung dari pancinya” Jawab Nico singkat lalu mulai menyantap mie yang tersaji.


Tidak seperti Nico, Aira tidak langsung memakan mie itu, ia justru menatap Nico sambil tersenyum. Ia tidak tahu setelah ini, kapan lagi ia akan bisa sedekat ini dengan Nico. Dan Aira ingin menikmati setiap detik yang mereka lewati bersama.


“Kalau kamu nggak segera makan, aku yang akan habisin semuanya.” Ucap Nico tanpa menatap Aira. Ia seakan menyadari bahwa sejak tadi yang Aira lakukan hanyalah menatap dirinya tanpa henti.


"Y—ya makanlah..." Jawab Aira gelagapan. Ia baru saja merasa tertangkap basah oleh Nico.


Setelah selesai makan, mereka berdua pun kembali duduk bersebelahan menonton sebuah acara di televisi. Suasana di antara mereka malam itu benar-benar hening. Namun meski mata mereka terlihat fokus pada layar yang ada di depan mereka, pikiran dan hati mereka nyatanya tidak melakukan hal yang sama. Jauh di lubuk hati mereka yang terdalam, ada sebentuk perasaan rindu yang ingin mereka lampiaskan.


Kebersamaan mereka saat itu bahkan tidak mampu menggenapkan rasa rindu yang mereka pendam sejak hari dimana Nico memutuskan hubungan mereka, dan selalu mendorong Aira agar menjauh darinya. Namun jangakan melampiaskan rasa rindu yang mereka pendam satu sama lain, untuk mengungkapkannya saja mereka bahkan tidak memiliki daya sedikitpun.


“Kamu bisa sebutin keinginan ketiga kamu sekarang?” Tanya Nico tiba-tiba yang kontan saja memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka.


Aira menatap Nico untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap layar yang ada di depannya. Aira menggeleng pelan sembari tersenyum kecil. “Aku gak akan sebutin permintaan ketiga aku sekarang. Aku akan simpen sampai nanti aku bener-bener menginginkannya. Karena cuma dengan cara ini, aku dan kamu bisa terus berhubungan. Karena cuma dengan cara ini, kamu nggak akan lagi punya alasan untuk ngejauhin aku. Karena cuma dengan cara ini, kamu akan terus memiliki hutang yang selamanya akan membuat kita saling terikat satu sama lain.”


Nico mengepalkan jemari tangannya kuat-kuat. Itu ia lakukan hanya semata-mata demi menahan diri agar tangannya tidak menggenggam tangan Aira. Namun pertahanannya runtuh sudah. Hasratnya nyatanya jauh lebih kuat dan menutupi logikanya. Ia pun secara perlahan menggenggam tangan milik Aira dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Fokus mereka benar-benar tercerai-berai sekarang.


“Nic—“


“Sebentar saja…”


Aira menatap Nico nanar. Beberapa detik setelahnya, Nico langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Aira serta-merta membalas pelukan Nico, ia menyandarkan wajahnya pada dada bidang pemuda itu seraya menutup kedua matanya. Dan rasanya benar-benar nyaman, seperti setiap kali Nico memeluknya, rasanya selalu sama.


Aira dapat merasakan pelukan Mamanya yang sudah lama tidak ia rasakan, itulah alasan kenapa pelukan Nico menjadi hal yang paling disukainya.


Tidak lama, Aira harus menelan kekecewaan begitu Nico melepaskan pelukannya. Nico memegang kedua pundak Aira dan menatap lembut pada kedua matanya. Untuk saat ini saja Nico tidak ingin menyembunyikan apapun dari gadis ini. Ia pun menangkup wajah Aira dengan kedua tangannya. Mengikuti nalurinya, Nico lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Aira, kecupan itu turun pada kedua pipinya lalu ke hidungnya, dan terakhir bibirnya.


Aira membeku dengan kedua mata yang masih terpejam saat Nico sedikit menjauhkan wajahnya dan membiarkan kening mereka menempel satu sama lain. Nico terdengar mengatur desauan nafasnya begitu juga dengan Aira.


Tidak berselang lama setelahnya, Nico kembali mencium lembut gadis itu dan membiarkan Aira memeluk pinggangnya. Aira dapat merasakannya begitu dekat dan membiarkan kerinduannya mengalir bagai air. Ini sudah lebih dari sekedar cukup.


Mungkin Nico melakukannya hanya semata-mata untuk menyempurnakan perannya sebagai kekasih Aira hari ini, tapi rasa tidak pernah bohong. Aira tahu Nico tulus melakukannya. Dan Aira seratus persen yakin bahwa Nico merasakan hal yang sama dengannya detik ini.


Nico tersenyum kecil lantas mengecup puncak kepala Aira dengan sayang. Lalu dengan gerakan pelan, Nico berusaha melepaskan pelukan Aira darinya. Meski sangat sulit melakukannya karena takut gadis ini terbangun, toh pada akhirnya Nico bisa melepaskannya.


Nico duduk di kepala ranjang sambil mengusap rambut Aira sebelum memutuskan untuk pergi. Dengan perasaan berat, Nico beranjak dari sisi Aira. Ia meraih jaketnya yang ada di kursi lalu keluar dari kamar itu dengan suara derap langkah yang nyaris tidak terdengar.


Lalu seperti sebuah mimpi indah, Nico menghilang di balik pintu. Bagi Nico mimpi itu sudah berakhir. Sekarang saatnya ia terbangun dan kembali ke dunia nyata.


...****...


"Papa, Mama... Nico ingin menyampaikan sesuatu." Ucap Nico pada kedua orang tuanya.


Malam itu, mereka sekeluarga termasuk Aira sedang merayakan kelulusan Nico di sebuah restaurant di salah satu hotel berbintang lima. Adryan bahkan secara khusus memesan tempat VIP untuk mereka.


"Apa, Nic?" Tanya Regina dengan enteng sambil memotong steak-nya.


"Sebelumnya, Nico mau ucapin terima kasih sama Papa karena sudah mau terima Nico, dan memperlakukan Nico seperti anak sendiri selama ini. Nico sungguh bahagia, dan tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari Papa. Tapi selama ini, Nico selalu lupa untuk berterima kasih sama Papa."


"Papa yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Nic. Kamu sudah hadirkan banyak kebahagiaan dan keberuntungan dalam hidup Papa selama ini." Balas Adryan dengan penuh ketulusan.


Dalam situasi yang mulai emosional itu, Regina tersenyum bangga pada putra semata wayangnya itu. Aira pun sama.


"Hanya itu yang ingin kamu sampaikan, Nic?"


Nico menggeleng sekilas, sebelum akhirnya menyampaikan hal utama yang ingin disampaikannya, "Nico akan lanjut S2 ke luar negeri, dan kemungkinan Nico nggak akan kembali."


Adryan dan Regina saling menatap untuk beberapa saat. Mereka yang awalnya mengira bahwa Nico setuju dengan rencana pernikahan dan melanjutkan studi di luar negeri bersama Aira, sama-sama saling melempar senyum satu sama lain. Tujuan mereka untuk menjauhkan Nico dan Aira dari masa lalu Aira yang kelam sepertinya akan terwujud sebentar lagi.


"Tapi pertama-tama kita harus cari tanggal untuk pernikahan kamu dengan Nana terlebih dulu. Soal S2 kita bisa urus setelah pernikahan."


Perasaan Aira membuncah saat mendengarkan perkataan Regina. Sekelompok vocal choir seakan tengah menyanyi penuh semarak jauh di dalam dadanya. Namun tiba-tiba...


"Nico akan pergi sendiri, tanpa Nana." Jawab Nico sembari menyasarkan tatapan dinginnya pada sosok Aira di dua kata terakhirnya.


...****...


Mereka menyelesaikan acara makan malam lebih cepat dari rencana awal. Perkataan Nico tadi benar-benar mengejutkan kedua orang tuanya, lebih-lebih Mamanya yang selama ini sudah melakukan segala cara hanya untuk melindungi Nico. Perasaan kecewa sama sekali tidak bisa tertutupi dari mata kedua orang tua Nico, hal itu pulalah yang membuat Aira merasa begitu marah pada Nico. Kemarahannya pada pemuda itu, bahkan sudah mencapai titik tertingginya.


"Aku sama sekali nggak masalah kalau kamu menolak untuk menikah dengan aku, Nic. Tapi perkataan kamu pada Om dan Tante tadi, sudah benar-benar kelewatan! Gimana bisa dengan gampangnya kamu bilang, kalau kamu nggak akan kembali lagi? Apa kamu tidak memikirkan perasaan mereka?" Ujar Aira penuh kemarahan.


Setelah makan malam tadi, mereka tidak ikut pulang bersama kedua orang tua Nico. Aira menahan Nico di ruangan itu sesaat setelah Adryan dan Regina pergi.


"Kamu harus tahu, nggak ada yang gampang buat aku, Nana!"


"Lalu tadi itu apa? Aku minta maaf kalau aku tidak pengertian sama kamu, tapi kamu selalu seperti ini belakangan ini. Kamu menutup semua celah untuk aku bisa mengerti. Kalau kamu terus diam seperti ini dan nggak mau jujur apa permasalahannya, maka selamanya juga aku akan terus menatap kamu sebagai sisi yang paling menyebalkan, Nico."


"Kalau aku mengatakan yang sejujurnya, apa kamu yakin bisa menghadapinya?"


Hening. Aira tidak langsung menanggapi perkataan Nico. Aira tidak tahu rahasia apa yang Nico sembunyikan dari satu pertanyaan yang baru saja ia gulirkan itu, namun jauh di dasar hatinya yang terdalam Aira langsung meyakini, bahwa memang ada sesuatu yang begitu besar, yang sedang menahan dan membelenggu Nico sekarang. Dan sesuatu yang besar itu, tentu saja menyangkut dirinya.


Tidak lama kemudian Aira mengangguk, seolah memahami pertanyaan Nico.


"Ooh, sekarang akhirnya aku paham, kalau hal yang sedang kamu sembunyikan selama ini dari aku itu tidak hanya menyangkut kamu, tapi juga menyangkut aku, kan?"


"Na..."


"Nggak apa-apa kalau memilih untuk tetap diam. Tapi aku pastiin sama kamu, Nico... cepat atau lambat aku pasti akan tahu."


^^^To be Continued...^^^