We, From The First

We, From The First
#71. Little by Little



Sudah satu jam lamanya sejak Aira berdiri di pekarangan rumah Evelyn Lim ketika akhirnya ia melihat mobil Rakha datang. Aira tersenyum setelahnya, lalu berlari menghampiri Rakha yang keluar dari dalam mobilnya. Sementara Rakha yang melihat Aira begitu antusias menyambut kedatangannya, membuat perasaannya seperti berbunga-bunga.


"Kamu kenapa belum tidur? Ini udah mau jam satu, lho! Kamu nggak nyaman?" Cecar Rakha saat ia dan Aira sudah berdiri berhadapan.


"Kalo boleh jujur sih, iya aku nggak nyaman. Kamu tahu, kan, aku tuh jiwa-jiwa introvert. Tapi kamu malah ninggalin aku berdua sama Mama kamu. Untung tadi kamu sempet ngirim Yumi, Bia, sama Sheryl buat nemenin aku di sini."


"Maaf, ya..."


"Tapi aku suka sama Tante Eve. Tante Eve tuh baik banget."


"Hmmm, tadi ngomongin apa aja sama Mama?"


Sebelum menjawab pertanyaan Rakha, Aira menatap Rakha untuk beberapa saat dengan satu senyuman jahil di wajahnya. "Yang jelas tadi, Tante cerita banyak soal aib masa kecil kamu, hahaha..." Aira tertawa di akhir.


Mau tidak mau, tawa yang Aira gulirkan itu membuat Rakha terpana. Untuk pertama kalinya sejak Aira dan Nico benar-benar mengakhiri hubungan mereka, Rakha akhirnya bisa kembali mendengar tawa Aira, meskipun... tidak selepas sebelumnya. Bagi Rakha sekarang, tidak apa-apa jika Mamanya membongkar semua aib masa kecilnya bila itu bisa membuat Aira tertawa seperti ini.


Rakha lantas mendenguskan tawanya sebelum akhirnya menuntun Aira masuk ke dalam. "Ya udah masuk, yuk! Udara di sini dingin. Aku nggak mau kamu sakit nantinya."


Aira hanya mengangguk. Dan ia menurut saja saat Rakha merangkul pinggangnya dan berjalan beriringan dengannya.


Namun tanpa mereka sadari, tidak jauh dari gerbang rumah Evelyn Lim, tampak Nico yang sedang memperhatikan mereka diam-diam dari dalam mobilnya. Tadi, Rio sempat mengatakan pada Nico bahwa Rakha pergi membawa Aira ke rumah Mamanya untuk bersembunyi sementara dari kejaran para wartawan. Untuk itulah, Nico diam-diam mengikuti mobil Rakha dari belakang. Dan Nico melakukan hal itu semata-mata agar ia bisa melihat Aira untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi ke Amerika dan mungkin tidak kembali lagi.


"Sepertinya kamu baik-baik saja tanpa aku, Na. Sekarang, aku bisa pergi, kan?" Lirih Nico di antara kegelapan malam sebelum akhirnya menyalakan mobilnya, dan pergi dari tempat itu dengan perasaan sesak.


...****...


Pada keesokan paginya, Rakha membawa Aira berjalan-jalan ke sebuah padang rumput yang memanjakan mata Aira dengan nuansa hijaunya yang menyegarkan. Di tengah padang sana, Aira juga dapat melihat sekumpulan sapi yang semakin menyeret nostalgianya pada Pulau Banu, tempat dimana ia menghabiskan masa kecilnya, dan separuh masa remajanya bersama mendiang kedua orang tuanya.


"Kha, aku boleh teriak, kan?" Bisik Aira di depan telinga Rakha yang justru membuat pemuda itu terkekeh geli.


"Ya, bolehlah. Teriak aja." Jawab Rakha.


Lambat-lambat Rakha mulai mendengar suara tangisan Aira yang semakin lama, semakin terdengar jelas. Rakha lantas mendekat, lalu duduk di sampingnya seraya memutar kedua bahu Aira hingga gadis itu berhadapan langsung dengannya.


"Ra?" Panggil Rakha pelan.


"Aku kangen Ayah sama Ibu aku, Kha. Rasanya sangat menyakitkan ketika aku bahkan nggak bisa lihat mereka lagi." Ucap Aira dengan suara bergetar. Tangisnya pun semakin kuat terdengar.


Rakha kemudian mengangkat wajah Aira. Saat wajah yang berlinang air mata itu sudah terangkat, Rakha pun menyeka air mata Aira dengan tangan kanannya. "Nggak apa-apa. Kamu juga boleh menangis sepuasnya di sini, hm?"


Tanpa perlu berlama-lama lagi, tangis Aira semakin pecah saat Rakha memberikannya izin untuk menangis, dan memang itulah yang paling Aira butuhkan sekarang. Dia hanya ingin berteriak sekeras mungkin, dan menangis sekuat mungkin hingga semua beban di dadanya terlepas. Rakha lantas memeluk gadis rapuh itu, dan membiarkan Aira menangis sepuasnya dalam pelukannya.


Sekitar dua menit kemudian, Rakha melepaskan Aira lalu menatap ke dalam matanya. Tangis itu tidak terdengar lagi, namun Rakha dapat membaca dari kedua mata Aira bahwa ia membutuhkan Rakha untuk menguatkannya.


Dan entah mendapatkan dorongan dari mana, Rakha tiba-tiba saja mencium lembut bibir Aira. Aira yang awalnya terkejut saat merasakan bibir Rakha menyentuh permukaan bibirnya, kini secara perlahan menenangkan dirinya dan memejamkan mata. Mengikuti suasana yang mendukung, Aira akhirnya terbawa oleh aliran perasaannya sendiri, sehingga di luar perintah otaknya Aira mulai membalas ciuman Rakha dengan jantung berdebar.


Rakha tahu, bahwa saat itu Aira hanya sedang terbawa suasana. Tetapi untuk sekali ini saja, Rakha ingin bersikap egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Rakha yang mulai emosional pun, menekan kepala bagian belakang Aira agar tautan mereka semakin dalam.


Detik demi detik berlalu, ketika akhirnya Rakha melepaskan ciumannya dan mengusap lembut bibir Aira dengan kedua ibu jarinya. Rakha pun sedikit menundukkan wajahnya agar bisa melihat Aira yang saat itu masih dalam keadaan blank dengan pandangan tertunduk.


"Raa, kasi aku kesempatan lagi, ya? Aku nggak akan paksa kamu buat terima hati aku sekarang, tapi tolong... Kasi aku satu kesempatan lagi untuk memenangkan hati kamu." Bisik Rakha dengan lirih.


Aira tidak mengatakan atau memberikan isyarat apapun pada Rakha kecuali hanya diam. Rakha yang berusaha memaklumi hal itu pun, kini secara perlahan menuntun Aira untuk berdiri. Saat mereka sudah saling berhadapan dengan posisi berdiri, Rakha membuka topi yang sejak tadi ia kenakan lalu memasangkannya di kepala Aira. Setelah itu, Rakha mendorong pelan kepala Aira dan sekali lagi mendaratkan satu kecupan singkat di kepalanya. Terakhir, Rakha membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya, dan membiarkan Aira bersembunyi di dada bidangnya.


Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya saat ia sedang bersama Rakha, Aira tidak sekalipun memikirkan Nico. Nico benar-benar menghilang dari hati dan fikirannya.


Sedikit demi sedikit... Pintu itu mulai terbuka perlahan untuk Rakha.


...\=\=THE END\=\=\=...