
"Papa kamu menderita kanker perut stadium akhir, Al. Dia sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk bertahan. Dia tidak minta untuk dimaafkan, dia hanya ingin di sisa nafas terakhirnya, dia bisa melihat wajah kamu sekali saja."
Itulah ucapan Tante Diana pada Nico tepat seminggu yang lalu. Alasan kenapa Nico menghilang selama satu minggu ini juga, karena dia selalu menemani Papanya di rumah sakit.
Nico tidak bisa memungkiri, dia membenci Papanya, dan masih membencinya. Tapi di lain sisi, Nico tidak mampu mengabaikan kenyataan bahwa dia adalah satu-satunya putra yang dimiliki oleh Bimantara. Nico tidak bisa meninggalkannya begitu saja, di saat ia sadar bahwa hanya dia juga satu-satunya yang dimiliki oleh Papanya.
"Tetaplah hidup, dan jalani hukuman anda dengan selayaknya. Itu satu-satunya cara untuk membayar semua dosa-dosa anda di masa lalu." Lirih Nico dengan suara bergetar di samping Papanya yang saat itu sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri di sebuah kamar rumah sakit.
Air mata Nico menetes perlahan. Bersamaan dengan itu, kenangan masa kecilnya yang pernah dia lalui bersama Papanya di masa lalu, semakin membuat dadanya sakit.
Seiring dengan semakin menguatnya rasa peduli Nico terhadap Papanya, maka semakin menguat juga rasa bersalahnya terhadap diri Aira.
Nico seolah merasa, bahwa seluruh perasaan bersalahnya pada Aira tengah menggerogotinya dan membuatnya nyaris mati dalam hal merasa.
"Selama seminggu kemarin, kamu pergi ke Banu, kan?" Tanya Regina pada Nico.
Malam itu, setelah kembali dari perjalanan bisnisnya, Regina langsung pergi ke kamar Nico untuk melakukan introgasi. Sejak Nico mulai membangkang, Regina sudah meminta orang suruhannya untuk terus mengawasi setiap tindak-tanduk Nico.
"Kuliah kamu berantakkan, kamu putusin Nana, dan kamu selalu pergi ke Banu setiap kali Mama dan Papa tidak ada di rumah. Mau kamu apa, Nic?"
"Lalu, apa Nico harus biarkan orang itu sendirian? Dia sedang sekarat, Ma. Dan cuma Nico satu-satunya yang dia miliki."
"Dan Mama cuma punya kamu. Apa kamu harus melakukan hal ini terhadap Mama? Kamu cukup jalani kehidupan kamu sekarang dengan nyaman, dan jangan lakukan apapun untuk orang itu! Apa sebegitu sulitnya untuk kamu diam saja dan tidak melakukan apapun, Nico?" Nada bicara Regina mulai terdengar geram.
Nico kali ini tidak menjawab.
"Kalau kamu terus mengkhawatirkan orang itu, Mama akan kirim seseorang untuk mengurus dan merawatnya. Mama juga akan siapkan Tim Dokter terbaik untuk dia. Jadi, kamu tidak perlu lagi mengendap-endap pergi ke Banu seperti pencuri hanya untuk menemui dia. Kamu paham?"
Sesaat sebelum Regina keluar dari kamar Nico, ia sempat berkata, "dan Mama sudah minta Nana untuk pindah lagi ke sini. Setelah kamu wisuda nanti, Mama dan Papa akan tetap menikahkah kalian, dengan atau tanpa persetujuan dari kamu."
Tidak berselang lama setelah Regina keluar, Aira yang sejak tadi diam-diam mendengarkan obrolan antara Nico dengan Mamanya dari luar langsung memasuki kamar Nico. Aira menatap sendu pada sosok Nico yang saat itu sedang terduduk lesu di sisi tempat tidurnya dengan wajah menunduk. Bahu yang selalu tampak kokoh itu pun, sekarang terlihat begitu rapuh dan seolah siap runtuh kapan saja.
Aira kemudian duduk di bawah Nico. Ia meraih kedua tangannya lalu menggenggamnya penuh kehangatan. Ternyata Aira salah paham terhadap Nico selama satu minggu belakangan ini. Nico menghilang bukan karena ingin menghindarinya, tapi karena Nico harus tetap mendampingi Papanya yang sedang jatuh sakit, demi memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak.
"Nic?" Panggil Aira dengan pelan.
Nico yang sejak tadi hanya diam saja, kini menarik tangannya dari genggaman Aira. Nico kemudian bangkit, lalu berdiri di belakang pintu, "Nana, aku boleh minta tolong?"
Aira melangkah mendekati Nico.
"Tolong keluar dari kamar aku, dan biarkan aku sendiri." Lanjut Nico kemudian. Suaranya terdengar tegas dan juga dingin.
"Nic, apa kamu bisa berhenti untuk mendorong aku pergi? Aku cuma ingin ada di samping kamu, bukan mengganggu kamu. Aku tahu betapa menyakitkan dan menyesakkannya berada di situasi seperti ini, itulah kenapa aku nggak mau kamu sendirian."
"Kamu nggak bisa samakan situasi kamu dulu, dengan situasi aku sekarang, Na. Karena dalam hal apapun, dan segi manapun, situasi kita nggak akan sama. Kamu nggak akan paham penderitaan aku, dan aku nggak akan paham penderitaan kamu. Jadi, tolong berhenti untuk berusaha memahami rasa sakit aku sekarang. Itu menyiksa buat aku, Nana!"
Aira tersentak. Tidak pernah terbersit dalam fikirannya sekalipun bahwa Nico akan sanggup mengatakan hal semenyakitkan itu padanya setelah apa yang mereka lalui bersama selama lima tahun terakhir ini.
"Nico?" Lirih Aira dengan wajah tidak percaya. Setetes air matanya terjatuh, seperti menunjukkan bahwa betapa perkataan Nico telah melukainya.
"Sekarang kamu keluar, ya?" Tidak ada lagi emosi yang sama yang keluar dari nada bicara Nico sekarang. Ia hanya terlihat sangat kelelahan.
Aira lantas mengusap air matanya sebelum akhirnya keluar dari dalam kamar Nico dengan perasaan tercabik.
Sementara Nico, tanpa perlu berlama-lama lagi, ia langsung mengunci pintu kamarnya lantas membanting benda-benda tidak berdosa di hadapannya dengan begitu beringas. Cermin besar yang saat itu juga tidak luput dari pandangannya, ia tinju begitu saja dengan tangan kosong. Darah segar mengalir dari luka yang baru saja didapatkannya, tetapi Nico bahkan tidak bisa merasakan sakit sedikitpun.
Kemarahan telah memenuhi dirinya seutuhnya.
...****...
Natta, Sheryl, Rio, Bia, dan Yumi berteriak heboh begitu Tim Rakha berhasil memenangkan pertandingan basket. Saat itu, mereka semua berkumpul di bioskop mini B-Cafe dan menonton bersama pertandingan Rakha secara live melalui saluran televisi. Di sana juga sebenarnya ada Aira. Tapi untuk saat ini Aira terlalu kalut untuk bisa berteriak heboh seperti teman-temannya.
Pertengkarannya dengan Nico siang tadi masih terus membayangi fikirannya dan membuatnya tidak bersemangat untuk melakukan apapun.
"Kuliah kamu berantakkan, kamu putusin Nana, dan kamu selalu pergi ke Banu setiap kali Mama dan Papa tidak ada di rumah. Mau kamu apa, Nic?"
Kini giliran ucapan Regina yang berpendar di ingatannya. Aira pun mulai mencari-cari cara untuk bisa membantu Nico keluar dari salah satu permasalahannya hingga tidak perlu lagi membuat Mamanya khawatir.
Dan saat Aira sibuk memikirkan cara untuk membantu Nico, fikirannya tahu-tahu buyar saat merasakan ponselnya bergetar. Aira pun buru-buru meraih ponselnya di atas meja lalu segera menerima panggilan yang ternyata datangnya dari Rakha.
Yumi yang saat itu duduk tepat di samping Aira, langsung menampakkan ekspresi wajah yang berbeda saat tahu bahwa Aira lah yang Rakha telepon pertama kali setelah memenangkan pertandingannya.
"Halo, Kha?"
Bahkan ketika Aira tidak bisa melihat wajahnya saat ini, ia tahu pasti bahwa kedua mata elang milik Rakha sedang berbinar penuh kebahagiaan sekarang. Membayangkan hal itu, mau tidak mau membuat perasaan Aira yang sejak tadi kalut kini mulai membaik.
Aira lalu terkekeh. Sebelum menjawab Rakha, ia mengaktifkan loudspeaker ponselnya agar yang lain juga bisa mendengar suara Rakha.
"Selamet, ya, Kha! Kamu tadi keren banget." Ujar Aira.
Saat Rio akan menimpali, Rakha yang ketika itu sama sekali tidak tahu bahwa Aira sedang mengaktifkan loudspeaker buru-buru menyambar, "apa itu artinya keinginan aku bakalan terwujud juga, Ra? Apa itu artinya, perasaan aku ke kamu akan segera terbalas juga?"
"RAKHA!!" Jerit Aira seraya menepuk keningnya.
Rio, Natta, Sheryl dan Bia lagi-lagi berteriak heboh. Rio pun merenggut ponsel itu dari tangan Aira. "Kha, Aira baru aja putus dari Nico. Tapi lo udah maen ambil celah aja."
"Yo, kenapa lo?─"
"Aira nyalain loudspeaker dari tadi, bego!" Timpal Natta.
"Ciyeee Rakha..." Celine menambahi.
"Rakha sama Aira pasti pergi ke festival lampion, makanya sebut-sebut soal keinginan." Kata Bia.
Yumi yang sedari tadi hanya diam menyimak, berusaha mengendalikan diri sebaik mungkin. Namun meski telah berusaha sebisanya, Yumi akhirnya gagal.
Yumi pun memilih keluar dari ruangan itu, untuk setidaknya bisa melegakan dadanya yang mulai terasa pengap. Barulah setelah Yumi keluar, yang lainnya langsung sadar. Mereka tiba-tiba ingat Yumi sempat mengaku bahwa ia menyukai Rakha ketika mereka bermain Truth or Dare beberapa waktu lalu.
Mereka yang sejak tadi heboh langsung terdiam sambil melirik satu sama lain.
"Kalian sih..." Gerutu Aira seraya mengambil kembali ponselnya dari Rio.
"Kha, udah dulu, ya? Ntar aku telepon lagi." Ucap Aira pada Rakha. Ia lalu mematikan sambungan teleponnya terlebih dahulu dan segera menyusul Yumi.
Di salah satu meja yang terletak di sudut ruangan, Aira melihat Yumi yang sedang duduk sendiri sambil melihat ke luar jendela. Salah satu tangannya ia topang di dagu.
"Yum?" Panggil Aira pelan seraya menepuk salah satu bahu Yumi.
Yumi yang terkesiap segera menoleh pada Aira lalu tersenyum tipis. "Eh, elo Ra? Ngagetin aja."
"Yum, soal tadi─"
"Udah, nggak usah difikirin. Gue udah biasa."
"Yumi...."
"Gue orang pertama yang tahu kalo Rakha suka sama elo, Ra. Gue bahkan lebih dulu tahu dari Rakha. Tapi, ya... gue nggak bisa berbuat apapun. Gue nggak bisa ubah arah hati Rakha cuma karena gue suka sama dia." Yumi tersenyum perih di sela-sela kalimatnya, "yang membuat situasinya terasa berbeda sekarang, karena kalian semua udah tahu perasaan gue ke Rakha. Jadi, gue udah nggak bisa sembunyiin apa-apa lagi dari kalian semua."
"Maafin aku, Yum." Ucap Aira penuh kesungguhan dengan kepala tertunduk.
Untuk saat ini, hanya satu kalimat itu yang bisa Aira ucapkan untuk Yumi.
...****...
Nico melangkah gontai menuju pintu kamarnya saat seseorang mengetuk. Begitu Nico sudah membuka pintu, ia sedikit terperanjat saat melihat bahwa Aira lah yang saat itu sedang berdiri di depan pintu dengan wajah cerianya.
"Permintaan kedua!!" Ucap Aira dengan penuh semangat seraya menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf 'V' di hadapan Nico.
Nico mendesah cukup panjang sambil mendongakkan wajahnya ke atas langit-langit kamarnya.
"Sekarang sebutkan apa permintaan kamu." Jawab Nico dengan pasrah.
Satu seringai langsung terulas di wajah Aira sebelum dia menjawab, "ayo kita dating, dan jadi pacar aku lagi selama seminggu."
Nico lagi-lagi terperanjat. Permintaan macam apa itu?
Namun meski tidak terima, pada akhirnya Nico tidak bisa mengelak. Dia sudah sepakat sejak awal bahwa dia akan memenuhi apapun permintaan Aira padanya. Nico tidak akan menghindar, apa lagi melarikan diri.
"Oke, ayo kita dating dan pacaran lagi selama satu minggu."
Nico mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Aira sebagai tanda setuju. Dengan senang hati, Aira pun menyambut uluran tangan Nico.
^^^To be Continued...^^^