
Hari wisuda akhirnya tiba. Setelah menyelesaikan serangkaian upacara yang melelahkan di dalam gedung, semua mahasiswa langsung berhamburan keluar untuk melakukan selebrasi lainnya bersama orang-orang terdekat mereka.
Kedua orang tua Nico, dan orang tua dari sahabat-sahabat mereka yang lain, memilih untuk pulang terlebih dahulu setelah melakukan sesi foto bersama untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak mereka berkumpul bersama. Aira yang saat itu melihat Rakha datang seraya membawa satu buket bunga besar langsung menghampiri pemuda itu.
"Rakhaaaa!!" Panggil Aira dengan antusias.
Setelah yang lainnya menyadari kehadiran Rakha, mereka pun mengikuti Aira di belakang satu per satu, termasuk Nico.
"Selamet, ya, Ra?" Ucap Rakha memberikan semangat seraya menyerahkan buket bunga yang dibawanya sejak tadi.
"Thank you, Kha!" Sambut Aira dengan senang hati sambil menerima buket bunga pemberian Rakha.
"Jadi hari ini yang di wisuda cuma Aira, ya?" Ledek Sheryl saat melihat bahwa Rakha benar-benar hanya membawa satu buket bunga, dan itu untuk Aira.
"Kalian bertujuh, dan gue cuma sendiri. Bawa tujuh buket bunga sekalian bakalan ribet. Susah bawanya." Jawab Rakha dengan santai. Sesekali perhatiannya tertuju pada Yumi yang saat itu berdiri paling belakang seolah sengaja ingin bersembunyi darinya.
Dalam hati, Rakha membenarkan tindakan yang dipilih oleh Yumi itu. Bukankah wajar kalau akhirnya Yumi merasa canggung setelah adegan berpelukan mereka seminggu yang lalu?
"Rakha, lo terbaik!" Ucap Bia yang masih merasa takjub dengan segala hal yang sudah Rakha persiapkan untuk mereka.
Ketika yang lainnya sibuk merayakan kelulusan mereka, keadaanya justru berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Nico dan Yumi yang saat itu hanya diam saja di tempat duduk masing-masing. Perhatian mereka pun sama-sama tidak luput dari sosok Rakha dan Aira yang hari itu tampak serasi. Mereka duduk berdampingan sambil menikmati kehebohan yang diciptakan oleh Sheryl, Natta, Bia dan Rio.
"Ra, inget janji kamu seminggu yang lalu, kan?" Bisik Rakha di depan telinga Aira, berusaha mengingatkan bahwa seminggu yang lalu, Aira sempat berjanji padanya bahwa mereka akan jalan berdua tanpa sahabat-sahabat mereka.
Aira pun serta-merta tersenyum mengingat janji yang sudah dibuatnya dengan Rakha. Tidak lama Aira menoleh, lalu mengangguk dengan senyuman yang semakin lebar untuk Rakha.
Nico yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Aira, perlahan namun pasti mulai menyadari, bahwa sikap Aira, tatapan mata Aira, dan cara Aira tersenyum pada Rakha benar-benar terasa berbeda. Apa yang ditangkap oleh mata tidak selamanya benar, tetapi Nico tahu bahwa nuraninya tidak sekalipun pernah membohonginya. Tidak sekalipun.
Nico mengenal Aira hampir seumur hidupnya, dia hafal semua gerak tubuh Aira, dia bisa membaca ke dalam mata gadis itu. Dan apa yang Nico lihat serta rasakan saat melihat Aira dan Rakha sekarang adalah; Nico dapat menyimpulkan bahwa cinta sepihak Rakha pada Aira selama bertahun-tahun, akan segera... mendapatkan balasannya.
Nico tersenyum perih. Ia gamang untuk sesuatu yang belum terjadi, tapi PASTI AKAN TERJADI.
^^^To be Continued...^^^