We, From The First

We, From The First
#43. Bertemu Dengan Evelyn Lim



Rio berdiri di depan tangga sembari melipat kedua tangannya di bawah dada. Pandangan matanya terus tertuju pada pintu masuk, menanti kedatangan seseorang sejak tiga puluh menit yang lalu.


Dan tepat lima menit setelahnya, target Rio sudah terlihat. Ia langsung mengatur posisinya, dan memasang tatapan dinginnya. Begitu Bia sudah dekat dengannya, Bia justru hanya menunjukkan ekspresi datar, lalu memukul pelan dada Rio.


"Ngapain lo di sini? Ngehalangin jalan aja." Omel Bia tanpa minat, dan berlalu begitu saja melewati Rio.


Rio yang sudah merasa sangat keren pagi ini, seketika merasa bahwa Bia telah menghancurkan ekspektasinya dalam sekali hajar.


"Bii, kenapa gue bukan tipe lo?"


Pertanyaan yang Rio lemparkan, kontan saja membuat Bia menghentikan langkahnya. Pertanyaan itu pulalah, yang terus menghantui fikiran Rio sepanjang malam. Sejak Bia mengatakan bahwa Rio bukanlah tipenya, entah dengan cara apa Rio merasa seperti dicampakkan.


"Karena lo temen gue, Yo." Jawab Bia pelan setelah terdiam cukup lama.


"Apa iya cuma sebatas itu?" Tanya Rio sanksi.


Bia kali ini berbalik, dan menatap pemuda berparas manis itu dengan serius.


"Lo bisa baca mata gue sekarang, kan?"


Mendengar pertanyaan Bia, Rio menaiki satu tangga lagi agar bisa lebih dekat dengan Bia. Merasa belum cukup, Rio kembali menaiki satu tangga lagi. Kini jarak di antara mereka hanya tinggal dua anak tangga lagi.


"Gue melihat, arti gue lebih dari sebatas itu." Ujar Rio pelan seraya menatap kedua mata Bia tanpa berkedip, berusaha membaca arti dirinya sehati-hati mungkin.


Tanpa Rio duga, kini Bia yang menuruni satu anak tangga, hingga membuat jaraknya begitu sangat dekat dengan Rio. Rio terkesiap. Sejak awal pertama, gadis ini memang sulit dibaca.


"Iya. Apapun yang ada difikiran lo sekarang... semuanya benar."


Tidak lama setelah itu, Rio tersenyum begitu lebar. Ia lalu menyentuh tangan Bia yang bertengger bebas di pegangan tangga.


Dan Bia sama sekali tidak berniat untuk menolak sentuhan itu. Ia menerimanya dengan hati yang terbuka.


...****...


Ujian semester ganjil telah berakhir. Rangkaian acara Class Meeting pun sudah dilakukan. Dan pada semester kali ini, Rakha kembali berhasil mendapatkan peringkat satunya. Tetapi seperti biasa juga, hal itu tidak begitu mendapatkan apresiasi yang layak dari Papanya.


Namun Rakha sudah terlanjur terbiasa dengan semuanya. Hal itu, tidak lagi berpengaruh baginya.


Dan di hari terakhir sekolah di semester ini, Aira terlihat sedang duduk di halte, menunggu kedatangan Nico yang memintanya untuk menunggunya. Sudah hampir sepuluh menit Aira menghabiskan waktunya untuk menunggu, tapi tidak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa Nico akan datang. Aira juga beberapa kali memeriksa ponselnya, untuk melihat apakah Nico mengirimkan pesan atau tidak. Namun ternyata, tidak ada satupun pesan yang masuk ke ponselnya.


Aira mendesah pelan. Tidak biasanya Nico seperti ini.


Saat pulang sekolah tadi, sebenarnya Aira sudah berniat untuk pulang sendiri menggunakan bus. Namun Nico yang tiba-tiba datang entah dari mana, begitu saja muncul di sampingnya dan mengajaknya untuk pulang bersama. Beberapa saat setelah itu, Nico menerima sebuah telfon dari Rio. Saat itulah, Nico meminta Aira untuk pergi ke halte terlebih dulu dan menunggunnya di sana. Tetapi hingga detik ini, Nico tidak juga muncul.


Sampai akhirnya, sebuah sedan hitam berhenti tepat di hadapan Aira. Kaca mobil itu terbuka secara perlahan, dan menampakkan sosok Evelyn Lim yang sedang duduk di jok belakang dengan anggunnya.


Aira yang merasa tidak asing dengan wajah itu, langsung berdiri.


"Naira Kelana? Teman sekelas Rakha?" Tanya Evelyn dengan lembut sambil menurunkan kacamatanya.


"I—iya..." Jawab Aira sedikit gugup.


Dari mana Evelyn Lim tahu namanya?


"Aira, boleh ikut sama Tante sebentar nggak? Ada yang mau Tante bicarakan."


Saat menangkap keragu-raguan di wajah Aira, Evelyn kembali berkata, "ini soal Rakha..."


Aira yang mendengar nama Rakha dibawa-bawa, mendadak tidak tahu bagaimana cara menolak ajakan Evelyn. Seakan tersihir, Aira mengangguk sebagai tanda setuju. Saat itu juga, Evelyn langsung tersenyum lega.


...****...



Itulah isi pesan teks yang baru saja Nico terima dari Aira. Nico membuka pesan itu, sesaat setelah Rio membubarkan pertemuan. Setelah membaca pesan yang dikirimkan Aira, Nico berusaha menghubunginya. Namun sayang, ponsel Aira sedang dalam keadaan tidak aktif. Hal itu tentu saja membuat Nico merasa sangat khawatir pada Aira.


"Yo, Nat, Nic, gue duluan, ya?" Pamit Rakha pada kawan-kawannya. Ia lalu menyampirkan tasnya di pundak, dan keluar dari Ruang Sekertariat dengan langkah terburu.


Gerak-gerik Rakha yang cukup mencurigakan itu, mau tidak mau mulai mengusik Nico.


Sekitar lima belas menit kemudian, Rakha tiba di restaurant yang Aira maksudkan. Begitu tiba di sana, Rakha sedikit bingung. Satu pertanyaan otomatis bersarang di kepalanya; kenapa juga Aira mengajaknya bertemu di tempat seperti ini?


Mengikuti petunjuk yang Aira berikan, Rakha akhirnya tiba di sebuah meja yang terletak paling ujung. Posisinya tepat di samping jendela. Dan dari jarak yang cukup dekat, Rakha dapat melihat Aira yang tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita yang Rakha curigai adalah Mamanya sendiri.


Begitu Rakha mendekat, saat itu juga kecurigaannya terbukti benar. Wanita itu memang benar Mamanya.


Aira menatap Rakha dengan pandangan tidak enak. Ia seperti sadar, kalau baru saja ia sudah melakukan kesalahan yang tidak harusnya ia lakukan. Tapi mau bagaimana lagi? Aira benar-benar sedang terdesak, dan tidak memiliki kesempatan untuk mengelak.


"Kha?" Lirih Aira pelan.


Rakha yang dapat menangkap seraut wajah bersalah dari Aira, langsung tersenyum pada Aira agar ia bisa tenang. Senyum Rakha seakan mengisyaratkan; 'Nggak apa-apa, Ra.'


"Rakha kamu sudah datang?" Imbuh Evelyn dengan rasa senang yang tidak bisa ia sembunyikan lagi karena akhirnya bisa bertemu dengan Putranya kembali.


Rakha menghela nafas, tanpa mengatakan apapun, ia segera mengambil posisi di samping Aira.


"Kha, aku tunggu di depan, ya? Kayaknya kamu butuh waktu ngobrol berdua sama Mama kamu. Ranha juga sebentar lagi datang."


Saat Aira bangkit, Rakha buru-buru menarik ujung jaket Aira untuk menghentikannya. Sambil menatap Aira, Rakha menggelengkan kepalanya, seolah meminta supaya Aira tidak pergi.


Aira tersenyum begitu hangat, dan melemparkan sinyal bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aira lantas menyentuh tangan Rakha yang masih memegangi ujung jaketnya, lalu melepaskannya perlahan.


"Aku tunggu di sana, ya?" Ujarnya lembut.


Rakha kali ini luluh. Ia sudah tidak bisa lagi berkutik di hadapan Aira.


Di saat yang bersamaan, Evelyn semakin yakin bahwa Aira benar-benar sosok yang berarti bagi Rakha.


Dan dari kejauhan, Aira melihat Rakha dan Ranha yang sedang berbicara dengan Evelyn Lim. Wajah Rakha terlihat begitu serius saat mendengarkan Mamanya berbicara. Begitu juga dengan Ranha. Dalam hati Aira berharap, semoga semuanya baik-baik saja dan permasalahan antara Rakha dan Mamanya bisa segera terselesaikan.


Dua puluh menit kemudian, ketiga orang itu terlihat mengakhiri obrolan mereka. Ranha memeluk Mamanya dengan hangat, sementara Rakha, bahkan dari jarak yang cukup jauh pun, Aira dapat menangkap kecanggungan Rakha ketika memeluk Mamanya.


Evelyn Lim memegang wajah Rakha dengan kedua tangannya, lalu mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.


Tidak lama setelah itu, Rakha menghampiri Aira.


"Ayo kita pergi, Ra."


"Ranha gimana?" Tanya Aira.


"Ranha sama Mama. Dan... Mama sendiri yang minta aku buat nganterin kamu."


Aira mengangguk pelan. Dan saat mereka akan melangkahkan kaki, Evelyn tiba-tiba berkata,


"Rakha, Aira, tunggu!"


Rakha dan Aira menoleh ke belakang secara bersamaan. Saat itu juga, Aira langsung disambut dengan senyuman hangat dari Evelyn Lim.


"Aira, terima kasih untuk hari ini, ya? Berkat kamu, pertemuan ini bisa terjadi dan Tante bisa jelasin semuanya ke Rakha dan Ranha."


"Aira nggak ngelakuin apa-apa, Tante."


"Tetap saja itu sangat berarti bagi Tante. Setelah empat tahun lamanya, Tante akhirnya bisa jelasin semuanya ke anak-anak Tante."


Evelyn Lim lebih mendekatkan diri pada Aira. Setelah itu, ia mengsuap kepala Aira dengan sangat lembut.


"Terima kasih karena selalu peduli sama Rakha, ya?"


^^^To be Continued...^^^