We, From The First

We, From The First
#16. Last Game (1)



Akhir minggu ini, Rakha yang bertindak sebagai Ketua Klub Basket bersama OSIS SMA Patuh Karya, bekerja sama untuk mengadakan pertandingan terakhir untuk kelas XII. Ini pertama kalinya kegiatan ini dilakukan atas ide dari Rakha, itulah kenapa selama seminggu terakhir ini, Rakha tampak sibuk mempersiapkan segala halnya.


Pertandingan terakhir antara kelas XII ini mereka beri tema "Last Game", dan akan mereka selenggarakan pada hari minggu nanti. Mereka yang bertanding adalah sesama anggota klub basket khusus untuk angkatan kelas XII. Ini akan benar-benar menjadi pertandingan terakhir mereka yang diharapkan mampu memberikan memori terbaik sebelum kelulusan nanti. Dan pada hari itu juga, Rakha akan menyerahkan posisinya sebagai ketua klub basket yang telah ia emban selama dua tahun ini kepada ketua baru yang telah terpilih.


Setelah melalui berbagai macam persiapan yang cukup matang, akhirnya hari pertandingan tiba. Tim putra dan tim putri yang masing-masing telah dibagi menjadi dua tim akan segera memulai pertandingannya.


Tim putra pertama adalah Tim Galaksi. Tim Galaksi menunjuk Rio sebagai kaptennya. Anggotanya antara lain; Natta, Dhany, Patton, dan Aldo. Sementara tim putra kedua adalah Tim Bima Sakti dengan posisi kapten yang tentu saja dipegang oleh Rakha. Anggota Tim Bima Sakti adalah; Nico, Andra, David, dan Evan.


Sedangkan dari tim putri ada Tim Vega dengan Yumi yang bertindak sebagai kapten, anggotanya adalah; Dea, Nadya, Mety, dan Riri. Lalu tim dua dengan nama Tim Capella. Fida adalah kaptennya, dengan anggota; Lily, Tiara, Dena, dan Julie.


Acara hari itu, dibuka oleh pertunjukan Tim Cheerleaders SMA Patuh Karya yang diketuai oleh Sheryl. Begitu pertunjukan pembuka dimulai, semua penonton yang juga adalah siswa-siswi SMA Patuh Karya tampak begitu heboh. Mereka memenuhi tribun lapangan outdoor dan memberikan semangat dengan kompak kepada mereka semua yang beraksi hari ini.


Beberapa saat sebelum pertandingan tim putra dimulai, Rakha terlihat menghampiri Aira yang saat itu duduk di tribun penonton bersama Bia. Rakha duduk di samping Aira dengan posisi yang cukup dekat. Dan apa yang Rakha lakukan itu, tidak lepas dari perhatian beberapa orang di tempat itu, termasuk Nico yang berdiri di pinggir lapangan.


"Kasi semangat dong, Ra. Ini pertandingan terakhir aku di SMA Patuh Karya" Pinta Rakha seraya menatap kedua mata Aira penuh arti.


Belakangan ini, Rakha memang mulai terang-terangan menunjukan perasaannya pada Aira. Meskipun Aira menunjukan gelagat tidak peka, Rakha tidak gentar. Ia memilih untuk tetap maju. Dan ia merasa, bahwa inilah saat yang tepat baginya untuk selangkah lebih dekat dengan gadis cantik yang sudah menjadi incarannya sejak pertama kali ia lihat ini.


"Semangat Rakha!" Ujar Aira berusaha terlihat bersemangat. Namun matanya dan gerak tubuh canggungnya justru tidak terlihat bertenaga sama sekali. Hal itu langsung saja mengundang gelak tawa Rakha.


Aira lantas cemberut. Dan di mata Rakha, ia terlihat sepuluh kali lebih menggemaskan sekarang.


"Kalau tim aku menang, boleh minta hadiah?"


Aira terdengar mendesah sebelum menjawab, "apa?"


"Nanti setelah pertandingan aku kasi tahu."


"Curang!" Sungut Aira berpura-pura sebal sambil melipat kedua tangannya di atas perut.


Rakha yang kali ini tidak bisa lagi menahan diri melihat betapa menggemaskannya Aira, kontan saja mencubit kedua pipi Aira. Beberapa pasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka, utamanya gadis-gadis yang selama ini mengagumi Rakha, langsung melemparkan pandangan iri.


"Rakha sakit!" Ringis Aira lantas mengusap kedua pipinya setelah Rakha menurunkan tangannya. Sesaat kemudian, mereka sama-sama tertawa.


Bia yang sejak tadi memperhatikan mereka dan sempat merasa bahwa kehadirannya tidak dianggap sama sekali, berdehem cukup keras dan berhasil membuat Aira dan Rakha melihat ke arahnya.


"Dunia serasa milik berdua, ya? Yang lain nge-kos!"


"Eh, ada orang di sini?" Goda Rakha yang semakin membuat Bia merasa gondok.


"Nyari ribut ya, lo" Balas Bia.


Sebelum Bia sempat melampiaskan rasa kesalnya pada Rakha melalui 'kekerasan fisik', Rakha buru-buru kembali ke tengah lapangan dengan berlari kecil. Namun di tengah jalan, Rakha berbalik lalu berkata pada Aira dengan nada yang cukup keras, "RA, AKU PASTI BAKALAN MENANG!"


Rakha mengangkat kedua lengannya di atas kepala membentuk tanda hati dengan tangannya, ia lalu mengedipkan sebelah matanya pada Aira. Aira yang merasa bahwa Rakha hanya bercanda saja dan tidak memiliki maksud lain, hanya tertawa. Dan melihat tingkah manis yang baru saja Rakha tunjukan itu, semua orang yang ada di sekitar mereka langsung berteriak heboh.


"Rakha beneran naksir lo kayaknya, Ra."


Ucapan yang baru saja Bia lontarkan itu membuat Aira menghentikan tawanya. Ia pun menoleh ke arah Bia, "ya nggak lah, Bi. Rakha bukannya memang seperti itu, ya, anaknya?" tanya Aira skeptis.


"Kok ketawa, Bi? Rakha begitu ke semua orang, kan?" kali ini Aira bertanya heran.


Bia mendesah, ia menepuk pundak Aira pelan, lalu menjawab, "lo yang pertama, Ra."


"Hah?"


"Lo orang pertama yang bikin Rakha kayak gitu."


Aira kali ini tidak mengatakan apapun. Ia tampak berfikir. Namun entah apa yang sedang ada dalam kepalanya sekarang.


Sementara Nico, yang sejak tadi menyaksikan adegan demi adegan itu merasa seperti ada sesuatu yang terbakar dalam dirinya. Ia yang biasanya mampu mengendalikan fikirannya, kini tidak bisa lagi melakukan hal yang sama. Melihat Aira tertawa bersama orang lain yang bukan dirinya, membuat ia mulai memahami bahwa perasaan terbakar yang ia rasakan kini punya nama cemburu. Nico menggenggam jemari tangannya dengan amarah tertahan.


...****...


Ingatan tentang kedekatan yang terjadi di antara Aira dan Rakha yang tadi ia saksikan, terus muncul di kepala Nico dan membuat ia lepas kontrol. Hal itu ia buktikan dari permainanya yang cukup kacau di tengah lapangan. Nico tampak tidak fokus, dan beberapa kali mengabaikan instruksi Rakha. Nico bahkan tidak mengikuti strategi yang sudah mereka sepakati bersama, hingga membuat tim mereka kecolongan di quarter pertama.


"Nic, lo kenapa sih hari ini? Main lo kacau banget." Rakha sebagai kapten tim langsung menghampiri Nico, dan memberinya teguran.


"Maaf, Kha! Gue lagi nggak fokus." Nico mengakui kesalahannya, ia tidak mengelak sedikitpun, atau berusaha membela diri.


"Next quarter gue nggak mau tolerir, ya? Lo nggak biasanya kayak gini, Nic. Gue tahu ini bukan pertandingan besar, tapi apapun itu lo harus tetep fokus. Jangan anggep remeh."


"Iya, iya, gue bakal perbaiki di next quarter. Gue minta maaf sekali lagi"


Rakha yang mulai bisa meredam kekesalannya, menepuk pundak Nico beberapa kali seraya berkata, "lebih baik lagi."


Quarter kedua dimulai. Dan Nico benar-benar berusaha untuk fokus kali ini. Usahanya pun tidak sia-sia. Untuk seterusnya, tim nya terus berhasil mencetak poin dan berhasil mengejar ketertinggalan mereka pada quarter pertama tadi. Meskipun quarter ketiga dan keempat cukup sengit, tim Rakha berhasil mengatasinya dengan baik.


Rio berteriak frustasi ketika wasit meniup pluit sebagai tanda berakhirnya pertandingan. Benar saja, pertandingan ini dimenangkan oleh tim Rakha. Rakha bergegas menghampiri Nico, lalu memeluknya diikuti rekan tim mereka yang lain.


Kali ini giliran Rakha yang tersenyum meledek pada tim Rio.


"Udah gue bilang kan, Yo? Gue pasti bisa ngalahin lo di pertandingan berikutnya." Ujar Rakha sembari merangkul Nico di sebelahnya.


Rio mendisis sinis lalu menghampiri kedua sahabatnya itu dan memeluknya sekaligus diikuti oleh Natta. Di tengah pertandingan, mereka adalah lawan. Tetapi begitu pertandingan berakhir, mereka kembali menjadi kawan. Dan itulah yang mereka lakukan sekarang.


"Selamat, Nic!" Ucap Nana pada Nico ketika Nico menghampirinya yang sejak tadi menunggu di tribun barisan tedepan. "Selamat udah memenangkan Last Game, ini, ya? Semoga ini bisa jadi salah satu momen terbaik kamu sebelum kelulusan." Lanjut Nana.


Nico menyambut uluran tangan Nana. Setelah bersalaman, Nico lantas menggenggam tangan Nana dengan erat disertai senyumannya yang selalu tampak meneduhkan.


Nico lalu menarik pelan tangan Nana dan membuat jarak mereka semakin dekat, "makasih, Sayang..." ucap Nico dengan nada berbisik seraya mendekatkan bibirnya pada telinga Nana.


Nana tertawa. Ia pun dengan penuh perhatian mengelap keringat di wajah Nico dengan sebuah handuk kecil yang ia bawa.


^^^To be Continued...^^^