
Ketika Sheryl sedang berjalan-jalan sendirian di sebuah Mall, ia secara tiba-tiba bertemu dengan Aristy —Mama Natta yang saat itu baru saja keluar dari sebuah toko perabot. Sheryl yang tidak menyangka sebelumnya akan bertemu dengan Aristy secara kebetulan di tempat itu, langsung terlihat canggung.
Natta memang sangat dekat dengan Mamanya, dan dulu saat masih berpacaran dengan Natta, Sheryl memang terbilang sering bertemu dengan Aristy. Aristy juga menyukai keperibadian Sheryl yang baik. Ia bahkan menyayangi Sheryl karena sikap perhatian Sheryl pada Natta.
"Sheryl?"
Mau tidak mau, Sheryl akhirnya menghampiri Aristy. Aristy yang merasa sangat senang bertemu dengan Sheryl, langsung memeluk Sheryl dan mencium kedua pipinya secara bergantian.
"Tante nggak nyangka bakalan ketemu kamu di sini."
"Hehehe iya nih, Tan. Tante apa kabar?"
"Baik. Kamu sendiri gimana? Udah lama nggak ketemu nih."
Sebelum menjawab, Sheryl tampak berfikir. Dalam hatinya, ia seolah berkata bahwa selama ini kabarnya tidak pernah baik-baik saja. Natta telah memutuskan hubungan mereka secara sepihak, tanpa memberitahukan apa alasannya. Selama putus, Natta bahkan bersikap dingin padanya, dan seringkali menganggap seakan-akan Sheryl tidak kelihatan.
Sheryl kembali menyunggingkan seulas senyum di wajahnya, lalu menjawab, "baik kok, Tan."
Beberapa saat kemudian, Sheryl dan Aristy sudah duduk berhadapan di sebuah café. Dengan penuh perhatian, Aristy memotong sebuah kue untuk Sheryl, lalu menyerahkannya. Sheryl pun menerima lalu mengucapkan terima kasih.
"Kamu... pasti udah denger berita soal Om, kan?" Ucap Aristy penuh keraguan setelah sebelumnya ia terdengar menghela nafas panjang.
Sheryl pun langsung merasa tidak enak hati. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
"Sheryl turut menyesal dengan apa yang terjadi, Tan."
Aristy lalu memegang salah satu tangan Sheryl, kemudian menatap matanya.
"Dengan apa yang terjadi sekarang, tolong jangan benci sama Iel, ya? Ini bukan salah Iel. Selama enam bulan ini, Iel sangat kesulitan. Tapi Iel selalu bilang nggak apa-apa, karena kamu selalu ada buat dia."
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Aristy, Sheryl otomatis terkejut. Dari apa yang Aristy katakan, ia dapat mengambil kesimpulan bahwa Natta belum memberitahukan Mamanya bahwa mereka sudah putus sejak lima bulan yang lalu.
"Iel ngomong begitu, Tan?"
Aristy mengangguk, lalu berkata, "untuk itu, Sher,Tante minta tolong, jangan putusin Iel karena masalah ini. Tetep sama Iel terus, ya?"
Sheryl tidak mengatakan apapun. Lalu Aristy melanjutkan ceritanya mengenai Natta.
"Selama enam bulan terakhir ini, Iel pasti nggak punya banyak waktu buat kamu, kan?"
Sheryl hanya tersenyum. Lagi-lagi hanya menjawab dalam hati, bahwa Natta bukan hanya tidak punya waktu untuknya, tapi Natta benar-benar mengabaikannya.
"Iel melakukan dua pekerjaan paruh waktu selama enam bulan terakhir ini. Padahal Tante udah bilang, kalau kami tidak semiskin itu, Tante masih bisa penuhi semua kebutuhan Iel walaupun tidak seperti dulu. Tapi Iel keras kepala, dan tetap ingin melakukannya."
Tunggu dulu! Pekerjaan paruh waktu? Jadi selama ini Natta bekerja paruh waktu? Sheryl semakin merasa terkejut setelah mengetahui itu. Tidak pernah terlintas dalam fikirannya sedetikpun, bahwa kehidupan Natta benar-benar dalam kesulitan selama enam bulan terakhir ini, dan Sheryl tidak tahu apapun.
Rasa bersalah, marah, kesal, dan sesal, sekarang bercampur jadi satu dalam diri Sheryl. Tapi ia tidak bisa mengatakan apapun di depan Aristy. Ia harus menahan segalanya sebisa mungkin. Dan untuk saat ini, ia benar-benar belum bisa menatap Natta dengan cara yang sama. Ia masih kecewa, dan justru sekarang semakin kecewa setelah tahu yang sebenarnya.
Bahwa Natta tidak pernah melibatkannya, bahwa Natta lebih memilih menyimpan semua masalahnya sendirian tanpa mau berbagi dengan Sheryl. Mendadak Sheryl merasa, bahwa mungkin saja dia tidak sepenting itu untuk Natta selama ini.
...****...
Berkat petunjuk dari Bu Ningsih, Aira dan Nico akhirnya berhasil menyelesaikan masakan mereka. Setelah itu, Aira dan Nico segera bersiap-siap. Setengah jam kemudian, saat waktu menunjukkan pukul 5 sore, Regina dan Adryan tiba di rumah.
Adryan dan Regina melepas rindu untuk beberapa saat sebelum pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan siap menyantap masakan hasil kerja sama dari Aira dan Nico. dua puluh menit kemudian, mereka berempat sudah berkumpul di meja makan. Sembari Bu Ningsih menyiapkan makanannya dengan dibantu Aira, Nico tampak asyik menceritakan berbagai hal pada kedua orang tuanya selama mereka sedang melakukan perjalanan bisnis.
"Ibu sama Bapak harus tahu, makanan ini dimasak langsung sama Mba Nana dan Mas Nico. Coba deh." Ujar Bu Ningsih sambil meletakkan sepiring sapi lada hitam di atas meja.
"Dapur aman kan, Bu Ningsih?" Tanya Adryan pada Bu Ningsih yang sengaja ingin menggoda Nico dan Aira.
"Mereka akur, kan, selama kami nggak ada?" Regina menimpali.
"Oya jelas akur. Mereka bahkan semakin dekat sekarang. Tidak seperti awal-awal dulu." Jawab Bu Ningsih sambil berlalu.
Adryan dan Regina lalu menatap Nico dan Aira yang duduk tepat di depan mereka sambil tersenyum. Dan entah dapat ide darimana, Regina tiba-tiba saja berkata pada Adryan di sampingnya,
"Pa, kalau kita jodohin Nico sama Nana gimana? Mereka kayaknya cocok deh."
Mendengar ucapan Regina barusan, secara bersamaan Nico dan Aira langsung tersedak makanan. Mereka sama-sama batuk, lalu secara bersama-sama juga segera meraih gelas minuman yang ada di hadapan mereka.
Sambil menepuk-nepuk dadanya, Aira segera meluncurkan protes atas ide itu.
"Tante apa-apaan sih?"
Menanggapi ucapan Aira, Adryan dan Regina hanya tertawa lalu melanjutkan makan mereka. Sementara Nico, tanpa ada yang tahu, ia diam-diam tersenyum seraya mengunyah makanannya dan memalingkan wajah agar tidak seorang pun tahu.
Sepertinya, Nico juga diam-diam setuju dengan ide Mamanya itu.
"Nico! Kamu kok senyum? Kamu setuju sama ide Om dan Tante?" tanya Aira dengan nada mengintrogasi setelah menyadari bahwa Nico sedang tersenyum sekarang.
"Hahaha, nggak gitu." Elak Nico yang masih salah tingkah seraya tertawa.
"Lihat senyumnya Nico. Kayaknya Nico mengharapkan perjodohan ini, deh." Simpul Regina kemudian.
Nico tidak mengatakan apapun. Ia bahkan tidak berniat membantu Aira yang tampak sibuk melawan dan membantah candaan Adryan dan Regina yang terus-terusan menggoda mereka.
Nico seperti sangat menikmati situasi ini.
...****...
Pukul dua pagi yang sama seperti sebelumnya. Saat itupun, Nico terlihat sedang menemani Aira. Mereka duduk berdampingan di sebuah sofa yang terdapat di beranda belakang rumah Nico. Setelah sama-sama menceritakan banyak hal secara bergantian, Aira tiba-tiba meminta Nico untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya agar ia mengantuk dan bisa segera melanjutkan tidurnya.
Nico yang memang tidak pernah bisa menolak apapun permintaan gadis ini, lantas mengambil gitar milik Papanya yang tepat berada di sampingnya.
"Mau lagu apa?" Tanya Nico kemudian.
"Apa saja." Jawab Aira singkat.
Mendengar jawaban Aira yang sama sekali tidak membantu itu, Nico langsung mendengus. Tetapi kemudian, dia langsung tersenyum. Siapapun yang melihat senyuman Nico saat ini, sudah pasti akan berfikir bahwa Nico sedang jatuh cinta pada seseorang.
Tidak lama berfikir, Nico akhirnya menemukan satu lagu yang memang sedang ingin ia nyanyikan. Jemarinya lalu mulai memetik senar dengan lembut. Aira yang menyukai lagu pilihan Nico begitu ia mendengar intro, langsung tersenyum dan berujar dengan suara sedikit serak menahan kantuk, "waah, Nico! Pilihan bagus."
"Look into my eyes
You will see
What you mean to me
Search your heart, search your soul
And when you find me there
You'll search no more..."
Aira yang memang sudah dalam keadaan setengah sadar sejak ia meminta Nico untuk bernyanyi, sekarang mulai terlihat memejamkan mata. Dan Nico sedikit terkesiap ketika tiba-tiba kepala Aira terjatuh di pundaknya. Meski begitu, Nico tetap melanjutkan nyanyiannya dengan tenang.
"Don't tell me it's not worth tryin' for
You can't tell me it's not worth dyin' for
You know it's true
Everything I do... I do it for you..."
Dalam perhitungan Nico, Aira pasti sudah tertidur dengan nyenyak sekarang. Itu terdengar dari desauan nafasnya yang mulai terdengar teratur.
"You know it's true
Everything I do... I do it for you..."
Begitu selesai dengan nyanyiannya, Nico terdiam untuk beberapa saat. Wajahnya yang tadinya tampak tenang, sekarang menjadi gusar. Dan di kejauhan sana, dari dalam dirinya, ia dapat mendengar suara berisik dari hati dan otaknya yang sedang berdebat untuk satu hal.
Nico lantas menundukkan wajahnya seraya menghela nafas cukup panjang. Saat itu ia tahu, bahwa hatinyalah yang sudah memenangkan perdebatan yang cukup sengit itu.
Nico lalu menoleh ke samping, mendapati Aira yang terlihat nyaman bersandar di pundaknya. Nico menatapnya untuk beberapa lama, sambil sekali lagi berfikir, dan berusaha menemukan keyakinan sebelum akhirnya ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Aira. Ketika mereka nyaris tidak berjarak lagi, Nico perlahan memejamkan kedua matanya. Kemudian, Nico dapat merasakan bibirnya menyentuh bibir Aira dengan lembut. Nico menahannya sedikit lebih lama, dan membiarkan kehangatan mengaliri seluruh tubuhnya dalam diam.
Namun ternyata, perhitungan Nico yang biasanya tepat, kini meleset.
Tanpa sepengetahuannya, Aira membuka matanya untuk sesaat. Namun dia lebih memilih untuk tidak menunjukkan reaksi apapun meski ia sangat terkejut dan seluruh sel dalam tubuhnya bergetar hebat. Aira lalu kembali memejamkan matanya tanpa suara. Berpura-pura tertidur, dengan tangan yang perlahan terkepal. Dan besok, dia akan bersikap seolah-olah ini hanyalah mimpi yang kemudian lenyap begitu ia membuka mata.
Dia tahu Nico sudah mencuri ciuman pertamanya. Namun itu hanya akan menjadi rahasianya seorang. Dunia ataupun Nico tidak boleh tahu bahwa ia tahu.
^^^To Be Continued...^^^