We, From The First

We, From The First
#32. Dating With Nico



Aira sedang menekuri sebuah buku di ruang tengah ketika Nico tiba-tiba meletakkan selembar kertas berwarna pink yang beberapa waktu lalu Aira berikan sebagai kupon untuk Nico. Aira meraih kupon itu, dan membaca bagian belakangnya yang sudah Nico tuliskan dengan keinginannya.


"Main sama aku seharian!"


Aira mengangkat wajahnya, lalu menatap Nico yang sudah berdiri dengan manis di hadapannya sekarang.


"Hari ini?" Tanya Aira dengan malas-malasan.


Berbanding terbalik dengan Aira sekarang, Nico justru terlihat sangat bersemangat. Nico lalu mengangguk mantap sebagai jawabannya atas pertanyaan yang Aira ajukan. Aira lalu mendesah. Ia terkulai lemas di sofa dan membiarkan buku yang sejak tadi ia baca menutupi wajahnya. Ia sangat amat malas sekarang. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur setuju untuk memenuhi satu permintaan Nico.


Oke! Untuk hari ini saja.


Sepuluh menit kemudian setelah selesai bersiap-siap, Aira segera turun dan menghampiri Nico yang saat itu sedang menunggunya di beranda depan. Hari itu, Aira tampak manis. Ia menggunakan t-Shirt putih bergambar Mickey Mouse dengan bawahan denim button front skirt berwarna biru. Sebagai pelengkap, ia menggunakan sebuah sneakers putih. Rambut sebahunya ia biarkan tergerai tanpa aksesori apapun.


Sedangkan Nico, ia tampak santai dengan t-shirt putih polosnya yang ia padu padankan dengan sebuah jaket denim oversize. Sama seperti Aira, ia juga mengenakan sebuah sneakers putih. Entah sebuah kebetulan, atau ini merupakan salah satu turut campur semesta, penampilan mereka terlihat cukup serasi hari itu. Namun meski begitu, mereka sama sekali tidak menyadarinya.


Nico dan Aira memilih menggunakan bus untuk menjalankan agenda mereka hari ini. Di dalam bus mereka duduk berdampingan seraya mendengarkan musik melalui ponsel Aira. Mereka berbagi earphone, dan terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka.


Tidak lama setelah itu, Nico menunjukan ponselnya pada Aira dan memperlihatkan bahwa hari ini Finding Nemo 3D tayang. Aira ingin menolak dan ingin jujur pada Nico bahwa ia tidak begitu suka menonton di bioskop. Tapi mengingat bahwa hari ini ia harus memenuhi keinginan Nico, Aira akhirnya berusaha meredam keinginannya sendiri sekali lagi.


Setelah dari bioskop, Nico tiba-tiba ingin bermain di timezone. Dan lagi-lagi, Aira harus mengikutinya. Setelah melakukan beberapa permainan di sana, mereka pun keluar dari area bermain dengan sebuah boneka beruang. Ketika wajah Nico terlihat begitu gembira, Aira justru hanya menunjukkan ekspresi sebal dengan sebuah boneka beruang dalam dekapannya. Entah kenapa, ia mulai merasa tersinggung ketika Nico memberikannya boneka beruang sialan ini.


"Nic, kamu pasti sengaja, kan? Kamu mau ngeledek aku, kan, dengan boneka beruang ini?" Ujar Aira. Masih dengan wajah sebalnya.


Nico yang saat itu berjalan di depannya, langsung berbalik dan lebih mendekat pada Aira. Untuk yang kesekian kalinya, Nico mengusap rambut Aira.


"Tapi kamu seneng, kan, akhirnya bisa ketemu kembaran kamu?"


"Nico!!"


Begitu Aira akan meluapkan rasa kesalnya, Nico secara tiba-tiba menarik pergelangan tangan Aira dan membawanya masuk ke sebuah photobox. Selama sesi foto, Aira terus saja menampakkan wajah cemberutnya yang justru semakin membuat Nico merasa gemas dengan gadis ini.


"Raaa... senyum dong. Ini kan ulang tahunku." Pinta Nico seraya memegang kedua pipi Aira. Aira pun mau tidak mau akhirnya terpaksa memasang wajah ceria demi menyenangkan hati Nico hari ini.


Mereka pun kembali ke rumah saat hari sudah beranjak malam. Aira tampak kelelahan. Bahkan di dalam bus tadi, Aira tertidur cukup nyenyak di pundak Nico. Setelah keluar dari bus pun, Aira masih terlihat mengantuk.


Melihat Aira yang terus seperti itu sepanjang jalan menuju rumah, Nico secara mendadak berjongkok di hadapan Aira dan berkata, "ayo naik!"


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Aira heran. Apa yang Nico lakukan itu membuatnya agak kaget hingga berimbas pada kembalinya kesadarannya. Ia tidak lagi mengantuk sekarang.


"Anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah nemenin aku seharian ini." Jawab Nico.


"Bukannya kamu bilang aku berat kayak beruang?" Balas Aira yang rupanya masih kesal dengan Nico.


Nico kini menoleh ke arah Aira yang masih menampakkan wajah cemberutnya dengan boneka beruang pemberian Nico dalam pelukannya.


"Jadi, kamu masih marah karena itu? Aku minta maaf, ya?" Ujar Nico dengan lembut. Aira seketika luluh.


"Raa?"


"Hmm?" Gumam Aira yang semakin tenggelam dalam pundak Nico yang terasa hangat dan harum.


Sebelum menjawab, Nico terdengar menghela nafas untuk meminimalisir rasa gugupnya. "Makasih, ya, buat hari ini..."


...****...


Sekitar pukul delapan malam, Natta tiba di sebuah restaurant mewah yang terdapat di lantai 27 di salah satu hotel bintang 5 di kota Harsa. Begitu lift terbuka, kedatangan Natta langsung disambut oleh Ian, Kakak sulungnya.


Arian Nayaka Pratama, atau biasa disapa Bang Ian oleh Natta, adalah putra sulung di keluarga mereka. Ian berkuliah di Jerman, dan kini sudah menginjak tahun keduanya.


Dan Natta sama sekali tidak menyangka sebelumnya, bahwa Ian akan pulang. Padahal, ia dan Mama nya sudah sepakat untuk tidak memberitahukan pada Ian apa yang sebenarnya terjadi.


"Bang Ian?"


"Kenapa? Kaget kenapa Bang Ian bisa ada di sini?"


Natta tidak mengatakan apapun. Sekarang ia sudah cukup bingung bagaimana harus berkelit lagi.


"Papa udah cerita semuanya sama Bang Ian. Dan Papa sendiri yang minta Bang Ian untuk pulang. Kenapa kamu nggak pernah ngomong apa-apa sama Bang Ian selama ini, Yel?"


"Mama nggak mau Bang Ian khawatir. Mama mau Bang Ian tetep fokus sama kuliah Bang Ian." Jawab Natta tanpa berani menatap Kakaknya.


Ian terdengar menghela nafas. Selama ini, Ian memang anak kebanggaan keluarga. Ia pintar dan bijaksana. Di usianya yang masih terbilang muda, Ian sudah sangat mandiri. Selama tinggal dan berkuliah di Jerman pun, ia menanggung biaya hidupnya sendiri dengan alasan tidak ingin bergantung pada kedua orangtuanya.


Meskipun keluarganya bukan orang sembarangan, Ian tetap memiliki keinginan untuk melakukan segala halnya sendiri.


Beberapa saat kemudian, Natta dan Ian memasuki salah satu ruangan VIP yang memang sudah dipesan khusus oleh Papanya langsung. Dan begitu masuk ke ruangan, Natta lagi-lagi terkejut ketika melihat Mama dan Papanya sudah duduk berdampingan.


Saat itu juga, Natta tiba-tiba merasa firasatnya mulai tidak enak.


Dan benar saja. Firasat Natta itu terbukti benar. Kedua orang tuanya memutuskan untuk tidak bercerai demi Ian dan Natta. Hadinata Pratama bahkan telah memutuskan hubungannya dengan Melanie. Tidak hanya itu, Hadinata juga menghapus semua kontaknya dengan Melanie.


Yang membuat Natta sangat kecewa saat ini, kenapa Mamanya gampang sekali memaafkan pengkhianatan yang sudah dilakukan oleh Papanya? Natta benar-benar tidak habis fikir.


Setelah kedua orang tuanya menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan, Natta bangkit dari duduknya lalu berkata,


"Maafin, Iel. Tapi Iel nggak bisa duduk lebih lama di sini. Lanjutkan saja makan malam mewah kalian tanpa Iel."


Begitu Natta berjalan keluar, Hadinata terus memanggilnya dan memintanya untuk kembali. Bahkan Mamanya sudah akan menyusulnya, namun Ian tiba-tiba mencegahnya.


"Mama diem aja di sini. Biar Ian yang samperin Iel.


^^^To be Continued...^^^