
Tim dari kelas Rakha dan Tim dari kelas Nico sudah berhadapan di tengah lapangan indoor untuk memulai permainan dodgeball. Entah kebetulan atau tidak, posisi masing-masing dari mereka sangat tepat. Rakha berhadapann dengan Nico, Aira berhadapan dengan Nana, dan Natta berhadapan dengan Sheryl.
Ketika wasit meniup peluit, mereka langsung memulai permainan. Sheryl yang memang sejak tadi menargetkan Natta, langsung saja melempar bola dengan cukup keras ke arah Natta. Natta sebenarnya bisa saja menangkis dan membuat Sheryl yang tereliminasi, tapi ia tidak ingin melakukannya. Dan hal yang Natta lakukan itu, langsung menimbulkan protes dari Aira dan Yumi.
"Natta!" Pekik Aira cukup keras.
Natta keluar dari lapangan setelah dinyatakan 'mati'. Padahal permainan baru saja dimulai.
"Emang dasarnya udah bucin. Jadi susah." Ledek Yumi seraya menggelangkan kepalanya yang merasa tidak habis fikir dengan ulah Natta barusan.
Permainan dilanjutkan. Sejauh ini, Tim dari kelas Nico lebih unggul dari kelas Rakha. Rakha yang memang memiliki jiwa kompetitif yang begitu kuat, kali ini bertekad untuk bisa mengalahkan kelas Nico. Selain itu, rasa cemburunya pagi tadi ketika tidak sengaja meningtip chat yang dikirimkan Nico untuk Aira, semakin membuat jiwa kompetitifnya memanas.
Aira sudah akan melempar bola ke tim lawan, namun saat ia melihat Nico yang ada di hadapannya, Aira malah termenung untuk beberapa saat. Sebelum 5 detik berlalu, dan Aira terancam keluar dari permainan, Rakha segera mengambil inisiatif untuk melempar Nico, tapi terlambat, karena Nana sudah lebih dulu melempar bola ke arah Aira. Lemparan Nana yang cukup keras itu mengenai lengan Aira dan membuatnya meringis kesakitan.
"Aw..." Ringis Aira sambil memegangi lengannya.
Di saat itulah, tanpa sadar Nico melewati garis tengah karena buru-buru menghampiri Aira yang kesakitan.
"NICO, OUT!"
Rakha dan Nana mendesah secara bersamaan. Mereka sama-sama merasa kecolongan satu sama lain.
"Aira, kamu nggak apa-apa?" Ujar Nico cemas seraya memeriksa lengan Aira. Dan benar saja, lengan Aira sedikit memar karena lemparan 'maut' dari Nana.
Nico lalu segera menuntun Aira keluar dari lapangan.
"Nicooo! Sebenarnya lo tim kelas mana sih?" Sungut Sheryl yang merasa cukup kesal pada Nico sekarang.
Akhirnya Sheryl bisa merasakan apa yang Yumi CS rasakan.
Begitu Nico dan Aira sudah keluar dari lapangan, Rakha tiba-tiba menatap ke arah Nana dengan pandangan dingin. Ia tahu ini hanya permainan, tapi sejauh ia mengenal Nana selama ini, meskipun mereka tidak begitu dekat, Rakha tahu, bahwa tadi Nana sudah lepas kendali. Itu bukan Nana yang biasanya.
"Gue baru tahu lo bisa ngelempar bola sekeras itu, Na." Ujar Rakha sarkas dengan nada bicara yang tidak kalah dinginnya dengan tatapannya.
Nana balas menatap Rakha, namun ia tidak mengatakan apapun.
...****...
Permainan dodgeball akhirnya benar-benar dimenangkan oleh kelas Rakha. Dan Rakha juga benar-benar sudah membuktikan betapa kuat jiwa kompetitif yang dia miliki.
Ketika Rakha akan menghampiri Aira yang saat itu sedang duduk sendiri di bangku penonton, Nico tiba-tiba saja datang dengan langkah terburu sambil membawa sebuah ice bag. Ia duduk di samping Aira, lalu segera mengompres lengan Aira.
Merasa enggan mundur, Rakha melanjutkan langkahnya lalu menghampiri Nico dan Aira.
"Ra, kamu nggak apa-apa?" Tanya Rakha berusaha terlihat tenang.
"Cuma memar kecil aja, kok." Jawab Aira. Ia lalu mengambil alih kompresan itu dari tangan Nico, dan mengompres lengannya sendiri.
Dan dari tempatnya sekarang, Aira dapat melihat Nana yang berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan lapangan. Sepertinya Nana ingin mengatakan sesuatu pada Aira. Tetapi begitu ia melihat ada Nico dan Rakha yang sedang bersamanya sekarang, Nana akhirnya mengurungkan niatnya.
Di hati kecilnya, Aira sebenarnya mulai menyimpan rasa bersalah terhadap Nana. Tidak hanya Nana yang merasa, namun belakangan ini juga, Aira yang setiap hari bersama Nico dan memang memahami Nico tanpa perlu mengatakan apapun, mulai merasakan perubahan sikap Nico.
Akhir-akhir ini, Aira mulai jarang melihat Nico menelepon Nana. Sudah dua minggu juga mereka tidak terlihat jalan bersama. Ini mulai terlihat janggal. Aira merasa ada yang salah, hingga mau tidak mau akhirnya ia berfikir, apa karena kehadirannyalah yang menyebabkan Nico mulai jauh dari Nana?
Lalu suatu hari, ketika jam pulang sekolah, Aira memberanikan diri untuk mengajak Nana berbicara empat mata saat mereka tidak sengaja berpapasan di koridor.
Aira mengajak Nana ke sebuah café yang ada di seberang sekolah. Tempat dimana murid-murid dari sekolah mereka biasanya berkumpul.
"Lengan kamu gimana, Ra? Masih sakit?"
Tanya Nana penuh perhatian seraya melirik lengan Aira yang beberapa hari lalu ia lempari bola dengan cukup keras.
Aira sedikit terkesiap. Sambil melirik lengannya ia lalu menjawab, "aaah ini? Udah nggak apa-apa kok. Lagian cuma memar kecil aja."
"Maaf, ya? Waktu itu aku ngelempar bola terlalu keras."
"Nggak apa-apa, Na. Aku aja yang lemah dan kurang cekatan, hehehe" Aira mengakhiri kalimatnya dengan kekehan yang cukup canggung.
"Kamu mau ngomongin sesuatu sama aku?" tanya Nana —lagi dengan sedikit ragu.
Sekarang Aira malah bingung bagaimana memulai pembicaraan dengan Nana. Ia belum begitu mengenal Nana, itulah kenapa Aira tampak ragu-ragu ingin menyampaikan apa yang ada dalam fikirannya sekarang. Ia takut membuat Nana tersinggung.
"Kamu... sama Nico baik-baik aja, kan?" Aira akhirnya mengeluarkan juga pertanyaannya setelah cukup lama berkutat dengan rasa ragunya.
Nana yang sedang mengaduk minumannya seketika menghentikan aktifitasnya. Ia terlihat membeku untuk beberapa saat. Tidak lama, ia berusaha tersenyum lalu menatap Aira.
"Iya, Ra. Kami baik-baik aja. Cuma belakangan ini, kita semua lagi sibuk, kan? Maklum kita kelas XII. Udah nggak punya waktu lagi buat jalan, ataupun nongkrong."
Sebenarnya masih banyak yang ingin Aira sampaikan. Namun ia merasa bahwa itu semua bukan kapasitasnya kendatipun ia sangat mengkhawatirkan Nana dan Nico. Ia tidak ingin melewati batas.
^^^To be Continued...^^^