We, From The First

We, From The First
#45. Liburan Akhir Tahun



Aira baru saja selesai memasak makan malam saat Nico tiba-tiba memasuki dapur, dan menarik salah satu tangan Aira yang saat itu sedang meletakkan piring di meja makan. Nico menatap Aira dengan kilat-kilat kemarahan yang tidak bisa ia redam lagi.


"Kamu seharian ini kemana aja sama Rakha? Kenapa ponsel nggak aktif?"


Tanpa Nico sadari, ia menggenggam tangan Aira terlalu kuat, hingga membuat Aira meringis pelan.


"Nic, lepasin dulu tangan aku. Sakit."


Melihat raut kesakitan di wajah Aira, amarah Nico yang tadinya memuncak perlahan surut. Ia lalu melepaskan tangan Aira. Saat itulah Nico melihat pergelangan tangan Aira agak memerah, dan ia tidak bisa menghindari diri dari rasa bersalahnya.


"Tadi Mamanya Rakha nyamperin aku waktu lagi di halte, dan minta tolong supaya bisa dipertemukan sama Rakha. Aku sebenernya pengen nolak, tapi nggak enak."


"Terus ponsel kenapa nggak aktif? Kamu tahu? Aku khawatir setengah mati sama kamu. Aku fikir hal buruk mungkin terjadi sama kamu."


"Aku minta maaf, ya, karena udah bikin kamu khawatir. Tadi ponsel aku mati. Baterainya habis."


Mendengar penjelasan Aira, Nico tiba-tiba memalingkan wajahnya. Aira yang tidak bisa melihat Nico marah seperti ini padanya, langsung meraih tangan kanan Nico dengan kedua tangannya, dan menggenggamnya lembut. Aira juga memiringkan posisi wajahnya agar bisa melihat wajah Nico.


"Kamu beneran marah? Kan aku udah minta maaf."


"Jadi kamu fikir aku nggak akan marah? Kamu fikir aku nggak akan marah makanya kamu bersikap kayak tadi?" Kata Nico. Dia masih belum mau menatap Aira.


Tanpa Nico duga, Aira tahu-tahu meraih wajahnya dengan kedua tangannya, hingga mau tidak mau wajah mereka akhirnya berhadapan satu sama lain. Aira lalu menatap mata Nico lekat-lekat.


"Marahnya boleh lanjut nanti lagi? Sekarang kamu makan dulu, ya? Bu Ningsih bilang, kamu belum makan dari siang."


Nico tersenyum jengah seraya mendesis pelan, "apa kamu fikir aku masih ada nafsu makan?"


Nico sedang merajuk sekarang. Tapi toh akhirnya ia menurut juga pada Aira.


Sepuluh menit kemudian, Nico turun dari lantai dua setelah membersihkan diri. Ia duduk di meja makan dengan masih memasang wajah kesalnya. Namun kali ini, Aira memutuskan untuk tidak mengatakan apapun agar Nico tidak semakin kesal padanya.


Lalu ketika Aira akan mengambil nasi untuknya, Nico buru-buru mengambil alih piringnya dari Aira seraya berkata, "aku bisa sendiri."


"Bu Ningsih lagi nggak enak badan. Jadi, ini aku masak sendiri. Kalau ada yang kurang, harap maklum, ya?"


Nico bergeming.


Mereka pun melanjutkan makan malam mereka dengan hening. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan suara piring yang menjadi backsound kebersamaan mereka.


"Lain kali jangan kayak gitu lagi, Ra. Jangan menghilang dan susah dihubungi lagi."


Ucap Nico pelan yang berhasil memecah keheningan di antara mereka.


Mendengar itu, Aira serta-merta mengangkat wajahnya, dan menatap ke arah Nico yang masih menunduk.


"Iya. Aku nggak akan kayak gitu lagi. Aku janji sama kamu." Jawab Aira dengan penuh kesungguhan.


...****...


"Yo, tunggu di sini sebentar, ya? Ada yang mau gue ambil buat lo."


Sebelum Rio menjawabnya, Bia buru-buru berlari masuk ke dalam rumahnya. Tidak lebih dari lima menit, Bia lalu keluar sambil membawa sebuah gitar yang masih baru. Rio tertegun sejenak saat mengingat perkataan Tristan, bahwa ia pergi menemani Bia untuk membeli sebuah gitar.


Apa gitar yang sekarang Bia bawa, adalah gitar yang Tristan maksud?


"Ini buat lo, Yo." Ujar Bia sambil menyerahkan gitar itu untuk Rio.


Dengan wajah kebingungan, Rio menerima gitar itu.


"Ini buat ngegantiin gitar lo yang waktu itu gue rusakin. Gue kurang paham soal gitar, makanya minta tolong sama Tristan buat nemenin gue."


Satu senyuman lega langsung tergambar di wajah Rio, ketika semua kesalah pahamannya dengan kedekatan antara Bia dan Tristan mulai terjawab. Ternyata Tristan sengaja ingin memanasi Rio agar Rio memiliki keberanian untuk maju, memperjelas perasaannya pada Bia.


Sekembalinya dari rumah Bia, Rio langsung pergi menemui Tristan. Saat tiba di rumah Tristan, Rio begitu saja menerobos masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Tristan yang saat itu sedang melakukan panggilan video dengan seorang gadis.


"Lu kalo masuk kamar orang ketok pintu dulu dong." Gerutu Tristan sembari bangkit dari kasurnya lalu berjalan ke arah sofa.


"Jadi lo nggak beneran suka sama Bia, Tris?"


Tristan terdiam sejenak, sebelum akhirnya mendenguskan tawanya.


"Rupanya lo udah tahu, ya?" Gumam Tristan pelan.


Rio pun mendekat, kemudian duduk di sisi Tristan yang saat itu sedang menyalakan televisi berukuran besar di depannya. "Lagian nggak mungkinlah gue suka sama cewek yang lo suka juga. Gue sengaja aja ngerjain lo kemarin, biar lo mau bergerak.Gue juga udah punya cewek. Bia kenal kok. Dulu kami satu kelas di SMP."


"Hahaha..." Rio tertawa nyaring sebelum akhirnya menepuk punggung Tristan beberapa kali seraya berkata, "gue nggak nyangka punya sepupu sepengertian elo, Tris."


"Gue bukannya sok-sokan jadi sepupu yang pengertian, cuma aja gue udah males lihat lo ribet sama perasaan sendiri. Kalo emang suka, ya nyatain. Nggak perlu membuat segala hal yang sebenernya gampang jadi rumit." Tutup Tristan kemudian.


Tepat setelah Tristan menyelesaikan khotbahnya, Rio tiba-tiba saja menerima satu pesan teks dari Bia yang langsung membuatnya tersipu. Pesan teks yang Bia kirimkan membuat persaan Rio menghangat dalam debar-debar yang menyenangkan.



Rio pun segera menelepon Bia.


...****...


Tepat di tanggal 31 Desember, Nico dan Aira bersama dengan Rakha, Yumi, Rio, Bia, Natta dan Sheryl pergi berlibur ke sebuah daerah pantai yang ditempuh dalam waktu satu setengah jam dari Kota Harsa. Di sana, mereka akan menginap di rumah Nenek Yumi untuk merayakan pergantian tahun. Dan besok pagi-pagi sekali, mereka berencana akan pergi ke pantai untuk melihat matahari terbit pertama di tahun 2013.


Aira menaiki mobil yang dikendarai oleh Yumi bersama Natta dan Sheryl. Sementara Rakha, ia menaiki mobil yang dikendarai oleh Nico bersama Rio dan Bia.


Mereka tiba di rumah Nenek Yumi saat waktu hampir beranjak sore. Setibanya di sana, mereka langsung disambut dengan hangat oleh Nenek Yumi bersama Paman dan Bibinya. Mereka dipersilahkan duduk berkumpul di sebuah Saung yang ukurannya cukup luas. Setelah itu, mereka pun disuguhi berbagai macam makanan yang tampak sangat lezat.


"Nikmati makanan kalian, ya?" Ucap Nenek Yumi pada mereka semua.


"Yaaa! Terima kasih makananya, Nenek." Jawab mereka semua dengan kompak yang langsung disambut oleh tawa renyah dari Nenek Puspa –Nenek Yumi.


"Nenek, makanannya sangat enak. Terima kasih." Ujar Nico memberi pujian dengan sopan.


"Iya... iya... sekarang makan, ya?"


Malam harinya, mereka semua melakukan Barbeque Party kecil-kecilan di halaman belakang rumah Nenek Puspa yang berhadapan langsung dengan pemandangan pantai. Mereka terlihat kompak bekerja sama satu sama lain untuk menyiapkan setiap keperluan yang mereka butuhkan.


Sementara yang lainnya sibuk melakukan persiapan di rumah, Rakha dan Yumi kebagian tugas berbelanja di toko swalayan terdekat di daerah itu. Begitu selesai dengan daftar belanjaan mereka, Rakha dan Yumi secara bersamaan memasukan barang belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil.


Setelah selesai memasukan barang belanjaan mereka, perhatian Rakha tahu-tahu tertuju pada Yumi yang terlihat kedingingan saat angin malam menerpa tubuhnya. Tanpa fikir panjang, Rakha buru-buru melepaskan kemeja yang ia kenakan, lalu memasangkannya di tubuh Yumi.


"Pake nih, biar lo nggak mati kedingingan."


Tubuh Yumi memang terasa dingin, tapi sesaat setelah Rakha memasangkan kemejanya, entah kenapa Yumi merasakan perasaannya menghangat. Rakha mungkin tidak tahu, bahwa hal kecil yang baru saja ia lakukan, sudah berhasil membuat jantung Yumi berdebar cukup keras di dalam sana.


"Kha, bangun. Udah nyampe, nih." Ujar Yumi pelan, berusaha membangunkan Rakha yang ketiduran.


Saat perjalanan pulang tadi, Yumi menawarkan diri agar ia saja yang menyetir. Rakha yang memang sedang dalam keadaan mengantuk, langsung menyetujui ide Yumi.


"Kha?" Gumam Yumi sekali lagi. Kali ini sambil berusaha menyentuh pundak Rakha.


Namun, Rakha masih bergeming. Dari raut wajah Rakha yang tampak nyaman dalam tidurnya, Yumi dapat membaca, bahwa hari ini Rakha pasti sangat kelelahan. Yumi pun menyerah. Ia memutuskan untuk membiarkan Rakha tertidur untuk sejenak, sebelum mereka menghabiskan malam pergantian tahun yang sudah pasti mengharuskan mereka untuk begadang.


Tanpa sadar, Yumi terus menelusuri setiap inci wajah Rakha dalam geming. Sepuluh tahun bersahabat begitu dekat dengan Rakha, baru setahun belakangan ini Yumi merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Jantungnya mulai berdebar tanpa alasan setiap kali ia dekat dengan pemuda ini. Dan begitu Rakha secara terang-terangan menunjukkan perasaannya terhadap Aira, entah dengan cara apa, Yumi tiba-tiba merasa sesuatu telah dicuri darinya.


Namun demi persahabatan mereka, Yumi memilih bungkam dan patah hati dalam diam.


Yumi mengela nafas pelan. Otaknya tiba-tiba membeku, dan tanpa bisa tubuhnya mengontrol, Yumi mencondongkan wajahnya ke arah wajah Rakha. Ia lalu memejamkan kedua matanya, dan dengan lembut mengecup bibir Rakha untuk beberapa detik sebelum akhirnya menjauh.


Yumi kemudian keluar dari dalam mobil dengan perasaan berdebar yang teramat sangat, meninggalkan Rakha seorang diri yang sedikit terkesiap, setelah merasakan sebuah sapuan lembut di bibirnya yang ia sangka sebagai 'mimpi' yang cukup aneh, yang telah menerpa alam bawah sadarnya tanpa tahu malu.


^^^To be Continued...^^^